Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Dingin
Azizah merapikan tempat tidurnya yang semalaman dipakai Ezra. Sementara ia semalam memilih tidur di sofa ruang tamu. Setelah mengganti sprei, ia membawa sprei itu keluar bersama pakaian kotornya kemarin.
Azizah menoleh ke arah dapur. Di sana tidak ada seorang pun. Ia kemudian menoleh ke arah lantai atas. Mungkin saja Ezra berada di sana.
Tanpa berpikir lebih lanjut, ia pun berjalan menuju ruang laundry.
Ia kemudian memasukkan sprei itu dan pakaiannya ke dalam mesin cuci. Sebenarnya Dewi lah yang mengajarkannya cara mencuci di mesin saat berada di rumah Amisha. Alhasil sekarang, ia cukup terlatih melakukannya.
Setelah mesin bergerak, Azizah keluar ruang laundry untuk ke dapur.
Niatnya untuk menata sarapan di meja makan langsung runtuh saat melihat sup pereda pengar yang ia buat masih utuh. Ezra ternyata tidak menyentuhnya.
Azizah terdiam sejenak di samping meja makan. Jemarinya perlahan menyentuh tepian mangkuk keramik yang mulai dingin. Ia telah berusaha menyiapkan segalanya dengan penuh ketulusan. Berharap masakan sederhana itu mampu meredakan pening di kepala suaminya sekaligus menjadi jembatan kecil untuk mencairkan suasana di antara mereka. Namun kenyataan pahit menyambutnya. Sup itu tetap utuh, seolah menjadi saksi bisu betapa Ezra masih menutup diri rapat-rapat darinya.
Ia menghela napas panjang, mencoba menekan rasa perih yang sempat mencuat di ulu hatinya. Dengan perasaan kecewa, ia memilih membawa mangkuk itu ke area wastafel.
Saat ia sedang berkutat dengan pekerjaannya di dapur, tiba-tiba suara langkah kaki yang berat terdengar menuruni tangga.
Azizah menghentikan pekerjaannya seketika. Ia mematikan keran air, mengusap sisa air di tangannya ke celemek, lalu melangkah dengan tergesa menghampiri Ezra. Pria itu sudah berdiri di samping pintu dengan setelan rapi, namun tampak kesulitan merapikan dasi dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang tas kerja.
Melihat suaminya kesulitan, tanpa sadar Azizah meraih dasi itu untuk membantunya. Namun reaksi Ezra jauh di luar dugaan. Pria itu menyentak lengannya dengan kasar dan membuat Azizah terhuyung mundur.
“Jangan menyentuhku!” bentak Ezra tajam, “Dasi sialan!”
Dengan luapan amarah yang memuncak, Ezra melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Tanpa memedulikan tatapan Azizah yang terluka, ia meraih kunci mobil di gantungan dekat pintu dan melangkah keluar rumah dengan langkah lebar.
Azizah terdiam, tangannya refleks mengusap dada untuk meredam sesak yang semakin menghimpit. Ia berusaha menanamkan kesabaran dalam hatinya, lalu perlahan memungut dasi yang tergeletak di lantai. Sambil berdiri di balik jendela, ia menatap kepergian mobil Ezra yang menjauh. Tangannya meremas dasi itu kuat-kuat, menyalurkan rasa perih yang entah sampai kapan harus ia tanggung sendiri.
Namun ia tidak boleh merenung terlalu lama. Ia harus kuat. Ia tidak akan membiarkan suaminya merendahkannya. Ia akan membuktikan pada Ezra bahwa ia bukanlah wanita lemah.
Dengan keyakinan yang kembali kuat, ia memilih menaiki tangga menuju lantai atas. Walaupun Ezra memang belum mengizinkannya masuk ke kamarnya, tapi tetap saja sudah menjadi kewajibannya untuk membersihkan kamar pria itu, dan mungkin mulai besok, ia akan menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Setibanya di lantai atas, Azizah cukup terkejut. Karena inilah kali pertamanya ke lantai dua rumah. Ternyata lantai dua cukup luas dan arsitekturnya sangat serasi dengan lantai bawah.
Azizah menarik napas dalam, mencoba memupuk keberanian saat ia mulai melangkah menyusuri lorong panjang itu untuk menjalankan tugasnya. Saat melangkah ke arah kiri, ia menemukan deretan ruangan yang dibatasi oleh pintu kaca melengkung.
Azizah menyadari bahwa tidak ada satu pun kamar tidur yang terletak di koridor kiri. Penasaran dengan fungsi ruangan-ruangan itu, ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam salah satu ruangannya.
Begitu ia melangkah masuk, Azizah mendapati dirinya berada di dalam ruang kerja Ezra. Ruangan itu terlihat maskulin dan rapi yang dipadukan dengan rak buku yang menjulang tinggi di belakang kursi.
Pandangannya kemudian beralih ke arah dinding lain di ruang kerja itu, di mana ia menemukan beberapa figura yang tergantung rapi. Azizah berdiri di depan dinding itu, meneliti setiap foto yang terpajang.
Awalnya ia mengira itu adalah foto masa kecil atau potret keluarga Ezra, namun ternyata isi foto-foto itu jauh berbeda. Ada deretan foto gedung perusahaan bertingkat, Ezra yang sedang bersalaman dengan rekan bisnis dari luar negeri, hingga momen saat pria itu sedang memotong pita peresmian.
Fokusnya kemudian tertuju pada sebuah plakat gedung bertingkat yang terpampang dalam salah satu foto.
Wisteria Secret, batin Azizah bertanya-tanya, Apa itu nama perusahaan Ezra?
Ia kembali tenggelam dalam pikirannya. Bukankah Dewi pernah mengatakan bahwa mendiang ayah Ezra juga memiliki perusahaan? Namun, jika memang begitu, mengapa Ezra justru mendirikan perusahaannya sendiri? Azizah merasa benar-benar tidak mengerti dengan rumitnya silsilah keluarga itu.
Azizah menggeleng pelan, berusaha mengusir rasa penasarannya. Untuk apa ia memikirkan urusan bisnis yang sama sekali tidak ia mengerti? Dengan satu helaan napas berat, ia pun memilih untuk segera keluar dari ruangan itu, tidak ingin terjebak lebih lama dalam teka-teki kehidupan suaminya yang tampak begitu asing.
Ia akhirnya beralih ke koridor kanan dan menemukan deretan pintu kayu yang berjejer, dengan total empat pintu. Ia pun mencoba membukanya satu per satu, namun tiga pintu di antaranya ternyata kosong, bahkan barang-barang di dalamnya tertutup kain putih. Menandakan kamar-kamar itu sudah lama tidak dihuni. Langkahnya kemudian terhenti di pintu paling ujung yang terletak dekat jendela.
Dengan napas yang sedikit tertahan, ia membuka pintu itu. Keyakinannya terbukti benar. Di balik pintu itu terhampar kamar yang luas dan tertata rapi. Ia sangat yakin itulah kamar Ezra.
Azizah melangkah masuk, membiarkan matanya menyapu setiap sudut ruangan yang selama ini menjadi area privasi sang suami. Ia berdiri di tengah ruangan, merasakan detak jantungnya yang beradu dengan sunyinya suasana di sana. Ia juga siap untuk memulai tugas yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang istri, walaupun Ezra mungkin tidak akan pernah menghargainya.
......................
Di kantornya, Ezra tidak langsung menuju ruangannya di lantai paling atas. Ia melangkah lebar menuju departemen humas. Pintu kaca otomatis terbuka saat sensor merasakan kedatangannya. Semua karyawan langsung berdiri kala sang pemilik perusahaan datang. Namun Ezra tidak peduli, ia langsung masuk ke dalam ruangan kepala departemen.
“Eh, Pak Ezra. Selamat pagi, Pak.” Sang pemilik ruangan langsung berdiri.
“Kau dapat kabar soal Sienna?” tanya Ezra langsung.
“Sienna? Bukannya dia sedang pergi ke Hawai?”
“Aku tahu itu!” bentak Ezra, “Maksudku apa kau tidak memiliki jadwal Sienna untuk perusahaan ini?!”
“Ah, itu...” Ia membuka dokumennya, lalu menggeleng, “Pemotretan atau syuting iklan sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Untuk jadwal Sienna, hanya agensi modelnya yang tahu. Jadi—“
“Stop!” peringat Ezra, “Lanjutkan pekerjaanmu.” Ia kemudian melangkah keluar dengan cepat, bahkan menutup pintu kasar.
Ezra langsung menuju lift, menekan tombolnya dengan kasar karena tidak sabar menunggu pintu terbuka. Begitu pintu terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol menuju lantai ruangannya. Sembari menunggu lift bergerak, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan kembali memeriksa kotak pesan dari Sienna. Namun hasilnya nihil. Wanita itu sama sekali tidak menghubunginya.
“Ini sudah berhari-hari, Sienna. Apa kau benar-benar meninggalkanku?” gumam Ezra tepat saat pintu lift terbuka.
Saat melintas di depan meja sekretaris, seorang wanita menyapanya, “Selamat pagi, Pak.”
Ezra menghentikan langkahnya sejenak, “Carikan ponsel baru untukku,” ucapnya sambil menunjukkan ponselnya yang sudah rusak.
“Baik, Pak. Untuk siang nanti, Bapak ada jadwal makan siang bersama investor,” lapor sang sekretaris.
Ezra mengangguk singkat, “Belikan juga obat sakit kepala," perintahnya sebelum masuk ke dalam ruangan.
Begitu sampai di dalam, ia melempar tas dan ponselnya ke atas meja secara asal, lalu duduk dengan lesu. Ia memijat kepalanya yang masih terasa pusing. Efek minuman semalam memang belum hilang sepenuhnya. Namun baginya berada di kantor tetap jauh lebih baik daripada harus berada di rumah dan melihat Azizah.
Ezra kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba memutar kembali kepingan ingatannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah rasa nyeri yang menghujam di pelipis. Ia ingat betul pergi ke club semalam dan menenggak gelas demi gelas untuk melampiaskan segala kekesalannya, lalu memesan taksi untuk pulang. Setelah itu? Kosong. Pikirannya benar-benar gelap.
Kecurigaan mulai muncul di benaknya. Ia menatap ke arah jendela ruangannya dengan tatapan tajam. Membayangkan Azizah yang mungkin saja telah melakukan sesuatu saat ia tidak sadarkan diri.
Ezra menggeram. Ia sudah hafal karakteristik wanita licik seperti Azizah. Wanita seperti itu pasti akan menjebak saat ia lemah dan memperdayanya dengan dalih sebagai korban. Ia harus memastikan bahwa tidak ada batas privasi yang telah dilanggar oleh Azizah selama ia tidak ingat apa pun semalam.