Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, mobil Fadhlan melambat dan berbelok memasuki sebuah kawasan residensial elit. Langkah Syifa tertahan di sandaran kursi saat matanya menangkap sebuah gerbang besi hitam yang tinggi menjulang. Begitu satpam membukanya dengan hormat, mobil melaju mulus menyusuri halaman rumah yang begitu luas, hampir separuh dari lapangan sepak bola di kampungnya.
Syifa menempelkan wajahnya dekat kaca jendela, terpana. 'Masyaa Allah... ini rumah pribadi atau hotel mewah? Halamannya saja luas banget seperti ini,' batin Syifa tak henti-hentinya takjub.
"Ayo turun, Dek," ajak Fadhlan setelah mematikan mesin mobil.
Syifa mengerjap gagap. "Di-di sini, Mas?"
"Iya, di sini. Memangnya kamu mau turun di mana lagi, hm?" jawab Fadhlan dengan kekehan lembut. Ia langsung keluar dari pintu kemudi, berjalan memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk Syifa layaknya seorang putri.
Syifa buru-buru turun karena takut ditinggal sendirian di halaman yang asing. Begitu mereka melangkah ke arah teras depan, tiga orang sudah berdiri berjejer dengan senyum ramah yang merekah. Ada seorang wanita paruh baya berusia sekitar 50 tahunan, seorang gadis muda yang tampak seumuran dengan Syifa, dan seorang pria paruh baya yang perawakannya mirip dengan paman Andi di kampung.
Gadis muda itu melangkah maju, dengan gerakan takzim mengalungkan ronce bunga melati yang harum ke leher Syifa. Sementara si pria paruh baya melakukan hal yang sama kepada Fadhlan.
"Selamat datang, Aden dan Non," sambut mereka serempak, membungkuk hormat.
Si wanita paruh baya melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca haru. "Semoga pernikahan kalian selalu diberkahi kebahagiaan, dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah... Aamiin."
"Aamiin... terima kasih banyak," jawab Syifa dan Fadhlan lirih bersamaan.
Fadhlan membenarkan posisi kalung melatinya, lalu menatap pria paruh baya tadi dengan sorot mata datarnya yang khas. "Apa prosesi penyambutannya sudah selesai?"
Pria itu langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir canggung. "Hehe... maaf, Den. Saya hanya mengikuti pesan Bi' Darsih untuk menyambut kedatangan Aden sama istri baru. Benar kan, Lastri?"
"Iya, Den. Betul sekali," sahut Lastri, si gadis muda, ikut mengangguk cepat.
Fadhlan menghela napas pasrah namun tidak benar-benar marah. "Ya sudah. Kalau begitu, saya minta tolong bawa koper saya dan istri ke kamar atas ya, Mang Sholeh."
"Siap, dilaksanakan, Den!"
Wanita paruh baya yang ternyata bernama Bi Darsih itu beralih menatap Syifa, tangannya terulur dengan hangat. "Masya Allah... ayune istrinya Den Fadhlan ini. Perkenalkan Non, saya Bi Darsih."
Syifa tersenyum manis, menyambut uluran tangan tersebut.
Bukannya menjabat biasa, Syifa justru menarik tangan Bi Darsih lalu mencium punggung tangannya dengan takzim, sebuah tradisi penghormatan kepada orang tua yang sangat melekat di kampungnya.
Bi Darsih seketika tersentak, menarik tangannya dengan canggung dan segan kepada sang nyonya rumah. "Eh, lah... kenapa Non pakai cium tangan bibi? Bibi ini cuma pembantu di sini, Non."
Syifa menggeleng cepat dengan tulus. "Tidak apa-apa, Bi. Di kampung, Syifa biasa menghormati yang lebih tua." Ia kemudian menoleh ke arah Lastri dan mengulurkan tangan. "Salam kenal ya, Lastri."
"Salam kenal, Non Syifa," jawab Lastri dengan binar mata kagum melihat keramahan majikan barunya.
"Sudah, ngobrolnya dilanjutkan di dalam saja. Di luar panas," potong Fadhlan bersiap melangkah masuk.
"Eh, sebentar toh, Den! Kalian ini kan pengantin baru yang baru pertama kali menginjak rumah ini setelah sah," cegah Bi Darsih, lalu dengan berani menarik tangan Fadhlan dan menyatukannya dengan jemari Syifa. "Masuk rumah ini ya harus bergandengan tangan. Nah, romantis seperti ini. Sekarang jalan bersama masuk ke rumah sambil mengucap salam dan baca sholawat ya Den, Non?"
Fadhlan yang sebenarnya sudah sangat lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya hanya bisa pasrah menuruti titah Bi Darsih agar urusan ini cepat selesai.
"Assalamu’alaikum," ucap mereka saat melintasi pintu utama.
"Alhamdulillah... semoga rumah tangga kalian senantiasa diberkahi Allah," ucap Bi Darsih menatap punggung kedua sejoli itu dengan senyum puas.
"Aamiin, terima kasih ya, Bi," sahut Syifa menoleh sekilas.
Fadhlan melepas ronce melati di lehernya, menaruhnya di meja konsol teras dalam. "Saya mau istirahat dulu ke atas."
"Hm, iya Pak... eh, Mas," jawab Syifa canggung. Fadhlan langsung melangkah menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai dua.
......................
"Ayo Non, saya antar ke kamar sekalian bibi tunjukkan ada ruangan apa saja di rumah besar ini," tawar Bi Darsih ramah.
"Iya, Bi. Maaf ya kalau Syifa merepotkan bibi sore-sore begini," jawab Syifa tidak enak hati.
"Ah, Non Syifa ini, jangan sungkan-sungkan begitu sama bibi. Sudah tugas bibi," sahut Bi Darsih tulus.
Lastri ikut menimpali dari belakang. "Non Syifa mau minum sesuatu? Biar Lastri buatkan sirup yang segar ya, Non?"
"Nanti saja, Lastri. Nanti kalau haus, saya bisa ambil sendiri kok," tolak Syifa dengan senyum segan.
"Ya sudah Non, kalau nanti butuh makanan atau minuman, panggil Lastri saja di belakang. Lastri pamit ke dapur dulu, ya."
Syifa kemudian berjalan berdampingan dengan Bi Darsih menyusuri koridor lantai satu yang megah. Sembari berjalan, Bi Darsih dengan antusias menceritakan pengalamannya yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga besar Fadhlan.
"Jadi begitu, Non. Dulu bibi itu kerjanya sama almarhum Kakek Nizar, kakeknya Den Fadhlan. Setelah Kakek meninggal, Den Fadhlan langsung memboyong bibi, Sholeh, Agus, sama Lastri untuk kerja di rumah baru ini. Meskipun, sebenarnya Aden sendiri lebih sering tinggal di apartemennya yang sekarang sudah diberikan pada Den Aidan."
Syifa mengernyitkan dahi, menangkap sesuatu yang menarik. "Hmm... memangnya sebelumnya Pak Fadhlan tidak tinggal menetap di kota ini ya, Bi?"
"Tidak, Non. Den Fadhlan itu dulu sering banget bolak-balik luar negeri sama ke Kota P, sebelum akhirnya memutuskan menetap dan beli rumah di kota ini sekitar dua tahun lalu."
"Kalau tidak salah kota P itu kampung halaman umminya Pak Fadhlan ya, di sana pak Fadhlan juga jadi dosen kah?" tanya Syifa, penasaran dengan kehidupan suaminya yang masih membuatnya kebingungan.
Bi Darsih terkekeh pelan, menghentikan langkahnya sebentar. "Bukan cuma jadi dosen, Non. Gimana ya bibi bilangnya, sebetulnya Den Fadhlan itu pengusaha besar, businessman tingkat atas, Non. Apalagi Aden kan juga pewaris tunggal rumah sakit milik keluarganya sekarang. Jadi kalau Aden kerja jadi dosen di kampus, itu sebetulnya cuma seperti pekerjaan sampingan saja buat Aden."
Mang Sholeh yang kebetulan lewat membawa koper terakhir tiba-tiba ikut menyaut. "Itu karena cita-cita Den Fadhlan dari kecil sebetulnya ingin jadi guru, Non. Makanya Aden tetap mau mengajar walau sibuk urus perusahaan."
Bi Darsih langsung menepuk lengan pria itu. "Hih! Ngga sopan kamu, Sholeh! Baru datang langsung ikut nimbrung aja!"
Syifa tertegun di tempatnya. Kalimat Bi Darsih berputar-putar di kepalanya. 'Mas Fadhlan dengan latar belakang keluarga yang sekaya dan se-terpandang ini... kenapa dia mau menerima perjodohan dengan gadis desa biasa sepertiku? Apalagi dia sangat disegani banyak orang...'
...----------------...
Setelah puas berkeliling dan mengobrol, Syifa memutuskan masuk ke kamar utama di lantai dua untuk mandi dan bersiap sholat Ashar karena badannya sudah terasa sangat gerah. Begitu membuka pintu kamar, ia tidak mendapati Fadhlan di sana.
Syifa kembali dibuat terperangah saat melihat interior kamar tidur suaminya. Kamar mandi dalam dan walk-in closet-nya dilapisi teknologi canggih dan modern yang belum pernah ia lihat seumur hidup.
"Ini... kamarnya seluas ini? Ummi, Abi, sama Kakek pasti senang banget kalau diajak main ke sini," gumam Syifa takjub. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang didominasi marmer putih. Namun, setelah menutup pintu, ia mendadak kebingungan menatap deretan tombol digital di dinding.
Syifa menggaruk kepalanya yang masih tertutup jilbab instan. "Ehh? Ini gimana cara mandinya? Kok ngga ada gayung sama embernya sama sekali?"
"Syifa? Kamu di dalam?" suara bariton Fadhlan dari luar pintu seketika membuat Syifa terlonjak kaget.
"I-iya, Pak! Eh, Mas... saya di dalam!" jawab Syifa buru-buru membenarkan letak jilbabnya yang sempat agak longgar. Ternyata Fadhlan baru saja kembali dari ruang kerja pribadinya.
Syifa memutar kunci, lalu membuka sedikit celah pintu kamar mandi, memunculkan wajah polosnya dengan ringis canggung. "Anu... Mas. Ini... maaf sebelumnya..."
Fadhlan yang masih mengenakan kemeja santainya melipat tangan di dada, menyandarkan tubuh di kusen pintu dengan senyum jahil yang mendadak terbit.
"Hm? Nanti malam saja, Syifa, kalau mau minta 'anu'-nya. Ini kan masih sore," goda Fadhlan dengan suara rendah, sengaja menaik-turunkan alisnya untuk membuat istrinya panik.
Wajah Syifa seketika merah padam sampai ke leher. "Ish! Maksud saya bukan itu! Saya mau mandi, tapi tidak tahu cara menyalakan kran air dan showernya. Bisa tolong kasih tahu gimana caranya?" tanya Syifa ketus dengan wajah cemberut, menatap suaminya dari celah pintu.
Fadhlan langsung tertawa renyah. Suara tawa yang sangat jarang terdengar itu terdengar begitu menarik di telinga Syifa. "Oh, saya pikir kamu sudah tidak sabar minta itu."
"Ngga jadi!" gerutu Syifa kesal, bersiap menutup pintu kembali karena tahu dirinya sedang dikerjai.
"Tadi bilang minta diajarin, sekarang dibilang ngga jadi," sahut Fadhlan cepat menahan pintu kamar mandi, lalu melangkah masuk ke dalam tanpa permisi.
Mau tak mau, Syifa mundur selangkah. Fadhlan mendekat ke arah area shower, lalu dengan telaten menunjukkan fungsi tombol satu per satu. "Kalau mau air hangat tinggal diputar ke arah sini, kalau mau isi air di bathtub tekan yang ini. Sudah mengerti, Sayang?"
Panggilan 'Sayang' yang diucapkan dengan begitu kasual itu kembali membuat jantung Syifa berkejaran. "B-begitu ya... iya Mas, paham sekarang. Terima kasih."
Fadhlan tidak langsung keluar. Ia justru berbalik, memangkas jarak di antara mereka hingga Syifa terpojok di dekat dinding marmer. "Terus... sekarang kamu mau mandi sendiri, atau mau mandi sama saya?"
"Mandi sendiri lah! Ih, udah sana keluar!" Syifa mendorong dada bidang Fadhlan pelan, namun suaminya itu sama sekali tidak bergeming.
"Tapi saya tidak keberatan untuk mandi lagi sore ini... asal mandinya sama kamu," bisik Fadhlan, kedua tangannya bergerak melingkar di pinggang Syifa, menarik tubuh mungil istrinya masuk ke dalam pelukannya.
Syifa meremas ujung kemeja Fadhlan, wajahnya ditundukkan dalam-dalam karena malu yang luar biasa. "U-udah, Mas..." lirihnya dengan suara bergetar.
"Udah? Kan saya belum mulai apa-apa, kenapa kamu bilang sudah?" Fadhlan berbisik tepat di telinga Syifa, memberikan kecupan-kecupan halus di rahang istrinya sembari jemarinya bergerak perlahan membuka jilbab instan yang dikenakan Syifa.
Rambut hitam kecoklatan Syifa yang terurai seketika jatuh di bahunya. Pandangan mata mereka bertemu dalam jarak yang hanya tersisa beberapa sentimeter. "S-saya mau mandi, Mas," ucap Syifa super pelan, hampir menyerupai bisikan pasrah.
...****************...