NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

BAB 21

Sudah dua minggu berlalu sejak malam pelarian kami dari tebing batu.

Saat ini, kami mulai memasuki wilayah hutan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Pohon-pohon pinus berselimut salju kini berganti dengan pepohonan berdaun lebar yang batangnya luar biasa raksasa. Saking besar dan rapatnya dahan-dahan di atap hutan ini, salju nyaris tidak bisa menyentuh lantai tanahnya. Bahkan cahaya matahari siang hari pun hanya mampu menembus lewat celah-celah dedaunan, menciptakan pilar-pilar bercahaya yang indah.

Goran menyebut pohon-pohon raksasa ini dengan nama "Kakek Domb". Berjalan di bawah naungannya benar-benar membuat kami merasa seperti semut yang sedang menyusuri alam para raksasa.

Perjalanan kami juga sudah terasa jauh lebih santai.

Karena Goran mengatakan bahwa pasukan elit Witendz yang dia ceritakan waktu itu tidak akan mengejar sampai sini. Kami sudah bergerak terlalu jauh ke utara, jadi jika mereka memaksa mengejar Goran di cuaca seperti ini hanya akan menghabiskan persediaan dan membunuh pasukan mereka sendiri secara perlahan. Selain itu, luka-luka di tubuh Goran kini sudah sembuh total tanpa bekas.

Jujur saja, aku tidak bisa menjelaskan secara ilmiah apa saja yang telah kami lihat dan lewati selama dua minggu ini. Karena aku tidak tahu satupun nama hewan atau tumbuhan di zaman ini, semua pertanyaan yang Mila limpahkan padaku, langsung kulimpahkan balik kepada Goran. Biarkan saja ayahnya yang menjadi pemandu wisata alam liar kali ini.

Tapi yang pasti, mataku yang berasal dari abad modern ini dipaksa melihat hal-hal gila. Kami sempat melihat banteng liar yang tingginya menyamai gajah, bahkan lebih besar dari Tur yang pernah Goran buru dulu. Kami juga melihat kucing berbulu tebal yang ukurannya sebesar anjing dewasa, dan masih banyak lagi.

Saat ini, Mila sedang berjalan berdampingan dengan Goran, asyik mengobrol sambil menarik tali keretanya. Sementara aku? Aku duduk manis di atas tumpukan barang di gerobak yang mereka tarik, menikmati pemandangan purba ini sambil merapatkan mantel buluku.

"Hei, Anak Bangsawan. Tumben kau tak bisa menjawab pertanyaan Mila?" goda Goran sambil menoleh ke belakang.

"Apa yang kau harapkan? Usiaku baru sepuluh kali Zima," balasku asal. Yah, secara teknis dan fisik, usiaku memang baru sepuluh tahun.

"Hahaha! Ternyata otak Anak Bangsawan punya batasan juga," ledek Goran riang.

Mila menarik-narik ujung jubah Goran ingin melanjutkan obrolan mereka. "Terus, terus, Ayah! Hewan yang mirip singa tapi kecil yang Ayah bilang Ris itu..."

"Kucing!" potongku mengoreksi dari atas gerobak.

"Nah iya, kucing! Apa itu bahaya, Yah?" tanya Mila penasaran.

Goran mengangguk dengan wajah dibuat serius. "Oh, tentu saja. Jika Ris menatap matamu, itu berarti namamu sudah dicatat oleh Dewi Morana."

"Hiii..." Mila bergidik ngeri sambil memeluk lengannya sendiri. "Untung tadi dia cuma lewat saja!"

Aku yang mendengar percakapan itu hanya bisa memutar bola mata ke atas. Kalau kalian tidak tahu, Dewi Morana adalah dewi kematian dan musim dingin kata Goran. Apa-apa memang akan selalu dihubungkan dengan mitologi Goran, jadi yah.. biarkan saja.

Kami terus berjalan menyusuri rimbunnya akar Kakek Domb, hingga di depan kami terlihat sebuah kolam air alami yang jernih dan tidak membeku.

Tiba-tiba, Goran mengangkat sebelah tangannya, memberikan kode agar kami berhenti dan diam. Kami seketika terdiam.

Dari balik semak raksasa di seberang kolam, muncullah seekor moose yang ukurannya sangat tidak masuk akal. Tubuhnya menjulang setinggi atap rumah kecil. Hewan itu menunduk perlahan dan meminum air kolam dengan tenang.

"Ayah... rusa itu besar sekali..." bisik Mila dengan mata berbinar-binar kagum.

"Itu adalah Dewa Stevoid dalam wujud kudanya..." bisik Goran penuh takzim, merujuk pada dewa hutan kepercayaannya. "Oh... begitu. Jadi dia yang menjaga hutan ini..."

"Wow..." Mila menatap takjub.

Mendengar bisik-bisik takhayul ayah dan anak itu, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Beberapa saat kemudian, moose raksasa itu mengangkat kepalanya dan berjalan pergi menghilang ke dalam hutan lebat.

"Ayo, giliran kita mengambil air," ajak Goran.

Kami mendekati pinggir kolam. Aku langsung turun dari gerobak, mengambil panci besi, dan mulai menata kayu kering untuk menyalakan api. Tentu saja, air ini harus dimasak terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kantung air kami.

Goran lalu menatapku heran. "Kenapa kita harus repot-repot memasak air dari kolam yang baru saja diminum oleh wujud lain Dewa Stevoid? Kan air ini sudah pasti suci dan aman?"

Aku terdiam beberapa detik. Otakku berputar cepat, mencari jawaban yang rasional tapi tetap bisa diterima oleh logika pagan Goran.

"Yah...." Aku berdeham pelan. "Kita kan manusia biasa, bukan dewa. Perut kita tidak sama kuatnya dengan Dewa. Kau mau putrimu ini sakit lagi seperti dulu?"

Mendengar itu, Goran mengangguk-angguk paham. "Benar juga. Kau memang pintar, Anak Bangsawan."

"Kakak Qatilah memang paling pintar!" seru Mila memujiku sambil tersenyum lebar.

Saat kami sedang sibuk merebus air dan mengisi kantung, Kami mendengar sesuatu. Goran tiba-tiba berdiri tegak, tangannya langsung meraba pedang kecil di gerobak.

"Ada seseorang di dekat sini?" gumamku pelan.

"Biar aku cek sebentar. Kalian tunggu di sini."

Goran lalu melangkah tanpa suara menuju arah keributan. Karena penasaran, aku dan Mila mengendap-endap menyusul dari jarak aman, bersembunyi di balik akar pohon Kakek Domb yang lebarnya melampaui tubuh Goran.

Dari balik pepohonan, kami melihat pemandangan yang cukup mencekam.

Di tengah jalan setapak yang tertutup daun kering, seorang kakek tua sedang dikepung oleh tiga orang pria berwajah beringas.

Aku sempat melirik ke arah Mila. Gadis itu tidak terlihat ketakutan ataupun gugup. Justru matanya membulat penasaran, terus berpindah-pindah antara ketiga perampok itu dan kakek tua di tengah jalan.

Mila menarik pelan ujung bajuku.

"Kak..." bisiknya sangat lirih.

"Ssst apa?"

"Manusia ternyata kecil-kecil ya."

Aku berkedip beberapa kali.

Setelah dipikir-pikir, memang masuk akal jika itu yang pertama kali terpikir olehnya. Seumur hidup, satu-satunya laki-laki dewasa yang Mila kenal hanyalah Goran.

"Ukuran mereka itu normal, Mil."

Mila menoleh ke arah Goran yang sedang mengamati situasi dari balik pohon.

"Jadi Ayah yang tidak normal ya.." gumam Mila sambil mengangguk pelan.

Aku memijat pelipisku pelan. Di saat setegang ini, anak ini malah baru mendapat pencerahan hidup. Mengabaikan kesimpulan polosnya, aku kembali memusatkan perhatian pada apa yang terjadi di depan kami.

Ketiga perampok itu mengenakan mantel kulit serigala yang sudah kumal, wajah mereka kotor, dan tangan mereka menggenggam pedang besi berkarat.

Sementara itu, kakek yang menjadi korban mereka tampak sangat mencolok. Ia mengenakan jubah wol tebal berwarna gelap yang menjuntai hingga ke tanah, dipadukan dengan sabuk dari tali rami dan tudung kain di kepalanya.

"Hei, Pendeta Tua! Cepat serahkan kantongmu!!" bentak Perampok Pertama sambil mengacungkan ujung pedangnya.

Kakek pendeta itu mengangkat kedua tangannya dengan wajah memelas.

"Oh, Tuan-tuan yang terhormat... di tengah musim kegelapan seperti ini, mana mungkin pendeta tua miskin sepertiku berkeliaran di hutan sambil membawa harta?"

"Lalu apa isi kantong di pinggangmu itu, heh?!" gertak Perampok Kedua, matanya menatap tajam ke arah perut si kakek.

"Oh, ini? Ini cuman biji gandum, Tuan-tuan."

Lalu kakek itu bergerak mundur selangkah dengan gugup. Namun gerakan itu membuat kantong di pinggangnya terguncang.

Kricik! Kricik! Suara gemerincing logam yang sangat jelas terdengar nyaring.

Perampok Ketiga menyeringai bengis. "Biji gandum, yaaa? Mana ada biji gandum yang suaranya seperti itu!! Cepat serahkan, Tua Bangka!!"

Karena ketahuan berbohong, raut wajah si kakek seketika berubah. Ia tiba-tiba membungkuk dan terbatuk-batuk dengan sangat parah dan keras, bahkan sampai tubuhnya ambruk bersujud di tanah.

"Uhuk! Uhugghh... hooekk!" Kakek itu mengerang, menutupi mulutnya secara dramatis. "Ooooh, tidak! Wabah ini... wabah hitam ini sudah mulai menggerogoti tubuhku! Aku sarankan kalian bertiga menjauhlah segera sebelum paru-paru kalian ikut membusuk! Uhuk! Hidup kalian masih panjang, Tuan-tuan!"

Mendengar akting murahan itu, ketiga perampok itu saling melirik satu sama lain, lalu tertawa meledak bersamaan.

"BWAHAHAHA!"

"Kau kira trik murahan begitu bisa membodohi kami?!" ejek Perampok Kedua.

"Sudahlah, tak usah buang waktu. Bunuh saja pendeta tua sialan ini!" seru Perampok Pertama, mengangkat pedang karatkanya tinggi-tinggi.

Kakek pendeta itu meringkuk ketakutan, menutup matanya pasrah.

Namun, sebelum pedang itu sempat diayunkan, Goran melangkah keluar dari balik pepohonan. Pria raksasa kami yang berbalut kulit beruang itu menghentakkan satu kakinya kuat-kuat ke tanah.

BUM!

Bumi seakan bergetar. Gumpalan salju dari atap daun Kakek Domb berjatuhan menimpa para perampok.

Ketiga perampok itu menoleh patah-patah. Begitu mereka melihat postur Goran yang menyeramkan, darah mereka seakan surut dari wajah.

"L-Les... Leshy!!!" teriak Perampok Ketiga dengan suara melengking histeris. "Itu iblis hutan Leshy!!"

Tanpa peduli pada harta rampasan lagi, ketiga perampok itu menjatuhkan pedang mereka dan kabur terbirit-birit menembus semak belukar sambil berteriak ketakutan.

Melihat situasi sudah aman, aku dan Mila keluar dari persembunyian, menyusul Goran berjalan ke arah kakek pendeta itu.

Kakek itu tiba-tiba sudah terbaring telentang di atas tanah. Matanya terpejam rapat, tubuhnya kaku, dan yang paling aneh... lidahnya menjulur miring keluar dari mulutnya.

"Haaa? Apa kakek ini mati karena kaget?" tanyaku heran.

Goran mendengus pelan sambil bersedekap. "Sepertinya dia hanya pura-pura mat..."

Sebelum Goran menyelesaikan kalimatnya, aku sudah berjongkok di samping kakek itu bersama Mila. Aku menempelkan telingaku ke dadanya. Jantungnya masih berdetak normal, sangat sehat malah. Mila lalu memiringkan kepalanya sambil terus menatap wajah pendeta itu.

"Rambutnya kenapa putih kak?", bisiknya pelan kepadaku. Matanya lalu turun ke wajah tua penuh keriput itu. "Dan kenapa wajahnya seperti buah yang lama disimpan ya ka?"

Aku hanya bisa menghela napas mendengarnya. Tentu saja, seumur hidupnya Mila belum pernah melihat manusia lanjut usia. Namun, baru saja aku membuka mulut untuk menjelaskan konsep penuaan padanya, kakek pendeta itu tiba-tiba membuka satu mata kanannya sedikit. Ia melirik panik ke arah Goran yang menjulang di belakang kami, lalu kembali menatapku dan Mila.

Lidah yang menjulur itu tiba-tiba masuk, digantikan oleh bisikan panik yang diseret-seret.

"Hei, anak-anak kecil..." desis kakek itu pelan sekali. "Di belakang kalian ada monster Leshy! Cepatlah pura-pura mati sepertiku agar kalian tidak dimakan!"

Setelah membisikkan itu, sang kakek kembali memejamkan mata dan menjulurkan lidahnya miring ke samping. Sempurna.

Mila yang mendengar instruksi itu terdiam sesaat, memproses kalimatnya. Sedetik kemudian, gadis kecil itu meledak tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.

"HAHAHAHA!!"

Aku mendongak menatap Goran. Pria raksasa yang baru saja disangka monster pemakan anak itu sedang menggigit bibir dalamnya kuat-kuat, mati-matian menahan tawa agar harga dirinya tidak runtuh.

Melihat tingkah laku kedua raksasa di sekitarku dan akting konyol pendeta tua di tanah ini, aku hanya bisa menghela napas panjang dan memasang wajah cemberut.

Ya Allah, cobaan apa lagi ini?

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!