Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Menjelang siang, keributan di luar akhirnya mereda. Satu persatu, suara motor pergi menjauh. Teriakan riuh yang tadi memenuhi gang perlahan digantikan kembali oleh suara aktivitas seperti biasanya. Seolah tidak pernah ada kejadian apapun di distrik ini. Itulah cara distrik lama ini bertahan. Kekacauan datang dan pergi dengan cepat, sampai orang luar pun tidak sempat memahaminya. Di dalam apartemen tua, suasananya jauh lebih tenang. Namun bukan tenang yang normal tapi lebih seperti jeda panjang sebelum ada sesuatu yang kembali bergerak.
Han berdiri dekat jendela sambil memperhatikan kondisi jalan di bawah. Tangannya masih memegang kunci besi tua pemberian Damar. Benda itu terasa dingin di telapak tangannya. Berat, tapi bukan karena ukurannya melainkan karena semua kenangan yang menempel padanya.
Di belakangnya, Arga duduk bersila di lantai dengan laptop yang terbuka, sementara Nara duduk di meja kecil sambil membaca ulang beberapa potongan dokumen yang sempat mereka selamatkan. Ruangan dipenuhi suara ketikan pelan dan sesekali bunyi kendaraan dari luar. Tidak ada yang bicara cukup lama.
Sampai akhirnya Arga menghela napas panjang.
“Uaaahh….”
Nara menoleh ke arah Arga, “…kenapa?”
“Aku lapar lagi.”
Han bahkan tidak menoleh, sambil berkata, “ …bukannya kamu baru makan tiga jam lalu?.”
“Tubuh jenius ini butuh energi.”
“Tubuhmu itu perlu olahraga.”
“Itu fitnah.”
Nara tertawa kecil, setidaknya suara itu cukup untuk membuat suasana yang tegang menjadi lebih longgar sedikit. Arga meliriknya lalu menunjuk Han.
“Nah, tuh….dia ketawa. Itu buktinya kalau aku emang dibutuhkan buat kestabilan mental di ruangan ini.”
“Kamu terlalu percaya diri,” gumam Nara.
“Tapi benarkan.”
Han menoleh sekilas sambil tersenyum tipis, “…sayangnya iya.”
Arga langsung tersenyum puas.
“Terima kasih atas pengakuan resminya.”
Nara menggeleng, sambil terseyum kecil. Di tengah semua situasi yang absurd ini, percakapan receh seperti itu justru terasa menenangkan. Ia melipat dokumen di tangannya lalu memandang Han.
“Kita jadi pergi malam ini?”
“Lebih aman,” kata Han sambil mengangguk kecil.
“Gudangnya jauh ngga?”
“Tidak.”
“Seberapa dekat?”
“Lima belas menit jalan kaki.”
Nara mengernyit dahinya, menatap heran pada Han.
“Kalau dekat, kenapa nunggu malam?”
“Karena siang terlalu terbuka.” Jawab Han sambil menatap jalan di luar jendela.
Jawabannya sederhana dan masuk akal. Tapi tetap saja hal itu membuat Nara sedikit gelisah. Pindah berarti masuk ke tempat baru yang jelas-jelas berhubungan dengan masa lalu Han. Dan setiap kali mereka mencoba masuk lebih jauh ke masa lalu pria itu, selalu ada sesuatu hal yang terasa berat.
“Apa tempat itu aman?” tanyanya lagi.
Han terdiam cukup lama. Lalu menjawab singkat, “Cukup aman.”
Itu bukan jawaban yang meyakinkan, dan Nara tahu itu. Arga mengangkat tangannya, seperti anak sekolahan.
“Pertanyaan lain.”
“Apa.”
“Apakah tempat itu punya kasur?”
Nara menahan tawa. Han menatapnya datar.
“Prioritasmu aneh.”
“Justru itu paling realistis.”
“Tidak.”
Arga bersandar dramatis ke sofa.
“Kalau ternyata kita pindah ke gudang yang lembap dan penuh tikus, gue pasti protes.”
“Kamu boleh tinggal di sini sendirian.”
Arga langsung duduk dengan tegak, “…eh mm ngga jadi deh, kardus lantai pun terdengar bagus.”
Suasana kembali ringan. Han menyimpan kunci itu di saku jaketnya lalu berjalan ke meja. Tatapannya jatuh pada dokumen yang sedang diperiksa Nara.
“Kamu nemukan sesuatu?”
“Belum pasti, ” jawab Nara sambil menggigit bibir dan menujuk ke beberapa lembar kertas.
“Ada simbol ini lagi.”
Han menunduk, memperhatikan. Logo lingkaran dengan garis vertikal samar. Logo Helios, tapi di samping simbol itu ada kode angka yang berbeda.
“Ini bukan dokumen yang sama seperti sebelumnya,” kata Nara pelan.
Han memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu menyadari sesuatu?”
Nara mengangguk, “...polanya berubah.”
Arga langsung menutup laptopnya dan mendekat.
“tolong pakai bahasa manusia...biar gue paham.”
Nara menunjuk deretan angka.
“Kalau yang kemarin formatnya administratif biasa…” jarinya berpindah ke angka lain. “…yang ini seperti kode klasifikasi.”
Han menyipitkan mata.
“Klasifikasi apa?”
“Itu yang belum aku tahu.”
Arga mencondongkan badan, “bisa dibobol?”
“Kalau punya akses pusat.”
“Yang artinya?”
“Yang artinya tidak.”
Arga langsung duduk lagi.
“Ya sudah, gue tetap milih lapar saja.”
Han menatap dokumen itu, ada sesuatu dalam ekspresinya. Waspada dan Nara menangkap itu.
“Kamu pernah lihat kode seperti ini?”
Han tidak langsung menjawab, ia terdiam sebentar lalu berkata pelan, “Pernah.”
“Di mana?”
“Fasilitas internal.”
Ruangan kembali sunyi. Bahkan Arga berhenti bercanda.
“Dan?” tanya Nara hati-hati.
Han menghela napas tipis.
“Dokumen dengan kode seperti itu biasanya tidak disimpan oleh sembarang orang.”
Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat.
“Maksudmu?” sambil melihat ke Han.
“Itu data yang sengaja disembunyikan.” Jawab Han sambil menatap Nara.
Mata keduanya bertemu tidak sengaja. Membuat Nara kembali menunduk melihat kertas-kertas di depannya. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas bahwa dirinya memang memegang sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan awal.
Dan itu membuat pertanyaan lama kembali muncul. Kenapa dirinya? Kenapa dokumen itu bisa sampai padanya?
Han seolah bisa membaca pikirannya.
“Kita akan cari jawabannya.”
Nada suaranya tetap datar tapi cukup membuat Nara sedikit lebih tenang. Ia mengangguk.
Di luar, langit perlahan mulai berubah warna. Siang bergerak menuju sore dan waktu mereka di apartemen tua itu makin sedikit.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan. Damar masuk membawa kantong plastik lain.
“Kabar baik,” katanya.
Arga langsung semangat.
“Makanan?”
“….itu juga.”
“Lu emang pahlawan di distrik ini.”
Damar mengabaikannya lalu menatap Han, “…distrik relatif bersih sampai malam.”
Han mengangguk, “…jalurnya aman?”
“Sudah siap.”
Damar melirik ke arah jendela.
“Tapi begitu mulai gelap, kalian harus langsung bergerak.”
Semua terdiam dan semuanya paham, kalau waktu mereka hampir habis. Dan malam nanti, mereka akan melangkah ke satu tempat dimana Han sendiri enggan untuk kembali.