Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tuduhan itu jelas palsu.
Tobias mengetahuinya dengan sangat baik—tidak ada satu pun kata Yvaine yang benar. Namun entah bagaimana, cara wanita itu menyusun kalimat, cara ia menatap lurus tanpa ragu, dan nada suaranya yang dingin namun penuh keyakinan, semuanya terdengar begitu nyata, begitu meyakinkan, seolah-olah kebohongan itu adalah fakta yang tak terbantahkan.
Untuk sesaat, bahkan Tobias sendiri hampir meragukan ingatannya.
Pikirannya berputar, kembali ke kejadian sebelumnya—hari ketika Yvaine tanpa ragu melukai dirinya sendiri di hadapannya. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah. Wanita yang dulu ia anggap lemah, mudah ditekan, dan selalu tunduk, kini berdiri dengan keberanian yang nyaris tidak masuk akal.
Di sampingnya, Sofia masih berusaha menahan tawanya. Bahunya sesekali bergetar, dan meski ia mencoba terlihat tenang, senyum yang tersisa di bibirnya sulit disembunyikan. Ia melirik Tobias dengan ekspresi setengah geli, setengah penasaran, lalu akhirnya membuka suara.
“Hei..” katanya pelan, nada suaranya ringan, seolah semua ini hanyalah lelucon kecil. “Kamu tidak marah, kan?”
Tobias tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, rahangnya mengeras, matanya gelap menatap ke depan tanpa fokus yang jelas.
Melihat itu, Sofia hanya mengangkat bahu dengan santai, seakan reaksi tersebut sudah ia duga sejak awal.
“Jangan terlalu dipikirkan,” lanjutnya, kali ini dengan nada yang lebih santai, bahkan cenderung meremehkan. “Memang, pria mana pun pasti kesal kalau dihina seperti itu..”
Ia terkekeh pelan, lalu menutup mulutnya sebentar, berusaha menahan tawa yang kembali ingin keluar.
“Tapi itu tidak melukaimu secara fisik, kan?”
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Tobias, matanya berkilat dengan ejekan halus yang nyaris tidak disembunyikan.
“Lagipula selama wanita yang benar-benar akan bersamamu tahu kebenarannya..”
Kalimatnya terhenti di tengah, sebelum akhirnya tawa itu pecah lagi, kali ini lebih lepas. Ia langsung membalikkan tubuh, mencoba menyembunyikan ekspresinya, meski jelas bahwa ia menikmati situasi tersebut.
“Kenapa kamu harus peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?”
Di saat itu, wajah Tobias benar-benar menggelap. Bukan hanya karena ucapan Yvaine sebelumnya, melainkan karena sikap santai Sofia yang seolah memperkecil segalanya, membuat harga dirinya terasa diinjak dua kali dalam satu waktu.
***
Sementara itu, jauh dari kafe..
Yvaine sudah melangkah keluar dengan tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Udara luar terasa lebih segar, namun tidak dengan Louis yang berjalan di sampingnya.
Begitu pintu kafe tertutup di belakang mereka, Louis langsung kehilangan keseimbangannya. Langkahnya goyah, tubuhnya sedikit terhuyung seakan baru saja lolos dari bencana besar.
Yvaine berhenti. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menoleh dengan tatapan dingin yang sarat penilaian.
“Lihat dirimu,” katanya tanpa belas kasihan. “Baru seperti itu saja sudah hampir jatuh.”
Louis mengerang pelan, wajahnya dipenuhi ekspresi menderita, seolah tekanan mental yang ia rasakan jauh lebih berat daripada luka fisik apa pun.
“Kak..” katanya lemah, mencoba membela diri. “Coba posisikan dirimu di tempatku.. kamu tahu tidak siapa Tobias itu?”
Ia menelan ludah, suaranya menurun, penuh kekhawatiran yang nyata.
“Kalau ayahku tahu aku terlibat dengan mantan istrinya.. dia pasti tidak akan ragu mematahkan kakiku dan mengusirku dari rumah.”
Yvaine hanya memutar matanya, sama sekali tidak terpengaruh oleh kecemasan Louis.
“Tenang saja,” katanya santai, seolah semua itu hanyalah hal sepele. “Ayahmu tidak akan tahu.”
Louis menatapnya dengan curiga, alisnya berkerut dalam.
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
Namun Yvaine tidak menjawab pertanyaan itu.
Sebagai gantinya, ia tiba-tiba menjambak telinga Louis tanpa peringatan.
“Aduh! Sakit!” teriak Louis spontan, refleks.
“Diam,” potong Yvaine dingin. “Kalau tidak mau aku lempar ke sungai, tutup mulutmu.”
Ancaman itu diucapkan dengan nada datar, namun justru itulah yang membuatnya terdengar lebih menakutkan.
Dalam sekejap, Louis benar-benar bungkam, tidak ada lagi protes atau keluhan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Yvaine duduk dengan santai di kursi penumpang, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman seolah hari itu berjalan sesuai rencananya.
Louis menyalakan mesin, tangannya masih sedikit gemetar. Namun sebelum mobil mulai bergerak, ia melirik Yvaine dengan ragu, seakan ada pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
“Ngomong-ngomong..” katanya hati-hati. “Mobil yang mengantarmu tadi pagi ke mana?”
“Sudah aku suruh pulang,” jawab Yvaine singkat.
Louis mengerutkan kening, jelas tidak mengerti.
“Hah?”
“Kamu yang akan mengantarku nanti,” lanjut Yvaine tanpa memberi ruang untuk protes. “Aku mau pindah.”
Ia menyebutkan alamatnya dengan santai, seolah itu adalah keputusan yang sudah final.
Louis terdiam, namun dalam hatinya, ia hampir menjerit putus asa.
Semua ini terasa terlalu kebetulan atau justru terlalu terencana.
‘Pasti Kak Yvaine sudah memikirkan semuanya sejak awal..’
Namun seperti biasa, ia tidak punya pilihan selain menurut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mulai menjalankan mobil tersebut, meninggalkan lokasi itu dengan perasaan yang campur aduk.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang cukup lama.
Akhirnya, Louis tidak tahan lagi. “Kak..” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Kata-kata tadi..” ia berhenti sejenak, mencari keberanian. “Apa itu benar?”
Yvaine tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu tersenyum tipis.
“Menurutmu?” balasnya ringan.
Louis menelan ludah. “Jadi itu semua bohong?”
Yvaine mengangkat alisnya dengan santai. “Apa itu masalah?”
Louis menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
“Itu tidak etis..”
Yvaine tertawa kecil, nada tawanya ringan namun penuh makna.
“Aku sudah cukup baik,” katanya santai. “Aku bahkan tidak bilang dia punya penyakit.”
Louis terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia hanya bisa bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku baru sadar.. kamu ternyata tidak tahu malu.”
Yvaine tersenyum lebih lebar, sama sekali tidak tersinggung.
“Aku memang tidak biasanya seperti ini,” katanya.
Lalu, dengan santai, ia menepuk bahu Louis.
“Tapi kalau sudah mulai.. aku bisa jadi sangat tidak tahu malu.”
Seketika itu juga, bulu kuduk Louis merinding.
Mobil terus melaju, membelah jalanan dengan kecepatan stabil. Hingga akhirnya, setelah beberapa waktu, Yvaine kembali membuka suara.
“Louis.”
“Ya?”
“Jangan beri tahu siapa pun tentang aku, termasuk Mork.”
Louis langsung menoleh, terkejut.
“Kenapa?”
Namun Yvaine tidak segera menjawab. Tatapannya perlahan menggelap, seolah ada sesuatu yang terpendam jauh di dalam dirinya, sesuatu yang tidak ingin ia ungkapkan.
“Aku punya alasanku sendiri,” katanya singkat.
Ia lalu memalingkan wajah ke arah jendela, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Jelas, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
Dan untuk sekali ini, Louis cukup peka untuk tidak bertanya lebih jauh.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah vila.
Di sana, seorang anak kecil sudah menunggu.
Begitu melihat Yvaine turun dari mobil, wajah anak itu langsung bersinar cerah, seolah seluruh dunianya baru saja kembali.
“Mom!”
Ia berlari kecil tanpa ragu, langsung memeluk Yvaine erat dengan penuh kerinduan.
“Aku menunggumu..” katanya manja, suaranya lembut dan tulus.
Yvaine tersenyum dengan hangat, lembut, dan benar-benar tulus.
Ia membalas pelukan itu tanpa ragu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Louis melihat sisi lain dari Yvaine yang tidak berbahaya, tidak licik, tidak dingin.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆