Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Timbangan Takhta
Hari-hari berlalu.
Istana kembali berjalan seperti biasa. Pelayan kembali sibuk. Prajurit kembali berlatih. Dan para bangsawan kembali tenggelam dalam urusan mereka masing-masing.
Seolah—tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun—itu hanya di permukaan.
Di balik ketenangan itu—kewaspadaan meningkat. Penjagaan diperketat. Patroli diperluas. Setiap gerbang dijaga lebih ketat dari sebelumnya.
Nama Bervala—masih menggantung. Seperti bayangan yang belum hilang.
Di ruang strategi—beberapa peta terbentang. Tanda-tanda kecil mulai bermunculan. Pergerakan. Kemungkinan. Dan ancaman.
“Mereka tidak besar.”
Seorang bangsawan berbicara. Nada suaranya meremehkan.
“Pasukan mereka terbatas. Jika perang terbuka terjadi, kita akan menang.”
Beberapa orang mengangguk.
Secara kekuatan—Risvela jauh lebih unggul.
Namun—tidak semua berpikir sama.
Felixa berdiri di dekat meja. Tatapannya tajam.
“…Itu bukan masalahnya.”
Suaranya memotong suasana.
Semua mata tertuju padanya.
“Bervala memang kecil. Namun…”
Ia menunjuk ke peta.
“Mereka tidak pernah bermain secara langsung.”
Sunyi.
Vaks menyilangkan tangan.
“Ya. Mereka licik.”
Ia menghela napas.
“Yang berbahaya itu bukan jumlah mereka… tapi rencana mereka.”
Ruangan menjadi lebih sunyi. Semua orang mulai memahami.
Ini bukan perang biasa. Bukan soal siapa yang lebih kuat.
Namun—siapa yang lebih cerdas.
---
Di tempat lain—Reyd berdiri di balkon. Menatap ke luar.
Kerajaan terlihat damai. Namun ia tahu—itu tidak akan bertahan lama.
“Bervala.”
Gumamnya pelan.
“…Mereka tidak akan menyerang langsung.”
Bisiknya.
“Bukan gaya mereka.”
Tatapannya menyipit sedikit.
“…Kalau begitu…”
Nada suaranya rendah.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyandera Lein lagi.”
Langit cerah. Kerajaan terlihat damai.
---
Raja Ryvons duduk di tahtanya. Tatapannya serius.
Di hadapannya—para bangsawan dan petinggi kerajaan berdiri. Diskusi telah dimulai.
Dan topiknya—bukan perang. Melainkan… pewaris takhta.
“Pangeran Seyron telah lama ditetapkan sebagai pewaris.”
Salah satu bangsawan membuka suara. Nada suaranya hati-hati.
“Apakah keputusan itu akan berubah, Yang Mulia?”
Sunyi. Semua menunggu jawaban.
Raja tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu ruangan. Lalu—ia berbicara.
“Ya.”
Satu kata. Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Beberapa bangsawan saling melirik.
“Posisi pewaris takhta…”
Raja melanjutkan.
“Tidak lagi mutlak.”
Kalimat itu jatuh berat.
Namun belum selesai.
“Aku akan memberikannya kepada Reyd—”
Ia berhenti sejenak.
“Jika dia mampu membuktikan dirinya.”
Sunyi. Beberapa wajah menunjukkan ketidaksetujuan. Namun tidak ada yang berani memotong.
“Dan sebaliknya…”
Tatapan Raja menajam.
“Jika Seyron mampu membuktikan bahwa dia lebih layak.”
Ruangan menjadi semakin tegang.
Ini bukan keputusan biasa. Ini—pertaruhan.
Salah satu bangsawan maju sedikit.
“Dengan cara apa, Yang Mulia?”
Pertanyaan itu penting. Karena selama ini—kekuatan adalah segalanya.
Namun—Raja menggeleng.
“Bukan tentang kekuatan.”
Jawabnya tegas.
Semua terdiam.
“Ini bukan tentang siapa yang lebih kuat. Melainkan…”
Ia menyandarkan tubuhnya sedikit.
“Siapa yang lebih layak memimpin.”
Sunyi. Semua mendengarkan.
“Jika Reyd mampu membongkar rencana Seyron…”
Tatapannya tajam.
“Dan menunjukkan bahwa dia adalah ancaman bagi kerajaan—”
Kalimat itu tidak dilanjutkan. Namun maknanya jelas.
“—Maka Reyd akan menjadi pewaris.”
Beberapa bangsawan mulai gelisah.
Namun Raja belum selesai.
“Dan jika Seyron mampu mengungkap niat tersembunyi Reyd… bahwa dia tidak layak dipercaya—”
Tatapannya semakin dalam.
“Maka posisi itu tetap miliknya.”
Sunyi. Tidak ada yang berbicara.
Raja menatap ke depan.
“Aku tidak akan hidup selamanya.”
Suaranya lebih pelan. Namun lebih berat.
“Aku harus memastikan…”
Ia berhenti sejenak.
“Bahwa saat aku pergi—”
Tatapannya kembali tajam.
“…Risvela berada di tangan yang tepat.”
Angin masuk perlahan dari jendela besar. Membawa udara dingin. Namun juga—kenyataan.
“Kerajaan ini harus tetap damai.”
Ucap Raja. Tegas. Tanpa keraguan.
“Dan untuk itu…”
Ia menutup matanya sejenak. Lalu membukanya kembali.
“Aku membutuhkan pewaris yang benar-benar layak.”
Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini—berbeda.
Karena semua orang tahu—keputusan telah dibuat.
Di luar ruang singgasana—permainan itu akan dimulai. Tanpa pedang. Tanpa perang terbuka.
Namun—jauh lebih berbahaya.
Karena yang dipertaruhkan—bukan hanya takhta. Namun—masa depan seluruh kerajaan.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?