Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemanasan di Ambang Kiamat
Episode 21
Pagi itu, Sektor Tujuh diselimuti kabut perak yang tidak biasa.
Udara tidak lagi terasa panas, melainkan dingin dan hampa, seolah seluruh kelembapan atmosfer telah tersedot menuju satu titik di ufuk timur.
Di halaman sekolah, anak-anak kelas dua SD sudah berbaris rapi mengenakan seragam olahraga berwarna biru cerah.
Arthur berdiri di barisan paling belakang sambil melakukan peregangan tangan dengan malas. Baginya, udara pagi ini terasa seperti aliran listrik statis yang merayap di kulit. Ia bisa merasakan massa yang sangat besar sedang turun dari lapisan eksosfer, sebuah objek yang tidak memantulkan cahaya, tetapi memiliki berat konseptual yang mampu menggeser orbit bulan.
“Architects benar-benar tidak sabar,” bisik Arthur sambil menoleh ke arah timur.
“Mereka bahkan tidak menunggu aku menyelesaikan sarapanku dengan benar.”
“Arthur! Fokus!” tegur Bu Hera sambil meniup peluit. “Ayo semuanya, ikuti gerakan senam ini! Kita harus memastikan tubuh kita bugar untuk menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu!”
Anak-anak mulai melompat kecil mengikuti irama musik dari pengeras suara sekolah.
Mia, yang berdiri di samping Arthur, tampak pucat. “Arthur, apa kau merasa tanah ini bergetar? Seperti ada mesin raksasa di bawah kaki kita.”
Arthur menatap tanah sejenak, lalu tersenyum kecil kepada Mia.
“Mungkin itu hanya perutmu yang lapar, Mia. Jangan terlalu dipikirkan.”
Namun Arthur tahu Mia benar.
Getaran itu adalah resonansi dari Benih Inti yang mulai bergesekan dengan perisai magnetik bumi. Dari kejauhan, di atas Samudra Pasifik, langit mulai memperlihatkan sebuah titik hitam yang perlahan membesar.
Titik itu tidak jatuh seperti meteor. Ia turun dengan kecepatan konstan, seolah sedang menuruni tangga tak kasatmata.
GDC telah mengaktifkan sistem deteksi dini mereka.
Di seluruh kota, sirine peringatan mulai meraung dalam frekuensi rendah, pertanda dimulainya “Operasi Segel Langit”.
Melalui layar raksasa di pusat sektor, wajah Valerius kembali muncul. Kali ini ia mengenakan zirah perang lengkap dengan jubah yang berkobar oleh energi emas.
“Warga sipil, jangan panik! Ini adalah bagian dari latihan militer global GDC untuk menguji sistem pertahanan baru kita. Tetaplah berada di area sekolah dan kantor masing-masing!”
Arthur menatap layar itu dengan ekspresi datar.
Bagus, Valerius. Kau mulai pandai berbohong dengan wajah meyakinkan.
Di balik saku celana olahraganya, Arthur menggenggam sebutir kelereng yang telah diinfus energi Heart of Gaia. Ia tidak bisa membiarkan Benih Inti itu menyentuh dasar laut tanpa pengawasan.
Ia membutuhkan sebuah “jangkar” untuk menahan energi konversi yang akan segera dilepaskan oleh benih tersebut.
Arthur memejamkan mata sejenak dan melepaskan kesadarannya melintasi ribuan kilometer menuju koordinat pendaratan.
Ia melihat armada Valerius yang telah menjauh dari zona dampak, menyisakan lautan hitam yang sunyi.
Tepat pukul 10.00 pagi, ketika Bu Hera menyuruh anak-anak mulai berlari mengelilingi lapangan, Benih Inti itu akhirnya menyentuh permukaan laut.
Tidak ada ledakan besar.
Yang terjadi justru keheningan absolut yang menelan seluruh suara dalam radius seratus kilometer.
Air laut di titik kontak tidak memuncrat ke atas, melainkan seperti “terhapus” dari keberadaan, menciptakan lubang silinder sempurna yang menembus hingga kerak bumi di dasar palung.
Arthur menghentikan langkahnya.
Ia merasakan gelombang kejut dimensional pertama.
Gelombang itu tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat warna-warna dunia memudar sesaat menjadi abu-abu.
“A-apa itu?” Bu Hera jatuh terduduk sambil memegangi dada.
Semua anak berhenti berlari. Beberapa mulai menangis karena tiba-tiba merasa sesak napas.
Arthur tetap berdiri tegak.
Di matanya, sebuah struktur piramida hitam setinggi tiga kilometer mulai tertanam di dasar samudra. Struktur itu segera mengeluarkan “akar-akar” berupa kabel energi ungu yang merambat cepat di bawah kerak bumi, mencari jalur menuju inti planet.
“Protokol Genesis: Inisiasi.”
Suara mekanik itu bergema langsung di dalam pikiran Arthur.
Arthur tahu ia hanya memiliki waktu tiga detik sebelum benih tersebut mulai menyedot energi kehidupan bumi.
Ia menjentikkan kelereng di sakunya ke arah tanah.
Kelereng itu tidak melesat jauh. Benda kecil itu hanya terkubur beberapa sentimeter di bawah rumput sintetis lapangan sekolah.
Namun, kelereng tersebut berfungsi sebagai pemancar.
Melalui benda itu, Arthur mengirimkan perintah balik kepada Heart of Gaia yang masih berada di dalam tas sekolahnya di ruang kelas.
“Konsep Keberadaan: Pembalikan Arus,” bisik Arthur.
Seketika, di dasar Samudra Pasifik, akar-akar ungu milik Architects yang baru hendak menyentuh inti bumi mendadak berhenti.
Energi yang seharusnya mereka sedot justru berbalik arah.
Bumi mulai menyedot energi dari piramida hitam tersebut.
Struktur raksasa itu bergetar hebat.
Di dimensi tinggi, para Architects pasti sedang panik melihat cadangan energi mereka terkuras habis oleh planet yang seharusnya mereka panen.
Arthur menghela napas panjang. Dahinya mulai berkeringat.
Menahan tekanan energi sebesar itu sambil tetap berpura-pura melakukan pemanasan olahraga benar-benar menguras konsentrasi mentalnya.
“Anak-anak! Masuk ke dalam gedung! Sekarang!” teriak Bu Hera yang akhirnya berhasil berdiri kembali.
Arthur mengikuti teman-temannya berlari menuju gedung sekolah.
Saat melewati koridor, ia melihat Silas berdiri di dekat ruang guru sambil berpura-pura memperbaiki mesin absensi.
Silas menatap Arthur dengan ketakutan yang berusaha disembunyikan.
Arthur memberi kode kecil menggunakan jarinya, tanda bahwa tahap pertama telah berhasil diatasi.
Namun Arthur tahu Architects tidak akan tinggal diam saat “Benih” mereka mulai dikonsumsi oleh bumi.
“Valerius.”
Suara Arthur bergema di pikiran sang pahlawan yang saat itu berdiri di dek kapal induknya.
“Bersiaplah. Mereka akan mengirimkan ‘Sinyal Pemutus’. Jaga garis pantai. Jangan biarkan satu pun drone mereka mendekat ke arahku.”
Valerius mengangguk kecil meskipun wajahnya pucat pasi.
Ia menatap laut, tempat piramida hitam kini mulai mengeluarkan asap putih pekat.
“Dunia mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang sebenarnya sedang bertarung hari ini,” bisik Valerius sambil menghunus pedangnya yang dialiri sisa energi Arthur.
“Tapi aku akan memastikan tidak ada yang mengganggunya.”
Arthur masuk ke dalam kelas, duduk di bangkunya, lalu membuka botol minumnya.
Di luar, langit yang tadinya berwarna ungu perlahan kembali menjadi biru.
Namun getaran di bawah tanah belum berhenti.
Ia tahu ini hanyalah awal dari pertempuran konseptual yang akan berlangsung selama beberapa bab ke depan.
Architects baru saja menyadari bahwa bumi bukan sekadar baterai.
Planet ini adalah jebakan yang telah dipersiapkan oleh sang Sovereign.