“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Waktu yang Tidak Menunggu
"Fahri."
Nada suara Husain berubah. Lebih dalam.
“Kalau Om kasih tahu…” Ia berhenti sejenak. “…kamu tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.”
Fahri tidak menghindar.
“Dari awal… saya memang tidak berniat pura-pura tidak tahu.” Jawaban itu tenang. Tapi jelas.
Husain menatapnya lama. Lalu mengangguk kecil. Seolah… memutuskan.
“Dia sakit.”
Kalimat itu akhirnya keluar. Pendek. Namun menghantam. Bukan kaget… tapi “terlambat sadar”.
Fahri tidak langsung bereaksi. Hanya diam. Tatapannya tetap pada Husain. Namun kini… lebih dalam.
“Paru-paru,” lanjut Husain pelan. “…stadium akhir.”
Untuk beberapa detik… tidak ada yang bergerak.
Dan entah kenapa, potongan-potongan kecil mulai muncul di kepala Fahri.
Terakhir kali ia bertemu Kaisyaf di kantor. Wajahnya… lebih tirus dari biasanya. Kulitnya tampak pucat. Bukan sekadar kurang tidur.
Dan matanya… Fahri sempat memerhatikan itu. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan lelah. Bukan tekanan kerja. Lebih dalam dari itu. Seperti seseorang yang… sedang menahan sesuatu sendirian.
Saat itu, Fahri sudah curiga. Sekarang, semuanya terasa… masuk akal.
Rahang Fahri mengeras perlahan. Namun suaranya, saat akhirnya keluar… tetap tenang.
“Sejak kapan, Om?”
Husain tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat bergeser. Bukan menghindar. Tapi… seperti mencari titik awal dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sadar kapan dimulai.
"Om juga tidak tahu pasti.” Suaranya lebih pelan sekarang. Tidak setegas sebelumnya. “Selama ini… dia memang mulai sulit dihubungi.”
Fahri diam. Kalimat itu… terasa familiar.
“Kadang diangkat. Kadang tidak,” lanjut Husain. “Kalau pun diangkat… selalu singkat.”
Fahri menunduk sedikit. Rahangnya kembali mengeras. “Saya juga merasakan hal yang sama.”
Pengakuan itu keluar pelan. Seolah baru sekarang… ia benar-benar mengakuinya.
Husain mengangguk kecil. “Bukan cuma itu.”
Ia berhenti sejenak.
“Kaisyaf… sudah lama tidak pulang ke rumah utama.” Tatapannya kembali ke Fahri. “Ayza juga.”
Fahri tidak menyela.
“Kemarin… Om dan tante ke sana.” Suaranya sedikit turun. “Alvian bilang… ayahnya sudah jarang pulang. Dan Ayza…” Husain berhenti. “…tatapannya berbeda.”
Fahri mengangkat sedikit pandangannya.
“Ada sesuatu yang ditahan. Tapi dia tidak bilang apa-apa.”
Potongan-potongan kecil… mulai menyatu.
Husain melanjutkan, “Om coba hubungi dia waktu itu.”
Fahri fokus sekarang.
“Yang angkat… bukan dia.”
"Siapa?”
“Seorang wanita,” jawab Husain. “Mengaku sekretarisnya.”
Fahri mengernyit tipis.
“Awalnya masih masuk akal.” Husain menarik napas. “Tapi…”
Ia berhenti sejenak. Tatapannya mengeras.
“Tiba-tiba… terdengar suara pintu dibuka.”
Fahri tidak bergerak.
“Dan seseorang berkata…” lanjut Husain pelan, “…‘Doctor, patient is critical.’”
Kali ini… tidak ada suara lain selain napas yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Dan karena itu Om ke Pak Ridho,” gumamnya pelan. Bukan bertanya. Lebih seperti… menyimpulkan.
Husain mengangguk. “Dan sekarang… Om tahu jawabannya.”
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada penekanan. Justru itu… yang membuatnya terasa lebih berat.
Untuk beberapa detik… tidak ada suara apa pun. Bahkan napas pun terasa berat.
Fahri tidak mundur. Tidak juga langsung bertanya. Namun kali ini tatapannya goyah. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat.
Lalu—
“Dia tahu?” tanya Fahri akhirnya.
Husain mengangguk. “Dari awal.”
Satu kalimat itu… lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Fahri menunduk sebentar. Lalu kembali menatap Husain. “Dan dia memilih diam?”
Bukan pertanyaan. Lebih seperti… memastikan.
Husain tidak menjawab. Karena tidak perlu.
Fahri menghela napas pelan. Namun kali ini… tidak serapi biasanya.
“Om…” Suaranya lebih rendah. “...Kak Ayza belum tahu, 'kan?”
Husain menatapnya. Lalu menggeleng pelan.
“Belum.”
Fahri menutup mata sejenak. Dan di situlah, beban itu benar-benar terasa.
Bukan sebagai bawahan. Bukan sebagai orang luar. Tapi… sebagai seseorang yang selama ini… ada di antara mereka.
Ia membuka mata kembali. Tatapannya berubah. Lebih tenang. Lebih dingin. Lebih… siap.
“Kita tidak punya banyak waktu, ya?”
Kalimat itu pelan. Tapi tepat.
Husain tidak menjawab. Namun kali ini… ia tidak sendirian memikulnya.
***
Siang itu, gerbang sekolah mulai lengang. Alvian berdiri di tempat yang sama. Menunggu.
“Al.”
Suara itu membuatnya menoleh.
Reza.
Kali ini… ia tidak kaget. Tapi tetap tidak mendekat.
“Om Reza,” ucapnya pelan.
Reza tersenyum tipis. Tidak memaksa mendekat.
“Baru keluar?”
Alvian mengangguk kecil. Tapi kakinya tidak bergerak.
Reza memerhatikan itu. Lalu perlahan merogoh ponselnya.
“Om tadi ketemu sesuatu…” ucapnya santai. “Kayaknya kamu perlu lihat.”
Alvian mengernyit sedikit. Tapi tetap diam.
Reza menampilkan layar ponselnya. Sebuah foto. Seorang pria… bersama wanita lain. Dekat. Terlalu dekat.
Alvian menatap. Alisnya langsung berkerut.
“Abi...?”
Suaranya kecil. Tidak yakin.
Reza tidak langsung menjawab. Ia justru menghela napas pelan. Seolah ragu.
“Kadang…” ucapnya pelan, “…orang dewasa punya masalah yang gak diceritakan ke anak.”
Ia berhenti sejenak.
“Abi kamu… belakangan jarang pulang, 'kan?” Nada suaranya tetap ringan. Seolah hanya bertanya biasa. “Tapi kamu gak pernah dikasih tahu kenapa.”
Alvian tetap menatap foto itu. Tangannya mulai mencengkeram tali tasnya.
Reza melanjutkan. Suaranya tetap lembut.
“Bukan berarti Abi kamu jahat…” Ia berhenti sejenak. “Tapi… mungkin sekarang dia lagi sibuk dengan pilihannya sendiri.”
Kalimat itu… tidak langsung. Tapi cukup.
Alvian menunduk sedikit. Perlahan… mundur setengah langkah.
Reza melihat itu. Lalu menambahkan—
“Kalau suatu hari kamu butuh seseorang yang tetap ada…” Ia tersenyum tipis. “…Om ada buat kamu.”
Langkah Alvian berhenti. Namun tubuhnya tidak mendekat. Justru semakin menjauh. Dan sebelum suasana berubah lebih jauh—
“Apa yang Kakak lakukan di sini?”
Suara itu datang dari belakang. Tegas.
Reza langsung menoleh.
Alvian juga. Wajahnya seketika berubah.
“Om Fahri!”
Ia langsung berlari. Memeluk pria itu tanpa ragu.
Fahri menahan tubuh kecil itu dengan satu tangan. Tatapannya tetap lurus ke depan. Ke arah Reza.
Dingin.
Reza mengatupkan rahangnya.
Fahri melirik sekilas ke ponsel di tangan Reza.
Layar itu belum mati. Dan dalam satu detik… ia tahu, ini bukan kebetulan.
Fahri menghampiri. Langkahnya terukur. Tangannya otomatis menarik Alvian sedikit ke belakangnya. Protektif. Tatapannya jatuh ke ponsel di tangan Reza.
Foto itu… masih menyala.
Rahangnya mengeras.
“Apa yang Kakak lakukan di sini?” tanyanya dingin.
Reza tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Fahri dari atas ke bawah.
“Harusnya aku yang tanya,” balasnya santai. “Kamu ngapain di sini?”
Fahri tidak terpengaruh.
“Kak Ayza minta aku jemput Al.”
“Benarkah?” Reza tersenyum tipis.
Alvian di samping Fahri menggenggam ujung bajunya. Diam. Tapi matanya bolak-balik menatap keduanya.
Fahri melangkah setengah langkah ke depan.
“Jangan dekati dia lagi.” Nada suaranya tidak tinggi. Tapi jelas.
Reza mengangkat alis sedikit.
“Aku cuma ingin membuat Ayza bahagia.” Kalimat itu ringan. Seolah wajar.
Fahri menatapnya lebih tajam.
“Prinsip hidup kalian berbeda, Kak.” Ia berhenti sejenak. “Apa Kakak yakin… bisa membahagiakan Kak Ayza?”
Reza tersenyum tipis. Namun kali ini… lebih tajam.
“Jadi kamu merasa prinsip hidupmu sama dengan dia?” balasnya pelan. “Dan kamu yakin… kamu yang bisa membahagiakan dia?”
Alvian menoleh ke Fahri. Wajahnya mulai bingung.
Fahri mengerutkan kening. “Apa maksud Kakak?”
Alvian menggenggam baju Fahri lebih erat.
...🔸🔸🔸...
..."Ada kebenaran yang tidak menghancurkan saat disembunyikan,...
...tapi justru menghancurkan saat akhirnya terungkap… terlalu terlambat."...
..."Yang paling berbahaya bukan kebohongan,...
...tapi kebenaran yang sengaja ditunda."...
..."Ada rahasia yang dimaksudkan untuk melindungi,...
...tapi justru menjadi alasan semua orang terluka."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Nara yang menerima panggilan telepon dari Husain ke ponsel Kaisyaf. Ia mengaku sebagai sekretaris Kaisyaf.
Husain merasa ada sesuatu yang disembunyikan dalam rumah tangga Kaisyaf dan Ayza.
lagian kalau tdk bersama Kai apa dia mau balikan sama kamu, lelaki bodoh yg hanya mikir egonya sendiri ..
riwayat paru² Kai satu tahun itu sdh termasuk lama berkembang dengan keadaan dia yg sempat koma dulu, q jg pernah jaga pasien paru² cepet banget perkembangannya hingga tdk bisa bertahan lama sudah koid diannya
Bagi Kslian, ysng belum membaca, Kisah Ayza dan Ksisyaf Season 1, silakan baca juga ya 🙏🙏🙏😁 Soalnya ini Season 2 😁😁😁 Judulnya "Wa'Alaikumsalam Mantan Imam" itu Season 1 ya... Khusus bagi yang belum membaca Season 1 nya, ya... 🙏🙏🙏😁