NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti batu

"Lho… kok berat sekali?" gumam Daud dengan napas memburu.

"Coba lagi." kata Jaka.

Mereka mencoba sekali lagi, kali ini dengan tenaga lebih kuat. Wajah-wajah mereka mulai memerah karena menahan beban.

Namun hasilnya sama.

Tubuh Seno tetap tak bergerak, bahkan sedikit pun tidak. Seperti mereka sedang mencoba mengangkat batu besar yang tertanam di tanah.

Udin perlahan melepaskan tangannya, napasnya terengah.

"Jak… ini aneh sekali." Ucapnya.

Jaka menatap tubuh Seno dengan kening berkerut. Ia lalu menghela napas panjang.

"Sekali lagi. Kita coba lagi." kata Jaka.

Udin, Daud, dan dua pemuda lain kembali mengambil posisi. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu mengerahkan tenaga bersama-sama.

"Satu… dua… angkat!"

Semua tenaga mereka dikerahkan. Otot-otot tangan menegang, wajah memerah karena menahan beban.

Namun hasilnya tetap sama. Tubuh Seno tidak bergerak sedikit pun.

Seolah-olah tubuh itu melekat kuat pada tikar di bawahnya.

Jaka akhirnya berhenti dan melepaskan tangannya.

"Tidak bisa." gumamnya pelan.

Ia menoleh ke arah Ustadz Sakari.

"Ustadz… kami sudah coba berkali-kali. Tapi tidak bisa diangkat sama sekali."

Ustadz Sakari yang sejak tadi berdiri memperhatikan segera mendekat. Ia memandang tubuh Seno sejenak, lalu mengucapkan sesuatu dengan suara pelan.

"Bismillahirrahmanirrahim…"

Setelah itu ia ikut berjongkok.

"Ayo… kita coba lagi bersama."

Jaka dan para pemuda kembali memegang tubuh Seno. Kali ini Ustadz Sakari ikut membantu mengangkat bagian bahunya.

"Angkat perlahan." kata beliau.

Mereka mencoba sekali lagi.

Namun tetap saja sama. Tubuh Seno tidak bergerak sedikit pun.

Ustadz Sakari perlahan melepaskan tangannya. Wajahnya tampak serius.

"Din," panggilnya.

“Iya, Ustadz?” Udin langsung menoleh.

"Turun ke bawah. Minta bantuan warga yang di luar. Kita butuh lebih banyak orang."

Udin mengangguk cepat. Ia segera berdiri lalu berjalan menuju tangga rumah.

Beberapa detik kemudian ia sudah berada di halaman.

"Pak.... Pak RT..." panggilnya agak keras.

Pak Warsito yang sedang berbicara dengan warga lain langsung menoleh.

"Ada apa, Din?"

Udin mendekat.

"Pak… jenazah Seno tidak bisa diangkat."

Pak Warsito mengernyitkan dahi.

"Maksudmu tidak bisa diangkat bagaimana?" tanyanya.

Udin menoleh ke arah pintu rumah sebelum kembali menatap Pak Warsito.

"Kami sudah coba berkali-kali, Pak. Saya, Jaka, Daud, sama yang lain. Bahkan Ustadz juga ikut membantu, tapi tubuh Seno tidak bergerak sama sekali."

Beberapa warga yang berdiri di sekitar mereka langsung saling berpandangan.

"Tidak bergerak?" ulang Pak Yuda pelan.

"Berat sekali, Pak. Seperti… seperti mengangkat batu besar."

Kerumunan warga mulai berbisik-bisik lagi.

"Aneh sekali…"

"Baru kali ini saya dengar jenazah tidak bisa diangkat."

"Pak ustadz bilang, mungkin yang lain bisa bantu." Kata Udin.

Pak Warsito menghela napas panjang lalu melangkah maju.

"Baik. Kita naik ke atas sama-sama."

Beberapa pemuda segera ikut bersamanya. Pak Yuda juga ikut berjalan menuju tangga rumah.

Tak lama kemudian mereka sudah berada di ruang tamu. Cahaya lampu minyak yang redup menerangi wajah-wajah tegang para pemuda yang mengelilingi tubuh Seno.

Jaka menoleh ketika Pak Warsito masuk.

Pak Warsito mendekati jenazah itu dan menatapnya beberapa detik.

"Baik, Sekarang kita coba ramai-ramai." katanya pelan.

Ia menoleh ke arah para pemuda.

"Kalian semua pegang. Kita angkat bersama."

Enam orang pemuda segera mengambil posisi di sekitar tubuh Seno begitupun Pak Warsito dan Pak Yuda.

"Satu… dua… tiga… angkat!"

Mereka mengerahkan tenaga bersama-sama.

Namun beberapa detik kemudian, wajah mereka kembali berubah tegang.

Tubuh Seno tetap tidak bergerak.

Sedikit pun tidak.

Orang-orang yang berada di dalam rumah saling berpandangan. Tidak ada yang berani berbicara terlebih dahulu. Masing-masing hanya menatap tubuh Seno yang masih terbaring kaku di atas tikar.

Beberapa pemuda yang tadi mencoba mengangkatnya kini mundur perlahan. Wajah mereka terlihat pucat dan bingung.

Pak Yuda mengusap keringat di dahinya.

"Ini… baru pertama kali saya melihat yang seperti ini." Gumamnya pelan.

Bisik-bisik mulai terdengar lagi di dalam ruangan. Ada yang memandang jenazah Seno dengan cemas, ada pula yang melirik ke arah pintu dan jendela yang gelap.

Pak Warsito menarik napas panjang. Ia lalu menoleh ke arah Ustadz Sakari yang berdiri tidak jauh dari jenazah itu.

"Ustadz…" panggilnya pelan.

Ustadz Sakari menatapnya.

"Iya, Pak?"

Pak Warsito mendekat satu langkah.

"Menurut Ustadz, kita harus bagaimana?" Tanyanya sambil menoleh sekilas ke arah tubuh Seno.

"Jenazah harus dimandikan malam ini. Besok pagi-pagi sekali harus sudah dimakamkan."

Beberapa warga mengangguk pelan. Di desa itu memang sudah menjadi kebiasaan, jenazah dimakamkan secepat mungkin.

apalagi di dalam Islam memang sudah seharusnya jenazah tidak di tahan-tahan.

"Tapi.. kami bahkan tidak bisa mengangkatnya" lanjut Pak Warsito dengan suara lebih pelan.

Ruangan kembali hening.

Cahaya lampu minyak bergoyang pelan, membuat bayangan orang-orang di dinding tampak bergerak tidak tenang.

Pak Sugeng yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan akhirnya berdiri perlahan. Langkahnya berat ketika mendekati tubuh anaknya yang terbaring di atas tikar.

Wajahnya pucat dan matanya sembab.

"Pak Ustadz…" suaranya serak.

Semua orang menoleh kepadanya.

Pak Sugeng menatap tubuh Seno beberapa detik sebelum kembali menatap Ustadz Sakari.

"Lalu... bagaimana dengan jenazah anak saya ini, Pak Ustadz?" tanyanya dengan wajah redup penuh kesedihan. "Kalau memang tidak bisa diangkat, bagaimana kita memandikannya?"

Ruangan kembali hening. Tidak ada yang langsung menjawab.

Ustadz Sakari terlihat menarik napas panjang, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Bu Ranti yang sedari tadi di kamar karena tidak sanggup melihat jenazah anaknya itu berlari keluar dari kamar. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata.

"Le… Seno… anak ibu…" Isaknya sambil mengguncang bahu anaknya pelan.

Beberapa ibu-ibu segera menghampiri mencoba menahannya.

"Sudah, Bu… sabar, Bu…"

Namun Bu Ranti seperti tidak mendengar.

Ia menatap wajah anaknya dengan mata penuh ketakutan.

"Kenapa begini, Le…? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu…?" Tangisnya.

1
Gadis misterius
Jaka udin gk usah dbntu biarin aza'di urus warsito dan kau karmin cs akan mati lebih mengenaskan di tngan aning
Gadis misterius
Sdh berkurang nunggu yg lainya
Gadis misterius
Giliranmu yg akan mati anton
Aisyah Ashik
kenapa aning balas dendamnya lambat bgt😄, keburu keluarga jaka dan undin jadi korban
Gadis misterius
kepala desa tdk adil.pilih kasih mentang2 budarsia miskin dan karmin kaya jd condong ke yg kaya pkoknya jngn kasih ampun semua aning
Maple latte
🤗🤗🤗
Gadis misterius
Apa sih yg ditunggu aning knp gk langsng dibunuh karmin cs
Gadis misterius
Jngn smpai jaka udin knp2 cukup budarsia aza
Gadis misterius
Ya Allah sungguh pilu dan sedih tk terasa air mata menetes,Selamatkan budarsis dan jaka udin semoga mereka tdk knp2....blas ning jngn kasih ampun apa lg yg kau tunggu bunuh mereka yg menyiksa ibumu bak hewan
Santi mutia Rahayu
lanjut thor🤭cerita nya sungguh menarik👍
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
untung BPK nya Seno gk ikutan .. mngkin msh bsa selamat ..
Yati Susilawati
sampai ngeri bacanya.
tega kalian!!
Srikandi_putri
It's a good story 👍👍👍👍
Delisa
Keren sih ini. dari awal menengangkan banget. suka aku sama cerita ini
Gadis misterius
Jngn kasih ampun aning bikin mereka mati berbarengan ,melebihi iblis dngn alasan balas dendam tp sesungguhnya mreka hnya mencari pelampiasan krn sejatinya mereka bertiga adalah iblis berwujud manusia,,,siksa mereka aning sebelum mati tarik tubuhnya dijalan yg berbatu menyesalpun tiada guna
Gadis misterius
pak warsito udin dan jaka yg paling waras dan yg baik tnpa pamrih dan yg paling sibuk mengurus orang2 mati walaupun takut masih aza'membntu smpai selesai
Gadis misterius
Karmin cs jngn lma2 ning sdh cukup mereka memfitnah dan menyiksa ibumu
Mega Arum
terasa ikut nyesek
Mega Arum
semakin menegangkan... Lanjuut thor
Gadis misterius
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!