NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Peradaban dengan Luka

Suara baling-baling helikopter militer AgustaWestland membelah kesunyian fajar di lereng Alpen, menciptakan badai salju kecil saat mendarat di titik evakuasi. Aiden Volkov berdiri tegak, meski kemeja hitamnya sudah sobek di bagian bahu dan noda darah kering menghiasi lengan bajunya. Di dekapannya, Ziva tampak kecil, terbungkus jaket taktis Aiden yang terlalu besar, tertidur karena kelelahan yang luar biasa.

​Marco turun lebih dulu, memberikan hormat pada unit medis yang sudah bersiaga. "Siapkan unit trauma. Tuan Volkov terluka, dan Nona Ziva mengalami hipotermia ringan serta syok."

​Saat Aiden melangkah masuk ke dalam kabin helikopter yang hangat, ia tidak membiarkan satu pun paramedis mengambil Ziva dari tangannya. Ia duduk di kursi kulit yang empuk, tetap memeluk gadis itu seolah-olah dunia luar masih mengintai untuk merebutnya kembali.

Dua jam kemudian, cakrawala Milan yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit muncul di balik kabut pagi. Helikopter mendarat di helipad pribadi gedung pusat Volkov Corp. Begitu pintu terbuka, aroma kota—perpaduan antara polusi, aspal, dan parfum mahal—langsung menyerbu indra penciuman mereka. Peradaban. Tempat di mana hukum besi Aiden berlaku, namun juga tempat di mana luka-luka ini harus disembunyikan di balik jas ribuan dolar.

​"Tuan, kursi roda sudah siap," ucap seorang pelayan dengan wajah pucat melihat kondisi bosnya.

​"Aku tidak butuh kursi roda," desis Aiden dingin. Ia turun dengan langkah mantap, menggendong Ziva menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke penthouse medis di lantai teratas.

​Luka di punggung Aiden, hasil dari pecahan kaca saat ledakan di kabin kereta gantung, mulai mengeluarkan darah lagi, merembes ke kain kemejanya. Namun, ia tidak meringis sedikit pun. Fokusnya hanya satu: memastikan Ziva aman.

​Di dalam ruang medis pribadi yang steril, Ziva akhirnya terbangun saat seorang perawat mencoba memasangkan infus vitamin. Matanya yang sembap menatap sekeliling dengan linglung.

​"Bang... Don?" suaranya serak.

​Aiden, yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur sambil membiarkan seorang dokter menjahit luka di bahunya tanpa bius, langsung menoleh. "Aku di sini, Ziva. Kita sudah di rumah."

​Ziva melihat ke arah bahu Aiden yang sedang dijahit. Darah segar mengalir, namun wajah Aiden tetap sedingin batu marmer. Ziva mencoba duduk, namun tubuhnya masih terasa seperti jeli.

​"Bang, itu... itu sakit ya?" Ziva menunjuk luka Aiden dengan jari gemetar.

​"Hanya goresan," jawab Aiden datar, meski dokter di sampingnya tahu bahwa luka itu cukup dalam untuk memotong otot. "Tidur saja. Kau butuh istirahat."

​"Nggak mau. Gue mau liat lu diobatin dulu. Lu... lu hampir mati gara-gara gue, Bang," air mata kembali menggenang di mata Ziva. "Kalau aja gue nggak minta kabur ke hutan, kalau aja gue nggak egois..."

​Aiden memberi isyarat agar dokter berhenti sejenak. Ia berdiri, mengabaikan jahitan yang belum selesai, dan duduk di pinggir tempat tidur Ziva. Ia memegang tangan Ziva yang dingin.

​"Dengarkan aku. Luka ini," Aiden menunjuk bahunya, "akan sembuh dalam seminggu. Tapi jika sesuatu terjadi padamu, luka di kepalaku tidak akan pernah sembuh. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kejahatan orang lain. Paham?"

​Ziva mengangguk pelan, meski hatinya masih terasa berat. Ia menyadari bahwa kembali ke peradaban tidak berarti bahaya telah hilang. Justru di sini, di tengah kemewahan ini, musuh-musuh Aiden menggunakan pena dan racun, bukan lagi hanya busur panah kayu.

Sore harinya, Aiden sudah kembali mengenakan kemeja baru dan jas lengkap, meski gerakan bahu kirinya masih terbatas. Ia berdiri di balkon penthouse, menatap jalanan Milan yang sibuk. Marco masuk membawa tablet digital.

​"Laporannya, Tuan," Marco memulai dengan nada formal. "Sabotase jet pribadi dilakukan oleh teknisi internal di pangkalan udara pribadi. Dia sudah kita amankan. Dia mengaku dibayar oleh faksi politik yang berafiliasi dengan Crimson Fang."

​Aiden tidak berbalik. "Eksekusi dia secara publik di dunia bawah. Aku ingin semua orang tahu bahwa menyentuh aset Volkov—terutama yang membawa Nona Ziva—adalah tiket satu arah menuju neraka."

​"Baik, Tuan. Dan mengenai kerugian di Alpen..."

​"Lupakan soal kerugian materi," potong Aiden tajam. "Bagaimana dengan sisa-sisa penjaga hutan?"

​"Mereka menghilang kembali ke dalam kabut. Namun, ada laporan menarik. Beberapa anak buah kita menemukan ulekan batu Nona Ziva di helikopter penyelamat. Penduduk lokal di sana menyebutnya sebagai 'Batu Penenang'. Mereka percaya benda itu membawa keberuntungan bagi siapa pun yang memegangnya dengan niat tulus."

​Aiden menatap ulekan batu yang kini diletakkan di atas meja kaca mahalnya. Benda kasar itu tampak sangat kontras dengan dekorasi minimalis ruangannya. "Simpan benda itu dengan baik. Pasang sensor pelacak di dalamnya. Aku tidak mau benda itu hilang lagi."

Malam itu, Aiden mengajak Ziva makan malam di ruang makan penthouse. Tidak ada pelayan, hanya mereka berdua. Ziva sudah mandi dan mengenakan piyama sutra pemberian Aiden, meski rambutnya masih berantakan karena sisa-sisa daun kering hutan Alpen yang sulit dibersihkan.

​"Bang, ini makanannya kok mahal-mahal banget sih? Gue kangen nasi uduk depan gang," keluh Ziva sambil menusuk-nusuk kaviar di piringnya.

​Aiden menyesap wine merahnya. "Makan saja, Ziva. Itu protein tinggi. Kau butuh tenaga untuk pemulihan."

​"Gue nggak butuh protein, Bang. Gue butuh ketenangan. Gue masih ngerasa kalau di balik tirai itu ada orang yang lagi bidik pake sniper," Ziva menunjuk jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

​Aiden meletakkan gelasnya. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, lalu menekan sebuah tombol. Seketika, dinding baja tipis namun tahan peluru meluncur menutupi seluruh kaca, mengubah ruangan itu menjadi bunker mewah.

​"Sekarang tidak ada yang bisa melihatmu. Kau aman di sini," ucap Aiden.

​Ziva menatap Aiden. Ia melihat ada gurat kelelahan di bawah mata abu-abu pria itu. Aiden selalu menjadi perisai bagi semua orang, tapi siapa yang menjadi perisai bagi Aiden?

​"Bang Don, sini duduk deket gue," pinta Ziva.

​Aiden menurut. Ia duduk di kursi samping Ziva. Tiba-tiba, Ziva menyandarkan kepalanya di bahu Aiden yang tidak terluka.

​"Makasih ya udah bawa gue balik ke peradaban. Walaupun peradaban lu isinya tembakan sama pengkhianatan, tapi kalau ada lu, gue ngerasa peradaban ini masih layak ditinggali," bisik Ziva.

​Aiden merangkul pundak Ziva. "Luka-luka ini... mereka adalah pengingat. Bahwa kita masih hidup. Dan selama kita hidup, kita masih punya kesempatan untuk membalas mereka."

Ketenangan mereka terganggu saat interkom berbunyi. Suara Marco terdengar mendesak. "Tuan, ada kiriman di depan pintu. Tanpa nama pengirim."

​Aiden berdiri, insting mafianya kembali siaga. Ia berjalan menuju pintu masuk, diikuti Ziva yang mengintip dari belakang. Di depan pintu, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang dibungkus kain merah darah.

​Aiden membukanya dengan hati-hati menggunakan pisau kecil. Di dalamnya, terdapat sebuah mawar hitam yang sudah layu dan sebuah foto. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi saat Aiden sedang menggendong Ziva di hutan Alpen tadi pagi.

​Di balik foto itu tertulis: "Hutan tidak bisa menyembunyikanmu selamanya, Naga. Bunga Mataharimu adalah harga yang harus kau bayar atas kehancuran gudang kami. Sampai jumpa di Sisilia."

​Tangan Aiden meremas foto itu hingga hancur. Matanya berkilat dengan amarah yang murni—kemarahan seorang raja yang wilayah kedaulatannya diinjak-injak.

​"Ziva, masuk ke kamar. Sekarang," perintah Aiden dengan suara yang tidak menerima bantahan.

​"Bang... ada apa? Itu dari siapa?" Ziva ketakutan melihat perubahan drastis aura Aiden.

​"Masuk, Zivanna!"

​Ziva lari menuju kamarnya. Aiden berbalik ke arah Marco yang baru saja muncul. "Panggil semua unit elit. Kita berangkat ke Sisilia besok pagi. Jika mereka ingin bermain dengan Bunga Matahariku, aku akan memastikan mereka terbakar di ladang mawar mereka sendiri."

Malam itu, peradaban Milan terasa sangat dingin bagi Aiden Volkov. Ia masuk ke kamar Ziva saat gadis itu sudah tertidur lelap. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah polos Ziva yang masih memiliki bekas luka kecil di pipinya.

​Aiden menyentuh bekas luka itu dengan ujung jarinya. Luka di tubuhnya memang sakit, tapi luka karena gagal melindungi Ziva jauh lebih menyiksa. Ia menyadari bahwa musuh-musuhnya tidak akan berhenti. Penyamaran yang konyol, bau terasi, dan tawa di hutan... semua itu adalah hal-hal yang kini harus ia pertahankan dengan seluruh kekuasaannya.

​"Aku akan menghancurkan mereka semua, Ziva," bisik Aiden. "Bahkan jika aku harus mengubah peradaban ini menjadi medan perang sekali lagi."

​Ia meletakkan pistol bunga matahari Ziva yang baru di atas nakas, tepat di samping ulekan batu. Dua benda yang sangat kontras, namun mewakili satu hal: perlindungan.

​Kembali ke peradaban ternyata membawa luka yang lebih dalam daripada sekadar jahitan di bahu. Luka itu adalah kesadaran bahwa kedamaian hanyalah jeda singkat di antara dua pertempuran. Dan bagi Aiden Volkov, pertempuran berikutnya akan menjadi yang paling berdarah dalam sejarah keluarga Volkov, karena kali ini, ia tidak hanya bertarung demi takhta, tapi demi senyum seorang gadis yang telah mengubah dunianya.

​Fajar mulai menyingsing di Milan. Aiden berdiri dari tempat tidur Ziva, mengenakan mantel panjangnya, dan melangkah keluar menuju ruang perang. Naga Hitam telah kembali, dan kali ini, ia tidak akan memberikan ampunan bagi siapa pun yang berani menyentuh Bunga Mataharinya.

1
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
shabiru Al
haddeuh makin gak masuk akal 🤣
shabiru Al
nah kaaan beneran berasa d indo bukan d milan...😄
shabiru Al
agak gak masuk akal sih,, kan ceritanya d milan ya... kok berasa d jakarta gitu berantem sama preman tpi ya sudahlah,, seru juga...
Farida 18: maaf kan autor ya kak🥺, akan autor usahakan memperdalam suasana kota milannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!