"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
Hujan turun perlahan di luar jendela, menari-nari di atas atap seng rumah kontrakan itu. Udara lembap menyelusup masuk melalui celah-celah jendela yang tak sempurna tertutup. Di dalam ruangan sempit beraroma lapuk dan kayu basah, Kanaya duduk memeluk lutut, memandangi secarik kertas di tangannya yang mulai lecek oleh jemarinya sendiri.
"Perjanjian Pernikahan."
Dua kata yang begitu asing, namun kini menjadi nyata dalam hidup yang sejak dulu tak pernah memberinya banyak pilihan.
Kanaya bukanlah gadis yang tumbuh dengan impian gaun putih dan pesta megah. Ia terlalu sibuk menghidupi kenyataan, menggenggam tanggung jawab lebih kuat dari genggaman masa muda.
Tapi siapa sangka, tawaran itu datang tiba-tiba dari pria yang bahkan tidak bisa ia tebak isi hatinya. Kala mahendra wirawan. Nama yang akrab di berita ekonomi, tapi asing dan dingin seperti musim hujan di kota ini.
Dia bukan pangeran berkuda putih. Dia adalah badai, diam, gelap, dan tak tertebak. Namun, anehnya, justru badai itulah yang kini menawarinya atap.
“Enam bulan,” gumam kanaya, suara lirihnya tertelan derik hujan. Hanya itu yang disepakati. Enam bulan menjadi istrinya,istri pria itu di atas kertas, tanpa cinta, tanpa janji yang manis.
Tapi siapa yang bisa benar-benar mengikat hati dalam kontrak, siapa yang tahu.
Di luar sana, hujan masih jatuh. Kanaya tahu, bukan hanya langit yang sedang sendu, ia pun sedang belajar menampung rasa yang tak bernama.
Sekilas ingatan menyelusup dalam pikirin kanaya, betapa nekadnya dia menerima tawaran pernikahan kontrak ini. Andai saja, andai saja ini hanya sebuah skenario sebuah drama yang tayang setiap sabtu malam, mungkin kanaya tidak akan segalau dan sekalut ini, karena endingnya sudah pasti ketebak.
"Hhhhhhhhh.........." lesu kanaya bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju pintu, bergegas menutup pintu yang sudah basah karena tempias air hujan.
Suara mesin mobil terdengar berhenti diluar pagar rumah, kanaya tahu itu kala, selalu tepat waktu, seperti biasa efisien, dingin dan tak pernah lebih dari sekedar perlu.
Kanaya perlahan berdiri, melipat kertas kontrak itu dan menyelipkan kedalam tas sandang hitamnya.
Dia gemetaran, bukan karena dingin, tapi oleh sesuatu yang tak bisa ia beri nama, mungkin takut, mungkin ragu atau mungkin keduanya.
"Tok...tok"
Dua ketukan di pintu kayu itu terdengar ragu di telinga kanaya, ragu-ragu, seperti menyadari betapa asing dan lusuhnya tempat ini bagi orang sekelas kala mahendra wirawan.
Kanaya membuka pintu perlahan, dan disanalah berdiri sosoknya dengan tegap, tinggi, dan mengenakan stelan jas hitam yang kelihatan sangat kontras, dengan latar belakang rumah kontrakan kecil kanaya. Mata tajamnya menyapu seluruh ruangan, tak ada cemoohan atau komentar, hanya diam. Selalu diam.
"Sudah siap?" Tanyanya datar. Tak ramah, tapi tak juga kasar, hanya...hampa.
kanaya mengangguk kecil "sudah"
Kala mengalihkan pandangannya ke langit, sekilas dia melihat ada air mata menggantung disudut mata kanaya, dan tanpa bicara dia berbalik menuju mobil dan membuka pintu mobilnya.
Di dalam mobil keheningan yang sangat pekat membelenggu keduanya, mereka duduk berdampingan, tapi isi pikiran mereka tetap asing.
"Kenapa harus saya" tanya kanaya tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka. Suaranya yang pelan nyaris tenggelam oleh suara wiper yang menyapu kencang air hujan di kaca depan.
Kala tak langsung menjawab, netranya menatap lurus kedepan, seolah pertanyaan itu hanya angin lalu.
"Karena saya yakin kita tidak akan saling jatuh cinta"
Jawabnya dengan tenang. Pasti, dan yakin.
"Bukankah kita sudah sepakat dan saling menandatangani kontrak itukan?"
Kanaya menelan ludah, jawaban itu lebih tajam dari yang ia bayangkan. kanaya tak bisa menyanggahnya, diapun tak pernah bermimpi tentang cinta manis ala-ala cinderella, apalagi dengan pria yang hatinya dingin seperti kala.
Tapi jawaban yang diberikan kala cukup menyadarkan kanaya bahwa pernikahan yang akan dia lakukan hanyalah azas saling butuh.
Kanaya membutuhkan uang kala untuk keluarganya, dan kala, pria itu membutuhkan status palsu dari kanaya.
Walau sampai detik ini kanaya belum tahu apakah dia adalah orang yang layak walaupun hanya dalam status palsu.
Dan disinilah mereka, dua orang asing, duduk dalam satu mobil, menuju ke sebuah pernikahan yang tak diiringi restu langit, hanya disegel dengan tanda tangan dan sebuah materai.
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung kecil nan sepi, bukan gedung pernikahan mewah seperti yang biasa terpampang di majalah bridal.
Ini hanya sebuah kantor KUA sederhana di pinggiran kota—tempat di mana sebuah ikatan bisa disahkan tanpa perlu saksi cinta.
Kala turun lebih dulu, ia membuka pintu untuk Kanaya tanpa berkata apa-apa. Hanya isyarat kecil, dan langkah tenangnya yang mendahului, seolah hari ini bukan hal besar.
Seolah yang akan ia lakukan hanyalah menandatangani dokumen biasa, seolah ia tidak sedang menikahi seseorang.
Kanaya menarik napas dalam-dalam, Tangannya dingin. Ia menunduk, mengikuti Kala, mencoba menenangkan degup jantung yang tak beraturan.
Di dalam ruangan, penghulu sudah menunggu bersama dua saksi yang telah Kala siapkan sebelumnya. Dua pria tua dengan wajah netral dan mata yang nyaris tak berpaling dari meja.
Kanaya dan Kala duduk berdampingan, terlalu dekat untuk dua orang asing, terlalu jauh untuk sepasang pengantin.
“Sudah siap, Nak?” tanya penghulu, menatap kanaya dengan kelembutan yang membuat dadanya makin sesak. Ia hanya mengangguk, tak mampu menjawab.
Semua berjalan cepat setelah itu, ada ucapan ijab kabul, suara saksi yang mengangguk menyetujui, dan tanda tangan di selembar kertas yang kini mengikat mereka, resmi, sah, tapi tetap sunyi.
Kala menyerahkan mahar, sebuah cek di dalam amplop putih. Bukan perhiasan, bukan kenangan. Hanya angka, seperti semua yang selalu ia nilai dalam hidupnya.
“Selamat,” ucap penghulu pelan, tak ada tepuk tangan, tak ada senyum. Hanya formalitas yang terasa hambar.
Kanaya semakin menunduk. Matanya sempat menatap cincin tipis di jari manisnya, yang terlalu longgar, mungkin seperti pernikahan ini, tak pernah benar-benar pas.
Sementara itu, Kala menatapnya sejenak, tatapan yang cepat dan tak bisa diartikan. Bukan tatapan kagum, bukan juga iba. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang samar, mungkin luka yang terlalu dalam hingga tak lagi tampak di permukaan.
“Ayo pulang,” katanya singkat.
Kanaya hanya mengangguk lagi. Kali ini, tanpa suara.
Di luar, hujan masih turun. Lebih deras, tapi di dalam dada Kanaya, kehampaan justru semakin kering. Ia sudah sah menjadi istri dalam ikatan yang tak mengenal cinta, hanya waktu.
Enam bulan.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan melewatinya dengan hati yang tetap utuh. Tapi bisakah hati tetap utuh... saat setiap hari harus bersanding di samping pria yang bahkan tak pernah menoleh, apalagi untuk berempati.
bersambung.
Dukung terus karya saya yah 🙏🙏🙏
Plisss, like komen dan vote yah, biar semakin semangat nulisnya.