Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Minggu kedua di Berlin seharusnya lebih tenang.
Ibunya sudah mulai bisa berjalan perlahan di dalam apartemen, dari kamar ke dapur, dari dapur ke balkon kecil dan rutinitas mereka sudah mulai membentuk polanya sendiri. Teh pagi. Obat jam delapan. Jalan-jalan kecil di sore hari jika cuaca mengizinkan.
Tapi Pearl tidak bisa mengabaikan perasaan itu.
Perasaan bahwa ada sepasang mata yang mengikutinya setiap kali ia melangkah keluar dari lobi gedung. Bukan perasaan yang dramatis, bukan ketakutan yang meledak seperti malam-malam sebelumnya. Hanya sesuatu yang pelan dan terus-menerus, seperti suara rendah yang tidak bisa dimatikan.
Pearl mencoba menepis perasaan itu.
Ia tidak selalu berhasil.
**
Sore itu, ia sedang mengantre di toko roti kecil dekat apartemen ketika seorang pria dengan jaket gelap berpapasan dengannya dengan terlalu terburu-buru dan sesuatu jatuh dari sakunya ke lantai.
Pearl menatap benda itu.
Sebuah gantungan kunci. Kecil, logo eksklusif yang ia kenal bukan karena ia pernah menginginkannya, tapi karena ia pernah melihatnya terlalu sering, di dashboard mobil mewah, di meja kerja yang penuh berkas, di tangan seseorang yang selalu tampil sempurna bahkan saat sedang menghancurkan sesuatu.
Pearl mengangkat kepalanya.
Punggung pria itu sudah menghilang di balik kerumunan.
Tidak mungkin, pikirnya. Dia sudah melepaskanku.
Tapi insting itu tidak mau diam.
**
Alih-alih langsung pulang, Pearl berputar arah.
Ia berjalan ke taman kecil yang biasanya sepi di jam seperti ini, menemukan pilar besar di depan gedung perkantoran yang sudah tutup, dan berdiri di baliknya, menahan napas, menunggu.
Beberapa menit berlalu.
Seseorang muncul dari arah yang sama langkah yang terburu-buru, kemeja hitam dengan lengan digulung ke siku, rahang yang mengeras dengan cara yang hanya bisa dimiliki oleh satu orang di dunia ini.
"Di mana dia?" gumamnya pelan, matanya menyapu taman dengan ekspresi yang hampir terlihat seperti panik.
Pearl melangkah keluar dari balik pilar.
"Kenapa kamu di sini, Lorcan?"
Lorcan berhenti sepenuhnya.
Ia berbalik dan untuk pertama kalinya sejak Pearl mengenalnya, pria yang selalu memegang kendali atas segalanya itu terlihat seperti seseorang yang tertangkap melakukan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Wajahnya pucat. Kata-kata tidak langsung keluar.
"Pearl... aku--"
"Kenapa kamu membuntutiku?" Suara Pearl naik, cukup untuk menarik perhatian satu dua orang yang lewat di trotoar. "Kamu bilang aku bebas. Kamu sudah menandatangani suratnya. Apa itu semua bohong? Apa kamu ingin menyeretku kembali?"
"Tidak!" Lorcan melangkah maju dan Pearl mundur selangkah dengan cepat, tangannya terangkat setengah, refleks yang tidak ia rencanakan tapi tidak bisa ia tahan.
Lorcan berhenti.
Ia menatap tangan Pearl yang terangkat itu dan sesuatu di matanya berubah. Bukan marah. Sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari itu untuk dilihat.
"Aku hanya ingin memastikan kamu aman," katanya akhirnya, suaranya turun. "Aku tidak bisa tidur memikirkanmu sendirian di sini."
Pearl tertawa, tawa pahit yang keluar dari tempat yang sudah terlalu penuh. Air matanya muncul tanpa izin.
"Aman?" ulangnya. "Aku baru merasa aman saat aku tidak melihat wajahmu, Lorcan. Setiap kali aku melihatmu, aku teringat dinginnya lantai itu. Aku teringat gelapnya ruangan itu. Aku teringat setiap kata yang kamu ucapkan saat kamu memutuskan untuk tidak mempercayaiku."
Lorcan tidak membalas.
Ia hanya berdiri di sana dan menerimanya semua kata itu, satu per satu, tanpa membuang pandangan.
"Aku tahu," katanya pelan. "Aku tahu aku sudah melakukan hal yang tidak bisa dibenarkan. Aku tidak datang untuk meminta maaf yang instan, Pearl. Aku tidak memintamu kembali. Aku hanya..." Ia berhenti sebentar. "Aku tidak bisa hidup dengan kenyataan bahwa aku sudah menghancurkan satu-satunya hal yang tulus dalam hidupku dan tidak melakukan apa pun setelahnya."
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓