Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Rumah Tempat Berlabuh
Perjalanan dari bandara menuju kediaman keluarga Pak Armanto memakan waktu yang cukup lama.
Jalanan ibu kota malam itu tampak begitu padat, merayap perlahan di bawah kepungan pendar lampu-lampu jalan dan papan reklame raksasa. Itulah khas Jakarta, sebuah metropolitan yang seolah menolak untuk memejamkan mata dan tak pernah benar-benar tidur, bahkan ketika malam sudah merayap semakin larut.
Di luar sana, deretan kendaraan mengular panjang, menciptakan simfoni klakson yang samar dan kerlip lampu merah yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi.
Namun, di dalam kabin mobil mewah yang melaju dengan tenang dan kedap suara itu, suasananya terasa sangat kontras. Udara di dalam mobil dipenuhi kehangatan yang intim dan rasa lega yang luar biasa dari orang-orang yang mendampingi Alden.
Setelah bertahun-tahun terpisahkan oleh jarak benua, momen kebersamaan ini terasa begitu magis, meskipun ada bayang-bayang kecemasan medis yang diam-diam tetap menggelayut di benak masing-masing.
Ranti, yang duduk tepat di sebelah Alden di kursi penumpang bagian tengah, tidak pernah berhenti mengajaknya berbicara. Wanita itu seolah ingin menebus seluruh waktu yang hilang selama sembilan tahun ini.
Dengan nada suara yang renyah dan penuh antusias, ia menanyakan banyak hal demi mengalihkan perhatian Alden dari rasa lelahnya. Mulai dari bagaimana keadaannya selama belasan jam berada di dalam pesawat, bagaimana kebiasaan makan dan menu sehari-harinya selama menetap di Australia, sampai cerita tentang teman-teman kuliah dan rekan kerja yang dulu sesekali pernah Alden sebutkan lewat sambungan telepon internasional.
Alden berusaha menjawab setiap pertanyaan itu semampunya. Suaranya agak pelan, namun ia berusaha menjaga artikulasinya agar tetap terdengar bertenaga.
Sesekali, ia tersenyum kecil menanggapi celotehan Ranti yang kadang terdengar terlalu banyak dan beruntun, mirip seorang ibu yang takut kehilangan momen dengan anak kandungnya.
Namun, di balik cerewetnya Ranti, Alden bisa merasakan ketulusan yang murni dan limpahan perhatian yang mendalam. Wanita yang dahulu sempat ia pandang dengan sebelah mata itu kini justru menjadi sosok yang paling gigih meruntuhkan kecanggungan di antara mereka.
Sementara itu, Pak Armanto yang duduk di kursi depan, tepat di samping sopir keluarga, Pak Dirman, memilih untuk lebih banyak diam. Pria paruh baya yang biasanya berwibawa dan tegas itu kini tampak melunak.
Ia sesekali menyela pembicaraan hanya untuk menambahkan detail kecil, atau sekadar memastikan bahwa pengaturan suhu pendingin udara di dalam mobil tidak membuat putranya kedinginan.
Meskipun posisinya membelakangi Alden, tatapan Pak Armanto beberapa kali diam-diam bergerak ke atas, mengarah pada wajah Alden lewat pantulan kaca spion tengah.
Ia memperhatikan dengan saksama setiap perubahan kecil yang terjadi pada anak semata wayangnya itu, mencermati garis wajah Alden yang kian tirus, kulitnya yang pucat, dan binar matanya yang tampak kelelahan.
Ada guratan luka dan kekhawatiran yang mendalam di wajah sang ayah, namun ia buru-buru mengalihkan pandangannya setiap kali Alden balas menatap ke depan.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama hampir satu setengah jam menembus kemacetan, mobil hitam itu akhirnya membelok, memasuki kawasan perumahan elite yang suasananya sangat tenang, asri, dan jauh dari kebisingan jalan protokol.
Pohon-pohon palem berukuran besar berdiri rapi di sepanjang trotoar, menaungi jalanan kompleks yang bersih.
Pak Dirman memperlambat laju kendaraan saat mendekati sebuah rumah di sudut jalan. Pagar besi tinggi yang kokoh terbuka perlahan secara otomatis begitu penjaga pos keamanan mengenali pelat nomor kendaraan majikannya.
Mobil kemudian melaju pelan menyusuri jalan setapak berbatu di halaman depan, hingga akhirnya berhenti dengan mulus tepat di depan teras rumah besar berarsitektur klasik modern yang berdiri megah di tengah-tengah halaman luas.
Alden menatap bangunan dua lantai itu dari balik jendela kaca mobil yang gelap. Detak jantungnya mendadak bergemuruh, dan sekelumit rasa haru yang hebat kembali menyeruak memenuhi rongga dadanya.
Baginya, rumah ini bukan sekadar bangunan mati yang tersusun dari struktur batu, semen, dan pilar-pilar megah. Di balik dinding-dinding kokoh itulah sebagian besar memori masa kecil, kenakalan remaja, dan transisi kedewasaannya tersimpan rapi.
Rumah ini adalah saksi bisu yang merekam lengkap segala tawa kebahagiaan, amarah ego masa muda, luka kehilangan ibu kandungnya, hingga kehangatan keluarga yang pernah ia sia-siakan demi sebuah pelarian egois ke luar negeri.
"Ayo, Mas, kita sudah sampai," ujar Ranti lembut sambil menyentuh pelan lengan Alden, membuyarkan lamunan panjangnya.
Mereka pun turun dari mobil satu per satu.
Udara malam Jakarta yang hangat langsung menyergap kulit Alden, membawa aroma tanah dan tanaman hias yang sangat familier di hidungnya.
Rasa rindu akan rumah ini seketika tuntas terbayar, walau tubuhnya terasa sangat pegal akibat duduk terlalu lama.
Belum sempat mereka melangkah menaiki anak tangga teras, daun pintu jati yang besar itu sudah terbuka lebih dulu dari dalam.
Seorang wanita paruh baya bertubuh sedikit gempal segera keluar menyambut mereka. Wajahnya yang dihiasi guratan usia tampak berbinar terang, sekaligus berkaca-kaca di bawah sorot lampu teras yang kekuningan.
Itu Bi Inah. Wanita sepuh itu adalah asisten rumah tangga yang sudah mengabdi di keluarga Pak Armanto sejak Alden masih kecil. Selama puluhan tahun, Bi Inah tidak pernah menganggap pekerjaannya sekadar tugas, dan keluarga ini pun telah menganggapnya seperti bagian dari darah daging mereka sendiri. Bagi Alden, Bi Inah adalah sosok ibu kedua yang selalu menyembunyikan kenakalannya dari kemarahan sang ayah.
“Mas Alden! Ya Allah… akhirnya Mas pulang juga ke rumah ini!” seru Bi Inah, suaranya langsung bergetar hebat menahan luapan emosi.
Tangannya yang gemetar buru-buru mengusap sudut mata yang mulai basah menggunakan ujung kain celemek yang dikenakannya.
Wanita tua itu melangkah maju beberapa tindak. Ia tampak ingin sekali langsung menghambur dan memeluk erat Alden, namun langkahnya sempat tertahan sejenak di udara oleh rasa sungkan. Ia mendadak merasa rikuh karena sudah terlalu lama tidak bertemu dengan tuan mudanya yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa di negeri orang.
Melihat keraguan di wajah wanita yang telah dikenalnya sejak kecil itu, Alden tidak tinggal diam. Ia mengulas senyum ramahnya yang paling tulus, lalu melangkah maju mendekat sambil membuka kedua lengannya lebar-lebar, meruntuhkan seluruh sekat canggung yang sempat tercipta oleh waktu.
“Bi Inah, lama banget nggak ketemu. Bibi sehat, kan?” sapa Alden hangat, suaranya terdengar begitu merdu di telinga wanita tua itu.
Bi Inah langsung menerima pelukan itu tanpa ragu lagi. Ia mendekap tubuh Alden dengan hati yang bergetar hebat. Kedua pundak wanita paruh baya itu tampak sedikit naik turun, gemetar menahan haru dan tangis yang sejak tadi berusaha ia bendung di dalam dada.
Wangi parfum Alden yang khas bercampur dengan aroma tubuhnya membuat Bi Inah teringat kembali pada masa-masa ketika ia sering menyiapkan seragam sekolah anak ini.
“Alhamdulillah, Mas Alden. Bibi selalu berdoa agar diberikan kesehatan terus, supaya Bibi bisa panjang umur dan sempat menyambut Mas pulang seperti sekarang ini,” ujarnya lirih sambil perlahan melepaskan pelukan, lalu menyeka sisa air mata di sudut matanya yang keriput.
Tatapannya bergerak perlahan, memandangi wajah Alden dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot mata yang penuh rasa sayang, kerinduan, sekaligus kebanggaan yang luar biasa. Namun, ada kilat kesedihan yang samar saat jemari tuanya menyentuh pipi Alden yang kini tak lagi seberisi dulu.
“Mas Alden sekarang makin ganteng dan tinggi aja. Cuma... kok badannya agak kurusan sekarang, Mas? Pasti di sana makannya nggak teratur, ya? Nanti Mas Alden harus makan yang banyak. Tidak boleh menolak. Bibi sudah memasak semua makanan kesukaan Mas di dalam,” cerocos Bi Inah panjang lebar, mencoba menutupi rasa cemasnya melihat perubahan fisik Alden.
Alden terkekeh pelan, merasakan kehangatan rumah yang sesungguhnya lewat perhatian kecil itu.
"Iya, Bi. Di Australia nggak ada yang bisa masak seenak Bibi. Alden selalu kangen sama masakan Bi Inah.
Bi Inah tersenyum lebar. Ucapan sederhana itu sudah cukup membuat hatinya hangat.
Tangannya mengusap pelan lengan Alden sebelum kembali berkata,
“Sudah, ayo masuk. Semuanya sudah siap di meja makan.”
Alden tersenyum tipis.
“Makasih ya, Bi. Maaf Alden lama sekali pulangnya.”
Bi Inah menggeleng cepat.
“Jangan bilang begitu, Mas Alden. Bibi justru senang sekali Mas Alden akhirnya pulang.”
Suaranya bergetar tipis menahan haru.
“Selama Mas Alden sehat, selamat, dan baik-baik saja di depan mata Bibi, itu Sudah lebih dari cukup buat Bibi. Rumah ini rasanya hidup lagi kalau ada Mas.”
Tangannya kembali menepuk pelan lengan Alden dengan penuh kasih sayang.
Alden tersenyum tipis mendengar itu.
“Makasih, Bi.”
“Sudah, sekarang masuk dulu. Nanti makanannya keburu dingin,” ujar Bi Inah sembari melebarkan senyumnya, lalu melangkah mundur untuk mempersilakan Pak Armanto, Ranti, dan terutama Alden, untuk melangkah masuk melewati pintu utama menuju kehangatan bagian dalam rumah.
bersambung
bantu follow dan baca ya🙏