NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DETIK YANG BERUBAH

Arka tidak tidur malam itu.

Dia berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan suara jam dinding di ruang tengah—detak yang dulu tidak pernah dia perhatikan, tapi sekarang terasa seperti hitungan mundur. Setiap detik yang lewat membawanya lebih dekat ke pagi, dan pagi membawanya lebih dekat ke jam tiga sore.

Ketika cahaya pertama menembus tirai tipis kamarnya—abu-abu, dingin, basah—Arka sudah duduk di tepi kasur, sudah menyusun rencananya semalaman sampai hapal di luar kepala.

Rencananya sederhana: dia akan membuat ibunya terlambat. Bukan banyak. Cukup beberapa menit. Cukup untuk membuat mobil itu melewati jembatan di Jalan Raya Cipayung pada detik yang berbeda dari detik yang seharusnya.

Sarapan pagi itu terasa berbeda dari biasanya—bukan karena masakannya, tapi karena cara Arka memperhatikan segalanya. Cara ibunya menuangkan teh, cara uap mengambang dari cangkir, cara cahaya pagi jatuh miring di atas meja, membentuk garis-garis terang di antara bayangan kursi.

"Ma," kata Arka, mencoba membuat suaranya terdengar biasa, "boleh aku ikut nganterin Mama ke terminal?"

Ibunya menoleh, sedikit terkejut. "Lho, katanya kemarin mau di rumah aja?"

"Aku berubah pikiran," kata Arka, mencoba tersenyum. "Aku pengen ikut."

Ibunya tertawa kecil—tawa yang akan menjadi salah satu hal terakhir yang Arka dengar darinya dalam bentuk aslinya, bukan dalam bentuk ingatan. "Ya boleh aja. Tapi siap-siap dulu ya, jangan lama-lama. Mama harus berangkat jam setengah dua biar nggak kena macet."

Jam setengah dua. Arka menyimpan informasi itu seperti menyimpan kunci.

Rencana pertamanya gagal di menit-menit pertama.

Arka berpura-pura tidak bisa menemukan sepatunya—mengaduk-aduk rak sepatu, memindahkan kotak-kotak, membuat keributan kecil yang biasanya cukup untuk membuat orang dewasa kehilangan kesabaran dan menunda keberangkatan setidaknya beberapa menit.

Tapi ibunya hanya tertawa, berjongkok, dan menemukan sepatu itu dalam hitungan detik—tersembunyi di bawah meja, tempat Arka sendiri yang menyembunyikannya semalam, lalu lupa di mana.

"Nah, ini dia. Kamu ini, taro sepatu aja nggak inget," kata ibunya sambil membantu memasangkan tali sepatu Arka, jarinya bergerak cepat dan terampil—gerakan yang sudah dilakukan ribuan kali, gerakan yang Arka tidak pernah perhatikan sampai sekarang, ketika dia tahu ini mungkin yang terakhir.

Mereka berangkat jam setengah dua. Persis seperti rencana ibunya.

Arka merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuknya. Belum terlambat. Aku masih punya waktu.

---

Di dalam mobil, Arka duduk di kursi belakang, memegang sabuk pengaman erat-erat—sesuatu yang biasanya dia abaikan sebagai anak kecil, tapi sekarang terasa seperti satu-satunya hal yang bisa dia kendalikan.

Ibunya menyetir dengan tenang, sesekali bersenandung, sesekali mengetuk jari ke setir mengikuti irama lagu dari radio yang setengah berisik karena sinyalnya tidak stabil.

Arka menghitung waktu di kepalanya. Jalan menuju terminal biasanya memakan waktu sekitar empat puluh menit. Jika dia bisa menahan mereka di jalan—

"Ma," katanya, "aku pengen pipis."

Ibunya melirik melalui kaca spion. "Lho, kok tadi nggak pipis dulu sebelum berangkat?"

"Lupa," kata Arka, mencoba terdengar sepolos mungkin.

Ibunya menghela napas pelan—bukan kesal, hanya geli—dan berbelok ke sebuah pom bensin kecil di pinggir jalan.

Arka berjalan ke toilet, sengaja memperlambat langkahnya, sengaja menghabiskan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Ketika dia keluar, ibunya sedang berbicara dengan seseorang—seorang ibu-ibu lain yang sepertinya kenal, ngobrol sebentar tentang harga sembako yang naik.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti kemenangan kecil.

Mereka kembali ke mobil. Arka melihat jam di dashboard.

Mereka terlambat tujuh menit dari rencana awal.

Tujuh menit, pikir Arka. Apakah itu cukup?

Sisa perjalanan terasa seperti menahan napas yang sangat panjang. Arka memperhatikan setiap tikungan, setiap lampu merah, mencoba mengingat-ingat—dari cerita yang pernah dia dengar bertahun-tahun lalu, dari laporan polisi yang dia baca diam-diam saat remaja—di mana tepatnya kecelakaan itu terjadi.

Jembatan kecil di Jalan Raya Cipayung. Jalan menurun, tikungan tajam ke kiri, dengan pembatas jalan yang—di masa depan yang Arka kenal—akan diperbaiki setelah kecelakaan ini, terlalu terlambat untuk menyelamatkan siapa pun.

Mobil mereka mendekati jalan itu. Arka memegang erat sisi kursi, jantungnya berdebar begitu keras sampai dia yakin ibunya bisa mendengarnya.

Hujan mulai turun—gerimis tipis, lalu semakin deras, titik-titik air mulai memukul kaca depan dengan ritme yang semakin cepat. Ibunya menyalakan wiper, memperlambat laju mobil.

Mereka memasuki tikungan.

Arka menutup mata.

Dia menghitung dalam hati—satu, dua, tiga—menunggu suara ban yang tergelincir, suara logam yang berderak, suara yang selama enam belas tahun hanya ada dalam bayangannya karena dia tidak pernah benar-benar mendengarnya.

Tapi yang dia dengar hanya suara hujan. Suara wiper. Suara radio yang masih berisik pelan.

Mobil melewati tikungan itu dengan mulus.

Arka membuka mata. Di luar jendela, jembatan kecil itu sudah berada di belakang mereka—basah, kosong, tidak ada apa-apa yang terjadi.

Tujuh menit. Tujuh menit telah mengubah segalanya.

Air mata mengalir di pipi Arka—bukan tangis kesedihan kali ini, tapi sesuatu yang lebih besar, lebih asing, sesuatu yang dia tidak punya nama untuknya. Kelegaan yang terlalu besar untuk ditampung oleh tubuh sekecil ini.

"Arka? Kamu nangis lagi?" Ibunya melirik dari spion, suaranya penuh kekhawatiran. "Kamu nggak enak badan, ya?"

"Nggak, Ma," kata Arka, suaranya bergetar tapi penuh dengan sesuatu yang hangat. "Aku cuma... seneng aja."

Ibunya tertawa, sedikit bingung tapi tidak terlalu mempermasalahkannya—anak kecil sering aneh, dan dia sudah cukup biasa dengan keanehan Arka hari ini. "Ya udah, sebentar lagi sampai, kok."

Sisa hari itu berjalan seperti yang seharusnya—menjemput Tante Rina yang cerewet dan selalu membawa oleh-oleh permen, lalu pergi ke rumah Bayu, di mana Arka bermain dengan anak-anak lain sambil sesekali melihat ke arah ibunya yang duduk mengobrol dengan ibu-ibu lain di teras, tertawa, hidup, baik-baik saja.

Malam itu, di kamarnya, Arka duduk bersandar ke dinding, memandangi langit-langit yang sama, merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dalam enam belas tahun terakhir hidupnya.

Ketenangan.

"Aku berhasil," bisiknya pada dirinya sendiri, hampir tidak percaya. "Mama... Mama nggak akan—"

Matanya mulai berat. Tubuh kecilnya, setelah hari yang penuh ketegangan, akhirnya menyerah pada kelelahan. Dia tertidur dengan senyum di wajahnya—senyum pertama yang benar-benar tulus di tanggal 14 Maret dalam enam belas tahun.

Ketika Arka membuka mata lagi, dia berada di apartemennya. Kamar yang sama, dengan dinding penuh foto pemandangan tanpa wajah manusia. Cahaya pagi menembus jendela yang lupa ditutup tirainya.

Dia bangun dengan cepat, jantungnya berdebar.

Tubuhnya kembali besar. Tangannya kembali tangan orang dewasa. Dia berlari ke cermin—wajahnya sendiri, 24 tahun, menatap balik dengan ekspresi bingung dan penuh harap.

"Itu... itu nyata?" gumamnya.

Dia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, membuka galeri foto, mencari—mencari apa pun yang bisa membuktikan bahwa ibunya, entah bagaimana, masih—

Tidak ada apa-apa yang berubah di galerinya. Foto-fotonya masih sama. Tidak ada foto ibunya yang baru.

Tentu saja, pikirnya, mencoba menenangkan diri. Kalaupun benar terjadi, itu enam belas tahun yang lalu. Aku nggak akan—

Lalu dia membuka kontak ponselnya, mencari satu nama.

Damar.

Sahabatnya sejak kecil. Orang yang selalu ada—di sekolah, di kuliah, di setiap momen penting hidupnya, termasuk yang akan menjadi saksi di pernikahannya kelak (jika dia menikah).

Kontak itu tidak ada.

Arka mengulang pencarian, mengetik "Damar" berulang kali. Tidak ada hasil.

Dia membuka galeri foto lagi, kali ini mencari foto-foto lama—foto dia dan Damar saat SMA, saat kuliah, saat ulang tahun beberapa tahun lalu.

Tidak ada satu pun foto Damar. Bukan terhapus—seperti tidak pernah ada.

Tangan Arka mulai gemetar. Dia membuka pesan WhatsApp, mencari riwayat chat dengan nama Damar.

Kosong. Seperti nama itu tidak pernah ada dalam hidupnya.

Arka duduk di lantai apartemennya, ponsel masih menyala di tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, sebuah pertanyaan baru—lebih dingin, lebih mengerikan dari pertanyaan apa pun sebelumnya—mulai terbentuk di kepalanya.

Kalau Mama selamat... lalu ke mana Damar?

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!