NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

BAB 3: Desas-Desus Koridor dan Perlindungan yang Nyata

Kabar mengenai kejadian di perpustakaan kemarin siang menyebar bagai virus di seantero SMA Pelita. Hanya dalam hitungan jam, desas-desus tentang Zayn Dominic yang pasang badan untuk Elva Ileana sudah menjadi topik terhangat di setiap sudut sekolah.

 Di kantin, di area parkir, bahkan di dalam toilet sekalipun, nama mereka berdua terus dibicarakan. Siapa yang tidak terkejut? Seorang Zayn Dominic, sang penguasa sekolah yang terkenal tidak tersentuh dan tidak pernah peduli pada urusan orang lain, tiba-tiba mengeluarkan ancaman mati demi melindungi seorang gadis yang selama ini dianggap sebagai kasta terendah di sekolah.

Pagi itu, atmosfer di koridor utama terasa berbeda saat Elva melangkah masuk. Tidak ada lagi senggolan sengaja, tidak ada lagi bisikan ejekan yang terang-terangan, dan yang paling penting: Clarissa serta komplotannya sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Orang-orang yang biasanya menatap Elva dengan pandangan meremehkan kini buru-buru membuang muka atau berbisik pelan saat Elva lewat. Mereka takut. Menyentuh Elva sama saja dengan mencari masalah dengan anak pemilik yayasan.

Elva meremas tali tasnya, merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian mendadak ini. Dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Kepalanya tetap menunduk, mencoba mengabaikan puluhan pasang mata yang terus mengawasinya.

"Pagi, Elva."

Sebuah suara berat yang kini mulai familier di telinganya terdengar dari arah belakang. Elva menghentikan langkah dan membalikkan badan pelan. Jantungnya langsung berdegup lebih kencang saat melihat Zayn berjalan mendekat. Seperti biasa, cowok itu membiarkan kancing atas kemeja seragamnya terbuka dan jaket kulit hitamnya tersampir gagah di bahu.

"P-pagi, Zayn," jawab Elva terbata. Ada rona merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya.

Zayn berhenti tepat di depan Elva, membuat jarak di antara mereka terkikis. Dia menatap wajah Elva, memastikan tidak ada luka atau bekas tangisan seperti kemarin. Setelah merasa puas dengan apa yang dilihatnya, Zayn mengangguk kecil.

"Jalan bareng gue ke kelas," ajak Zayn, lebih terdengar seperti perintah yang tidak menerima penolakan.

"Eh? Tapi kelas kita kan beda gedung, Zayn. Kelas kamu di gedung IPA, aku di IPS," ujar Elva polos, mencoba mengingatkan fakta bahwa arah kelas mereka berlawanan.

Zayn tidak memedulikan ucapan itu. Dia justru berbalik dan mulai berjalan mendahului Elva.

 "Gue tahu. Nggak usah banyak bantah, ikut aja," sahutnya tanpa menoleh.

Mau tidak mau, Elva melangkah cepat untuk menyamakan langkah kecilnya dengan langkah lebar Zayn. Berjalan di samping Zayn membuat perhatian murid-murid di koridor semakin intens. Beberapa siswi menatap Elva dengan pandangan iri yang tertahan, namun tidak ada satu pun yang berani bersuara. Kehadiran Zayn di sebelah Elva layaknya sebuah perisai tak kasat mata yang sangat kokoh.

"Zayn... soal yang kemarin di perpustakaan... terima kasih banyak, ya," ucap Elva lirih setelah keheningan sempat melingkupi mereka selama beberapa saat.

 "Kamu nggak perlu repot-repot sampai sejauh itu. Aku... aku takut kamu malah repot karena urusanku."

Zayn menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas Elva. Dia berbalik, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Elva yang memancarkan ketulusan sekaligus kerapuhan.

"Gue nggak pernah merasa direpotkan oleh hal yang emang mau gue lakuin, Elva," jawab Zayn tegas. Suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Gue udah bilang kemarin, lo di bawah perlindungan gue sekarang. Jadi, mulai detik ini, buang rasa takut lo saat ada di sekolah ini. Paham?"

Elva terpaku. Kata-kata Zayn selalu berhasil memberikan rasa aman yang belum pernah dia dapatkan dari siapa pun, bahkan dari keluarganya sendiri. Untuk pertama kalinya, Elva merasakan ada seseorang yang benar-benar menganggap eksistensinya berharga. Dia mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

 "Iya, Zayn. Aku paham."

Melihat senyuman murni itu terukir di wajah Elva, sudut bibir Zayn ikut terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.

 "Bagus. Masuk kelas sana. Nanti pas istirahat, gue jemput."

...****************...

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Ileana, sebuah obrolan yang melibatkan nama Elva tengah berlangsung di ruang kerja yang megah. Narendra, ayah Elva, baru saja menutup telepon dari salah satu rekan bisnisnya yang kebetulan memiliki anak yang bersekolah di SMA Pelita.

Wajah Narendra yang biasanya kaku dan dingin kini dipenuhi oleh binar ketertarikan yang jarang terlihat. Di depannya, Larasati duduk dengan kening berkerut penasaran.

"Ada apa, Pa? Kelihatannya penting sekali," tanya Larasati sambil memperbaiki posisi duduknya.

Narendra meletakkan ponselnya di atas meja kerja jati, lalu menatap istrinya dengan serius. "Barusan Hendra menelepon Papa. Dia bilang, anak tunggal keluarga Dominic—Zayn Dominic—kemarin membuat kehebohan di sekolah karena membela Elva secara terang-terangan di depan murid-murid lain."

Larasati terbelalak, ekspresi wajahnya langsung berubah tidak percaya. "Apa? Zayn Dominic? Anak pemilik yayasan yang digadang-gadang akan mewarisi Dominic Group itu? Bagaimana bisa dia berurusan dengan anak tidak berguna seperti Elva?"

"Papa juga tidak tahu detailnya bagaimana. Tapi Hendra bilang, Zayn bahkan mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada yang berani menyentuh Elva," Narendra mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja, otaknya yang dipenuhi insting bisnis langsung bekerja cepat.

"Ini peluang besar, Ma. Kamu tahu sendiri seberapa sulitnya menembus jaringan bisnis keluarga Dominic. Jika Elva benar-benar memiliki hubungan dekat dengan pewaris tunggal mereka, posisi perusahaan kita bisa meroket jika kita bisa memanfaatkan momen ini."

Larasati terdiam, mencerna kata-kata suaminya. Sifat materialistisnya langsung terusik. Selama ini dia selalu menganggap Elva sebagai aib dan pembawa sial bagi keluarga karena sifatnya yang terlalu polos dan tidak menonjol seperti Nadine. Namun sekarang, mendengar bahwa anak yang selalu dia abaikan itu justru menarik perhatian seorang kelas kakap seperti Zayn Dominic, pandangannya mendadak berubah. Bukan karena kasih sayang, melainkan karena melihat nilai keuntungan yang bisa dihasilkan oleh Elva.

"Kalau begitu, kita harus memastikan kebenarannya nanti malam saat Elva pulang," ujar Larasati dengan senyum licik yang mulai terkembang di bibirnya.

"Kita harus mengubah sedikit sikap kita padanya. Jangan sampai dia mengadu yang tidak-tidak pada anak keluarga Dominic itu."

Narendra mengangguk setuju. "Benar. Perlakukan dia dengan baik untuk sementara waktu. Pastikan dia merasa dihargai di rumah ini, agar dia bisa kita setir untuk mendekati Zayn lebih jauh. Anak itu harus membawa keuntungan bagi keluarga kita."

Di balik tembok ruang kerja yang dingin itu, sebuah rencana manipulasi yang keji tengah disusun oleh orang tua kandung Elva. Mereka sama sekali tidak peduli pada kebahagiaan putri mereka; bagi mereka, Elva kini hanyalah sebuah pion catur baru yang siap dikorbankan demi harta dan kekuasaan.

...****************...

Kembali ke SMA Pelita, bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Elva baru saja selesai merapikan buku-bukunya saat dia melihat bayangan seseorang berdiri di ambang pintu kelasnya. Sesuai janjinya tadi pagi, Zayn sudah berdiri di sana, menunggunya dengan ekspresi tenang namun dominan.

Beberapa teman sekelas Elva yang masih berada di dalam kelas langsung berbisik-bisik heboh, namun buru-buru keluar saat Zayn memberikan tatapan dingin yang mengusir.

"Lama banget rapi-rapi buku doang," komentar Zayn saat Elva akhirnya berjalan mendekatinya.

"Maaf, tadi pulpenku sempat jatuh ke bawah meja," jawab Elva agak merasa bersalah.

"Kita mau ke mana, Zayn?"

"Kantin. Lo harus makan. Gue liat kemarin lo lemes banget kayak kurang gizi," ketus Zayn, meskipun nada bicaranya terdengar kasar, tapi perhatian di dalam kalimatnya tidak bisa disembunyikan.

Elva hanya bisa pasrah saat Zayn kembali memimpin jalan menuju kantin utama sekolah. Sesampainya di kantin yang luas dan mewah itu, Zayn langsung membawa Elva menuju meja VIP yang terletak di sudut terbaik yang biasanya hanya diisi oleh geng Zayn. Di sana, Leo dan beberapa anak laki-laki populer lainnya sudah berkumpul.

Suasana meja yang tadinya bising oleh obrolan cowok langsung senyap saat Zayn menarik kursi untuk Elva, mempersilakan gadis itu duduk terlebih dahulu sebelum dia sendiri duduk di sebelahnya.

"Wah, wah... jadi ini alasan lo bolos latihan basket kemarin sore, Zayn?" celetuk Leo dengan seringai jahil di wajahnya. Matanya menatap Elva dengan pandangan menyelidik namun ramah. "Kenalin, gue Leo. Teman sebangku si manusia es ini."

Elva tersenyum canggung, sedikit membungkukkan kepalanya.

"Aku Elva..."

"Gue udah tahu nama lo. Seisi sekolah juga udah tahu," sahut Leo terkekeh.

"Santai aja, Va. Di meja ini lo aman. Nggak bakal ada yang berani macam-macam, secara pawang lo galak banget."

Zayn melemparkan sebungkus tisu ke arah Leo dengan tatapan tajam.

 "Diem lo. Pesan makanan sana, jangan banyak omong."

Leo tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Zayn yang tampak defensif, sementara Elva hanya bisa menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang kini sudah memerah sempurna. Di balik rasa canggungnya, ada setitik rasa hangat yang perlahan merayap di hati Elva. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia merasa diterima di sebuah lingkungan, dan semua itu terjadi karena cowok dingin yang duduk di sebelahnya.

Namun, di tengah rasa bahagia yang baru saja dia rasakan, Elva tidak pernah tahu bahwa badai yang lebih besar sedang menunggunya di rumah. Orang tuanya yang egois sudah bersiap menyambut kepulangannya dengan topeng kepalsuan yang penuh dengan niat terselubung.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!