NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Setelah makan malam yang hangat dan penuh canda, suasana di dalam rumah minimalis itu perlahan mulai berubah menjadi lebih santai, bahkan cenderung intim.

Mira menatap Alex dengan mata berbinar, lalu menyunggingkan sebuah senyum genit yang tertahan.

“Alex, aku harus jujur. Dulu, sebelum kamu memutuskan untuk menikah dengan Lani, aku sebenarnya sempat menyukai kamu.”

Alex seketika terkejut sambil menatap wanita di hadapannya tanpa bisa langsung menanggapi, lidahnya mendadak kelu.

Mira melanjutkan dengan nada menggoda yang terselubung, “Tapi sayangnya, aku keduluan sama Lani. Dia memang perempuan yang sangat beruntung.”

Alex hanya bisa tersenyum samar, sementara dadanya berdebar tak karuan.

Ada sesuatu yang sangat berbeda dari sosok Mira malam itu; sebuah kehangatan dan pengakuan yang membuat Alex merasa begitu dihargai.

Hal yang sudah sangat lama tidak ia rasakan di rumahnya sendiri semenjak badai rumah tangga menerpa.

Namun di balik kenyamanan itu, nurani Alex berbisik bahwa godaan ini teramat berbahaya.

Ia tahu ia harus menjaga hatinya agar tidak semakin terjerumus ke dalam kebingungan yang fatal.

“Mira... aku...,” Alex membuka mulut, tetapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

Mira segera menimpali dengan lembut, seolah tak ingin memberi tekanan.

“Santai saja, Lex. Aku cuma ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya. Tidak harus ada yang berubah di antara kita, kok. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri.”

Alex mengangguk pelan. Rasa terima kasih karena telah dikagumi dan kebingungan moral kini bercampur aduk di dalam dadanya.

Malam itu, hatinya benar-benar terombang-ambing di antara batas kesetiaan dan godaan baru yang tiba-tiba menjelma di depannya.

Merasa atmosfer di antara mereka mulai diselimuti kecanggungan yang intens, Alex sadar bahwa sudah waktunya untuk pulang. Ia pun berdiri dari duduknya dan merapikan jaketnya.

“Aku pamit pulang dulu ya, Mir. Terima kasih banyak untuk makan malamnya,” ucap Alex sembari memaksakan sebuah senyuman.

Mira ikut berdiri, berjalan beriringan di dekat pintu untuk mengantar langkah Alex. Namun, tepat saat Alex hendak melangkah keluar ke teras, Mira mendadak menahan lengannya.

Wanita itu menatap sepasang mata Alex dengan sangat dalam, lalu dengan gerakan yang halus namun berani, ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi Alex.

Alex tersentak, seluruh tubuhnya membeku seketika di ambang pintu.

“Hati-hati di jalan ya, Mas Alex,” bisik Mira dengan suara manis yang sarat akan makna tersirat.

Alex hanya mampu mengangguk kaku, jantungnya bertalu hebat.

Ia bergegas melangkah keluar rumah dan menyalakan motornya, mencoba mengumpulkan kembali serpihan pikirannya yang mendadak berantakan.

Di sepanjang jalan pulang membelah malam, bayangan ciuman di pipi serta aroma parfum Mira terus menghantuinya, memaksa Alex mempertanyakan arti dari semua ini dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Sesampainya di rumah, Alex terkejut saat membuka pintu.

Ia mendapati Lani rupanya belum tidur. Istrinya itu sedang duduk menunggunya di ruang tamu, langsung menyambutnya dengan senyuman lembut yang tulus.

“Mas, pasti capek ya? Ayo makan dulu, aku sudah siapkan makanan di meja,” ucap Lani sambil mengulurkan tangannya, mengajak sang suami dengan penuh perhatian.

Alex refleks menggeleng pelan, menghindari kontak mata.

“Aku sudah makan di luar tadi, ada acara kantor,” jawabnya bohong secara singkat.

Lani mengangguk lemah, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan rasa kecewa yang mendadak mencubit hatinya.

Kebohongan Alex terasa samar namun nyata. Kendati demikian, Lani tetap memaksakan senyum, berharap masih ada kesempatan lain untuk mereka berbicara hangat.

Alex segera bergegas masuk ke dalam kamar, melepas pakaian kerjanya dengan terburu-buru, lalu melangkah ke kamar mandi.

Di bawah guyuran air hangat, ia mencoba meluruhkan penat dan kegundahan yang menggunung. Namun, di balik kehangatan air itu, benaknya tetap kalut—terombang-ambing antara sisa rasa cinta, tanggung jawab pernikahan, dan letupan godaan yang baru saja ia alami bersama sahabat istrinya sendiri.

Setelah selesai mandi, Alex naik ke atas tempat tidur.

Ia duduk bersandar di tepi kasur dengan gurat wajah yang masih menyiratkan beban berat.

Lani menggeser duduknya mendekat, menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca penuh harap.

“Mas, maafkan aku ya,. Ayo kita coba lagi malam ini. Aku yakin, kita pasti bisa melewati ujian ini bersama-sama.”

Alex menatap sepasang mata Lani yang basah oleh harapan murni seorang istri.

Detik itu, ia merasakan getaran hangat yang akrab di dalam hatinya, seolah ada sebersit kesempatan kedua yang mungkin masih bisa mereka perjuangkan.

Meski hatinya masih terasa berat dan bersalah, Alex akhirnya mengangguk perlahan, memilih untuk membuka kembali pintu harapan demi pernikahan mereka malam itu.

Dua jam telah berlalu Lani yang kelelahan akhirnya telah tertidur pulas di samping Alex.

Napasnya terdengar teratur dan wajahnya tampak begitu damai dalam balutan mimpi.

Namun, Alex justru masih terjaga. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang remang.

Rasa gelisah yang hebat menguasai dirinya; pikiran-pikirannya menolak untuk beristirahat, terus berputar memikirkan segala tekanan keluarga dan pengalamannya sore tadi.

Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Lani, Alex meraba meja di samping tempat tidur dan meraih ponselnya.

Jemarinya bergerak gelisah sebelum akhirnya membuka kontak Mira dan menekan tombol panggil.

Di keheningan malam itu, Alex berharap suara familier Mira bisa menenangkan badai di kepalanya. Namun ia tidak sadar, di balik panggilan telepon itu, ia sedang melakukan pertaruhan besar yang mempertaruhkan kesetiaannya sebagai seorang suami.

Beberapa detik kemudian, nada sambung mulai tersambung.

“Halo, Alex? Ada apa malam-malam begini kamu telepon?” tanya Mira dengan suara genitnya.

Alex menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol suaranya yang mendadak parau.

“Aku, cuma butuh teman bicara, Mir. Rasanya sulit sekali untuk tidur malam ini.”

Mira terdengar langsung mengerti situasi. “Aku di sini, Lex. Ceritakan saja apa yang sedang mengganggu pikiranmu.”

Alex pun mulai menumpahkan isi hatinya yang terdalam.

Ia berbagi tentang kegelisahan, tekanan ibunya, hingga kebingungan arah hidupnya.

Di saat-saat sepi seperti ini, suara Mira perlahan menjelma menjadi peneduh yang seolah membasuh badai di hati Alex.

Namun, setelah mendengar seluruh keluh kesah Alex, Mira menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang teramat tegas.

“Alex, aku tahu ini posisi yang berat buatmu. Tapi kalau boleh jujur, aku pikir kamu harus segera menceraikan Lani,” ucap Mira pelan.

“Kamu itu pantas mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya, Lex. Kalau Lani tidak bisa memberikan apa yang paling keluarga kamu butuhkan, kenapa kamu harus terus bertahan dan menyiksa dirimu sendiri?”

Alex terdiam membisu, hatinya kembali bergemuruh hebat.

Perkataan Mira menusuk jauh lebih dalam dari yang bisa ia duga.

“Tapi, Mir, aku sudah berjanji padanya untuk berjuang,” jawab Alex dengan suara bergetar menahan perih.

Mira membalasnya dengan nada penuh keyakinan, “Janji dalam pernikahan itu penting, Alex. Tapi kebahagiaan hidupmu sendiri juga tidak kalah penting. Jangan biarkan dirimu terjebak selamanya dalam sesuatu yang hanya membuatmu menderita.”

Alex memejamkan matanya rapat-rapat, berjuang sekuat tenaga menahan gelombang emosi yang kian menyudutkannya.

Setelah obrolan panjang yang mengikis sisa-sisa benteng pertahanannya, Alex akhirnya menarik napas berat.

Ia mematikan sambungan ponselnya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

Di dalam keheningan malam yang kian larut, pikirannya terus berputar, mencoba mencari jalan keluar dari persimpangan hidup yang semakin rumit dan berbahaya.

Keesokan paginya, fajar menyapa kota dengan cahaya keemasan yang lembut, merambat perlahan melalui celah jendela kamar.

Lani sudah terbangun jauh lebih awal dari biasanya.

Pagi ini, ia merasa memiliki energi dan semangat baru untuk menyiapkan sesuatu yang berbeda.

Ia tahu hubungan mereka sedang diuji oleh badai yang tidak mudah, tetapi Lani menolak untuk menyerah pada keadaan begitu saja.

Di dapur, Lani sibuk mengiris sayur-sayuran segar dan menumis bumbu dengan hati-hati.

Aroma harum yang menggoda selera perlahan mulai memenuhi udara rumah.

Masakan pagi ini bukan sekadar rutinitas pemenuh lapar bagi Lani, melainkan sebuah simbol harapan yang ia tuangkan dalam setiap bahan dan sentuhan tangannya.

Ia memasak telur dadar isi sayur kaya rasa yang selama ini menjadi menu favorit Alex, lengkap dengan beberapa tangkap roti panggang dan segelas jus jeruk segar.

Lani menata semuanya dengan sangat rapi di atas meja makan, berharap pemandangan hangat itu bisa mengundang Alex untuk duduk dan menikmati momen sarapan bersama dengan kepala dingin.

Sambil merapikan letak piring-piring, pikiran Lani melayang pada momen-momen bahagia yang dulu kerap mereka lalui di meja ini; tawa bersama yang lepas, rencana-rencana masa depan yang indah, dan cinta murni yang dulu terasa begitu kokoh tak tergoyahkan.

Meski saat ini situasi terasa menghimpit, Lani percaya masih ada celah sekecil apa pun untuk memperbaiki keretakan hubungan mereka.

Ketika suara langkah kaki terdengar ritmis keluar dari arah kamar, Lani segera menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar dadanya.

Ia ingin terlihat tegar dan penuh energi positif di depan suaminya.

Alex muncul di area ruang makan dengan wajah yang masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan semalam. Namun, langkahnya sempat tertahan, tampak terkejut melihat deretan hidangan spesial yang telah tertata rapi di atas meja.

“Mas, ayo sarapan dulu. Aku sudah buatkan sesuatu yang berbeda khusus untuk kamu hari ini,” ucap Lani dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.

Alex menatap piring-piring penuh warna di hadapannya.

Rasa hangat perlahan sempat menyusup ke hatinya, membuat beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan untuk sesaat. Namun jauh di dalam lubuk batinnya, Alex justru kembali bergulat dengan konflik moral yang rumit; antara rasa bersalah pada ketulusan Lani, dan bisikan godaan dari Mira yang kian hari kian tumbuh liar mencengkeram pikirannya.

Lani berdiri menunggu dengan binar mata penuh harap, berdoa agar momen sederhana pagi ini bisa menjadi awal baru yang sangat mereka butuhkan untuk kembali searah.

Alex akhirnya duduk di kursi meja makan, menatap piring berisi roti panggang dan telur dadar di depannya.

Ia mengambil sepotong roti, lalu mengunyahnya perlahan. Namun, sorot matanya tampak kosong menatap lurus ke arah piring, sementara pikirannya justru telah berkelana jauh—terjebak di antara ingatan manis masa lalu dan kecemasan kelam akan masa depan pernikahan mereka.

Meski masakan Lani terasa selezat biasanya, entah mengapa ada rasa getir yang tak kasat mata yang kini tidak bisa Alex hapus dari lidah dan hatinya.

Lani yang duduk di seberang meja memperhatikan suaminya dengan perasaan yang mendadak kembali memberat.

Ia tahu suaminya sedang menyimpan kegelisahan yang teramat besar, namun Lani memilih diam dan tetap berharap makanan sederhana yang ia buat dengan cinta ini mampu menyatukan kembali hati mereka yang perlahan mulai retak.

Alex menghela napas panjang, mencoba mengusir segala keraguan yang berisik di kepalanya, lalu melanjutkan sarapannya dalam keheningan—berharap hari yang baru ini pada akhirnya akan membawa jawaban yang lebih jelas bagi takdir mereka.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!