Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah kejadian misterius kemarin malam kini Risma jatuh sakit, badan nya panas karena itu ia tidak ikut kegiatan kedua hari ini.
“Jadi gini, kemarin bapak ibu guru udah diskusi soal kegiatan kita. Kita tetap bakal melakukan kegiatan bakti selama seminggu dan seminggu lain nya di pake untuk kegiatan lain”
Jelas Bu nana yang sudah selesai sarapan lebih dulu, karena kegiatan mereka hari ini adalah melihat kebun kebun milik warga serta belajar mengelola hasil panen.
‘udah, gua duga nih. Kegiatan ini sebenarnya kagak ada manfaatnya selain bersosialisasi doang ini mah’
Bunga yang mendengar ucapan bu nana hanya bisa menggerutu dalam hati nya.
“Baik bu” jawab serempak para murid, mereka dengan lahap menghabiskan sarapan mereka.
Setelah sarapan semua murid langsung pergi dari villa menuju kebun kebun milik warga.
“Udah minta izin kan ini pak?” Tanya Bu Windy kepada pak Yanto.
“Aman, udah kok bu. Dan para warga setuju asal murid murid tidak merusak kebun mereka aja”
Mendengar itu Bu Windy, Bu nana, dan pak Yanto segera memberikan arahan kepada para murid sesuai kelompok kayak kemarin.
“Ini jeruknya udah Mateng yah” kata putri memetik setiap jeruk yang sudah siap panen dengan gunting yang diberikan oleh Bu Windy tadi.
“Iya, wangi nya harum banget sih ini. Sayangnya Risma sakit dia, coba enggak pasti suka dia tuh”
Ujar Cantika merasa kasihan pada Risma yg saat ini hanya berada di villa ditemani Bu Yanti dan pak yahman.
Tidak terasa waktu terus berlalu semua murid kembali menghampiri ketiga guru mereka sambil membawa keranjang penuh berisi jeruk.
“Semua nya sudah cukup yah, kegiatan kita sampai sini aja. Besok baru kita ke pasar untuk menjual hasil panen ini”
Jelas pak Yanto membimbing para murid keluar dari kebun jeruk dengan hati hati agar tidak ada yang tertinggal dibelakang.
Semua keranjang tersebut langsung diletakan di depan villa agar besok mereka bisa langsung ke pasar.
“Udah, selesai kegiatan nya yah? Masuk masuk. Kalian pasti capek”
Bu Yanti dengan ramah menyambut kedatangan para murid, dan yang lainnya.
__________________________________
“Eh, Bu tadi itu rombongan kegiatan bakti kok kelihatan aneh yah” bisik seseorang sambil menyapu halaman rumah nya.
“Iya, Bu. Itu cewek satu kayak nya pucat banget wajahnya. Salah sampai kaget pas lihat” Sahut ibu ibu yang satu nya.
“Mungkin mereka kecapean kali yah, kan mereka belum pernah tinggal di kampung kayak gini”
“Kayaknya sih Bu, tapi kita doakan saja semoga kegiatan bakti mereka lancar”
Hari mulai malam dan pintu pintu rumah warga sudah langsung ditutup rapat-rapat, jendela tidak ada yang terbuka. Seolah menolak menerima tamu.
Di sisi lain tepat nya di villa mereka sedang berkumpul di ruang santai yang memang sangat luas.
“Diluar sepi yah gak kayak kemarin masih rame” ujar pak Rusdi merasa aneh dengan keadaan sepi diluar.
Mendengar itu pak Yanto langsung buka suara. “Disini kalo kamis malam Jumat atau Jumat malam Sabtu semua warga bakal tetap dirumah dan tidak ada yang keluar sama sekali”
Mendengar penjelasan pak Yanto para murid dan guru heran dan bertanya-tanya kenapa seperti itu?.
“Izin, bertanya pak. Tapi kenapa gak boleh keluar rumah yah?”tanya Cantika yang sangat penasaran.
“Di kampung ini ada hal misterius yang sampai sekarang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar sini.”
“Katanya siapa aja yg keluar di malam Jum'at dan malam Sabtu mereka akan ketempelan sosok makhluk halus dan bakal diikuti terus”
Jawab pak Yanto dengan ekspresi serius seolah mengatakan hal itu sangat sakral sekali untuk nya.
Bunga yang mendengar itu hanya mencibir dengan ekspresi muak. “Gak mungkin sih, mana ada makhluk halus kayak gitu. Dikira kita anak TK bisa dibohongi”
“Ouh, semacam pamali gitu yah pak” sahut pak yahman yang menyimak serius ucapan pak Yanto.
“Betul sekali pak, itu kenapa pas pertama datang kita langsung di kasih tau aturan dan pamali di sini. Agar kita tidak melanggar nya”
“Ini aneh gak sih? Gua enggak percaya banget untuk hal kayak gini mah”
Bisik Farhan ke teman teman akrabnya itu. Bunga, Alfin, dan Dinda langsung menoleh dengan ekspresi setuju.
“Ini pak Yanto cuma ngarang aja gak sih?” Tanya Dinda yang sangat yakin semua ucapan pak Yanto hanya ngomong kosong untuk menakut-nakuti murid.
“Emang ngomong kosong, gak mungkin ada hantu jir. Yang kemarin itu pasti karena kita pada kecapean aja gak sih”
Seru Alfin dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh guru dan murid yang lain.
“Bener, kan ada penjelasan ilmiahnya. Itu karena pikiran kita kosong makanya kita jadi lihat yg aneh aneh” timpal bunga
Mendengar itu teman teman geng nya mengangguk setuju dan merasa itu masuk akal sekali, dibandingkan penjelasan pak Yanto.