Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Jejak Dosa di Balik Pintu Kamar
BAB 3: Jejak Dosa di Balik Pintu Kamar
Langkah kaki Luna Maharani terasa begitu berat saat menyusuri gang sempit menuju rumah orang tuanya. Setiap kali kakinya melangkah, rasa perih yang asing di area sensitifnya seolah terus berteriak, mengingatkan Luna pada kegilaan dan penyatuan panas yang dia lakukan bersama Devano di kamar hotel beberapa jam yang lalu.
Luna meraba lehernya. Kemeja kerja berkerah tinggi yang dia kenakan sudah dikancing rapat hingga batas paling atas, menyembunyikan bercak-bercak kemerahan pekat hasil sesapan kasar pria itu semalam. Di dalam tasnya, sebuah kartu ATM hitam pemberian Devano tersimpan rapi. Kartu itu terasa seberat bongkahan batu, terus-menerus meremukkan harga diri Luna.
“Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah menuruti egoku semalam.”
Kata-kata dingin Devano kembali terngiang di kepala Luna, membuat air matanya nyaris luruh lagi. Pria yang selama bertahun-tahun dia cintai dalam diam, pria yang dulu berstatus sebagai kakak iparnya, kini telah menganggapnya tak lebih dari seonggok daging yang bisa dibeli dengan uang.
Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya saat sudah berdiri di depan pintu rumah. Dia menghapus sisa air mata di sudut matanya, lalu perlahan mendorong pintu kayu yang sedikit renggang itu.
Namun, ketenangan yang Luna harapkan sama sekali tidak dia temukan.
Suara tangisan gila dan raungan histeris menggema dari arah ruang tamu. Luna tersentak begitu melihat Siska, kakak kandungnya, sedang bersimpuh di lantai sembari memeluk lutut ibu mereka, Bu Rahma. Koper-koper besar milik Siska tergeletak berantakan di sudut ruangan. Penampilan kakaknya yang biasanya glamor, modis, dan penuh kesombongan, kini tampak hancur berantakan. Rambutnya kusut, dan maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam di pipi akibat air mata yang mengalir deras.
"Ibu... Siska menyesal! Pria kaya di luar negeri itu ternyata penipu! Dia cuma memanfaatkan uang Siska, menguras tabungan Siska, lalu mencampakkan Siska begitu saja demi wanita lain!" ratap Siska histeris, suaranya terdengar sangat parau. "Siska mau balik sama Mas Devano, Bu. Cuma Mas Devano yang tulus dan kaya raya. Siska mau rujuk! Siska tidak mau hidup miskin dan menderita seperti ini!"
Bu Rahma mengusap rambut Siska dengan wajah penuh rasa iba dan air mata yang ikut berlinang. "Sabar, Nak... Sabar. Devano itu dulu sangat mencintaimu. Dia pasti mau menerimamu kembali."
Detik itu juga, pandangan Bu Rahma beralih dan menangkap sosok Luna yang berdiri kaku di ambang pintu seperti sebuah patung.
"Luna! Kamu baru pulang? Dari mana saja kamu semalaman ini tidak pulang?!" tanya Bu Rahma, suaranya mendadak berubah menjadi penuh selidik dan ketus, sangat kontras dengan nada suaranya saat berbicara pada Siska.
Luna merasa tenggorokannya mendadak kering jekat. "L-Luna... Luna terjebak badai semalam, Bu. Jadi terpaksa menginap di tempat teman kerja."
Siska mendongak mendengarnya. Dengan mata yang sembap dan merah, dia langsung merangkak mendekati Luna, lalu mencengkeram erat kedua pergelangan tangan adiknya. Genggaman Siska begitu kuat hingga membuat Luna meringis pelan.
"Luna... tolong Kakak, Luna! Kamu kan dulu dekat dengan Mas Devano sebagai adik ipar. Mas Devano selalu bersikap baik dan menghormatimu. Tolong hubungi dia, Luna... Temui dia ke kantornya, bujuk dia agar mau memaafkan Kakak dan menerima Kakak kembali!" pinta Siska dengan suara mengemis yang teramat sangat.
Bagai dihantam godam raksasa, dada Luna terasa sangat sesak hingga dia kesulitan untuk bernapas. Bagaimana mungkin dia bisa pergi menemui Devano dan membujuk pria itu untuk kembali pada kakaknya? Sementara di tubuh Luna saat ini, aroma parfum maskulin milik Devano bahkan masih tertinggal dan melekat erat di kulitnya.
"Aku... aku tidak bisa, Kak," bisik Luna dengan bibir yang gemetar, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Siska. "Mas Devano sudah menjadi mantan suamimu. Hubungan kalian sudah resmi berakhir secara hukum sejak enam bulan lalu. Mas Devano tidak akan mungkin mau..."
"Kamu belum mencoba kenapa sudah bilang tidak bisa?!" bentak Bu Rahma tiba-tiba. Beliau berdiri, menatap Luna dengan pandangan mata yang penuh kemarahan dan kekecewaan. "Luna, dia ini kakak kandungmu! Darah dagingmu sendiri! Kenapa kamu dingin sekali melihat kakakmu menderita? Apa susahnya kamu merendahkan dirimu sedikit di depan Devano demi membantunya?!"
"Bukan begitu, Bu... tapi Mas Devano bukan orang yang bisa diatur-atur," lirih Luna, air matanya kini benar-benar menetes karena tidak kuat menahan tekanan psikologis yang bertubi-tubi. Dia merasa menjadi orang paling munafik dan berdosa di dunia ini.
"Halah, alasan saja! Kamu memang dari dulu selalu iri pada kakakmu, kan? Kamu senang melihat Siska hancur seperti ini?" tuduh Bu Rahma tanpa perasaan, menusuk tepat di dada Luna.
Siska kembali menangis meraung-raung, meratapi nasibnya yang malang sembari terus memohon pada ibunya agar mendesak Luna. Di tengah suasana ruang tamu yang menceram dan penuh ketegangan emosi itu, tiba-tiba ponsel Luna yang berada di dalam tas kerja bergetar dengan sangat intens.
Drrt... Drrt... Drrt...
Tangan Luna yang dingin dan gemetar merogoh ke dalam tas. Dia mengeluarkan ponselnya. Sebuah nomor baru yang tidak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat melalui aplikasi hijau.
Jantung Luna serasa berhenti berdetak saat dia membuka pesan tersebut.
[Nomor Tidak Dikenal]: "Aroma tubuhmu masih tertinggal di sprei tempat tidurku, Luna Maharani. Bersihkan dirimu, dan bersiaplah. Jam tujuh malam ini, sopirku akan menjemputmu di ujung gang rumahmu. Datang sendirian tanpa sepeser pun uang dari kartu yang kuberikan tadi pagi. Jika kamu terlambat satu menit saja... rekaman suara desahanmu semalam saat berada di bawah kungkunganku akan mendarat di ponsel ibumu."
Luna membeku seketika. Wajahnya mendadak berubah menjadi seputih kertas. Napasnya memburu cepat, dan ponsel di tangannya nyaris saja terjatuh ke lantai.
Di hadapannya, Siska masih menangis meraung-raung meratapi nasib ingin kembali ke pelukan Devano, sementara di layar ponselnya, mantan kakak iparnya itu justru baru saja mengirimkan sebuah ancaman teror yang akan menyeret Luna ke dalam lingkaran dosa yang jauh lebih dalam.