NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Gerbang Akuarium Hiu

Bagi Lyra Anya Cassandra, benteng pertahanan yang selama lima belas tahun ini dibangun oleh doa Nenek dan aroma manis dari toko kue kecil mereka mendadak terasa begitu rapuh. Pagi itu, kota belum sepenuhnya terjaga dari sisa dingin malam, namun Lyra sudah berdiri di tepi halte bus dengan seragam putih-abu-abu yang masih kaku karena baru keluar dari kantong plastik konfeksi. Sepatu hitamnya sepatu lokal murah yang dibelikan Nenek dari pasar minggu terasa sedikit menjepit ibu jarinya, menciptakan sensasi tidak nyaman yang terus merayap hingga ke ulu hati.

Bus kota yang ditumpanginya berderit pelan saat berhenti tepat di depan kompleks sekolah elit Gava. Jalur aspal di area ini begitu mulus dan lebar, sangat kontras dengan jalanan berlubang di depan gang rumahnya. Begitu menapakkan kaki keluar dari pintu bus yang berkarat, Lyra refleks meremas tali tas ransel kainnya yang sudah mulai menipis di bagian jahitan bawah.

Di hadapannya, menjulang sebuah gerbang besi hitam raksasa setinggi empat meter dengan ukiran burung garuda emas di tengahnya. Di atas pilar beton yang kokoh, tertera huruf-huruf kuningan yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi.

SMA Gava.

"Astaga, ini sekolah atau istana kerajaan?" gumam Lyra pelan, suaranya langsung tenggelam oleh deru mesin mobil yang mendadak memadati area gerbang masuk.

Satu per satu, kendaraan-kendaraan mewah berharga miliaran rupiah merayap masuk melintasi gerbang. Mobil sport dua pintu dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, sedan-sedan hitam mengilat dengan kaca super gelap, hingga mobil SUV premium yang bannya hampir setinggi pinggang Lyra. Dari balik pintu-pintu mobil yang dibukakan oleh petugas keamanan sekolah berjas rapi, turunlah para penghuni asli dunia ini.

Mereka adalah remaja-remaja dengan kulit bersih tanpa cela, rambut yang tertata rapi oleh salon ternama, dan seragam sekolah yang dipotong sangat pas mengikuti lekuk tubuh mereka. Tas-tas punggung yang mereka kenakan memamerkan logo-logo desainer luar negeri yang harganya setara dengan omzet toko kue Nenek selama tiga bulan penuh.

Lyra menundukkan kepala, memandang ujung sepatunya sendiri yang mulai sedikit berdebu setelah berjalan dari halte. Rasa minder yang sempat dilarang oleh Neneknya semalam, entah bagaimana merayap naik tanpa bisa dicegah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara pagi, namun yang terhurup justru kepulan asap knalpot mobil mewah dan wangi parfum mahal yang saling bertubrukan di udara.

"Ingat janji pada Nenek, Lyra. Kau di sini hanya untuk belajar di pojok kelas. Jadilah tidak terlihat," bisik Lyra pada dirinya sendiri, seolah kalimat itu adalah mantra pelindung yang bisa membuatnya kasatmata di antara lautan manusia borjuis ini.

Dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat, Lyra berjalan menyusuri koridor utama sekolah yang dilapisi lantai marmer putih bersih. Dinding-dinding koridor dipenuhi oleh jajaran piala emas berkilau dan foto-foto alumni berprestasi yang sebagian besar wajahnya sering muncul di berita televisi nasional. Setiap kali murid lain berjalan melewatinya, Lyra bisa merasakan tatapan mata yang menilai, dingin, dan penuh selidik diarahkan padanya. Seragamnya yang sedikit kedodoran dan tas kainnya yang polos seperti sebuah penanda besar yang meneriakkan status sosialnya sebagai "anak beasiswa" di tengah akuarium hiu ini.

“Perhatian kepada seluruh siswa baru kelas sepuluh, diharapkan segera berkumpul di Aula Utama untuk mengikuti upacara pembukaan Masa Orientasi Sekolah.”

Suara pengumuman dari pelantang suara yang jernih memecah keheningan koridor. Lyra mengembuskan napas lega karena akhirnya memiliki tujuan yang jelas untuk menghindari tatapan-tatapan intimidasi tersebut. Ia mengikuti arus kerumunan murid baru yang bergerak menuju sebuah bangunan megah dengan atap kubah kaca di ujung koridor timur.

Aula Utama SMA Gava lebih menyerupai gedung pertunjukan seni mewah ketimbang ruang pertemuan sekolah. Ratusan kursi beludru merah berjejer rapi menghadap ke sebuah panggung besar yang dinaungi oleh lampu gantung kristal raksasa yang berpendar keemasan. Lyra bergegas mengambil posisi di barisan paling belakang, tepat di sudut dekat pintu keluar darurat posisi paling aman untuk misinya menjadi murid yang tidak terlihat.

Suasana aula yang tadinya riuh rendah oleh bisik-bisik ratusan murid mendadak senyap total saat beberapa guru senior dan perwakilan komite sekolah berjalan menaiki panggung. Kepala sekolah mulai memberikan kata sambutan yang panjang dan membosankan, disusul oleh perkenalan jajaran guru. Selama hampir satu jam, Lyra hanya menundukkan kepala, sesekali memainkan ujung tali sepatunya atau memikirkan adonan kue apa yang sedang dipanggang Nenek di rumah saat ini. Rasa kantuk dan bosan mulai menggelitik kesadarannya.

Namun, di tengah-tengah pidato yang membosankan itu, perhatian Lyra terusik oleh pergerakan di barisan kursi paling depan barisan khusus yang tampaknya disediakan untuk murid-murid dari keluarga paling berpengaruh.

Di sana, duduk seorang pemuda yang penampilannya sangat kontras dengan murid laki-laki lain. Di saat yang lain sibuk berbisik jahil atau merapikan rambut, pemuda itu hanya duduk tegak dengan gestur tubuh yang sangat tenang, terukur, dan dingin. Ia mengenakan seragam sekolah dengan sangat rapi, namun atmosfer di sekelilingnya terasa begitu beku.

Dari tempatnya duduk di pojok belakang, Lyra hanya bisa melihat profil samping pemuda itu. Garis rahangnya tegas dan simetris sempurna, lambang dari keturunan bangsawan kaya. Namun, hal yang paling membuat Lyra termenung adalah aura yang dipancarkan pemuda itu. Meski dikelilingi oleh kemewahan aula dan ratusan murid, pemuda itu tampak seperti patung lilin yang terisolasi. Tatapan matanya lurus ke depan, namun terasa hampa, kosong, dan benar-benar mati rasa seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa menarik minat atau mengusik emosinya.

Lyra mengerutkan keningnya sedikit, menatap pemuda misterius itu dengan rasa penasaran yang polos.

"( Siapa cowok itu? Kenapa dia kelihatan begitu kesepian di tempat semegah ini?)" batin Lyra dalam hati. Lyra sama sekali tidak tahu dan tidak ada satu orang pun yang memberi tahunya bahwa pemuda dengan tatapan mati rasa itu adalah Elian Gava Alaric, anak tunggal dari konglomerat donatur terbesar yang membiayai seluruh fasilitas mewah di sekolah tersebut. Bagi Lyra saat ini, Elian hanyalah seorang siswa baru yang tampak asing dan dingin.

Hingga akhirnya, acara sambutan selesai dan seluruh murid diminta berdiri untuk menyanyikan lagu mars sekolah.

Saat semua orang mulai bergerak merapikan barisan, Elian perlahan membalikkan tubuhnya, bersiap untuk keluar dari barisan depan menuju pintu keluar aula. Dan pada momen itulah, takdir seolah sengaja menghentikan putaran jarum jam di antara mereka.

Di antara ratusan kepala yang memenuhi aula besar tersebut, entah dorongan dari mana, Lyra tetap memaku pandangannya pada pemuda itu. Pada detik yang sama, Elian mengedarkan pandangan matanya yang hampa ke arah belakang aula.

Dan secara tidak sengaja, sepasang mata hampa milik Elian mengunci pandangannya tepat pada sepasang mata bulat jernih milik Lyra yang sedang menatapnya dari kejauhan. Jarak di antara mereka mungkin terpisah puluhan meter, namun intensitas tatapan itu terasa begitu nyata dan menekan udara di sekitar Lyra.

Lyra tersentak kecil di kursinya. Dadanya mendadak berdegup kencang oleh sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Tatapan mata pemuda asing itu tidak seperti tatapan menilai dari murid-murid kaya di koridor tadi.

tatapan itu terasa begitu dalam, tajam, dan seolah sedang menembus masuk membedah isi kepala Lyra hingga ke akar-akarnya. Ada getaran dingin yang merambat di sepanjang tulang belakang Lyra, membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.

"(Kenapa dia menatapku seperti itu? )"batin Lyra panik, segera mengalihkan pandangannya kembali menunduk ke lantai marmer di bawah sepatunya. Jantungnya berpacu tidak beraturan, dipenuhi rasa tidak nyaman yang pekat.

Lyra yang masih meremas jemarinya di pojok belakang aula sama sekali tidak menyadari bahwa di barisan depan, langkah kaki Elian sempat tertahan selama satu detik penuh.

Di dalam kepala Elian yang sosiopatik dunia hitam-putih yang selama lima belas tahun ini selalu terasa kosong, hampa, dan mati rasa mendadak terpecik sebuah warna baru yang sangat terang dan mengusik ketenangannya setelah melihat sepasang mata jernih di sudut belakang aula tadi. Sifat obsesif yang tertidur di dalam gen darah miliardernya mendadak menggeliat bangun dengan liar. Pemuda itu telah menemukan sebuah poros baru untuk dunianya yang mati, sebuah ketulisan murni dari gadis asing yang seragamnya kedodoran.

Elian tidak tahu siapa nama gadis itu, tapi dia tahu satu hal pasti. gadis itu harus menjadi miliknya seutuhnya, tanpa boleh dibagi dengan siapa pun di dunia ini.

Lyra menarik napas lega saat kerumunan murid mulai bergerak keluar aula, memutus rantai ketegangan tak kasatmata tadi. Gadis miskin yang polos itu berjalan cepat menuju kelasnya, sama sekali belum mengerti bahwa tatapan mata tidak sengaja dengan pemuda asing itu pagi ini adalah ketukan pertama dari palu kematian bagi kedamaian hidupnya yang sederhana bersama Nenek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!