Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta baru
Danish tercengang, mulutnya ternganga lebar. Pemuda itu menatap Alma mengernyit heran. Tak menyangka wanita yang beberapa saat lalu menangis bombay, bisa berkata senarsis itu.
"Ck, kumat lagi, deh. Perasaan aku tadi nggak salah ngomong, kan?" decaknya dalam hati.
Dia lantas mengacak kepala belakangnya, sambil berpikir memilih kata yang tepat.
"Bukan begitu maksud aku, Al. Aku paham kok, apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi... apa nggak sebaiknya kamu menyelidiki masalah ini lebih dalam?" ucap Danish lembut penuh pertimbangan.
Alma menoleh cepat ke arah Danish, mencoba mencerna kalimat yang baru saja pemuda itu ucapkan.
"Pasti ada suatu rahasia, mengapa Nova melakukan hal ini. Apa kamu nggak merasa penasaran?" imbuhnya mencoba menyakinkan
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apa kamu bisa membantuku?" tanya Alma, sorot matanya mulai berubah serius.
Danish terdiam sambil menarik napas. "Begini... kalau kamu setuju, aku akan minta bantuan kakak iparku. Kebetulan orangtuanya punya jasa detektif swasta. Aku akan memintanya untuk menempatkan orang-orangnya di sekitar Nova dan keluarganya. Dengan begitu, kita bisa cari tahu semua rahasia yang mereka sembunyikan."
Alma tampak mulai tertarik, ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa menyela.
"Supaya nanti saat kamu siap melayangkan gugatan dan menuntut hakmu, kamu sudah memegang semua kartu dan kebenaran, sampai ke akar-akarnya. Biar dia nggak punya celah sedikit pun untuk berkelit atau membela diri," tambahnya menegaskan.
Alma menimbang ucapan Danish. "Kamu benar, Nish. Aku setuju denganmu. Sebaiknya memang aku nggak terburu-buru mengambil keputusan, hanya mengandalkan apa yang aku lihat hari ini saja. Aku harus tahu semuanya dan memiliki bukti yang kuat, untuk membongkar kebusukannya."
Rasanya Alma benar-benar sudah tidak sabar. Ia ingin membuat Nova menerima akibat yang setimpal, karena telah berani membohonginya selama ini.
"Tolong, bantu selidiki semuanya sampai tuntas. Siapa sebenarnya wanita itu, latar belakangnya, sejak kapan mereka berhubungan, dan apa saja rahasia lain yang Nova sembunyikan dariku. Aku ingin semua fakta terungkap dengan jelas," ujarnya mantap.
Danish tersenyum bangga, melihat ketegasan Alma yang kembali muncul. Ia mengangguk mantap, tangannya kembali menggenggam tangan wanita itu erat.
"Percayakan semuanya sama aku, Al. Aku akan pastikan, semua kebusukan Nova bakal terbongkar satu per satu. Kamu tenang saja, fokuslah menyiapkan dirimu. Biar urusan penyelidikan menjadi tugasku."
Alma menghela napas panjang, kali ini rasanya jauh lebih lega dan ringan. Ada rasa aman yang ia rasakan saat berada di samping Danish. Pria itu kembali menjadi pelindungnya, seperti biasanya sebelum dirinya menikah.
"Makasih ya, Nish. Aku nggak tahu, kalau tadi nggak ketemu sama kamu. Mungkin aku bakal ngelakuin hal-hal konyol yang nggak aku sadari," ucapnya lirih, sambil tersenyum tipis.
"Makasihnya nanti aja kalau masalah sudah kelar," jawab Danish.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan, kalau tadi aku nggak ada di sana? Mau bunuh diri? Ciiihh... cuma masalah kecil begitu? Rugi banget hidupmu!" celetuknya sarkas sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Masalah kecil kamu bilang!" Alma langsung melotot ke arah Danish sambil berkacak pinggang. "Yaaa, apa kamu nggak ingat, pas diputusin sama si mantan, kamu juga nangis-nangis nggak jelas sampai punggungku basah sama airmata dan ingusmu!! Dasar...! Biar begini, aku tuh masih punya iman, tahu!" sanggah Alma sembari memukul-mukul pelan pundak Danish.
"Oooh, syukurlah kalau masih punya iman. Kirain kamu cuma punya imun..." Danish tertawa renyah.
Namun, kemudian wajahnya berubah datar. "Jangan sebut dia lagi, aku sudah membuang mantan pada tempatnya dan nggak ada ruang lagi untuknya di hatiku."
"Sebaiknya kita pulang, sekarang. Tenangkan pikiranmu, biar aku yang mulai bergerak dari sekarang. Aku akan pastikan, keadilan ada di pihakmu, dan dia akan menyesal seumur hidup karena sudah menyakitimu," ucapnya sambil menyalakan mesin mobilnya
Hati Alma pun menghangat. Begitulah mereka kalau sudah bertemu. Dari bicara serius tiba-tiba bisa berubah absurd dan saling mengejek satu sama lain, lalu tertawa bersama. Mereka juga saling mendukung jalinan percintaan masing-masing.
Mobil Danish perlahan melaju menjauh, meninggalkan tempat itu membawa Alma yang kini sudah punya arah dan tujuan. Dia bukan lagi wanita yang menangis karena merasa terkhianati, melainkan wanita yang sedang bersiap menuntut kebenaran dan harga dirinya kembali. Dan di balik gerbang megah itu, Nova belum tahu... bahwa rahasia dan kehidupan gandanya yang selama ini dijaga rapi, tinggal menunggu waktu saja untuk hancur berkeping-keping.
.
Alma memasuki rumahnya yang sunyi, lalu bergegas ke kamarnya. Ia merebahkan punggungnya di atas kasur empuk, sementara kakinya masih terjuntai di lantai. Tangannya terentang ke sisi kiri dan kanan, netranya menatap langit-langit, pikirannya riuh memikirkan langkah selanjutnya. Namun, rasa lelah perlahan menguasai, hingga akhirnya ia terlelap.
Saat terbangun, ruangan sudah gelap. Hanya cahaya samar dari lampu jalanan yang menerangi sudut kamarnya. Baru saja ia ingin bangkit, di luar terdengar suara mobil memasuki halaman. Jantung Alma berdegup kencang—itu suara mobil Nova. Buru-buru ia cepat bangkit dari rebahnya, lalu jalan berjinjit mendekat ke jendela, mengintip dari balik celah gorden. Dan benar saja, suaminya baru saja turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah.
Tanpa berpikir panjang, Alma masuk dan bersembunyi di dalam lemari pakaian besar, membiarkan pintunya sedikit renggang agar bisa melihat dan mendengar apa yang akan pria itu lakukan. Ia merasa malas melihat kepura-puraan suaminya. Tak lama, pintu kamar terbuka, Nova masuk lalu menyalakan lampu kamar.
"Untung Alma percaya aku masih di luar kota. Kalau sampai tahu, hancur semuanya. Dia memang benar-benar wanita bodoh dengan mudah aku kibuli," gumamnya tanpa menyadari bahwa Alma mendengar ucapannya.
Dada Alma terasa sesak mendengar kalimat yang Nova ucapkan. Namun, belum sempat ia berpikir, ponsel Nova berdering. Pria itu tersenyum lebar lalu mengangkat panggilan bahkan diloudspeaker.
"Halo, sayang... Iya, aku sudah di sini, aman, kok. Dia kayaknya belum pulang, rumah masih gelap. Dan itu mengguntungkan buatku. Dia nggak akan curiga sama sekali," ucap Nova lembut.
Lalu suara wanita terdengar dari seberang, cukup jelas terdengar oleh Alma, "Mas, cepat pulang, ya. Kakak kangen katanya nggak sempat ketemu sama kamu tadi pas pulang sekolah."
"Papa... Papa, pulangnya masih lama, nggak? Kakak kangen Papa, adik bayi tidur terus nggak bisa diajak main. Nanti kalau pulang jangan lupa beli es krim, ya."
Nova tergelak ringan begitu bahagia, lalu menjawab tanpa ragu, "Iya sayang, sabar, ya. Nanti papa pulang bawa es krim buat kakak."
Dengan cepat Nova mengambil pakaian lalu dimasukkan ke dalam koper sambil berdendang kecil.
Tubuh Alma gemetar hebat di dalam lemari. Lututnya lemas, air mata menetes deras tanpa suara. Ia kira rasa sakitnya sudah habis, tapi fakta yang baru saja didengarnya jauh lebih menyakitkan—
"Kakak, adik? Berarti anak mereka nggak cuma satu, tapi dua?"