Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Makan Steak
Dengan sopan Berys bertanya kepada Rido.
“maaf Tuan Muda, apa ada yang bisa saya lakukan” ketika dia melihat Rido yang masih tak bergeming menatap satu set berkas yang ada di mejanya.
Rido menatapnya ketika Berys mengeluarkan suara prianya, kemudian Rido berkata dengan menahan rasa kesalnya “Coba kau lihat berkas ini, bukankah ini dokumen keuangan bulan ini, kenapa ada perbedaan tandatangan antara yang asli dengan salinan?”.
“Kau sudah bersama saya selama berapa tahun Berys! Namun kau berani ingin menghianatiku!” ucap Rido dengan sangat keras, matanya seakan keluar dari tempatnya.
Berys langsung mengambil berkas yang ada diatas meja, dia langsung meneliti berkas itu dengan seksama, dia benar benar merutuki kebodohannya saat ini, karena bisa lalai dalam melihat berkas dari bagian keuangan itu.
“maafkan saya tuan muda, ini benar benar murni kelalaian saya, saya tidak berani untuk menghianati anda, tolong maafkan atas kelalaian saya ini” ucap berys dengan penuh penyesalan.
Rido menatap Berys dengan sangat intens, kemudian dia berkata “Baik! Kalau kau bukan pelakunya, maka kau harus buktikan kepada saya, saya memberikan waktu untuk menyelidiki siapa pelaku sebenarnya”.
“Baik Tuan Muda, akan saya selidiki siapa dalang yang telah melakukan hal ini” jawab Berys dengan menundukkan sedikit tubuhnya.
“baik silahkan keluar” sahut Rido dengan mengangkat tangannya keatas, dia menyuruh Berys untuk segera meninggalkan tempat itu.
Ruangan itu menjadi hening, ketika Berys sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
Rido kembali mengedarkan pandangannya kearah embun, yang sedang sibuk membersihkan ruangan itu dengan sangat telaten.
“Tak kusangka gadis ini memiliki ketelitian yang cukup bagus, baru sehari saja dia sudah berada dikantor ini, dia sudah menemukan kejanggalan yang sangat besar” gumam Rido dalam hati.
“Sudahlah! Biarkan OB nanti yang membersihkan itu, sekarang kita lebih baik pulang kerumah” ucap Rido dengan nada datar kepada embun.
Seketika embun beralih melihat kearah Rido, kemudian dia meletakan barang pembersih ketempatnya, dia berjalan kearah Rido yang masih memandanginya.
“bukankah tuan muda masih ada pekerjaan? Kenapa kita cepat pulang kerumah?” sahut embun dengan santai ketika dia sudah sampai di dekat Rido.
“Tidak apa apa, kita pulang saja dulu, besok kan masih bisa dilanjut” sahut Rido dengan santai.
Embun hanya mengembangkan pipinya sambil dia mengangguk, kemudian dia merapikan meja di depan suaminya dan setelah itu dia langsung mendorong sang suami untuk pergi.
Melihat pipi sang istri yang gembul bagaikan balon, Rido hanya bisa tersenyum kecil tanpa disadari oleh orang lain, dia hanya bisa mengikuti sang istri ketika dia sudah mendorongnya keluar dari ruangan itu.
Berys mengantarkan sepasang suami istri itu untuk pulang kerumah, namun di tengah jalan Rido meminta Berys untuk mencarikan rumah makan terdekat, berhubung sudah menunjukkan pukul 12.30 lewat.
“Carikan dulu rumah makan yang bagus, saya sudah mulai lapar” kata Rido dengan tenang sambil dia melirik kearah embun yang sedang menatap gedung gedung pencakar langit di kota itu.
“Kamu juga pastinya lapar kan?” ucapnya kepada embun.
Embun hanya bisa mengangguk kecil ketika dia mendengar perkataan Rido.
“Hihihi, ia sih? Cuman wajib ditahan saja, karena kita sedang bertugas” jawab embun dengan sedikit tawa.
Mereka masuk kedalam rumah makan berbintang dikota itu, dengan tenang embun mendorong sang suami yang masih duduk diatas kursi rodanya, mereka memilih meja yang berada dipojok ruangan itu.
Para pelayan restoran menyodorkan menu makanan, sedangkan Berys memilih meja di sebelah karena dia sadar dia sedang bersama dengan bosnya sekaligus pasangan muda, embun sempat melarang Berys untuk tidak berpisah di meja mereka, namun apalah daya, meja itu hanya di taruh kursi 2 orang saja, sehingga Berys lebih memilih untuk duduk dimeja samping.
Berys juga berniat mengikat pasangan suami istri itu, untuk menjadi pasangan sungguhan dimasa depan, karena berys tau bahwa embun memanglah gadis yang baik dan sangat cocok untuk sang tuan mudanya.
Pesanan mereka sudah tertata rapih di atas meja makan, embun sedikit ragu dengan peralatan yang tertata di atas Meja itu, dia hanya bisa memperhatikan dengan seksama ketika Rido mengambil sendoknya dan memotong steaknya.
“ini kok gak dikasih sendok sih? Kenapa hanya pisau kecil sama garpu” ucap embun kecil namun masih bisa didengarkan oleh Rido.
Sontak saja Rido mengalihkan pandangannya dari piring makanannya, dia melihat ke arah embun yang masih ngerocos gak karuan.
“Kok gak dimakan?” ucapnya singkat, namun embun hanya memicingkan bibirnya mendengar pertanyaan dari sang suami.
“ciih, bagaimana kita mau makan kalau sendoknya tidak ada, emang rumah makannya saja yang terlihat mewah, namun gak bisa melengkapi peralatan dapurnya dengan benar, Heh” sahut embun dengan menghela napasnya kasar.
“Kampungan banget sih? Emang kamu belum pernah datang kerumah makan seperti ini?” timpal Rido dengan datar.
“hadeh, Tuan ini bagaimana sih? Ini baru pertama kali saya datang kerumah makan besar seperti ini, jadi tentu saja saya tidak tau kalau situasinya seperti ini, nasinya cuman sikit doang dan sendoknya gak ada” ungkap embun dengan kesal.
“Emmm, jadi ikuti cara saya memotong steaknya” ucap Rido yang langsung memperagakan cara memotong steaknya.
Dengan otak pemikiran embun yang dilihat agak cerdas, dengan telaten dan sekali pencobaan saja dia langsung bisa memotong steaknya dengan cepat.
Embun melahap steaknya dengan tenang, dia mengangguk kepalanya matanya terbuka lebar ketika dia merasakan khas makanan itu yang terlihat waow.
“Ahh, ternyata makanan ini benar benar enak dan lezat ya tuan muda, anda memang pintar memilih tempat dan makanan, lain kali sering sering ajak saya makan disini ya” cerocos embun dengan enteng, namun lawan bicaranya hanya bisa menggeleng dengan pelan, kemudian dia langsung menghabiskan makanannya.
Sementara di rumah sakit, bu wina baru saja selesai proses operasinya satu jam yang lalu, dia sudah terbaring diatas ranjang pasien. Bu wina masih dalam keadaan tidak sadarkan diri karena efek obat yang telah disuntikan didalam tubuhnya sebelum operasi.
Sang dokter memeriksa kondisi bu wina dengan teliti “Alhamdulillah, kondisi pasien sudah membaik, dan operasinya berjalan dengan sangat baik, semoga saja dia akan segera sadar” ucap sang dokter kepada suster yang berada disamping bu wina.
“Oh ya sus! Tuan Besar Giancarlo sudah menugaskan anda untuk menjaga dan merawat ibu ini sampai dia benar benar dia pulih, tolong anda jangan meninggalkan dia sebelum dia sadarkan diri” perintah sang Dokter dengan tegas.
“Baik dok, saya lakukan dengan baik” sahut suster itu dengan sopan.
“bagus” ucap sang dokter dengan singkat, kemudian dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Rido dan embun sudah sampai di Mansion utama keluarga Prasetio, dengan tenang embun mendorong sang suami ke dalam rumah, setelah dia mengantarkan sang suami kedalam kamar, dia tiba tiba teringat dengan bu wina yang jadwal operasinya adalah hari ini.
Embun melihat Rido dengan ragu ragu, namun dia mengumpulkan seluruh hidupnya yang ada didalam dirinya, kemudian dia berkata dengan pelan “Tuan! Apakah saya boleh pergi kerumah sakit?”.
Rido mengarutkan keningnnya ketika dia mendengar perkataan embun, dia menatap embun dengan lekat setelahnya dia langsung bertanya “untuk apa kamu kerumah sakit? Apakah kamu sakit”.
“Emm, Bu, bukan, bukan tuan, saya baik baik saja kok” jawab embun dengan cepat sambil dia menggerakan tangannya bersama kepala, dia dengan buru buru menyangkal perkataan dari Rido.
“lalu, untuk apa kamu kerumah sakit? Hem” Tanya Rido lagi dengan memasang wajah seriusnya.
Dengan berat hati embun harus menjawab pertanyaan dari sang suami, walaupun nanti ada penolakan tetapi dia harus memberitahukan tujuannya datang kerumah sakit saat ini.
“Emm, sebenarnya saya kerumah sakit, untuk melihat keadaan Bi Wina, karena hari ini adalah jadwal dia operasi” jujur embun dengan santai.
Embun merasa canggung memberitahukan hal ini kepada Rido, karena pekerjaan utamanya di rumah ini adalah untuk merawat dan menjaga Rido sang Tuan Muda Prasetio.
Rido hanya menghela napas dalam kemudian dia bertanya kepada embun “Emang kamu ada hubungan apa sama bi wina?”.