Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu akan kembali kan?
"Sudah pesan tiket?" Ikhram duduk di bibir ranjang, memperhatikan Rinjani mengemas barang-barangnya. Sesekali mengingatkan hal yang mungkin saja terlupa.
"Sudah, jadwal penerbangannya jam 10 malam. Kalau kamu sibuk, saya bisa naik angkot."
"Bagaimana mungkin saya membiarkanmu pergi tanpa ditemani." Ikhram tersenyum, berpindah posisi duduk di samping Rinjani.
Tepat setelah wanita itu menutup koper, diraihnya tangan Rinjani. Tatapannya intens seolah matanya berbicara.
"Kenapa? Nggak rela istri dadakannya pergi? Kan ada tuh si duta suci."
"Masih saja dibahas." Ikhram mengeluh, sejak pertemuan singkat dengan rekan kerjanya semalam. Rinjani menjadikan hal itu bahan ledekan untuknya.
"Udah deh, lagaknya mau ditinggal sama orang dicintai saja." Rinjani menghempaskan tangan Ikhram dan memeriksa barang lainnya yang harus di bawa.
Kening wanita itu mengerut saat akan mengambil boneka kesayangannya di ranjang.
"Apalagi Ikhram? Kalau dihalangi terus bagaimana saya bisa selesai berkemasnya." Rinjani memutar bola mata malas.
"Jangan bawa yang itu. Saya akan membawanya ke rumah."
"Astaga." Rinjani terkekeh.
Usai berkemas dan menyisakan beberapa barang. Rinjani mengajak Ikhram untuk bertemu orang tuanya yang kebetulan berada di rumah sebelah.
Langkah kaki mereka beriringan meski tangan tidak saling mengenggam. Tiba pada pagar setinggi pinggang, Ikhram maju lebih dulu, mempersilahkan Rinjani memasuki rumah orang tuanya.
"Bu, ada menantunya ini," ucap Ikhram memberitahukan.
"Bu, Pak." Rinjani tersenyum, menyalimi punggung tangan mertuanya.
Duduk pada kursi ukiran kayu yang sangat empuk. Terakhir menginjakkan kaki di rumah itu saat melangsungkan akad dadakan, dan ini kali kedua dia berkunjung sebagai seorang menantu.
Rinjani baru sadar, suasana rumah Ikhram begitu tenang dan adem. Ia melirik sekitar dan menemukan pintu bertuliskan ....
Ini kamar iklan
"Itu ...." Rinjani tidak dapat melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh bu Tika yang langsung meraih tangannya.
"Mauki bede pulang ke jakarta ini malam Nak? Kenapa tiba-tiba sekali kodong? Padahal baruki menikah. Kasian Ikhram."
"Hanya beberapa hari Bu, setelah pekerjaan selesai saya akan kembali."
"Tidak berniat jaki tinggalkan Ikhram toh nak?" Bagaimana pun bu Tika tahu bagaimana perasaan putranya pada Rinjani.
Bu Tika punya ketakutan yang sama seperti Ikhram. Rinjani pergi tanpa kembali lagi.
"Nggak Bu."
"Syukurma itu nak. Apa itu mau saya titip di' buat mamamu."
"Nggak usah repot-repot Bu. Lagian saya nggak bisa bawa barang banyak. Saya ke sini cuma mau pamit sama ibu dan bapak."
"Iye Nak, hati-hatiki nah di jalan. Kalau sampai maki, jangki lupa hubungi Ikhram biar tidak khawatir."
"Iya Pak." Rinjani beralih menatap pak Irwan.
Kedua orang tua Ikhram begitu baik padanya. Mereka adalah mertua yang diidamkan para wanita, dan Ikhram? Tatapa Rinjani tertuju pada pria itu.
Pria manis dengan lesung pipinya. Kulitnya tidak terlalu putih tetap cerah dan sangat bersih. Tubuhnya pun wangi, membuat Rinjani nyaman di dekatnya asal pria itu tidak bicara saja.
....
Suara roda koper yang berderak di lantai mengilap bercampur dengan pengumuman dari pengeras suara yang terdengar samar namun tegas menjadi pertanda bahwa kini Rinjaninya akan benar-benar pergi untuk waktu yang tidak bisa dipastikan.
Genggaman Ikhram pada tangan mungil itu semakin erat seiring langkah mereka makin dekat.
"Sampai di sini saja, saya akan pergi sendiri." Rinjani meraih pegangan kopernya dan tersenyum lebar pada Ikhram. Ia melambaikan tangan sebelum berbalik untuk membelakangi pria yang tidak ia tahu seperti apa isi hatinya.
"Rinjani!" Suara itu terdengar bergetar, belum sempat Rinjani berbalik, tangannya ditarik dan tubuhnya di dekap erat.
"Kamu akan kembali kan?"
"Iya."
Ikhram memejamkan matanya, rasa takut itu. Rasa sesak itu dan ingatan masa kecil kembali menyambanginya.
Bagaimana jika Rinjani tidak pernah menemuinya lagi seperti 20 tahun yang lalu? Berjanji akan bertemu di dekat sumur dan bermain bersama sepulang sekolah. Namun, janji itu hanya angan. Rinjani pergi tanpa sempat pamit padanya.
Tanpa mengucapkan kata perpisahan mengakibatkan Ikhram kecil menangis. Bersembunyi di dalam sumur kedalam dua meter itu dan menangis sejadi-jadinya.
Namun, tangisannya hari itu diartikan oleh warga akibat terjatuh di sumur dan mengalami cidera.
.
.
.
Semoga Jani menepati janjinya
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,