Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Ancaman
Malam hari di kota Risvela terasa ramai. Lampu-lampu jalan menyala terang. Suara tawa dan percakapan memenuhi udara.
Di salah satu kedai mewah, suasana jauh lebih hidup. Minuman disajikan. Musik mengalun pelan. Banyak orang berkumpul menikmati malam.
Di tengah keramaian itu, duduk seseorang dengan pakaian bangsawan: Seyron.
Di sekelilingnya, pelayan sibuk melayani. Pengawal berdiri menjaga. Beberapa wanita penghibur duduk di dekatnya, mencoba menarik perhatiannya.
Namun… Seyron terlihat tidak menikmati apa pun. Ia hanya duduk diam. Tatapannya kosong menatap gelas di tangannya.
Salah satu wanita mencoba mendekat.
“Pangeran pertama, apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?”
Seyron tidak menjawab. Ia hanya meneguk minumannya perlahan. Kemudian berkata pelan,
“Pergi dari hadapanku.”
Nada suaranya dingin.
Wanita itu langsung terdiam dan menjauh. Suasana di sekitarnya menjadi sedikit canggung.
Seyron meletakkan gelasnya. Matanya sedikit menyipit.
“Reyd Aclica…”
Nama itu terucap pelan.
Sejak kabar kepulangan Reyd, ia tidak bisa merasa tenang. Selama ini ia selalu berada di posisi aman. Sebagai pewaris takhta. Sebagai putra yang dipercaya raja.
Namun sekarang… semuanya terasa berbeda.
Bayangan Reyd di aula tadi masih teringat jelas. Sikapnya. Cara bicaranya. Dan aura yang ia miliki.
“Dia sudah berubah.”
Seyron mengepalkan tangannya sedikit.
Bukan perubahan biasa. Namun perubahan yang bisa menggoyahkan posisinya.
Ia tahu satu hal: jika Reyd tetap seperti dulu, tidak akan ada masalah. Namun jika Reyd benar-benar berubah menjadi lebih baik. Lebih layak. Maka… takhta itu tidak lagi aman.
Seyron menatap ke arah keramaian kedai. Namun pikirannya jauh dari tempat itu.
“Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Ia berdiri perlahan. Para pengawal langsung siaga.
Seyron berjalan keluar dari kedai tanpa berkata apa-apa lagi.
---
Ruang pribadi Raja Ryvons terasa jauh lebih tenang dibanding aula utama. Tidak banyak hiasan berlebihan. Namun tetap menunjukkan wibawa seorang penguasa.
Di depan pintu itu, Lein berdiri diam. Ia menarik napas pelan.
Dipanggil langsung oleh raja secara pribadi—bukan hal yang bisa dianggap biasa.
Perlahan, pintu terbuka. Seorang pelayan memberi isyarat.
Lein melangkah masuk.
Di dalam ruangan, Raja Ryvons sudah duduk di kursinya. Tatapannya langsung tertuju pada Lein, membuat Lein sedikit gugup.
Ia membungkuk sopan.
“Yang Mulia…”
Suasana hening beberapa saat.
Lein sempat berpikir: apakah ia akan diuji? Atau bahkan ditolak?
Namun… Raja Ryvons akhirnya berbicara.
“Angkat kepalamu, gadis cantik.”
Lein perlahan menatapnya. Namun yang ia lihat… tidak sekeras yang ia bayangkan.
Raja Ryvons menghela napas pelan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Lein menunggu dengan tegang. Namun kata-kata berikutnya justru di luar dugaannya.
“Terima kasih.”
Lein terdiam.
Raja Ryvons melanjutkan dengan suara tenang.
“Kau telah mengubah Reyd.”
Tatapannya sedikit melunak.
“Dulu, aku hampir menyerah padanya.”
Ia mengingat masa lalu. Setiap teguran. Setiap usaha untuk membuat Reyd berubah—semua terasa sia-sia.
“Aku bahkan mengirimnya ke Akademi Magica dengan harapan kecil.”
Raja menatap Lein lagi.
“Namun ia kembali sebagai orang yang berbeda.”
Lein tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berkata pelan,
“Reyd berubah karena dirinya sendiri.”
Raja Ryvons menggeleng.
“Mungkin. Tapi kau adalah alasan di balik itu.”
Suasana menjadi lebih hangat.
Raja kemudian berkata lagi.
“Kau boleh tinggal di istana ini.”
Lein sedikit terkejut.
“Yang Mulia?”
Raja mengangguk.
“Anggap ini sebagai rumahmu juga.”
Ia melanjutkan dengan nada lebih ringan.
“Dan tentang pernikahan kalian…”
Lein langsung sedikit kaku.
Raja Ryvons tersenyum tipis.
“Akan kusiapkan dengan layak. Pesta yang pantas untuk seorang pangeran dan seorang gadis yang dibawanya.”
Lein benar-benar tidak menyangka. Semua kekhawatirannya hilang begitu saja.
Ia membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Raja Ryvons hanya mengangguk.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?