Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Jakarta baru saja terbangun dari tidurnya yang singkat. Cahaya mentari yang tipis mulai menyusup di sela-sela tirai blackout otomatis di penthouse mewah milik Elvano Alvendra. Pria itu masih bergelung di balik selimut sutra abu-abunya, wajahnya yang terpahat sempurna tampak jauh lebih tenang saat tidur dibandingkan saat ia berdiri di bawah lampu sorot atau di depan meja CEO.
Drrtt... Drrtt...
Getaran ponsel di atas nakas marmer memaksa mata elang itu terbuka. Dengan sisa kantuk yang masih menggelayut, Elvano meraba ponselnya. Satu pesan baru muncul di layar.
[Dr. Selena Nayumi]
“Selamat pagi, Tuan Elvano. Saya dr. Selena. Sesuai janji kemarin, ini adalah daftar menu nutrisi untuk Anda hari ini. Menu ini dirancang khusus untuk memulihkan metabolisme Anda dan membantu menaikkan berat badan dengan cara yang sehat. Silakan dicek.”
Di bawah pesan itu, terdapat daftar detail mulai dari sarapan hingga makan malam, lengkap dengan komposisi gizi yang seimbang. Elvano mengusap wajahnya kasar, lalu mulai mengetik dengan jemari panjangnya.
[Elvano]
“Aku tidak bisa memasak. Daftar ini percuma.”
Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.
[Dr. Selena Nayumi]
“Anda bisa meminta asisten rumah tangga atau koki pribadi Anda untuk menyiapkannya, Tuan.”
[Elvano]
“Aku tidak punya pembantu yang tinggal di sini. Hanya ada petugas kebersihan yang datang jam 8 pagi dan pulang jam 12 siang.”
Ada jeda beberapa saat sebelum ponsel Elvano kembali berdenting.
[Dr. Selena Nayumi]
“Lalu, selama ini Anda makan apa?”
[Elvano]
“Beli di luar. Kadang delivery.”
Di seberang sana, Selena Nayumi hampir saja menjatuhkan ponselnya saat membaca balasan santai itu. Sebagai dokter gizi, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Pantas saja metabolismenya hancur, batin Selena gemas.
[Dr. Selena Nayumi]
“Tuan, makanan luar penuh dengan natrium dan pengawet yang justru akan membuat stres kronis Anda semakin parah! Baiklah, karena ini darurat, biarkan saya yang menyiapkan menu hari ini. Kirimkan alamat Anda sekarang, kurir akan tiba dalam satu jam.”
[Elvano]
“Oke. Kirim saja tagihannya nanti, aku akan transfer segera.”
[Dr. Selena Nayumi]
“Sip!”
Elvano melempar kembali ponselnya ke samping bantal. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Entah kenapa, ketegasan dokter muda itu mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun di puncak kesendiriannya.
**
Di sebuah dapur minimalis yang estetik, aroma bawang putih yang ditumis dan rempah-rempah segar mulai memenuhi udara. Selena bergerak lincah. Rambutnya diikat kuda tinggi, wajahnya tampak segar meskipun tanpa riasan tebal.
Ia meletakkan ponselnya pada sebuah tripod kecil yang sudah terpasang rapi di sudut meja dapur.
“Halo, semuanya! Selamat pagi dari dapur dr. Selena! Siapa yang sudah sarapan?” sapa Selena dengan energi matahari yang meluap-luap begitu tombol Live ia tekan.
Dalam hitungan detik, ribuan penonton membanjiri kolom komentar. @DailyDoseBySelena memang selalu menjadi favorit karena kontennya yang hangat dan edukatif.
“Pagi ini, aku mau bagiin resep spesial buat kalian yang sering merasa burn-out, stres kerja tinggi, atau yang nafsu makannya lagi drop. Kita mau bikin menu penyeimbang mood!” ucap Selena sambil mengiris alpukat dengan lihai.
Selena menjelaskan setiap langkah dengan bahasa yang mudah dimengerti, sesekali tertawa menanggapi komentar lucu para followers-nya. Namun, di balik senyum cerianya di depan kamera, tangan Selena sebenarnya sedang menyiapkan porsi ganda.
Satu kotak makan untuk dirinya, dan satu paket makan besar yang dikemas secara eksklusif untuk seorang pasien yang sangat spesial—calon suaminya yang masih dirahasiakan dari dunia.
“Nutrisi itu bukan cuma soal kenyang, tapi soal gimana kita menghargai tubuh sendiri,” ucap Selena pada kamera, namun dalam hati ia berharap kalimat itu benar-benar masuk ke telinga pria keras kepala bernama Elvano Alvendra.
*
Satu jam kemudian, bel apartemen Elvano berbunyi. Seorang kurir mengantarkan sebuah kotak pendingin (cooler bag) berwarna hijau toska dengan logo "Serenity Nutri-Heal",* nama klinik kesehatan milik Selena yang merujuk pada terapi nutrisi dan pemulihan stres.
Elvano membawa kotak itu ke meja makan. Saat ia membukanya, aroma masakan rumahan yang otentik dan hangat langsung menyapa penciumannya. Ada catatan kecil di atas kotak makan itu:
“Habiskan semuanya. Jangan ada yang tersisa. Aku akan menagih laporannya nanti sore! – Dr. Sunshine.”
Elvano menarik kursi, menatap hidangan yang tertata rapi. Ia mencicipi satu suap. Rasanya tidak seperti makanan restoran yang penuh bumbu buatan, melainkan rasa yang jujur, hangat, dan... nyaman. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan semenjak ia memutuskan hidup sendiri di puncak karirnya.
Tiba-tiba, rasa penasaran mulai menyergap Elvano. Ia membuka media sosial dan mengetikkan nama dokter gizi itu. Dalam hitungan detik, ia masuk ke siaran langsung Selena yang masih berlangsung.
Ia melihat wanita itu sedang tertawa riang sambil menjawab pertanyaan penggemar. Selena tampak begitu bercahaya, berbeda jauh dengan dunianya yang gelap dan penuh tuntutan. Tanpa sadar, Elvano menggunakan akun anonimnya untuk menonton, matanya terpaku pada setiap gerakan tangan Selena di dapur.
Namun, perhatian Elvano teralih saat matanya menangkap sesuatu di latar belakang video live Selena. Di atas meja dapur wanita itu, terdapat sebuah foto lama dalam bingkai kecil.
Elvano memicingkan mata, mendekatkan layar ponsel ke wajahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali orang-orang di foto itu. Itu adalah foto masa kecilnya saat ia sedang bermain di rumah lama Omanya, dan di sampingnya ada seorang anak kecil perempuan yang tertawa lebar.
Apakah... apakah ini artinya pernikahan ini bukan sekadar kebetulan Oma?
Saat Elvano masih tertegun, sebuah panggilan muncul di atas layar ponselnya membuat Elvano terganggu oleh dering telepon yang panik dari Darian.
"El! Kau di mana?!" suara Darian terdengar seperti orang yang sedang dikejar hantu.
"Di apartemen. Ada apa?" jawab Elvano tenang, meskipun perasaannya mulai tidak enak.
“El, gawat! Ada wartawan yang membuntuti kurir katering ke apartemenmu pagi ini! Mereka curiga kau menyewa koki pribadi wanita atau tinggal bersama seseorang. Mereka sudah ada di lobi!”
Elvano tersentak. Ia menatap pintu apartemennya, lalu kembali menatap wajah Selena di layar ponsel yang masih asyik mengobrol dengan pengikutnya.
Elvano mendengus kesal, rahangnya mengeras. "Mereka usil sekali. Tidak bisa melihat orang hidup tenang sebentar saja?"
"El, kalau mereka tahu makanan itu dari klinik kesehatan dr. Selena, pasti saham Zenithra bisa goyang karena penyakit kronis yang kau sembunyikan!"
Elvano memijat pelipisnya. Sifat perfeksionis dan keinginan akan privasi membuatnya merasa tercekik.
"Darian, dengar. Urusan ini kuserahkan padamu. Laporkan mereka pada pihak keamanan gedung. Ini apartemen eksklusif, privasi adalah produk utama yang mereka jual. Kenapa satpam bisa selemah itu? Jika wartawan itu sampai menginjakkan kaki di lantai unitku, aku akan menuntut pihak pengelola gedung."
"Aku sudah urus, El. Aku sedang menuju ke sana bersama tim hukum," sahut Darian sedikit tenang.
"Bagus. Aku tidak akan membiarkan rahasia ini terbongkar hanya karena urusan perut," tegas Elvano sebelum memutus panggilan.
Ia kembali menatap layar ponselnya. Di sana, Selena masih tersenyum, tidak tahu bahwa bantuannya hampir saja memicu badai media. Elvano menatap kotak makan yang baru saja ditaruh kurir di atas mejanya. Aroma masakan Selena seolah menantang aroma kesepian yang selama ini ia pelihara.
***