Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamar tidur utama itu mendadak kehilangan seluruh suaranya. Gemerincing anting berlian yang sedang dipasang Alceena pun seolah teredam oleh keheningan yang mendadak terasa mencekam.
Nama Nora yang baru saja dilemparkan Alceena dengan nada menghina bagai sebuah bom waktu yang meledak tepat di wajah Xander, namun anehnya, tidak ada serpihan amarah yang tersisa dari pria itu.
Xander hanya terdiam. Tubuh tingginya yang kokoh berdiri kaku seperti patung marmer di tengah ruangan, membiarkan embus angin sore dari ventilasi menerpa kulit dadanya yang bertelanjang.
Sepasang matanya yang berbeda warna menatap Alceena dengan tatapan yang teramat kosong, namun sarat akan rasa sakit yang teramat pekat.
Dia tahu. Dia tahu persis bahwa dirinya memang salah pagi tadi.
Tidak ada pembenaran atas monster egois yang melompat keluar dari dalam dirinya saat rasa panik mencengkeram otaknya akibat telepon dari Chicago tersebut.
Xander menerima. Dia menerima setiap bilah belati kata-kata yang dilemparkan Alceena, menerima kutukan, makian, hingga status rendah sebagai 'simpanan' yang sengaja disematkan wanita itu untuk menginjak harga dirinya.
Dia tahu dia layak mendapatkan semua kemarahan ini.
Maka, Xander memilih untuk tidak lagi membalas dengan bentakan.
Pria itu mundur satu langkah, memberikan ruang yang cukup bagi Alceena. Dia terdiam, berdiri diam membatu di dekat pilar ranjang, sama sekali tidak berniat mengganggu atau menghalangi Alceena yang kembali melanjutkan aktivitas berdandannya di depan cermin besar.
Alceena melirik dari pantulan cermin dengan sudut matanya yang tajam.
Dia mengira Xander akan langsung mengamuk atau melangkah pergi dengan sisa keangkuhan Stone yang terluka. Namun melihat pria itu hanya diam menatap lantai dengan napas yang teratur namun berat, ada denyut aneh yang kembali merayap di dada Alceena.
Dia terus memoles lipstik merah menyalanya, mencoba mengabaikan presensi pria raksasa itu.
Hingga akhirnya, keheningan itu dipecah oleh suara bariton Xander.
Suara itu tidak lagi menggelegar penuh perintah seperti biasanya; suara itu terdengar sangat parau, rendah, dan bergetar hebat oleh emosi yang tertahan di tenggorokan.
"Kita memang baru berkenalan, Alceena..." ucap Xander lirih, matanya perlahan terangkat, menatap punggung tegap Alceena yang terbalut gaun satin hitam seksi melalui pantulan cermin.
Alceena menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang kuas eyeshadow, namun dia tetap menolak untuk berbalik.
"Tiga hari. Kau benar, ini adalah waktu yang teramat singkat bahkan untuk menghafal seluruh kebiasaan makanmu," Xander tersenyum pahit, sebuah senyuman miris yang meratapi kebodohannya sendiri.
"Tapi kemarin... kemarin saat dirimu menasihatiku di dapur itu, saat kau begitu mendukungku dengan kata-kata warasmu untuk melepaskan belenggu takdir, dan saat kau memelukku dengan keikhlasan yang belum pernah kurasakan dari siapa pun... Demi Tuhan, Alceena..."
Xander menarik napas dalam, membiarkan dadanya bergemuruh. Dia melangkah maju satu kali, sangat perlahan, seolah takut langkah kakinya akan mengusir wanita itu.
"Maafkan aku, Alceena. Aku sudah teramat lancang..." jeda Xander, suaranya mendadak merendah hingga menyerupai bisikan yang sakral. "...tapi sepertinya, aku mencintaimu."
Deg.
Jantung Alceena rasanya seperti berhenti berdetak di detik itu juga. Kuas di tangannya hampir saja terlepas ke atas meja rias.
Dia menatap pantulan mata Xander di cermin dengan tatapan tidak percaya, mengira indra pendengarannya sedang mempermainkannya setelah sesi pergumulan gila mereka sejak siang tadi.
Xander terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang menghina dirinya sendiri. "Ya, kau pasti tidak akan percaya, bukan? Kau tidak akan pernah mempercayai kata-kata ini karena kita baru bertemu tiga hari. Atau... mungkin kau sedang mengira bahwa perasaanku ini muncul hanya karena kita sudah bercinta Dua malam penuh dan sepanjang siang tadi. Kau pasti berpikir aku hanya seorang pria yang terbuai oleh kepuasan fisik."
Xander menggelengkan kepalanya, matanya berkilat emosional, menatap Alceena dengan kejujuran yang teramat murni hingga membuat atmosfer kamar itu mendadak terasa begitu berat.
"Tapi tidak, Alceena. Pagi tadi aku sadar..." Xander menelan ludahnya yang terasa berpasir. "Entah kenapa, saat pria di seberang telepon itu mengatakan bahwa Nora hamil... hal pertama yang melintas di otaknya bukan rasa cemburu yang membakar untuk merebutnya kembali. Melainkan... ingatan tentangmu. Ingatan tentang kau yang mungkin saja hamil dua minggu kemudian karena benih yang kutinggalkan di dalam rahimmu tanpa pengaman semalam. Demi Tuhan, Alceena, pemikiran itu... pemikiran tentang kau yang mengandung anakku, benar-benar membuat jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau pecah. Rasa takut dan rasa bahagia yang aneh bercampur menjadi satu, dan saat itulah aku sadar betapa gilanya aku."
Xander meremas jemarinya sendiri, menundukkan kepalanya sejenak dengan rasa bersalah yang amat sangat pekat.
"Demi Tuhan, perasaanku ini memang murahan. Aku tahu itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Aku baru saja kehilangan Nora, baru saja dicampakkan oleh sejarah empat tahunku di Chicago, dan sekarang dengan mudahnya aku mengatakan hal sampah ini di depanmu... di depan seorang diva yang baru saja kusakiti hatinya."
Alceena masih diam mematung, tubuhnya kaku menghadap cermin. Namun di dalam dadanya, badai emosi sedang berkecamuk hebat. Kata-kata Xander menghantam pertahanan egonya dengan telak.
"Tapi kata-katamu benar-benar menyenangkan kemarin, Ceena," lanjut Xander, suaranya melembut, memanggil nama panggilan wanita itu dengan nada memuja yang teramat tulus.
"Kata-katamu membuatku merasa hidup kembali setelah Dua Minggu merasa seperti mayat berjalan. Dan saat bersama denganmu juga... aku bisa melupakan Nora sepenuhnya. Aku merasa merdeka di dalam pelukanmu."
Xander melangkah mendekat, hingga kini dia berdiri tepat di belakang Alceena, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara tubuh mereka.
Dia tidak berani menyentuh Alceena, namun bayangan tubuh tingginya mengurung wanita itu dari belakang di dalam cermin.
"Aku mengutuk kegilaanku tadi pagi saat aku menerima telepon itu," bisik Xander dengan pandangan mata yang memohon, sepasang manik biru dan coklatnya tampak berkaca-kaca.
"Aku mengaku salah karena telah menjadikanmu pelampiasan dari rasa takutku. Kau boleh menghukumku, kau boleh memperlakukanku seperti simpanan tak berharga sepanjang hidupku di sini... tapi demi Tuhan, jangan dulu berhubungan dengan pria lain malam ini, Alceena. Kumohon... aku memohon padamu untuk kali ini saja."
Napas Xander terasa hangat di puncak kepala Alceena saat pria itu menunduk sedikit. "Aku takut... aku sangat takut benihku semalam sudah bekerja di sana. Aku takut anak kita memang sudah ada di dalam rahimmu saat ini, Ceena. Jangan biarkan pria lain menyentuh milikku..."
Alceena terdiam saja. Bibir merah menyalanya mengatup rapat, dan kuas di tangannya perlahan dia letakkan kembali ke atas meja kaca dengan gerakan yang sangat lambat. Dia menatap pantulan wajah Xander di cermin dengan saksama.
Alceena mencoba mencari setitik kebohongan, setitik trik manipulasi, atau sisa-sisa bualan pria hidung belang yang biasa dia temui di pesta-pesta Hollywood.
Namun, dia gagal.
Tidak ada satu pun topeng di wajah Xander saat ini.
Di dalam cermin itu, dia melihat keseriusan yang teramat dalam, sebuah kejujuran yang telanjang, dan ketakutan yang murni dari seorang pria yang sedang menyerahkan seluruh sisa harga diri dan hatinya di bawah kaki seorang wanita.
Dadanya bergemuruh hebat, ingatan tentang sumpah setianya untuk membenci pria ini mendadak goyah oleh getaran pengakuan cinta yang salah waktu tersebut. Keheningan sore itu merayap membelit keduanya dalam dilema rasa yang membingungkan.