Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Sari
Bu Wati yang sedang menjadi pejuang garis dua sampai di umur empat puluh tahun ini sangat senang bertemu anak perempuan yang cantik dan lucu di depan nya . Sampai lupa kalau rumah itu tidak memiliki tetangga .
Meskipun di desa hal yang biasa bagi anak - anak bangun pagi ataupun bermain di luar rumah pagi hari .
" Atu cama mbah tatung " . ( aku sama mbah kakung) . Jari anak kecil itu menunjuk ke seorang kakek .
Tangan bu Wati tiba - tiba saja di gandeng anak kecil itu dan di tuntun mendekat pada kakek yang tampak berkebun .
Bu Wati merasa aneh sebab tangan anak kecil itu terasa sangat dingin , sedingin es padahal cuaca sedang tidak dingin .
" Assalamu'alaikum , pagi pak .. " . Bu Wati menyapa dengan sopan setelah mendekat .
" Wa'alaikumussalam , panggil saja mbah Damar " .
" Ngge mbah , pagi benar mbah mau menanam apa ? " .
" Ora nandur opo - opo , mung nilik wae " . ( Tidak menanam apa - apa , hanya melihat - lihat saja ) .
" Bu .. " .
" Maaf mbah , suami saya yang manggil , saya mau bantu bersihkan rumput - rumput dulu " . Pamit bu Wati pada mbah Damar .
" Pergilah nduk , mbah juga mau pulang ini " . Jawab mbah Damar sambil menggandeng tangan anak kecil yang tadi menggandeng tangan bu Wati .
Bu Wati berbalik dan menuju teras di mana pak Soni memanggil nya tadi .
" Darimana bu ? , tadi bapak dengar ibu seperti mengobrol dengan seseorang " . Pak Soni bertanya dengan raut wajah menyelidik karena pak Soni juga tahu kalau rumah itu tidak memiliki tetangga .
" Sama mbah Damar pemilik kebun itu pak , tadi beliau sama cucu nya yang berumur dua tahunan " . Bu Wati menunjuk arah samping rumah yang berjarak kurang lebih dua puluh meter dari teras rumah itu .
" Bapak mau buang sampah sekaligus bersihin daun - daun kering di seberang jalan sana bu " .
" Iya pak , hati - hati takut ada ular atau ulat bulu " .
" Iya bu , maturnuwun " . Ucap pak Soni sembari menowel dagu bu Wati .
" Bapak ini " . Bu Wati tersipu malu .
Begitulah cara pak Soni dan bu Wati mempertahankan rumah tangga mereka .
Bu Wati tersenyum menatap pak Soni yang berjalan ke seberang .
" Bapak mau pelgi ya bu ? " . Tanya anak kecil yang tadi kata nya mau pulang bersama mbah Damar .
Bu Wati berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan anak kecil itu .
" Bapak cuma buang sampah saja tuh di seberang , nama kamu siapa sayang ? " . Tanya bu Wati sembari mengusap kepala rambut si anak .
Ada yang aneh menurut bu Wati karena rambut anak itu mengeluarkan bau yang sangat wangi , bau bunga melati . Badan anak itu juga memiliki bau bunga entah bunga apa yang jelas seperti bunga yang bercampur kemenyan .
" Nama ku Cari bu " . Jawab anak kecil itu menggemaskan .
" Mau masuk ke sini sayang ? " . Tunjuk bu Wati ke dalam rumah .
" Tidak nduk , dia harus pulang sebab ibu nya sudah menunggu " . Tiba - tiba mbah Damar sudah berada di samping bu Wati dan menyambar tangan Sari yang di gandeng bu Wati dan memaksa Sari untuk mengikuti nya .
" Ngge mbah monggo , hati - hati di jalan mbah , Sari " . Bu Wati melambaikan tangan nya sambil melihat tangan Sari yang seperti di seret oleh mbah Damar .
Bu Wati duduk sejenak di teras rumah sembari menunggu pak Soni selesai membuang dan membersihkan dedaunan di seberang jalan .