NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Tiga hari sejak Slamet bergabung dengan kelompok relawan, dan dia masih tidak tahu nama kelompok itu. Yang dia tahu, setiap pagi dia harus bangun sebelum matahari terbit, mengangkat peti-peti kayu yang ujung-ujungnya sudah mulai lapuk, lalu berjalan menyusuri jalanan becek untuk mengantar logistik ke pos-pos yang ditentukan.

Jatah makannya lumayan. Roti sudah tidak sekeras batu. Kadang ada sayur rebus. Pernah sekali dapat daging asap—tipis, hampir transparan, tapi tetap daging.

Dan tempat tidurnya tidak lagi di got.

Slamet berbaring di atas tumpukan karung goni di pojok tenda logistik. Selimut tipis yang diberikan Neia menutupi setengah badannya. Di luar, salju tipis masih turun.

Besok kerja lagi. Semoga dapat kopi. Tapi kayaknya sih enggak.

Dia memejamkan mata. Dengkur mulai terdengar.

Di tenda sebelah, Neia tidak bisa tidur.

Dia duduk di atas peti kayu, jari-jarinya menggenggam erat tepian yang kasar. Matanya menatap ke arah pintu tenda—ke tempat pria aneh itu tidur.

Slamet. Dari Indonesia. Tidak ada yang tahu di mana itu.

Dan tanda di jidatnya... aneh.

Dia teringat rumor tentang The Destroyer. Entitas misterius yang muncul di hutan Elf. Yang membuat monster perempuan takut. Yang menghilang tanpa jejak.

Rumor bilang The Destroyer tidak menunjukkan ekspresi. Dingin. Tenang.

Seperti mata Slamet.

Neia menghela napas. Uap putih keluar dari bibirnya.

Jangan terlalu paranoid. Dia hanya tunawisma yang butuh makan.

Tapi firasatnya tidak bisa diabaikan.

Pagi harinya, Slamet bangun karena perutnya keroncongan.

Krik. Krik. Krik.

Dia berdiri, melipat selimut dengan malas, lalu berjalan keluar tenda.

Di luar, para relawan sudah mulai bergerak. Seorang pria botak dengan otot kekar berdiri di dekat api unggun.

"Neia!" teriak pria itu. "Kurir baru kau? Suruh dia mengangkat peti ke pos barat."

Neia mengangguk. Matanya mencari Slamet.

"Di sana," katanya, menunjuk.

Pria botak itu menoleh. Matanya mengamati Slamet dari ujung rambut hingga ujung kaki telanjang yang kotor.

"Dia kelihatan seperti orang yang baru saja ditabrak kuda," gumamnya.

"Tapi dia bekerja," kata Neia. "Dan tidak pernah protes."

Pria botak itu berjalan mendekati Slamet.

"Hei, kurir."

Slamet mengucek mata. "Iya?"

"Kau bisa mengangkat peti kayu?"

Slamet menoleh ke tumpukan peti di samping tenda. "Berapa beratnya?"

"Seperti anak kuda."

"Anak kuda beratnya berapa?"

Pria botak itu terdiam, bibirnya bergetar sedikit.

"Baiklah, coba saja," kata Slamet. "Kalau jatuh, kau yang mengangkat."

Dia membungkuk, mengangkat peti terbesar, menyeimbangkannya di perut, lalu mulai berjalan.

Plak. Plok. Plak. Plok.

Pria botak itu menatap punggungnya. "Orang aneh," gumamnya.

Neia tidak menjawab.

Pos barat berjarak sekitar dua kilometer. Jalanan becek, dan salju tipis mulai turun lagi.

Slamet berhenti di tengah jalan, menaruh peti di atas batu besar. Dia membungkuk, mengatur napas, uap putih keluar dari mulutnya.

Capek. Tapi lumayan. Ada yang disuruh angkat barang, ada makan. Gak perlu mikir.

Dia mengangkat peti itu lagi. Melanjutkan perjalanan.

Di pos barat, seorang penjaga dengan jubah tebal menyambutnya.

"Kau kurir baru?" tanyanya.

"Iya."

"Barang apa itu?"

"Tidak tahu. Yang penting antar."

Penjaga itu memeriksa stempel di sudut kayu. Matanya menyipit.

"Suplai obat. Sudah lama tidak sampai." Dia menatap Slamet. "Kau mengantar sendiri?"

"Iya."

"Jaraknya cukup jauh."

"Masih bisa dijangkau."

Penjaga itu terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Slamet berbalik. Langkahnya mulai terdengar lagi.

Di tenda utama, Neia sedang menulis catatan logistik. Tetapi pikirannya tidak fokus.

Jari-jarinya berhenti di atas kertas.

Slamet. Tanda hitam di jidat. Tidak takut pada apapun. Atau tidak peduli. Mana yang lebih mengerikan?

Rumor bilang The Destroyer tidak menunjukkan ekspresi. Seperti mata Slamet.

"Neia." Suara pria botak itu memecah lamunannya.

Neia tersentak sedikit. "Ya?"

"Kurir baru kau telah kembali."

Neia menoleh. Slamet sedang berjalan masuk ke area tenda. Wajahnya biasa saja. Tidak kelelahan.

"Ada kendala?" tanya Neia.

"Tidak. Jalanan becek. Tapi tidak apa-apa."

Neia mengangguk. "Beristirahatlah. Nanti siang ada tugas lagi."

"Baik."

Slamet berjalan ke pojok tenda, merebahkan diri di atas karung goni.

Besok kerja lagi. Semoga dapat kopi.

Dia memejamkan mata.

Di Ruang Takhta Nazarick, Ainz duduk sendirian.

Laporan dari Demiurge tergeletak di meja. Mata-mata sudah dikirim ke Holy Kingdom. Isolasi Theocracy sedang berjalan. Aliansi militer mulai terbentuk.

Secara teknis, semua berjalan sesuai rencana.

Tapi ada satu masalah yang tidak bisa dia selesaikan dengan strategi manapun.

Shalltear masih mengulang angka itu. Albedo ingatannya bolong. Dua Guardian yang paling dia andalkan — tidak bisa memberikan laporan yang jelas tentang apa yang mereka hadapi.

Ainz menggeser laporan Demiurge ke tepi meja.

Di bawahnya, laporan lama tentang Slamet. Masih belum terjawab.

Dia menatap nama itu cukup lama.

Lalu menutupnya.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!