"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Pagi itu, sinar matahari terbit dengan kehangatan yang berbeda di atas langit gang sempit tempat kediaman Arumi. Udara seolah membawa aroma kebebasan dan harapan baru yang begitu harum. Setelah malam yang penuh dengan air mata, amarah, sekaligus keajaiban takdir berlalu, Arumi tidak ingin membuang-buang waktu sedikit pun. Baginya, setiap detik yang berjalan adalah langkah nyata untuk menyusun kembali puing-puing harga dirinya yang sempat hancur lebur di bawah kaki Pras dan keluarganya.
Sesuai dengan rencana yang telah matang didiskusikan semalam, Arumi membulatkan tekad untuk segera memulai eksekusi pembangunan istana barunya. Namun, alih-alih menyewa jasa kontraktor besar dari luar kota yang tidak dikenal, pikiran Arumi langsung tertuju pada lingkungan sekitarnya. Di gang padat penduduk ini, ada beberapa tetangga yang mata pencaharian utamanya adalah sebagai buruh kasar dan tukang bangunan. Salah satunya adalah Kang jaya, seorang pria paruh baya bertubuh kekar legam yang terkenal sangat jujur, teliti, dan memiliki keahlian luar biasa dalam pertukangan, namun sayangnya akhir-akhir ini sepi orderan karena proyek perumahan di kota sedang lesu.
Sekitar jam delapan pagi, didampingi oleh Pak RT yang menjadi penengah sekaligus saksi hukum, Arumi mengundang Kang jaya untuk datang ke teras rumahnya yang sempit. Kang jaya datang dengan pakaian kerjanya yang sederhana, tampak agak canggung dan bingung mengapa dipanggil secara mendadak oleh ketua RT dan Arumi.
"Ada apa ya, Pak RT, Mbak Rum? Kok sepertinya penting sekali sampai saya disuruh datang sepagi ini?" tanya Kang jaya sambil membenarkan posisi duduknya di kursi plastik teras.
Arumi tersenyum ramah, menyodorkan secangkir kopi hitam hangat yang baru saja ia seduh. "Begini, Kang jaya. Langsung saja ya... saya ada rencana untuk merubuhkan total rumah peninggalan bapak saya ini dan membangunnya kembali dari nol. Saya ingin membuat rumah tinggal berlantai tiga yang kokoh, luas, dan memiliki fasilitas terbaik."
Kang jaya yang baru saja hendak menyeruput kopinya seketika tersedak halus. Matanya membelalak menatap Arumi, lalu beralih menatap Pak RT seolah mencari konfirmasi apakah pendengarannya sedang bermasalah.
"M-maksudnya... merubuhkan total, Mbak? Rumah tingkat tiga? Waduh, itu kan biayanya tidak sedikit, Mbak Rum. Maaf... bukannya saya lancang, tapi..." Kang jaya menggantung kalimatnya, merasa tidak enak hati karena tahu selama ini Arumi hidup serba pas-pasan dan baru saja diterpa badai rumah tangga dengan Pras.
Pak RT terkekeh pelan, menepuk pundak Kang jaya yang tegang. "Kang jaya, apa yang dibilang Nak Arumi ini seratus persen serius. Urusan dana, kamu tidak perlu khawatir, semuanya sudah siap dan dijamin aman. Makanya, Nak Arumi di sini mau menawarkan proyek ini sepenuhnya kepada kamu. Arumi ingin kamu yang memimpin pembangunannya sebagai kepala pemborong, dan kamu bebas mengajak teman-teman tukang dan kuli dari warga kampung kita sendiri untuk ikut bekerja. Bagaimana? Kamu sanggup?"
Mendengar penjelasan Pak RT, wajah Kang jaya langsung berubah cerah seolah baru saja melihat seberkas cahaya di tengah kegelapan. Proyek membangun rumah tingkat tiga dari nol akan memakan waktu berbulan-bulan, dan itu artinya dia dan teman-teman sesama tukang di kampung ini akan memiliki penghasilan tetap yang sangat besar dalam jangka panjang. Mereka tidak perlu lagi luntang-lantung mencari kerja ke luar kota.
"Ya Allah... Gusti, kalau memang Mbak Rum percaya dengan tenaga saya, saya sanggup, Mbak! Sangat sanggup!" jawab Kang jaya dengan suara yang bergetar karena haru. "Saya janji akan bekerja dengan sejujur-jujurnya, memilih bahan bangunan kualitas paling nomor satu, dan tidak akan korupsi waktu atau material sepeser pun. Saya akan ajak Kang Dadang, Kang Maman, dan anak-anak muda di gang kita yang menganggur untuk ikut bantu jadi kuli. Ini berkah luar biasa buat kami, Mbak!"
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Kang jaya. Urusan rincian anggaran, desain kasar dan pembelian material awal, besok kita mulai bahas bersama ya," ucap Arumi penuh kelegaan.
Pertemuan singkat pagi itu diakhiri dengan jabat tangan yang erat. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan penting. Pertemuan intim yang terjadi semalam tentang kedatangan Pakde Kalim, tentang sejarah kelam penipuan masa lalu, tentang tumpukan uang tunai ratusan juta, dan saldo ATM fantastis senilai dua miliar rupiah tetap menjadi rahasia yang terkunci rapat-rapat di antara empat orang saja: Arumi, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida. Mereka berempat sepakat untuk menjaga detail nominal dan asal-usul uang itu demi keamanan Arumi dan anak-anak, agar tidak memancing niat jahat dari orang asing atau kecurigaan berlebih dari pihak keluarga mantan suami yang mungkin masih memata-matai.
Meskipun detail rahasia malam itu terkunci rapat, yang namanya lingkungan hunian padat penduduk, desas-desus tentu saja tidak akan bisa dibendung sepenuhnya. Kabar burung mengenai "Arumi yang mendadak mendapatkan warisan besar dari keluarga jauh bapaknya" langsung berembus kencang bagai angin topan dari satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya. Sejak pagi buta, para ibu-ibu yang berbelanja di tukang sayur keliling sudah ramai berbisik-bisik.
Namun, berbeda dengan lingkungan lain yang biasanya dipenuhi oleh riak rasa iri, dengki, atau cibiran sinis saat melihat tetangganya mendadak kaya, warga di kampung gang sempit ini justru kompak menunjukkan ekspresi senang, haru, dan bersyukur. Mengapa? Karena selama ini mereka tahu betul bagaimana tabiat Arumi yang luar biasa baik, rajin, dan tertindas selama menjadi istri Pras. Mereka merasa ini adalah bentuk keadilan Tuhan yang nyata untuk membalas air mata Arumi.
Terlebih lagi, suasana kebahagiaan itu meroket tajam ketika siangnya, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida dengan sigap membantu Arumi menjalankan sebuah aksi sosial yang luar biasa spektakuler. Arumi memutuskan untuk tidak menikmati kekayaan ini sendirian. Sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT dan ucapan terima kasih kepada warga yang selama ini selalu melindunginya dari keluarga Pras, Arumi berniat memberikan rezeki kepada seluruh kepala keluarga di satu desa atau kelurahan tempat tinggalnya tersebut.
Pak RT dengan bangga mengumumkan melalui pengeras suara musala dan grup pesan singkat warga bahwa akan ada pembagian sedekah syukuran dari Arumi. Di teras rumah Pak RT, tumpukan amplop putih sudah tertata rapi. Arumi sengaja mengambil sebagian kecil dari uang tunai dua ratus juta pemberian pakdenya untuk dibagikan.
Satu per satu warga, mulai dari bapak-bapak buruh, ibu-ibu rumah tangga, hingga para janda tua, mengantre dengan tertib di halaman rumah Pak RT. Bu RT dan Bu Ida bertugas membagikan amplop tersebut dengan senyuman yang merekah lebar, sementara Arumi berdiri di samping mereka sambil menggendong Langit dan menggandeng Bintang, menyapa setiap warga dengan takzim.
Setiap kepala keluarga (KK) tanpa terkecuali mendapatkan satu amplop putih tebal yang berisi uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah. Untuk ukuran warga kampung kelas pekerja, uang dua ratus ribu rupiah tunai secara cuma-cuma adalah jumlah yang sangat berarti. Uang itu bisa digunakan untuk membeli beras satu karung, membayar listrik bulanan, atau membeli keperluan sekolah anak-anak.
"Ya Allah, Mbak Arumi... terima kasih banyak ya Gusti," ucap Mak Sumi, seorang janda tua penjual gorengan, sambil menggenggam tangan Arumi dengan mata yang berkaca-kaca. "Uang ini berkah sekali buat Emak. Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Mbak Arumi dengan rezeki yang berlipat ganda, diberikan kesehatan, dan dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat. Rumah barunya nanti semoga berkah ya, Nak."
"Amin, Mak... sama-sama. Mohon doanya ya, Mak, supaya urusan saya ke depan dilancarkan," jawab Arumi tulus, ikut berkaca-kaca melihat kebahagiaan para tetangganya.
"Mbak Rum! Mantap tenan! Terima kasih amplopnya!" seru beberapa pemuda tanggung yang biasanya nongkrong di pos ronda. "Kami siap jaga malam 24 jam kalau material rumah Mbak Rum sudah datang! Tidak bakal ada yang berani curi satu semen pun!"
Gelombang ucapan syukur, doa-doa tulus, dan tawa bahagia menggema di seluruh penjuru desa hari itu. Satu kampung mendadak dipenuhi aura positif yang luar biasa. Arumi telah berhasil menanam benih kebaikan yang sangat dalam di hati seluruh warganya. Dengan dukungan penuh dari satu desa yang kini siap pasang badan menjaganya, Arumi merasa posisinya kini benar-benar tidak tersentuh.
Ia tidak sabar melihat bagaimana runtuhnya keangkuhan Pras dan ibunya ketika mereka kembali ke kampung ini dan menyadari bahwa wanita yang dulu mereka injak-injak, kini telah menjelma menjadi seorang "Ratu" yang dicintai dan dilindungi oleh seluruh warga desa dengan istana megah yang siap berdiri tegak.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏