Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #20
Mereka pun mulai membincangkan banyak hal bersama meskipun lewat telepon saja keduanya tetap terlihat asik dan bahagia.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Clara menyudahi telpon nya dengan Nola saat melihat jam yang sudah menujuk pukul tujuh malam.
"Astaga udah jam tujuh aja, bentar lagi pak Zidan pasti bakal ngetuk- getuk kamar gue buat bikin gue kesel karena pelajaran nya itu, mana belum makan lagih, laper banget," kata Clara yang kemudian berjalan keluar dari kamar nya sambil celingak-celinguk.
Ia berjalan menuruni tangga dan melihat ke sekeliling, namun tidak ada satu pun pelayan di sana, suasana villa terasa sangat sepi malam ini entah apa yang terjadi.
Namun di dapur villa terdengar suara Ari dan juga bau masakan yang menyeruak memenuhi hidung Clara yang memang sedang kelaparan.
"Bik!" panggil Clara sambil melangkah kan kaki nya ke dapur.
Di villa ada dua orang maid dan satu kepala pelayan, namun saat ini sama sekali tidak ada yang menjawab panggilan dari Clara.
Clara terus melangkah kan kaki nya ke dapur dan melihat siapa yang sedang memasak di dapur.
Terlihat Zidan yang berdiri di dapur dan berkutat dengan dapur peralatan memasak.
"Pak Zidan," ujar Clara kaget melihat yang sedang memasak adalah Zidan.
Zidan menoleh dan melihat ke arah Clara beberapa detik dan kemudian kembali fokus dengan kuali nya.
Clara berjalan mendekati Zidan lagi dan kemudian berdiri di samping Zidan sambil mengamati masakan tersebut.
"Kenapa kamu ke sini? Sana," kata Zidan mendorong pelan Clara yang mendekati kuali yang sedang memercikkan minyak.
"Galak banget sih, bisa lembut dikit nggak? Ini villa bukan sekolah," kata Clara keceplosan.
"Lembut?" ujar Zidan sambil mengerutkan keningnya.
"Lupain aja, ini para maid dan kepala pelayan pada kemana kok gak ada?" ujar Clara sambil kembali menatap Zidan.
"Dua maid sudah saya pecat, dan kepala pelayan pulang kampung ada beberapa urusan pribadi," kata Zidan tanpa ekspresi di wajah nya.
"Hah!? Tapi kenapa kok di pecat?" Clara kaget mendengar pertanyaan Zidan barusan.
"Kenapa? Kamu takut tidak ada yang melayani kamu lagi? Mengantarkan makanan ke kamar kamu? Mulai sekarang di sini, saya tidak hanya akan mengajari kamu soal pelajaran saja, tapi soal mandiri kamu juga harus bisa," ungkap Zidan yang kemudian membawa makanan yang sudah dia masak ke meja makan.
"Apa? Bapak mau nyiksa saya ya? Gak bisa gini, saya bakal telpon mama sama papa, saya gak mau tinggal sama bapak lagi," kata Clara berlari pergi dari dapur mansion.
"Cih, anak manja," batin Zidan
Zidan sama sekali tidak mempedulikan Clara termasuk ancaman Clara barusan, ia hanya tersenyum sinis dan kemudian mulai menikmati masakan nya.
Sementara itu di kamar Clara.
Call on,
"Hallo ma, ma Clara mau pulang ma, Clara gak mau tinggal di sini," kata Clara setengah berteriak saat sang mama mengangkat panggilan dari nya.
"Clara sayang, baru beberapa hari apa yang terjadi?" Tanya sang mama di sebrang telpon.
"Masa maid di pecat dan pak Zidan bilang mau Clara mandiri ma, dari kecil sampai segede ini kan Clara gak tau gimana caranya mandiri apaan sih ma!," rengek Clara tidak ada hentinya.
"Astaga Clara, jadi cuma itu permasalahan nya, ini permintaan mama sama papa sayang, jadi kamu tidak perlu menyalahkan suami kamu, sudah dulu ya mama masih banyak kerjaan," kata sang mama menjelaskan lalu kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara sambung telpon yang terputus.
Call of.
Clara menatap layar ponselnya, tak percaya kalau ternyata semua itu adalah ide dari mama dan papa nya, anehnya Zidan selalu mengiyakan apapun yang di katakan mama dan papa nya.
"Sebenarnya apa sih yang pak Zidan dapetin dari nurutin kemauan papa sama Mama? Kenapa kayaknya dia patuh banget sama mereka? Gak bisa di biarin gue harus nyelidikin siapa sebenarnya pak Zidan, dan kenapa dia patuh sama perintah mama sama papa?" kata Clara yang perlahan mulai mencurigai Zidan.
Kalau di pikir-pikir Clara seharusnya penasaran kenapa Zidan bersedih menikahinya, hal ini mulai timbul di dalam benak Clara.
Namun suara ketukan kembali terdengar di pintu kamar Clara.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Bentar!" kata Clara yang kemudian berjalan lalu membukakan pintu kamar nya.
Terlihat Zidan yang saat itu membawa nampan berisikan makanan.
"Makan," kata Zidan singkat sambil menyerahkan nampan tersebut kepada Clara.
"Gak laper," jawab Clara.
Namun terdengar suara perut nya yang keroncongan tidak bisa di ajak bersandiwara.
"Sepuluh menit, setelah itu ke kamar saya bawa buku dan peralatan lain." kata Zidan yang kemudian meningalkan kamar Clara.
"Aishhhh, sial ni perut," kesal Clara yang mau tidak mau membawa nampan tersebut masuk ke dalam kamar dan menatap makanan yang ada di dalam nampan tersebut.
"Makanan apa nih? Pak Zidan beneran bisa masak? Kok ada ya laki-laki bisa masak? Apa karena doa guru? Ah apa hubungannya," kata Clara masih bergelut dengan pikiran nya sendiri.
Sepuluh menit kemudian Clara selesai makan, ia menghabiskan makanan berupa nasi goreng tersebut dan kemudian berjalan keluar dari kamar nya sambil membawa pena dan buku, ia menghabiskan makanan itu entah karena kelaparan atau sangking enaknya masakan Zidan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Clara mengetuk pintu kamar Zidan yang memang sengaja tidak di kunci dan sedikit rengang.
"Masuk," jawab Zidan dari dalam.
Ini kedua kalinya Clara masuk ke dalam kamar Zidan, sudah tidak terlalu cangung ia segera berjalan mendekati meja belajar dan duduk di sana.
"Kamu terlihat bersemangat ya kali ini," kata Zidan mendekati Clara dengan kursi yang ia ambil dari meja kerja nya.
"Cepat belajar cepat selesai, pengen buru-buru tidur," jawab Clara tampa menoleh ke arah Zidan yang kini duduk bersebelahan dengan nya.
"Ck," sinis Zidan.
Mereka pun memulai pelajaran, meskipun Clara begitu sulit memang pelajaran yang di ajarkan Zidan, namun ia masih tetap berusaha untuk membuat Clara lebih berkembang dari biasanya.
"Kok susah banget sih? Bikin pusing aja, boleh istirahat dulu sebentar gak sih capek banget," kata Clara sambil merebahkan kepalanya di atas buku yang saat ini mereka hadapi.
"Kalau kamu malas-malasan gini bakal lama memahami nya, cepat bangkit," ujar Zidan galak.
Namun tiba-tiba saja lampu di kamar Zidan berkedip-kedip dan kemudian mati total sehingga ruangan tersebut jadi gelap gulita.
Bersambung ....
Cie gantung maaf ya wkwkwk, biar penasaran dikit loh kalian nya.