NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Menutup Babak dengan Damai

Kabar yang datang itu membuat hati Aldo dan Naura terasa berdebar campur haru. Dari kantor lembaga pemasyarakatan, mereka menerima surat yang menyampaikan bahwa Widodo Suryatmojo, orang yang menjadi otak utama segala kejahatan di masa lalu, kini dalam kondisi kesehatan yang sangat menurun dan hanya memiliki waktu hidup yang tersisa sangat singkat. Ia meminta untuk bertemu dengan Aldo dan Naura, dengan alasan ingin menyampaikan sesuatu sebelum akhir hayatnya tiba.

Mendengar permintaan itu, tim manajemen dan keluarga sempat menyarankan untuk menolak. "Mengapa harus bertemu dengan orang yang telah menyakiti kalian dan kedua keluarga selama puluhan tahun? Apa lagi yang bisa ia sampaikan selain mungkin mencoba mencari keuntungan atau menimbulkan masalah baru?" tanya Ibu Aldo dengan nada khawatir.

Namun, Aldo dan Naura saling berpandangan, lalu mengambil keputusan yang sama. "Kita tidak datang karena rasa takut atau ingin membalas dendam," ujar Naura dengan tenang. "Kita datang untuk menutup lembaran masa lalu ini sepenuhnya, agar tidak ada lagi hal yang menggantung di hati kita maupun di hatinya. Jika ia ingin menyampaikan sesuatu, biarkan ia bicara, dan kita terima dengan kepala dingin."

Beberapa hari kemudian, dengan pengawasan ketat dari pihak berwenang, mereka berdua berangkat menuju lembaga pemasyarakatan. Suasana di dalamnya terasa sunyi dan hening. Saat dipersilakan masuk ke ruang pertemuan khusus, mereka melihat Widodo terbaring lemah di kursi roda, wajahnya keriput dan pucat, jauh berbeda dari sosok yang dulu berkuasa dan penuh ambisi.

Begitu melihat kedatangan mereka, Widodo mencoba menegakkan tubuhnya sedikit. Matanya yang dulu tajam kini terlihat sayu dan penuh penyesalan. Ia menatap Aldo, lalu berpindah ke wajah Naura, dan perlahan menundukkan kepalanya.

"Terima kasih... karena mau datang menemui orang sepertiku," ucapnya dengan suara yang parau dan lemah. "Aku tahu tidak ada alasan yang cukup untuk meminta maaf atas semua yang telah kulakukan. Aku telah merusak hidup orang tuamu, memisahkan keluarga, dan membiarkan keserakahan menguasai diriku hingga lupa pada kemanusiaan."

Aldo dan Naura duduk di hadapannya, tidak menunjukkan rasa marah, namun juga tidak menunjukkan rasa belas kasihan yang berlebihan. Mereka hanya mendengarkan dengan tenang.

"Selama di dalam sini, aku punya banyak waktu untuk merenung. Aku menyadari bahwa apa yang aku kejar selama ini—kekuasaan, uang, kedudukan—tidak membawa kebahagiaan sedikit pun. Bahkan saat aku merasa menang, hatiku selalu gelisah dan takut ketahuan. Sekarang, saat nyawaku hampir habis, yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak bisa diubah lagi," lanjut Widodo sambil meneteskan air mata.

Ia kemudian menyerahkan sebuah amplop tebal kepada petugas yang kemudian diserahkan kepada Aldo. "Di dalam ini ada semua catatan, daftar aset, dan bukti kepemilikan yang selama ini aku sembunyikan. Sebagian besar harta yang aku dapatkan dari perbuatan itu tersimpan di berbagai tempat. Aku ingin semuanya diserahkan kepada kalian—untuk digunakan bagi kebaikan, seperti yang kalian lakukan selama ini. Aku tidak ingin harta kotor itu mewarisi rasa bersalah kepada siapa pun."

Naura membuka amplop itu sekilas, melihat dokumen-dokumen yang tertera jelas. Ia menatap Widodo dan berkata dengan nada yang tenang namun tegas: "Kami tidak membutuhkan harta ini untuk memperkaya diri sendiri. Tapi kami akan menerimanya, dan seluruhnya akan disalurkan ke yayasan dan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi banyak orang. Itu adalah cara terbaik untuk menebus kesalahan, meski tidak bisa menghapus penderitaan yang telah kau timbulkan."

Widodo mengangguk dengan rasa lega yang terlihat di wajahnya. "Terima kasih. Setidaknya sebelum mati, aku tahu bahwa apa yang telah aku ambil secara salah akan kembali digunakan untuk hal yang benar. Aku juga ingin meminta maaf secara langsung kepadamu, Naura, dan kepadamu, Aldo. Maafkan kebodohan dan keserakahanku."

Aldo menjawab dengan suara yang mantap: "Kami memaafkanmu, bukan karena perbuatanmu pantas dimaafkan, tapi karena memendam rasa dendam hanya akan menyakiti diri sendiri. Kami memilih untuk melangkah maju dan tidak lagi terikat pada masa lalu yang kelam. Semoga sisa waktumu digunakan untuk merenung dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa."

Setelah pertemuan itu selesai, Aldo dan Naura keluar dari ruangan dengan perasaan yang terasa lebih ringan. Beban yang selama ini terasa mengganjal di hati mereka akhirnya terangkat sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa marah, tidak ada lagi rasa ingin tahu yang mengganggu—semuanya telah jelas dan terselesaikan.

Beberapa hari kemudian, mereka menerima kabar bahwa Widodo telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada rasa gembira, hanya rasa lega bahwa satu babak panjang dari kisah ini telah ditutup dengan damai.

Seluruh harta yang diserahkan Widodo segera dikelola dan disalurkan sepenuhnya untuk mendukung program Yayasan Harapan dan Alam, membangun lebih banyak ruang kelas, memperluas lahan pertanian, dan memberikan beasiswa kepada ratusan anak yang membutuhkan. Nama Widodo tidak pernah disebutkan dalam laporan atau pengumuman apa pun—hanya kebaikan yang mengalir, tanpa membawa nama yang kelam.

Bertahun-tahun pun berlalu. Grup Pratama terus tumbuh menjadi perusahaan yang dihormati dan dipercaya, tidak hanya karena keberhasilannya secara bisnis, tetapi karena prinsip yang selalu dipegang teguh. Yayasan yang didirikan terus berkembang, melahirkan generasi-generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan peduli terhadap lingkungan serta sesama.

Arka kini telah tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan bertanggung jawab. Ia mulai terlibat dalam mengelola yayasan dan mempelajari seluk-beluk perusahaan, namun tetap memegang nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya. Ia sering berkata: "Kekayaan yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita miliki, tapi apa yang bisa kita berikan kepada orang lain."

Suatu sore, di bawah pohon rindang di halaman yayasan, Aldo dan Naura duduk berdampingan sambil menatap anak-anak yang sedang bermain dan belajar dengan riang. Angin berhembus lembut, membawa suasana damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Siapa sangka perjalanan kita akan sepanjang dan seberliku ini," ujar Aldo sambil memegang tangan istrinya. "Dari pertemuan yang tidak terduga, melalui penderitaan, pengkhianatan, hingga akhirnya mencapai kedamaian seperti ini."

Naura tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Semua yang kita lalui memiliki maknanya sendiri. Setiap tantangan mengajarkan kita untuk lebih kuat, setiap kesulitan mengajarkan kita untuk lebih bijaksana. Kini, kita telah membangun sesuatu yang abadi, sesuatu yang akan terus hidup meski kita sudah tiada nanti."

Mereka menatap ke depan, melihat masa depan yang cerah terbentang luas. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi dendam—hanya kebaikan yang terus mengalir, melanjutkan kisah yang telah mereka tulis dengan kerja keras, kejujuran, dan kasih sayang.

Namun, kisah ini tidak berhenti sampai di sini. Sebab kehidupan selalu berputar, dan setiap generasi akan menghadapi tantangannya sendiri. Arka kini telah berdiri di ambang masa depannya, dan takdir telah menyiapkan jalan baru yang akan menguji apakah ia mampu memegang teguh warisan yang telah dipercayakan kepadanya—membawa nama baik keluarga, menjaga prinsip, dan melanjutkan kebaikan yang telah dimulai.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!