Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tak lama kemudian panggilan video tersambung. Wajah Bu Winda muncul di layar. Wanita itu masih berada di rumah sakit menemani Aruna yang sedang menjalani perawatan.
"Arkana?" tanya Bu Winda heran. "Kamu ke mana saja? Mama telepon dari tadi enggak diangkat."
Arkana tersenyum. "Aku lagi di tempat penting."
Arkana yang sejak tadi berusaha menahan senyum akhirnya tidak mampu lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Setelah lima tahun hidup dalam penyesalan dan mencari tanpa pernah tahu apakah orang yang dicarinya masih mau menerimanya atau tidak, hari itu untuk pertama kalinya hatinya merasakan secercah harapan.
Mata Arkana yang selama bertahun-tahun tampak kosong kini kembali memiliki cahaya. Bahkan saat menatap layar ponsel, senyum itu terlihat begitu tulus hingga membuat wajahnya tampak jauh lebih muda.
"Aku sudah menemukan wanita yang aku cari, Ma." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Arkana.
Di ruang rawat rumah sakit, Bu Winda yang sedang duduk di samping tempat tidur Aruna langsung membeku. Tangannya yang semula sedang memegang botol minum perlahan berhenti bergerak.
"Apa?" tanyanya pelan, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
Namun sebelum Arkana sempat menjelaskan lebih jauh, mata Bu Winda mendadak membesar.
"Kamu ketemu dia?!"
"Iya, Ma." Arkana tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
"Wanita yang selama ini kamu cari-cari itu?!"
"Iya."
Bu Winda langsung berdiri dari kursinya sampai kursi itu sedikit bergeser ke belakang. "Ya, ampun!"
Arkana spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. "Mama, pelan-pelan."
"Pelan-pelan bagaimana?!" seru Bu Winda kesal sambil menunjuk layar ponselnya. "Selama ini Mama suruh nikah, enggak mau!"
Arkana hanya bisa tertawa kecil.
"Setiap dikenalin perempuan, kamu kabur! Setiap dijodohkan, alasan kerja!"
"Mama ...."
"Setiap ditanya kapan menikah, jawabannya nanti, nanti, nanti!"
Arkana mengusap wajahnya pasrah. Kebiasaan mamanya yang satu ini ternyata tidak berubah sedikit pun. Jika sudah ngomel akan sulit berhenti.
Di teras rumah, Shaka yang berdiri tidak jauh dari sana mulai menahan senyum. Begitu juga Pak Adjie dan Bu Cintia. Mereka tidak menyangka ibunya Arkana bisa mengomel sepanjang itu tanpa memberi kesempatan anaknya menyela.
"Kamu ini bikin Mama hampir stres bertahun-tahun!" lanjut Bu Winda.
Arkana menggeleng pelan sambil tersenyum. "Ma."
"Apa lagi?"
"Aku bukan cuma menemukan wanita yang aku cari."
Bu Winda masih tampak kesal.
"Lalu?"
Arkana menarik napas panjang. Matanya tanpa sadar melirik ke arah Abinaya dan Anaya yang sedang berdiri dekat Kanaya. Seketika dadanya terasa hangat.
"Aku juga menemukan anak-anakku."
Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti. Bu Winda tidak bergerak. Tidak berkedip ataupun bersuara. Wanita itu hanya menatap layar ponselnya dengan wajah kosong selama beberapa detik.
"Anak apa?" tanya Bu Winda lirih.
Suara wanita paruh baya itu terdengar jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi keras juga tidak lagi mengomel-ngomel. Seolah ia takut salah dengar.
Arkana tersenyum tipis. "Aku punya dua anak, Ma."
Hening kembali menyelimuti. Lalu beberapa detik kemudian...
"APA?!" Pekikan Bu Winda terdengar sangat keras sampai Anaya refleks menutup kedua telinganya. "Anak dari mana?"
Arkana hampir tertawa mendengar pertanyaan itu. "Ya dari istriku."
Bu Winda menatap layar dengan wajah tidak percaya.
"Ya Allah, jadi selama ini kamu sudah menikah?!" tanya wanita itu sambil memegangi dadanya.
"Iya." Arkana tersenyum lebar.
"Kapan?" tanya Bu Winda dengan mata memicing.
"Lima tahun lalu."
"Kok, Mama enggak tahu?!" Kali ini Bu Winda melotot.
"Panjang ceritanya, Ma."
"Ternyata kamu punya anak dua?!"
"Iya."
Bu Winda sampai terduduk kembali di kursinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar tertinggal jauh dari kehidupan putranya sendiri.
Selama ini ia mengira Arkana hanya seorang pria keras kepala yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Ia mengira putranya menghabiskan lima tahun terakhir hanya untuk mencari seorang wanita yang dicintainya.
Ternyata kenyataannya jauh lebih mengejutkan. Wanita itu bukan sekadar perempuan yang dicintai Arkana. Wanita itu adalah istrinya. Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata dia sudah memiliki dua orang cucu yang bahkan tidak pernah diketahuinya keberadaannya.
Mata Bu Winda perlahan memanas. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Selama bertahun-tahun ia khawatir Arkana akan hidup sendirian. Ia takut putranya menghabiskan seluruh hidupnya hanya ditemani penyesalan. Namun hari ini, tiba-tiba saja Tuhan memperlihatkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
"Kamu ...." ucap Bu Winda dengan suara bergetar. Jarinya menunjuk ke arah layar. "Kamu benar-benar bikin Mama cepat tua."
Arkana tertawa kecil. Tawa yang sederhana, tetapi membuat orang-orang yang mengenalnya menyadari satu hal. Sudah sangat lama mereka tidak melihat Arkana tertawa seperti itu. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada topeng atau senyum yang dibuat-buat demi menjaga citra. Hanya seorang pria yang akhirnya menemukan kembali keluarganya setelah bertahun-tahun tersesat dalam penyesalan.
Namun tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama. Di sisi lain, Kanaya justru semakin diam. Ia memandangi percakapan ibu dan anak itu tanpa mengatakan apa pun.
Kemudian Kanaya menundukkan pandangan.
"Mama cepat datang ke sini! Pasti senang kenal sama istri dan anak-anakku," kata Arkana.
"Kamu itu suka sekali buat buru-buru orang. Apa kamu tidak tahu kalau adikmu kalau lagi sakit suka manja."
Di layar ponsel, Bu Winda masih terus mengomel sambil tersenyum dan menghapus sudut matanya yang mulai basah. Wanita itu sama sekali belum menyadari bahwa rumah yang sebentar lagi akan didatanginya adalah rumah Kanaya.
Rumah wanita yang beberapa hari lalu membuatnya kagum karena keteguhan dan kerja kerasnya. Orang yang diam-diam sudah ia sukai sejak pertemuan pertama mereka. Dan yang paling tidak pernah terlintas dalam pikirannya, perempuan itu ternyata adalah menantu yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
Mobil Bu Winda akhirnya berhenti di depan rumah Kanaya.
Arkana yang sejak tadi berdiri di teras langsung melangkah turun. Senyum di wajahnya sulit disembunyikan. Sementara Kanaya berdiri beberapa langkah di belakang bersama Abinaya dan Anaya.
Pintu mobil terbuka. Bu Winda turun sambil membawa tas tangannya. Awalnya wanita itu hanya melihat Arkana. Namun beberapa detik kemudian pandangannya bergeser ke arah teras rumah. Tubuhnya langsung membeku.
"Kanaya?" Suara itu keluar hampir seperti bisikan.
Kanaya pun terkejut. "Bu Winda?"
Mata keduanya sama-sama membulat. Kanaya tidak mengerti mengapa Bu Winda datang ke rumahnya.
Sedangkan Bu Winda tidak mengerti mengapa Kanaya berada di rumah yang sama dengan alamat yang diberikan oleh putranya. Beberapa saat mereka hanya saling menatap dengan penuh kebingungan.
"Arka, Apa maksudnya ini?" ucap Bu Winda sambil menoleh ke arah putranya.
Arkana menarik napas panjang. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.
"Ma, kenalkan. Ini Kanaya." Ia menoleh ke arah Kanaya. Lalu pandangannya berpindah kepada Abinaya dan Anaya. "Dan ini Abi sama Aya."
Senyum perlahan muncul di wajah Arkana. "Mereka keluargaku."
Bu Winda berkedip beberapa kali.
Sedangkan Kanaya mendadak merasa dadanya sesak. Matanya berpindah dari Arkana kepada Bu Winda. Perlahan sebuah kemungkinan yang sejak tadi tidak pernah terpikir olehnya mulai muncul.
Kanaya menatap Bu Winda dengan tidak percaya. Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Bu Winda ... ibu kamu?"
"Iya." Arkana mengangguk.
Seketika Kanaya kehilangan kata-kata. Selama ini ia mengenal Bu Winda sebagai wanita yang baik hati, ramah, dan sangat menghargainya. Mereka beberapa kali berbincang dengan nyaman. Namun, Kanaya tidak pernah menyangka bahwa wanita itu adalah ibu kandung Arkana.
Kanaya baru menyadari betapa sedikitnya ia mengenal pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu. Entah kenapa rasa nyeri kembali muncul di dalam dada. Bukan karena Bu Winda, melainkan karena kenyataan bahwa dulu ia mencintai Arkana sepenuh hati, tetapi bahkan tidak mengetahui siapa ibu pria itu.
Sementara Bu Winda masih terlihat sama terkejutnya. Pandangannya bergantian menatap Kanaya, Arkana, lalu kedua anak kembar yang berdiri di dekat mereka. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi, Kanaya yang kamu cari selama lima tahun ini?" Bu Winda bicara dengan nada bergetar.
Arkana mengangguk. "Iya, Ma."
"Dan Abi sama Aya adalah cucu Mama."
Bu Winda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya.
Sedangkan Kanaya hanya berdiri diam.
Hari itu, bukan hanya Bu Winda yang mendapat kejutan besar. Kanaya juga baru menyadari bahwa masih banyak rahasia tentang Arkana yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
***
Bismillah, sudah sampai bab 20. Jika kalian suka karya ini, jangan lupa dukung dengan like dan komen. Biar retensi dan view nya, bagus. Atas perhatiannya terima kasih.