Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Guntur yang Bungkam dan Kepungan Bangkitnya Mayat Kuno
Waktu bergulir bagai aliran air di sungai spiritual, tak terasa lima bulan telah berlalu sejak turnamen akbar yang mempertemukan Akademi Langit Biru dengan perwakilan faksi Barat, Akademi Saint-Aurelius. Gejolak besar yang sempat mengguncang arena, meretakkan pedang suci Excaliburine milik Alaric oleh wujud satu menit Asura, hingga kepulangan delegasi Barat, kini telah bertransformasi menjadi lembaran sejarah yang mulai tenang.
Bagi Yu Fan, lima bulan ini adalah masa-masa yang sangat menjemukan. Dia benar-benar sedang menganggur. Seluruh kurikulum, teori kultivasi, ujian taktis, hingga kelas-kelas formal di Akademi Langit Biru telah diselesaikannya dengan nilai sempurna tanpa sisa. Di saat murid-murid lain masih harus mendekam di perpustakaan atau bersusah payah menembus ujian teori, Yu Fan hanya memiliki waktu luang yang membentang tanpa batas. Pagi yang tenang ini pun tidak berbeda; dia hanya duduk di ambang jendela kamarnya, menatap hamparan kabut tipis yang menyelimuti wilayah netral akademi sembari mengembuskan napas panjang.
Kepak... Kepak...
Keheningan pagi itu tiba-tiba terpecah oleh suara kepakan sayap yang konstan. Yu Fan menajamkan pandangannya saat sesosok burung pengantar barang, seekor burung merpati spiritual berbulu biru laut dengan tanda perak di paruhnya, terbang melandai dan hinggap tepat di bingkai jendela kayunya. Burung itu membawa sebuah bungkusan kain sutra biru tua yang diikatkan erat di punggungnya, lengkap dengan sepucuk surat tipis.
Yu Fan mengulurkan tangan, mengusap kepala burung itu sejenak sebelum melepaskan ikatan bungkusan tersebut. Begitu ikatan sutra terbuka, aroma harum yang sangat familier langsung menguar ke udara, memenuhi seisi ruangan. Bau manis madu gurun, susu domba, dan rempah-rempah khas Benua Barat.
"Yan Er..." gumam Yu Fan lirih. Gadis yang baik hati dan sangat komitmen dengan panggilan suami nya itu langsung melintas di kepalanya. Gadis yang dengan segala kegilaan dan ketulusannya telah memproklamirkan diri sebagai istrinya di depan satu stadion penuh lima bulan lalu.
Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kotak kayu berukir pola bulan sabit yang halus dan selembar surat yang terlipat rapi. Yu Fan membuka penutup kotak kayu tersebut. Di dalamnya, berjajar rapi kue-kue manis tradisional Benua Barat dengan berbagai bentuk yang indah dan warna-warni yang berbeda. Ada yang berbentuk kelopak bunga, ada yang bulat menyerupai bulan purnama, dan masing-masing memiliki rasa yang berbeda saat dihirup aromanya.
Anehnya, meskipun jarak antara Benua Barat dan Benua Timur dipisahkan oleh lautan luas dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyeberang, kue-kue itu sama sekali tidak basi. Teksturnya masih lembut dan permukaannya berkilau segar. Yu Fan menyentuh pinggiran kotak dan merasakan sisa-sisa energi fluktuatif yang tipis. “Segel pelestari makanan tingkat tinggi,” batin Yu Fan tersenyum tipis. “Gadis itu pasti menghabiskan banyak energi spiritualnya hanya untuk memastikan kue-kue ini sampai ke tanganku dalam keadaan segar.”
Yu Fan kemudian mengambil lembar surat yang menyertainya. Surat itu ditulis dengan tinta emas di atas kertas perkamen wangi. Baris-baris kalimat yang tertera di sana memancarkan seluruh perasaan mendalam yang dimiliki oleh Yan Er.
“Kepada Suamiku tercinta, Yu Fan...
Bagaimana kabarmu di Benua Timur yang jauh? Apakah kau merindukanku sebanyak aku merindukanmu setiap kali bulan purnama bersinar di atas langit Saint-Aurelius? Di sini, malam terasa sangat dingin tanpa kehangatan jubah hitammu dan tatapan matamu yang kaku namun menenangkan.
Aku tahu kau adalah pria yang sibuk dengan jalan kultivasimu, tapi jangan lupa untuk memakan kue-kue manis yang kubuat ini. Aku memasukkan seluruh rasa cintaku ke dalam setiap adonannya, dan aku menyegelnya dengan mantra bulan agar rasa manisnya tidak pudar oleh jarak kita yang terbentang luas. Makanlah saat kau merasa lelah, dan ingatlah bahwa di ujung barat dunia ini, ada seorang istri yang selalu mendoakan keselamatanmu dan menanti hari di mana kita bisa bersanding kembali tanpa ada sekat faksi yang memisahkan kita.
Jaga dirimu baik-baik, Suamiku. Jangan biarkan gadis-gadis bawel di akademimu itu menggodamu, atau aku akan datang dengan ular-ularku untuk membuat perhitungan!
Yang selalu mencintaimu, Yan Er.”
Membaca baris demi baris surat cinta yang begitu romantis dan penuh dengan keposesifan yang jujur itu, gumpalan es di wajah kaku Yu Fan perlahan mencair. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman kecil yang tulus. Ada kehangatan tipis yang menjalar di dadanya, meredam rasa jenuh yang melandanya selama beberapa bulan terakhir.
Dia melipat kembali surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di tempat paling aman di dalam cincin spasialnya.
“Aku juga berharap kau baik-baik saja di sana, Yan Er,” ucap Yu Fan di dalam hatinya, menatap langit barat. Sebuah rasa bersalah yang samar terlintas di pikirannya. “Maaf... boneka jerami pemberianmu saat kita berpisah kemarin sudah kuberikan kepada Chen Yang. Namun, aku melakukannya dengan harapan besar. Jika suatu saat nanti Chen Yang tumbuh besar dan takdir mempertemukannya denganmu, dia akan mengenali aura benang sutra perak itu. Dia akan tahu bahwa kau adalah orang yang sangat berarti bagiku, sebagaimana dia yang kini menjadi adik kecil yang harus kulindungi.”
Setelah menikmati beberapa potong kue manis pemberian Yan Er, Yu Fan memutuskan untuk keluar dari kamar asramanya. Berdiam diri di dalam kamar hanya akan membuat pikirannya melantur ke mana-mana. Dia berjalan santai menembus koridor batu, melintasi jalan setapak akademi, hingga langkah kakinya membawanya menuju aula utama akademi yang megah.
Aula itu tampak lengang, namun perhatian Yu Fan langsung tertuju pada sesosok gadis berpakaian kuning-merah yang sedang duduk di atas salah satu undakan tangga batu.
Gadis itu tidak lain adalah Putri Jin Yuexin.
Saat ini, Yuexin sedang menekuk lututnya, wajahnya cemberut maksimal dengan bibir yang mengerucut ke depan. Tangannya memegang sebuah pedang roh dengan kasar, sementara matanya menatap tajam ke arah bilah logam tersebut seolah-olah pedang itu adalah musuh bebuyutannya. Aura di sekelilingnya memancarkan rasa kesal dan cemburu yang meledak-ledak tanpa alasan yang jelas.
Yu Fan berjalan mendekat, langkah kakinya sengaja dibuat terdengar agar tidak mengejutkan sang putri. "Kau sedang kenapa? Pagi-pagi begini wajahmu sudah ditekuk seperti jemuran basah," tanya Yu Fan dengan suara datarnya yang khas.
Yuexin mendongak dengan cepat. Begitu melihat Yu Fan, kekesalannya seolah mendapatkan wadah untuk ditumpahkan. Dia berdiri dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai batu. "Kau ini dari mana saja, hah?! Akhir-akhir ini susah sekali menemuimu! Dan lihat ini!" Yuexin menyodorkan pedang rohnya tepat di depan wajah Yu Fan dengan kasar. "Pedang rohku rusak! Bilahnya berkarat dan retak di bagian gagangnya setelah misi terakhir kemarin! Menyebalkan sekali!"
Yu Fan mengambil pedang itu dari tangan Yuexin, memeriksanya sejenak. Retakan di dekat hulu memang cukup parah, membuat aliran energi spiritual di dalam pedang menjadi terhambat. "Ini karena kau terlalu memaksakan aliran energimu saat menebas binatang buas tempo hari. Struktur logamnya tidak kuat menahan tekanan batinmu."
"Makanya!" Yuexin merebut kembali pedangnya dengan bersungut-sungut. "Aku mau mengganti pedang rohku dengan yang baru. Aku tidak mau saat ada musuh-musuh hebat yang datang menyerang kerajaan atau akademi nanti, pedangku malah patah dan aku kalah dengan konyol! Kau harus menemaniku ke kota sekarang, Yu Fan! Bantu aku memilih pedang yang bagus!"
Tanpa menunggu persetujuan Yu Fan, Yuexin langsung menarik ujung jubah hitam pemuda itu, memaksanya untuk berjalan berdampingan keluar dari gerbang akademi. Sepanjang jalan menuju kota perbatasan, mulut Yuexin tidak berhenti mengomel. Karakter bawelnya keluar sepenuhnya.
"Kau tahu tidak, Yu Fan? Misi-misi yang kuterima dari tetua akhir-akhir ini sering sekali menyebalkan! Medan tempatnya kotor, berlumpur, belum lagi partner misi yang diberikan kepadaku dari angkatan bawah... Ugh! Mereka itu lemah sekali! Beberapa kali mereka hampir terbunuh di dalam sarang monster karena panik, dan pada akhirnya harus aku sendiri yang bergerak maju bertaruh nyawa untuk melindungi mereka! Benar-benar merepotkan!" omel Yuexin panjang lebar sambil mengayun-ayunkan tangannya ke udara untuk mengekspresikan kekesalannya.
Yu Fan hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk tipis. Dia sudah terbiasa dengan sifat Yuexin yang meskipun mulutnya penuh omelan, sebenarnya memiliki hati yang sangat bertanggung jawab sebagai seorang putri kerajaan yang ingin melindungi orang lain.
Mereka akhirnya sampai di tengah kota perbatasan yang ramai. Hilir mudik para pedagang, kereta kuda, dan para kultivator dari berbagai faksi menciptakan atmosfer yang sangat hidup. Yuexin memimpin jalan dengan langkah menghentak, membawa Yu Fan berjalan dari satu toko persenjataan dan toko pedang ke toko lainnya.
Dari tiga toko pertama yang mereka kunjungi, tidak ada satu pun pedang yang berhasil memikat hati sang putri. Yuexin selalu menemukan celah untuk memprotes: terlalu berat, bilahnya terlalu lebar, bentuknya jelek, hingga warnanya yang tidak estetis.
Hingga akhirnya, mereka melangkah masuk ke sebuah toko senjata besar yang berada di distrik pusat kota. Toko itu memajang senjata-senjata kelas atas di balik etalase kaca spiritual. Di sudut terdalam toko, mata Yuexin mendadak berbinar terang. Dia berlari kecil menuju sebuah pedang tipis yang tergantung di dinding beludru.
"Wah! Yu Fan, lihat ini! Ini sangat cantik!" pekik Yuexin kegirangan.
Pedang itu memiliki desain yang sangat elegan. Bilah pedangnya ramping namun kokoh, memancarkan kilauan warna merah menyala dengan gradasi kekuningan di sepanjang tepinya. Hulu pedangnya diukir membentuk sayap burung phoenix mini dengan hiasan rumbai emas di ujungnya. Warna dan estetika pedang itu benar-benar sangat serasi dengan warna pakaian kuning-merah yang selalu dikenakan oleh Yuexin.
Seorang pemilik toko berpakaian mewah berjalan mendekat. Dia melirik pakaian Yuexin yang meskipun terbuat dari sutra berkualitas tidak menampilkan lencana resmi kerajaan karena Yuexin sengaja menyembunyikannya demi kenyamanan bertualang. Mengira gadis di depannya hanyalah gadis dari keluarga kaya biasa yang sok tahu, pedagang itu tersenyum meremehkan.
"Nona muda, matamu memang jeli, tapi pedang itu bukan untuk sembarang orang," ucap pedagang itu dengan nada merendahkan yang tersirat jelas. "Itu adalah Pedang Roh Api Phoenix, kualitasnya sangat langka dan jarang ada di dataran ini. Logamnya ditempa dari inti meteorit benua selatan. Harganya sangat mahal, tidak akan mampu dibeli oleh rakyat biasa yang hanya ingin bergaya."
Yu Fan melangkah maju, matanya menyipit saat melakukan penilaian mendalam menggunakan batin spiritualnya. Struktur energinya stabil, aliran elemen apinya murni, dan tidak ada cacat tersembunyi di dalam bilahnya. “Pedagang ini tidak berbohong soal kualitas,” batin Yu Fan menilai. “Benar-benar pedang kelas langka yang memiliki keselarasan tinggi dengan jiwa elemen api milik Yuexin.”
Yuexin yang mendengar ucapan meremehkan dari pedagang tersebut langsung menaikkan alisnya. Rasa bangga dan harga dirinya sebagai Putri Kerajaan Tianwu seketika tersenggol. Wajahnya mengeras karena tersinggung.
"Oh, sangat mahal ya?" ucap Yuexin dengan senyuman dingin yang menantang.
Sret!
Dengan satu lambaian tangannya yang lincah ke atas meja konter, sebuah kilauan emas murni yang menyilaukan mata mendadak memenuhi pandangan. Tiga batang emas murni berukuran besar, yang masing-masing dicap dengan segel resmi kekaisaran yang sakral, tergeletak kokoh di depan dada sang pedagang.
"Apakah ini sudah cukup untuk membayar pedang ini beserta seluruh harga dirimu yang sombong itu, hah?!" ketus Yuexin sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam pedagang tersebut.
Pedagang itu seketika tertegun. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Tubuhnya gemetar melihat segel resmi kerajaan yang terukir di atas batang emas tersebut. Di dunia ini, tidak ada rakyat biasa, bahkan saudagar kaya sekalipun yang bisa membawa batang emas dengan segel sakral seperti itu, kecuali mereka adalah pejabat tinggi tingkat menteri atau bagian dari keluarga inti kerajaan!
Dalam sekejap, sikap meremehkan dari pedagang itu lenyap tanpa sisa, digantikan oleh senyuman paling ramah dan membungkuk hormat hingga kepalanya hampir menyentuh meja. "A-Aduh! Ampun, Nona Besar! Hamba memiliki mata tapi tidak melihat Gunung Tao! Mohon maafkan kelancangan hamba yang bodoh ini! Pedang ini... pedang ini sepenuhnya milik Anda! Hamba akan segera membungkusnya dengan kotak terbaik!" ucapnya dengan suara gemetar penuh ketakutan.
Yuexin mendengus sombong, mendongakkan dagunya dengan angkuh. "Jangankan pedang langka ini, jika aku mau, satu kota perbatasan beserta tokomu ini pun bisa kubeli sekarang juga dengan lambaian tanganku!"
Di sampingnya, Yu Fan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah angkuh Yuexin. “Sifat manjanya keluar lagi,” batin Yu Fan memijat keningnya sendiri, meskipun dia harus mengakui bahwa tindakan Yuexin cukup memuaskan untuk membungkam mulut pedagang serakah itu.
Setelah mendapatkan Pedang Roh Api Phoenix, suasana hati Yuexin langsung melonjak drastis ke tingkat tertinggi kegembiraan. Dia menyeret Yu Fan mengelilingi pasar kota, membeli banyak barang, mulai dari perhiasan giok kecil, kain sutra baru, hingga memborong berbagai macam makanan ringan tradisional yang dijual di pinggir jalan. Tangannya penuh dengan bungkusan, dan mulutnya terus mengunyah manisan tusuk dengan wajah berseri-seri.
Bagi Yuexin, hari ini adalah hari yang luar biasa. Dia benar-benar merasa sangat bahagia jika berada di samping Yu Fan. Meskipun pemuda berjubah hitam di sampingnya itu rada kaku, dingin, dan jarang merespons omelannya dengan kalimat panjang, keberadaan Yu Fan selalu berhasil mengusir rasa bosannya. Berada di dekat Yu Fan memberikan rasa aman dan kenyamanan yang tidak bisa dia dapatkan dari pengawal kerajaan mana pun.
Setelah puas berbelanja hingga matahari mulai condong ke barat, Yu Fan mengantarkan Yuexin kembali menuju gerbang asrama wanita di lingkungan akademi.
"Terima kasih untuk hari ini, Yu Fan! Pedang ini sangat cocok untukku!" seru Yuexin sambil memeluk kotak pedang barunya erat-erat. Dia berjalan melewati gerbang asrama, lalu berbalik sejenak untuk melambaikan tangan kanannya dengan senyuman lebar yang manis. "Sampai jumpa besok! Jangan berani-berani menghilang lagi!"
Yu Fan hanya mengangguk tipis, mengangkat satu tangannya sebagai tanda perpisahan sebelum berbalik untuk berjalan kembali menuju asramanya sendiri.
Ciat!
Baru saja Yu Fan melangkah beberapa puluh meter menjauh dari asrama wanita, suara pekikan tajam seekor burung memecah kesunyian di atas kepalanya. Sebuah bayangan kecil meluncur turun dengan cepat. Itu adalah seekor Burung Roh pembawa pesan internal akademi, berbulu perak transparan, yang hinggap tepat di pundak Yu Fan.
Burung itu membuka paruhnya, memproyeksikan sebuah pesan suara spiritual yang bergema langsung di indra pendengaran Yu Fan. Itu adalah suara berat dan berwibawa milik Dekan Akademi Langit Biru.
“Yu Fan, segera datang ke ruang utama dekan di menara pusat sekarang juga. Ada misi darurat yang sangat penting yang harus segera kau jalani.”
Mendengar pesan darurat tersebut, ketenangan di wajah Yu Fan seketika lenyap, digantikan oleh keseriusan seorang master. Tanpa membuang waktu satu detik pun, dia menghentakkan kakinya ke tanah. Energi spiritual hitam tipis meledak dari bawah sepatunya, membuat tubuh Yu Fan melesat terbang ke udara bagai kilatan petir hitam, membelah langit malam yang mulai turun menuju menara pusat akademi.
Wusss!
Yu Fan mendarat dengan mulus di balkon besar lantai tertinggi menara pusat. Dia melangkah lebar menerobos pintu kayu ek raksasa dan masuk ke dalam ruangan dekan.
"Yu Fan memberi salam kepada Kakek Dekan," ucap Yu Fan sambil mengepalkan tangan dan membungkuk hormat seperti biasa.
Namun, begitu dia menegakkan tubuhnya kembali, mata Yu Fan mendadak melebar tipis. Betapa terkejutnya dia saat melihat sesosok siluet wanita yang berdiri di sisi meja besar dekan. Wanita itu mengenakan gaun putih murni transparan yang menjuntai indah hingga ke lantai, rambut hitam panjangnya ditata megah dengan mahkota teratai perak, dan di keningnya terukir tanda tiga kelopak bunga teratai suci.
Lin Xueru.
Gadis es dari Sekte Teratai Putih yang sudah lima bulan ini tidak pernah dia jumpai di koridor akademi. Xueru berdiri tegak, tangan kanannya memegang kipas sutra bundar transparan yang terkatup rapat di depan dadanya. Sepasang matanya yang sedingin es dan jernih langsung bergeser, menatap lurus ke arah mata hitam Yu Fan. Kedua murid terbaik akademi itu hanya saling menatap dalam keheningan yang kaku, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Atmosfer di dalam ruangan seketika merosot drastis menjadi sedingin musim salju.
Dekan Akademi, yang duduk di balik meja besarnya dengan wajah penuh kecemasan, berdeham berat untuk memecah ketegangan di antara keduanya. "Ehem. Baik, karena kalian berdua sudah ada di sini, aku akan langsung menyampaikan inti masalahnya."
Dekan menjalin jemarinya di atas meja, menatap Yu Fan dan Xueru bergantian. "Ada sebuah anomali darurat yang terjadi di wilayah timur, dekat perbatasan Lembah Dimensi Purba. Sudah hampir satu minggu penuh, pasokan barang-barang langka dan beberapa bahan kuno untuk pembuatan Pill Obat tingkat tinggi yang dikirim dari pos luar kita di sana tidak kunjung tiba di akademi."
Wajah Dekan semakin menggelap. "Yang lebih mengkhawatirkan, tim murid akademi yang ditugaskan untuk mengawal karavan barang tersebut yang terdiri dari para murid inti di Ranah Master Tingkat 2 dan Tingkat 3, sepenuhnya kehilangan kontak. Semua jimat komunikasi mereka hancur atau terputus secara misterius. Mengingat pentingnya bahan-bahan pill tersebut bagi akademi, ini bukan lagi masalah pencurian biasa."
Dekan berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah mereka. "Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menunjuk kalian berdua, Yu Fan dan Lin Xueru, sebagai pasangan tim investigasi darurat ini. pergilah ke arah timur sekarang juga, selidiki apa yang terjadi pada karavan pos luar, dan bawa kembali barang-barang tersebut jika memungkinkan. Apakah kalian mengerti?"
Yu Fan dan Lin Xueru terdiam sejenak. Meskipun di dalam batin Yu Fan masih terngiang informasi rahasia dari Mei Er mengenai tradisi mengerikan sekte Xueru, dia tahu tugas akademi adalah prioritas saat ini.
"Murid menerima tugas," ucap Yu Fan dan Xueru serentak dengan nada dingin yang hampir serupa.
Mereka berdua berbalik, berjalan berdampingan keluar menuju balkon menara tanpa ada dialog pribadi di antara mereka. Begitu sampai di ujung balkon, Yu Fan menghentakkan kakinya dan melesat terbang ke udara secara biasa, jubah hitamnya membelah kegelapan malam. Sementara itu, Lin Xueru melompat dengan anggun, memanifestasikan sebuah platform energi berbentuk bunga teratai putih bersinar di bawah telapak kakinya sebagai pijakan terbangnya.
Dua garis cahaya, satu hitam pekat dan satu putih sucinmelesat cepat membelah langit malam, terbang menuju arah timur dengan kecepatan penuh. Tidak ada satu pun orang di akademi yang mengetahui kepergian mendadak mereka berdua untuk menjalankan misi investigasi ini.
...****************...
Empat jam penerbangan cepat membelah langit malam yang dingin akhirnya membawa mereka sampai di koordinat tujuan. Fajar pagi kembali menyingsing samar saat mereka menurunkan ketinggian, mendarat di sebuah jalan setapak berbatu yang membelah bukit-bukit gundul di wilayah timur, tepat di pintu masuk jalur menuju Lembah Dimensi.
Mereka berdua turun ke tanah dengan mulus. Hubungan kaku di antara mereka membuat dialog yang keluar dari bibir masing-masing terdengar sangat formal dan profesional, seolah-olah pertikaian atau sumpah permusuhan di masa lalu tidak pernah terjadi demi kelancaran misi.
"Aura di sekitar sini sangat kacau," ucap Yu Fan datar, matanya menyapu area sekitar.
"Benar. Sisa-sisa energi spiritual di udara mengindikasikan adanya pertempuran besar yang terjadi beberapa hari lalu," balas Lin Xueru dingin, melangkah maju mendahului Yu Fan dengan pedang khas teratainya yang masih tersimpan di dalam sarungnya.
Begitu mereka berbelok di balik tebing batu, pemandangan mengerikan langsung tersaji di depan mata mereka. Sebuah gerobak karavan kayu besar milik akademi tampak hancur terbelah menjadi beberapa bagian di tengah jalan. Dan di sekeliling gerobak itu... belasan mayat murid Akademi Langit Biru berserakan dengan kondisi yang mengenaskan. Darah mereka yang telah mengering menghitam di atas tanah berbatu.
Yu Fan berjalan mendekat, berlutut di samping salah satu mayat murid Master Tingkat 3. Tangannya memeriksa bagian dalam gerobak yang hancur. "Seluruh kotak penyimpanan tersegel telah dihancurkan dengan paksa. Bahan-bahan langka dan pill kuno dari Lembah Dimensi sudah sepenuhnya dicuri dan diambil oleh sekelompok orang."
Lin Xueru berdiri di samping mayat murid lainnya, matanya yang tajam meneliti luka-luka yang menganga di dada korban. Kerutan dalam mendadak muncul di kening teratainya yang mulus. "Yu Fan... lihat bekas luka ini."
Yu Fan berdiri, melangkah mendekati posisi Xueru.
"Bekas luka ini... polanya melingkar dengan pembusukan energi yang pekat di bagian tepi sayatan," ucap Xueru, suaranya terdengar bergetar tipis oleh pengenalan yang mendalam. "Aku sangat familier dengan teknik ini. Bukankah ini adalah bekas luka khusus yang hanya bisa ditimbulkan dari serangan ilmu hitam milik Sekte Tengkorak?"
Mendengar nama sekte itu, memori Yu Fan langsung berputar kembali ke beberapa tahun lalu, pada misi bersama dirinya, Lin Xueru, dan Senior Han Fei di dalam Lembah Sunyi. Saat itu, mereka bertarung habis-habisan untuk membasmi sisa-sisa sekte hitam tersebut.
"Ini tidak masuk akal," ucap Yu Fan, matanya menyipit tajam. "Kita sendiri yang memastikan bahwa markas mereka telah dihancurkan dan seluruh jaringan pengikut Sekte Tengkorak di wilayah lembah sunyi sudah dihabisi sampai ke akar-akarnya dalam misi beberapa tahun lalu itu. Bagaimana mungkin teknik serangan mereka muncul kembali di sini?"
"Mereka seakan-akan seperti hama yang selalu ada di mana-mana dan tidak pernah benar-benar punah," balas Xueru, tangannya mulai mencengkeram erat hulu pedang teratainya, merasakan firasat buruk yang mendadak mencekik udara di sekitar mereka.
KRETEK... KRETEK...
Belum sempat mereka menyelesaikan investigasi, suara gesekan tulang dan derap langkah kaki yang masif mendadak bergema dari balik bukit-bukit gundul di sekeliling mereka. Dari balik kabut pagi dan celah-celah batu tebing, bermunculan sosok-sosok manusia berpakaian jubah hitam compang-camping dengan topeng tulang tengkorak di wajah mereka.
Satu per satu, puluhan... hingga akhirnya mencapai jumlah yang mengerikan. Ada sekitar 200 orang anggota Sekte Tengkorak yang mendadak muncul dari tempat persembunyian, mengepung Yu Fan dan Lin Xueru di tengah jalur sempit tersebut dalam lingkaran maut yang rapat. Yang lebih mengerikan, di barisan paling depan, berdiri 6 orang tetua berjubah merah yang memancarkan tekanan aura batin yang sangat kuat, mereka semua adalah Master Tingkat 4 Tahap Puncak!
Salah satu tetua berjubah merah melangkah maju, mengeluarkan suara tawa yang melengking parau di balik topeng tengkoraknya. "Kekeke! Dua kelinci kecil dari Akademi Langit Biru akhirnya masuk ke dalam perangkap! Kalian mengira sekte kami sudah punah?! Kebodohan kalian adalah makanan terbaik bagi kami!"
Yu Fan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Wajah kagonya tetap tenang saat dia melangkah satu langkah ke depan Lin Xueru, melindungi garis depan. "Hanya dengan 200 tikus tanah dan 6 master tingkat rendah seperti kalian, kalian mengira bisa menahan kami di sini?" ucap Yu Fan dingin.
"Kekeke! Tentu saja kami tahu kekuatan murid inti akademi tidak bisa diremehkan! Tapi... siapa bilang kami hanya berjumlah 200 orang?!" tetua itu berteriak keras sembari menghentakkan tongkat tulangnya ke tanah.
BOOM! BOOM! BOOM!
Tanah di sekitar tebing mendadak berguncang hebat. Dari balik bukit yang lebih jauh, gelombang manusia berjubah hitam kembali mengalir keluar bagai air bah, jumlah mereka terus bertambah melewati 300, 400, hingga mengepung seluruh area bukit tanpa celah. Pertarungan sengit pun pecah seketika!
Sret!
Lin Xueru menarik pedang teratainya dari sarung. Tanpa menggunakan kekuatan elemen es yang bukan merupakan basis kekuatannya, dia murni mengandalkan keahlian ilmu pedang khas teratainya yang luar biasa cepat dan presisi. Setiap tebasan pedangnya membentuk riak-riak energi putih berbentuk kelopak teratai yang tajam, menebas leher-leher anggota Sekte Tengkorak yang mencoba mendekat.
Yu Fan bergerak bagai bayangan hitam di antara kerumunan musuh. Pukulan tenaga dalam dan hantaman spiritual dari tangan kosongnya menghancurkan zirah dan topeng tengkorak para musuh hingga hancur berkeping-keping. Pertempuran berlangsung dengan sangat brutal dan berdarah. Namun, saat Yu Fan berhasil menghantam mundur salah satu dari 6 master tingkat 4 musuh, dia menyadari sebuah keanehan taktik.
Musuh-musuh ini... jumlahnya ribuan, mereka menyerang dengan niat membunuh yang instan. Setiap kali Yu Fan atau Xueru mencoba membuka jalur untuk menerobos keluar dan terbang kembali ke akademi, barisan master tingkat 4 musuh akan langsung mengorbankan ratusan anak buah mereka untuk menahan langkah kaki mereka.
“Sialan... mereka berniat membunuh kami di sini secara langsung,” batin Yu Fan mendadak menyadari konspirasi yang sesungguhnya. “Taktik ini... mereka seakan-akan sengaja mengulur waktu! Mereka mengorbankan ribuan nyawa ini hanya agar aku dan Lin Xueru tetap tertahan di tempat terpencil ini dan tidak bisa kembali ke akademi sekarang juga! Ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi di markas utama!”
Sementara itu, di saat yang bersamaan di wilayah pusat Akademi Langit Biru...
Suasana pagi yang seharusnya damai di dalam lingkungan akademi yang netral itu mendadak berubah menjadi neraka intimidasi yang paling mengerikan sepanjang sejarah berdirinya institusi tersebut.
BZZZZT! CRASH!
Langit di atas Akademi Langit Biru yang biasanya dilindungi oleh kubah formasi spiritual tingkat tinggi, tiba-tiba memekat. Awan hitam legam yang pekat berputar-putar membentuk pusaran raksasa, menutupi seluruh cahaya matahari pagi hingga suasana berubah menjadi segelap malam gulita. Aura kematian yang luar biasa dingin, busuk, dan masif mendadak turun dari langit, menekan seluruh area akademi.
Di lapangan utama, ribuan murid akademi jatuh berlutut secara massal, tubuh mereka bergetar hebat dengan wajah pucat pasi. Dada mereka terasa sesak seolah-olah ada gunung raksasa yang diletakkan di atas pundak mereka. Bahkan para kultivator kuat dan para tokoh penting akademi tidak bisa menahan rasa merinding yang luar biasa di sekujur tubuh mereka.
Di pelataran menara pusat, seluruh petinggi akademi telah berkumpul dengan senjata terhunus di tangan mereka. Dekan Akademi yang berwajah pucat, Wakil Dekan yang janggut putihnya bergetar hebat karena amarah dan ketakutan, Senior Han Fei yang mencengkeram hulu pedangnya hingga berdarah, Putri Jin Yuexin yang memegang pedang barunya dengan tubuh gemetar, hingga Mei Er, Fa Hai, Mo Han, dan Xiao Feng, semuanya berdiri dengan pandangan mata yang dipenuhi kengerian mutlak, menatap lurus ke arah langit-langit akademi.
Di sana, melayang di tengah-tengah pusaran awan hitam, berdiri tiga sosok manusia. Apa yang membuat seluruh isi akademi, termasuk Dekan dan Wakil Dekan yang telah hidup ratusan tahun merinding bukan main?
Tekanan energi yang dipancarkan dari tubuh ketiga sosok itu bukanlah Ranah Master, bukan pula Ranah Grandmaster... melainkan tekanan absolut dari Ranah Master Tingkat 7 (Anomali)! Sebuah tingkatan kekuatan tingkat dewa yang seharusnya sudah punah dan tidak boleh ada lagi di Dunia Fana yang kotor ini!
Ketiga sosok itu terdiri dari: sesosok pria paruh baya dengan jubah hitam berlambang tengkorak emas yang robek-robek, seorang wanita dengan wajah pucat seputih mayat dan rambut panjang yang mengambang liar di udara, serta seorang pria berusia 30 tahunan dengan mata yang sepenuhnya hitam tanpa ada bagian putihnya. Kulit mereka bertiga tampak kering, keabu-abuan, dan dipenuhi oleh retakan-retakan kuno seperti tanah liat yang mengering.
Pria paruh baya di langit itu melangkah maju di udara kosong, tatapannya menyapu seluruh isi akademi di bawahnya seolah mereka semua hanyalah tumpukan semut yang siap diinjak. Suaranya menggema hebat menembus awan, menggetarkan fondasi bangunan akademi.
"Penduduk Akademi Langit Biru... Hari ini, takdir kehancuran kalian telah tiba! Kami datang untuk membuat pengumuman resmi: hari ini, akademi netral ini dan segala kehidupan di dalamnya akan kami hancurkan ratakan dengan tanah tanpa sisa! Ini adalah pembalasan mutlak atas kelancangan murid-murid sialan kalian yang beberapa waktu lalu berani menghabisi seluruh jaringan sekte kami... Sekte Tengkorak!"
Mendengar pengumuman itu, Wakil Dekan melangkah maju ke ujung pembatas balkon menara, wajah tetua agung itu dipenuhi oleh keterkejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam saat mengenali fitur wajah ketiga sosok di atas langit.
"T-Tidak mungkin...! Ini benar-benar tidak mungkin!" teriak Wakil Dekan dengan suara gemetar, menunjuk ketiga sosok itu dengan tangan yang tidak bisa berhenti bergetar. "Kakek Dekan... lihat mereka! Mereka bertiga... mereka adalah tiga Leluhur Pendiri Sekte Tengkorak yang seharusnya sudah hidup dan mati pada 10.000 tahun yang lalu! Kenapa... kenapa mereka bisa hidup kembali di zaman ini?! Aku pernah membaca catatan kuno, nama mereka sudah menjadi legenda karena mereka telah binasa akibat tidak kuat melawan hantaman Guntur Penghakiman Surga!"
Dekan Akademi di sampingnya memejamkan mata sejenak, merasakan aliran energi dari ketiga musuh di atas mereka sebelum membukanya kembali dengan tatapan yang dipenuhi keputusasaan. "Kau benar, Wakil Dekan... tapi perhatikan tubuh mereka dengan teliti menggunakan mata batinmu. Guntur Surga tidak menyambar mereka lagi hari ini... karena mereka sebenarnya bukanlah makhluk hidup yang bernyawa! Mereka hanyalah mayat kuno yang berjalan, yang memiliki kesadaran buatan akibat ilmu hitam tingkat tinggi! Seseorang... seseorang telah membongkar makam kuno 10.000 tahun lalu dan membangkitkan jasad mereka kembali untuk menghancurkan kita!"
Mendengar analisis dari Dekan, tiga Master Tingkat 7 di atas langit tertawa bersamaan, suara tawa mereka terdengar kering dan hampa tanpa ada detak jantung di dada mereka.
"Hahaha! para kakek tua yang cerdas!" pria berusia 30 tahunan di langit menyahut, matanya yang hitam legam berkilat kejam.
"Bernyawa atau tidak, itu tidak penting! Yang penting adalah... hari ini, tidak akan ada satu pun pahlawan yang bisa menyelamatkan tempat ini! Guntur Surga telah bungkam untuk kami, dan akademi kalian... akan menjadi kuburan massal terbesar di dataran ini!"
Di bawah tekanan aura dewa kematian tingkat 7 yang mengunci seluruh wilayah akademi tersebut, semua orang terjebak dalam keputusasaan mutlak. Dan yang paling mengerikan... di saat bencana kehancuran total ini berada tepat di atas kepala mereka, tidak ada satu pun orang di akademi yang tahu bahwa dua murid terkuat mereka, Yu Fan dan Lin Xueru, saat ini sedang berada jauh di arah timur, terperangkap dalam kepungan ribuan pasukan umpan yang sengaja mengunci pergerakan mereka agar tidak bisa kembali untuk menyelamatkan akademi. Akademi Langit Biru kini berada di ambang kepunahan total.