Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Always In My Mind
Rasa kantuk masih menyelimuti Valerie karena semalam mereka berdua tidur larut malam karena pernyataan Jeevan, kepalanya masih sedikit pusing, matanya masih lengket setiap kali ia mencoba membukanya. Tapi jam alarm sudah berbunyi. Memang Valerie sudah terbiasa bangun pagi sejak dulu.
Sesaat dia duduk d atas tempat tidur dengan mata yang masih terpejam, tubuhnya membeku sesaat seperti sedang mengumpulkan nyawa untuk bersiap bangun dari tempat tidurnya. Sepertinya Valerie lupa jika sekarang ia sudah menikah dan tidurnya bukan sendirian lagi di kamar ini.
Perlahan ia turun dari tempat tidur dengan mata terbuka sedikit karena rasa kantuk yang masih menyerang, langkah kakinya sedikit goyang namun Valerie berusaha melawannya menuju kamar mandi. Kenapa tubuhnya terasa begitu kaku dan pegal-pegal. Dibukanya pintu kamar mandi.
Kreek pintu kamar mandi terbuka lebar dan Valerie mendengar sayu-sayu air jatuh menetas, pandangannya yang tadinya samar-samar karena masih dipenuhi rasa kantuk kini mulai membuka matanya dengan lebar. Namun betapa terkejutnya Valerie ketika melihat sesuatu yang tidak biasa di hadapannya.
Seseorang sudah lebih dulu berada di dalam sana, perawakan tubuhnya tinggi, tegap dan berisi hanya memakai handuk saja yang melingkar di bagian pinggang hanya menutupi area tertentu saja. Tubuh dan rambutnya terlihat basah. Kedua bola mata Valerie yang tadinya begitu lengket untuk membuka matanya kini membulat sempurna. Tubuh Valerie terdiam terpaku melihat betapa sempurnanya roti sobek yang berada pada perut Jeevan.
Valerie baru sadar jika sekarang dia sudah menikah dan bukan satu-satunya penghuni kamar, wajah Valerie merah merona saat Jeevan menatapnya apalagi saat Valerie tertangkap basah menatap roti sobeknya.
"Mau sampai kapan liatin aku kaya gitu?" sindir Jeevan menggoda Valerie yang masih terdiam terpaku menatapnya.
Valerie terkesiap mendengar ucapannya secepat kilat membalikkan tubuhnya membelakangi Jeevan dengan penuh rasa malu, kenapa harus terjadi hal seperti ini membuat situasi semakin kikuk saja.
"Kenapa nggak dikunci kamar mandinya?" tanya Valerie dengan suara menahan rasa kesal dan malu seraya menutup kedua bola matanya.
Sikap Jeevan hanya biasa saja tidak terkejut seperti Valerie, ia begitu santai dan melanjutkan aktivitasnya yang hendak mencuci wajahnya dengan facial foam, namun Vale masih membelakanginya dengan hati yang dongkol. Untung saja Jeevan sedang memakai handuk, kalau tidak bisa malu Valerie setiap kali berhadapan dengannya.
"Kamu tahu pintunya tertutup, kenapa nggak diketuk dulu?" Jeevan balik bertanya mencari pembelaan seolah tidak mau disalahkan.
Kedua tangan Valerie mengepal begitu terasa menahan rasa marahnya, memang ini juga salahnya tidak mengetuk pintunya lebih dulu. Yang jelas Valerie lupa jika sekarang ia sudah menikah dan mempunyai partner di kamarnya.
"Aku lupa kalau udah nikah, aku ga tau kalau ada kamu," Jawa Valerie membuat Jeevan tersenyum ringan menatap ke arahnya.
Senyuman manis Jeevan yang belum pernah Maura lihat selama ini terlukis untuk Valerie, setiap kali Jeevan menatap dan melihat Valerie pasti senyuman itu terlukis di bibirnya, senyuman yang selalu disimpan untuk seseorang yang sangat spesial baginya.
"Hem, masa lupa. Padahal semalam kita...." goda Jeevan membuat Valerie malu untuk mendengarnya.
Belum sempat Jeevan menyelesaikan ucapannya, kedua tangan Valerie menutup kupingnya rapat-rapat. Ia tidak ingin mendengarkan apa yang diucapkan oleh Jeevan tentang kejadian semalam.
"Stop!" Teriak Valerie menutup telinganya dengan rasa kesal karena tidak ingin mendengarkan.
Melihat reaksi Valerie kembali membuat Jeevan hanya tertawa ringan, sepertinya Jeevan selalu berhasil membuat Valerie kesal.
"Jangan bahas itu lagi! Dan satu lagi, jangan pernah coba buat menciium aku lagi!" Kata terakhir Valerie meninggalkan Jeevan dengan wajah kesal.
Padahal tidak terjadi sesuatu semalam, namun hampir saja Jeevan kembali menciuum Valerie tapi mendadak mamanya datang ke kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jeevan membuat mamanya kaget dan malu karena menurutnya telah menggangu Jeevan dengan Valerie.
Di meja makan semua telah menunggu Valerie dan Jeevan untuk ikut sarapan, Isabel dan Embun masih sibuk membuat yang belum selesai. Samar-samar suara pembicaraan mereka terdengar di telinga Valerie saat menuju ke tempat makan bersama dengan Jeevan yang berjalan lebih dulu di depannya.
"Pagi," sapa Jericho yang sudah lebih dulu duduk di sana.
"Pagi," sahut Deevina menyapa kedatangan Jeevan dan Valerie dengan senyuman manisnya.
"Pagi semua," balas Valerie sambil menghampiri Ny. Ester dan mencium tangannya.
Sikap Deevina sedikit gugup dengan kedatangan anak dan menantunya, ia teringat kejadian semalam yang masuk tanpa izin ke dalam kamarnya.
"Pagi Ma," sapa Valerie menghampiri Deevina.
"Pagi sayang, ayo sarapan," balas Deevina menyuruh Valerie duduk.
Valerie mengambilkan makanan untuk Jeevan dan ia tidak tahu jika salah satu menu yang dibuat oleh Isabel ada campuran udang. Mereka semua menikmati makanannya sambil berbincang ringan. Sampai akhirnya Jeevan merasakan sedikit tidak nyaman. Tubuhnya terasa sedikit gatal dan lama-kelamaan memerah.
Tangan Jeevan mulai menggaruk bagian wajah dan turun ke leher, semakin lama ia merasakan semakin panas dan gatal di tubuhnya. Nino yang tadinya sedang asik menikmati sarapannya menoleh ke arah Jeevan yang terlihat tidak nyaman sering menggaruk bagian tubuhnya.
"Lo kenapa?" tanya Nino yang duduk di hadapan Jeevan.
"Badan gue mendadak gatel banget," jawab Jeevan dengan raut wajah serius menahan rasa gatalnya.
"Memangnya abis ngapain Lo?" tanya Nino lagi dan membuat semua yang ada di meja makan menoleh secara bersamaan ke arah Jeevan termasuk Valerie yang duduk di sampingnya.
"Abis mandi gue."
"Sabunya nggak cocok kali," tebak Jericho yang melihat tubuh Jeevan semakin terlihat memerah dan ada bintik di wajahnya.
"Masa sih," ucap Jeevan tidak percaya.
"Kamu abisin aja dulu makannya nanti baru makan obat alergi, bakso udangnya enak loh," sambung Valerie yang membuat semua orang kaget lalu menatap ke arahnya dengan tatapan keheranan.
Entah kenapa semua yang ada di meja makan menatap ke arah Valerie dengan tatapan kaget dan keheranan, membuat Valerie kebingungan. Apa arti tatapan itu membuat Valerie penuh dengan tanda tanya. Ternyata yang membuat tubuh Jeevan gatal dan ada rona merah kerena alergi dengan udang. Valerie tidak tahu jika suaminya alergi udang.
"Ada apa?" tanya Valerie kepada semua uang ada di meja makan.
"Kamu nggak tahu kalau Jeevan alergi udang?" tanya Isabel dengan tatapan heran menatap Valerie yang terlihat biasa saja.
Glek, sepertinya Valerie sedang berada dalam masalah saat ini. Apa benar jika Jeevan alergi dengan udang dan itu yang membuat tubuhnya gatal. Celaka, apa yang akan dikatakan oleh semuanya jika Vale tidak tahu makanan yang tidak disukai oleh Jeevan.
"Mungkin Valerie lupa, dan di dalam bakso ini nggak kelihatan banget ada campuran udangnya," sela Jericho menjawab pertanyaan istrinya berusaha melindungi Valerie yang terlihat sedikit tertekan.
Padahal semua bisa dilihat dengan jelas jika bakso itu ada campuran udangnya. Seketika semua yang ada di sana menaruh rasa curiga dan kecewa kepada Valerie, bagaimana bisa seorang istri tidak tahu akan kebiasaan suaminya. Semua yang ada di sana tidak mau membahas dan memojokkan Valerie karena tahu Jeevan sangat tidak suka jika seseorang yang disayanginya berada di dalam posisi sulit.
"Iya, gue juga nggak lihat kalau di dalam bakso ini ada udangnya," sela Nino berbohong mencoba membela adik iparnya, sambil menatap ke arah bakso yang ada di dalam piringnya.
Meski semua membelanya tapi Valerie merasa bersalah karena membuat Jeevan seperti ini, seharunya ia tahu dan bertanya apa kebiasaan dan makanan kesukaannya Jeevan. Belum selesai sarapan akhirnya Valerie membawa Jeevan ke kamar untuk diobati, untungnya Jeevan selalu membawa obat antibiotik yang berada di dalam tasnya.
"Aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau kamu alergi udang," ucap Valerie menyesal melihat tubuh Jeevan mulai terlihat memerah dan selalu menggaruknya karena semakin gatal.
"Nggak usah dibahas, ini alasan kenapa aku harus tahu semua tentang kamu dan sebaliknya. Hal sekecil apapun akan jadi masalah," kelas Jeevan yang sudah membuka bajunya lebih dulu lalu diobati memakai salep yang baru saja Valerie oleskan.
Jeevan mengambil ponsel miliknya seperti sedang mengetik sesuatu, dan tidak lama ponsel Valerie berbunyi ternyata pesan masuk dari Jeevan. Diambilnya ponsel yang ada di meja tidur, lalu Valerie melihat ada pesan masuk dari Jeevan. Untuk apa Jeevan mengirimkan pesan kepadanya padahal jarak mereka sekarang berdekatan?
"Ingetin semua yang aku suka dan nggak suka, semua kebiasaan ku," ucap Jeevan ketika melihat Valerie sedang membaca pesan masuk darinya.
Ucapan Jeevan membuat Valerie mengerutkan keringnya, ia harus mengingat semua kebiasaan Jeevan tapi Jeevan sendiri tidak mengetahui kebiasaan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Valerie.
"Terus aku cuma ingetin semua tentang kamu aja?" Valerie mulai kesal karena harus mengingat semua kebiasaan Jeevan sementara Jeevan tidak mau mengingat semua kebiasaannya.
"Iya. Kamu nggak usah kasih tahu semua kebiasaanmu dan apa yang kamu suka, nggak kamu suka karena itu semua udah ada di luar kepalaku," jelas Jeevan membuat Vale terdiam tertegun mendengarnya.
Mulutnya terdiam seketika terkunci rapat saat mendengar ucapan Jeevan, tatapan matanya yang sedari tadi sini kini menjadi tatapan sendu menatap Jeevan yang terlihat sangat tenang sambil sesekali menggaruk bagian yang gatal. Hatinya tersentuh seakan ada rasa bahagia, bagaimana bisa Jeevan bicara seperti itu?
Apa benar jika Jeevan tahu semua kebiasannya dan apa yang disukai, tidak disukai oleh Valerie? Dari mana Jeevan tahu padahal Valerie tidak pernah bercerita kepadanya, tidak mungkin lewat Rania karena mereka berdua baru saling kenal. Sungguh sikap Jeevan kembali membuat Valerie tersentuh.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪