Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Penawar yang berbahaya.
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat memancarkan sinar lembut berwarna keemasan. Setelah tidur siang cukup lama, Zinnia keluar dari kabin tempat dirinya menginap, berjalan-jalan santai menikmati udara segar dan pemandangan sekitar yang masih indah. Kakinya melangkah pelan mengelilingi barisan kabin kayu yang dibangun rapi di area puncak, sampai telinganya menangkap suara aneh dari dalam kabin yang berada tepat di sebelah tempat dia menginap.
" Aarrghh... sial... Lagi-lagi ini.. "
Suara rintihan kesakitan, berat dan tertekan mulai terdengar. Rasa penasaran dan khawatir muncul, Zinnia mendekat perlahan lalu mengintip lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Dan seketika matanya melebar.
Di dalam sana, Darren duduk bersandar di tepi kasur, kedua tangannya memegangi kepalanya kuat-kuat seolah mau memecahnya sendiri, keringat dingin membasahi seluruh dahi dan lehernya, wajahnya pucat pasi, giginya mengerat menahan sakit yang luar biasa. Dia mencoba mengulurkan tangan ke arah laci nakas di sampingnya, jari-jarinya meraba-raba mencari sesuatu, tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya, jarak sedikit saja sudah terasa jauh, sampai akhirnya tangannya meleset dan seluruh tubuhnya ambruk terjatuh bersandar di sisi kasur.
Zinnia tak bisa diam melihat hsl itu. Tanpa berpikir panjang, tanpa ingat peringatan Rion tadi, tanpa peduli apa akibatnya, dia langsung mendorong pintu kabin dan masuk ke dalam.
" Darren kamu baik-baik saja? " Tanya Zinnia dengan nada cemas, dia berlutut di samping lelaki itu, tangannya terangkat mau menyentuh tapi ragu sejenak.
Darren tak menjawab, dia hanya terus merintih dan mengerang, matanya terpejam erat, napasnya terengah-engah menahan sakit yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Sakit kepala kronisnya kambuh lagi, kali ini lebih parah dari biasanya, semua obat yang dia punya rasanya tak ada gunanya sama sekali.
" Mau cari obat ya.. akan aku bantu carikan.. " Zinnia langsung mau bangkit berdiri, mau membuka laci dan mencari obat penahan sakit.
" Gak perlu.. "
Tangan Darren bergerak cepat, meski terasa berat dan lemas, tapi tenaganya masih jauh di atas gadis di hadapannya. Dia menarik tangan Zinnia, lalu dengan sekali tarikan erat memeluk seluruh tubuh gadis itu masuk ke dalam dekapannya, menempelkan wajahnya di ceruk leher Zinnia, menghirup dalam-dalam aroma khas parfum dan tubuh gadis itu.
Dan ajaibnya... perlahan rasa sakit yang menusuk itu mulai berkurang, ketegangan di otot dan sarafnya perlahan mengendur, jantungnya yang berdebar cepat mulai kembali tenang. Aroma ini... sentuhan ini... kehadiran gadis ini... adalah satu-satunya hal yang bisa meredakan siksaan sakit yang dia derita bertahun-tahun ini.
Saat matanya perlahan membuka, pandangannya langsung jatuh di leher putih yang tepat berada di depan hidungnya. Dan disana, jelas terlihat banyak bekas ciuman, gigitan dan tanda merah keunguan yang sudah mengering, pasti itu buatan Rion. Bukti jelas bahwa gadis ini sudah dimiliki orang lain.
Tapi Darren sama sekali tak peduli. Bahkan tak ada rasa sakit hati atau cemburu, yang ada justru tekad makin kuat. Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?
Tanpa basa-basi lagi, bibir Darren langsung mendarat di sisi leher kiri Zinnia, bagian yang masih bersih dan belum ada tanda sedikitpun. Dia menciumnya lembut dulu, lalu makin kuat, menggigit perlahan sampai menimbulkan rasa ngilu dan panas, mengisapnya lama sampai muncul tanda merah yang jelas, lalu pindah ke bagian lain yang masih kosong, terus dan terus.
" Da.. rren berhenti.. Aanghh.. " Pinta Zinnia, tangannya mendorong dada dan bahu lelaki itu, tubuhnya berusaha meronta lepas, tapi semakin dia berusaha, semakin erat pelukan Darren membelenggunya, sampai dia tak bisa bergerak sedikitpun.
Dan anehnya, meski mulutnya menolak, tubuhnya bereaksi sebaliknya. Setiap kali bibir Darren menyentuh kulitnya, rasa panas dan geli menyebar cepat, membuat lututnya lemas, membuatnya tak sadar menggeliat manja di dalam pelukan itu, suara rintihan keluar dari mulutnya bukan karena marah tapi karena sensasi yang diberikan.
Darren mengangkat wajahnya sedikit, matanya gelap dan penuh godaan, dia melihat ekspresi wajah gadisnya yang memerah, mulutnya sedikit terbuka mengeluarkan suara-suara manja, lalu tersenyum licik.
" Kamu suka ya dengan sentuhan itu.. " Godanya pelan, lalu tanpa memberi kesempatan menjawab dia langsung mencium bibir Zinnia, dalam, panjang dan penuh rasa memiliki.
Bagi Darren, semua yang dia impikan, semua yang dia inginkan, semua yang dia butuhkan ada di dalam tubuh gadis ini. Sentuhannya, baunya, suaranya, bahkan tingkah lakunya yang manja dan keras kepala sekalipun semuanya adalah obat paling mujarab yang menyembuhkan segala rasa sakit, segala beban, segala kelelahan yang dia rasakan.
Tanpa gadis itu datang, dia mungkin sudah pingsan tak berdaya. Tapi, untuk kedua kalinya dia merasakan Gadis itu punya sesuatu yang ajaib, yang dapat meredakan rasa sakitnya. Dan karena itu... dia tak akan pernah melepaskannya. Apapun resikonya, bahkan siapapun lawannya.
" Kamu harusnya milikku Zinnia... mau atau tidak... kamu tetap akan jadi milikku... " Bisik Darren di sela ciumannya, nadanya tegas dan tak terbantahkan, terus menandai tubuh gadis itu seolah mau mengatakan pada dunia di samping nama Rion, ada namanya juga yang tertulis jelas di hati dan tubuh Zinnia.
***
Beberapa menit berlalu, napas Darren perlahan kembali teratur, ketegangan di tubuhnya lenyap total, rasa sakit yang tadi menusuk sampai ke tulang sumsum kini sudah hilang sepenuhnya, digantikan rasa nyaman dan tenang yang jarang sekali dia rasakan.
Dia perlahan mengangkat wajahnya dari ceruk leher Zinnia, melepaskan ciumannya, tapi pelukannya masih erat, tak mau melepaskan gadis itu begitu saja. Tatapannya kini sudah berbeda, tak lagi penuh gairah atau tantangan, melainkan lembut, lelah dan penuh rasa menyesal.
" Maaf Zinnia aku egois, tapi.. kehadiranmu jauh lebih ampuh dari obat. " ucapnya pelan, jemarinya mengusap perlahan punggung gadis itu dengan gerakan halus.
" Kamu ingat saat di cafe? Waktu kamu marah lalu mencium aku disana.. seketika aku sadar, bahwa selama satu jam penuh setelah itu, aku sama sekali tidak merasakan sakit kepala sedikitpun. Selama bertahun-tahun tak pernah ada hal yang bisa lakukan itu, bahkan obat paling mahal dan terbaik sekalipun. Dan saat itu aku sadar... bahwa kamulah obat mujarab untuk sakit migrain ku. "
Zinnia mengerjapkan matanya, wajahnya masih memerah sisa-sisa keintiman barusan, matanya menatap bingung.
" Apa maksudmu? Aku tak ngerti. "
" Kau jelas tahu maksudku sayang. " Jawab Darren lembut, bibirnya menyentuh kening Zinnia sekilas.
" Tubuhmu, baumu, sentuhanmu, bahkan sekedar kamu ada di dekatku saja.. semuanya membuat rasa sakit itu hilang seketika. "
Dia mempererat pelukannya sedikit, menempelkan dahinya di dahi gadis itu, nadanya berubah memohon.
" Tetaplah disini Zinnia sampai rasa sakitku benar-benar reda.. Kumohon. "
" Aku gak mau !! " Tolak Zinnia cepat, masih ingat peringatan Rion, masih ingat posisinya, masih bingung dengan semuanya.
" Kumohon Tuan putri.. kumohon.. cuma sebentar saja... " rengek Darren, nadanya lemah dan penuh keputusasaan, jauh berbeda dari sosok percaya diri dan angkuh yang biasa dia tunjukkan.
Melihat wajah pucatnya, melihat keringat dingin yang masih tersisa di dahinya, mendengar nada permohonan yang tak pernah keluar dari mulutnya sebelumnya, hati Zinnia melunak. Akhirnya dia pasrah, menghela napas panjang lalu perlahan mengangkat tangannya, membalas pelukan Darren dengan gerakan canggung, membiarkan dirinya terbungkus dalam pelukan hangat itu.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sampai Darren kembali membuka suara, kali ini dia menceritakan semuanya, tak ada lagi yang disembunyikan.
" Aku sudah lama mengidap migrain hebat Zinnia, sejak usia 12 tahun sampai sekarang. Awalnya cuma sakit sesekali, tapi makin lama makin parah, sampai ada masanya aku tak bisa tidur berhari-hari, tak bisa makan, bahkan tak bisa melihat cahaya atau mendengar suara sedikit saja karena rasanya mau mati. Aku sudah periksa kemana-mana, dokter dalam dan luar negeri, minum berbagai macam obat, sampai pakai cara pengobatan alternatif sekalipun... hasilnya sama saja. Obat cuma bisa meringankan sedikit, tak pernah bisa hilang total, dan lama-lama tubuhku jadi kebal, makin lama makin tak berfungsi. "
Dia berhenti sebentar, menghela napas berat sebelum melanjutkan.
" Tapi sejak ketemu kamu... semuanya berubah. Bahkan saat kita masih saling benci, saat kamu marah dan menamparku sekalipun... asalkan kamu ada di dekatku, rasa sakit itu pergi begitu saja. Itulah alasan kuatku ingin selalu bersamamu Zinnia, itulah alasan aku tak mau menyerah, itulah alasan aku jadi egois dan kasar begini. Aku tak bisa bayangkan kalau suatu hari kamu benar-benar hilang dari hidupku... aku mungkin akan mati perlahan karena rasa sakit itu. "
" Maaf aku kasar, maaf aku egois, maaf aku selalu mengganggu kamu dan Rion. Tapi aku sudah tak bisa tahan lagi Zinnia. Rasa sakit ini sudah tak bisa lagi ku tahan meski dengan obat apapun. Obat hanya bisa meringankan saja... tapi kamu berbeda Zinnia kamu ajaib. Kamu adalah satu-satunya harapanku. "
Setelah selesai bicara, Darren diam menunggu reaksi gadis di dalam pelukannya.
Dan Zinnia hanya terdiam, matanya terbelalak tak percaya, pikirannya berputar cepat mencerna semua yang baru saja dia dengar. Dia tak pernah menyangka, di balik sikap angkuh, agresif dan suka mengganggu Darren, di balik semua persaingannya dengan Rion, ternyata ada penderitaan berat yang dia alami selama belasan tahun, dan tanpa sadar dirinyalah yang menjadi satu-satunya penyembuhnya.
Dia tak tahu harus berkata apa, tak tahu harus marah, kasihan atau bagaimana, semuanya bercampur aduk di dalam hati dan pikirannya, membuatnya hanya bisa diam terpaku di dalam pelukan lelaki itu.
***