Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Setelah percakapan itu, Wina kini berjalan menggunakan kursi roda itu dengan dibantu Ratna menuju kamarnya.
"Win, aku yakin kamu sudah mencari tahu orang-orang itu". Ucap Ratna pelan tapi masih didengar oleh mereka semua.
Mereka memang berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing karena akan beristirahat dan memulai pengobatan nantinya setelah ini.
"Kamu pasti suah tahu jawabannya Na, kamu sudah mengenalku dengan baik". Jawabnya pelan.
Dia memang tidak akan menyimpan rahasia seperti ini kepada sahabatnya apalagi ini semua menyangkut nyawa mereka semua.
"Apa yang sudah kamu lakukan Wina, sebaiknya kamu biarkan Alex melakukannya, kamu tahu sendiri semua ini selalu berujung dendam dan membalas dendam". Ucap Leo kini menatap Wina.
Wina tersenyum tipis menatap sahabatnya itu, dia menghentikan langkah kursi rodanya itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada semua temannya.
"Aku diam saja tapi mereka semua melakukan ini pada ku, wajarkan jika aku akhirnya lelah dan memilih membalas mereka semua tanpa pandang bulu seperti yang mereka lakukan padaku". Jawabnya dengan penuh penekanan dan dingin.
Ketiganya langsung saling memandang melihat ekspresi Wina saat ini, apalagi perkataannya barusan seolah mengatakan jika dihadapan mereka bukan Wina yang dulu.
"Win, kamu yakin dengan keputusanmu itu, kamu ingin berperang langsung dengan mereka? ". Tanya Beni dengan khawatir.
Dia tidak pernah menyangka sahabatnya ini akan berubah kejam bahkan penuh dendam seperti ini.
"Aku hanya mempertahankan diri dan menunjukkan kepada mereka bahwa aku Wina Aditama bukan wanita lemah yang bisa mereka tindas sesuka hati mereka, apalagi mereka juga melukai orang-orang yang kucintai, mereka akan merasakan apa yang kurasakan setelah ini".
Nafasnya langsung menderu, dadanya naik turun karena emosi yang langsung terpancing, matanya berkilat murka seketika.
Melihat orang-orang yang dia cintai terluka dihadapannya membuat sisi monster yang tidak pernah ada kini muncul perlahan.
"Win, jangan seperti ini, biarkan Alex yang melakukannya, kamu dengar sendiri tadi, dia dan Mafia Jepang itu akan membalasnya kepada mereka, kamu fokus saja kepada kesehatan mu dan juga si kembar". Ucap Leo menasehati sahabatnya ini.
Entah bagaimana sahabatnya ini bisa memiliki hati yang keras seperti ini.
"Ini bukan urusan Alex".
"Tapi Win". Protes Ratna tidak terima.
"Biarkan aku bertindak, jangan halangi aku! , akan kutunjukkan kepada mereka jika mereka salah mencari lawan, aku sudah lelah mereka tindas seperti orang yang tidak bisa apa-apa dan sangat lemah". Ucapnya mendorong kursi rodanya menjauhi para sahabatnya yang berdiri kaku dan saling memandang memberi kode.
Wina menghentikan kursi rodanya tapi tidak berbalik.
"Terserah apapun yang kalian lakukan tapi ku peringatkan untuk tidak menghalangi apapun langkah yang kuambil nantinya, cukup kalian lindungi diri kalian dan keluarga kalian, aku akan melindungi semua yang kusayangi dengan caraku sendiri". Ucapnya dingin dan datar.
Dia kemudian menjalankannya menuju kamar rawatnya yang berada didepan sana sedangkan ketiga sahabat itu menghela nafasnya kasar.
"Bagaimana ini, aku tidak menyangka Wina akan seperti ini, aku sungguh khawatir dengan akan terjadi kedepannya". Beni mengusap wajahnya kasar.
"Kamu benar, kita tidak bisa tinggal diam, tapi apa yang harus kita lakukan sekarang, jika kita memberitahu Alex tentang ini, aku yakin akan jadi masalah ". Kini Leo yang mengacak rambutnya dengan kasar.
Keduanya langsung menoleh pada Ratna, mereka yakin Ratna pasti punya solusi untuk hal ini karena dialah yang paling dekat dengan Ratna karena dia juga seorang perempuan.
Ratna yang ditatap keduanya hanya bisa menghela nafasnya pelan, dia tahu apa yang dipikirkan oleh keduanya kepadanya itu, dia menggelengkan kepalanya karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Aku tidak tahu, tapi jika Wina betul melakukannya, kita tidak punya pilihan lain selain melindungi dan membantunya, inilah puncak dari rasa sabar yang selalu orang hancurkan dan injak, kita tak punya pilihan lain".
Keduanya menunduk, kemudian membuang nafas dengan kasar, mereka juga tidak ingin sahabatnya itu diperlakukan seperti ini, jika itu terjadi pada mereka mungkin mereka akan melakukan hal yang sama.
"Iya kamu benar Na, itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan saat ini setelah kita kembali sehat dan aku yakin Wina sudha bergerak tanpa kita tahu".
"Biarkan dulu seperti ini, kita hanya bisa pastikan semuanya baik-baik saja, hubungi Winda agar dia tahu".
Beni mengangguk pelan kemudian berjalan menuju kamarnya karena dia bisa melihat dokter yang datang dari arah yang berbeda dengan mereka.
Wina yang berada dalam kamarnya kembali menghubungi orang-orang nya, dia akan bergerak dan mengontrol segalanya dari sini.
Sedangkan Alex yang kini berada di kantor mengkerut kan keningnya kemudian menghela nafasnya pelan sambil menggelengkan kepalanya dan menyandarkan rubuhnya pada kursi kebesarannya itu.
Sekretaris sekaligus tangan kanannya ini membawakan kabar yang sungguh mengejutkannya, dia tidak menyangka Wina bergerak dan mencari tahu segalanya seperti ini dan membuang bom tepat sasaran.
"Kamu yakin, dia melakukannya? ". Tanyanya dengan kesal.
"Benar bos, Nyonya Wina sudah bergerak sejak kemarin, aku memang sudah mendapatkan kedua saudara itu, dan memancing yang lainnya muncul tetapi ternyata nyonya Wina sudah bergerak dan memunculkan mereka semua". Ucap Arfan pelan penuh penekanan.
"Terus bagaimana perusahaan Wina? ".
Perusahaan itu harus dia lindungi karena itu adalah salah satu peninggalan terpenting dari tuan Aditama selain keturunannya dan harus dia lindungi.
"Ternyata selama ini ada orang dalam perusahaan nya yang menusuknya dari belakang bahkan saat ini nyonya Wina sudah menahan keluarganya sebagai jaminan".
"Siapa? ". Tanyanya dengan tangan mengepal.
Apa manusia-manusia itu tidak tahun diri dan tidak tahu balas budi padahal yang dia tahu Wina selalu baik dan royal pada orang-orang sekitarnya.
Pantas saja Wina murka seperti ini, Orang-orang itu mengisap darah tanpa diketahui seperti lintah.
Dia orang kepercayaan nyonya Wina selain nona Ratna, dia tuan Rayyan Budiono dan beberapa petinggi perushaan". Ucapnya pelan.
Dia langsung merinding melihat tatapan bosnya ini, tatapannya juga sama hanya saja bosnya ini memang mengeluarkan aura berbeda jika dia sedang marah seperti ini.
"Apa yang diinginkan Wina darinya? ".
Dia sangat penasaran apa yang dikejar Wina selain orang-orang yang mencelakakan mereka kemarin.
"Menghancurkan perushaan mereka tuan, nyonya Wina bahkan menghubungi banyak investor terutama yang bekerjasama dengan mereka untuk memutuskan kerjasama bahkan investasi mereka". Jawabnya dengan mantap.
Alex menyunggingkan senyumnya pelan, wanitanya memang jenius dan hebat, perusahaan mereka adalah titik inti dan kelemahan para pebisnis seperti mereka jika itu hancur maka akan sulit bangkit dan itu butuh waktu
"Dia memang hebat, tak salah aku memilih dan mencintainya". Ucapnya pelan