Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Berlangsung Walau Kacau
Bu Imroh melangkah maju. Ia melepaskan pegangan tangan Briptu Sarah yang mencoba melindunginya. Wanita tua itu berdiri tegak menantang sang monster. Di saat yang bersamaan, embusan angin kencang dari sistem pendingin udara raksasa yang mencoba menyedot asap di ruangan itu bertiup sangat kencang. Kerudung panjang putih milik Bu Imroh berkibar hebat ke belakang secara dramatis, memperlihatkan gips dan bekas luka di lehernya yang nampak seperti medali keberanian.
"ARIS!" teriak Bu Imroh dengan suara yang menggelegar, merobek kepanikan di sekitarnya. Suaranya yang serak kini terdengar seperti gemuruh guntur. "Iblis biadab! Kamu tidak punya malu mengotori hari suci anak-anak baik ini?!"
Aris menghentikan langkahnya. Ia menatap mantan mertuanya itu dengan tatapan tidak percaya. "Menyingkir, Tua Bangka! Atau kamu mau menyusul Salsa sekarang?!"
"Tembak aku jika kamu berani, Aris!" jerit Bu Imroh dengan derai air mata amarah yang tumpah membasahi pipinya yang keriput. Ia menunjuk Aris dengan jarinya yang gemetar. "Nyawa anakku sudah kamu ambil! Nyawaku sendiri hampir kamu renggut di jurang dan di kebun! Demi Allah, aku tidak akan membiarkan langkah kotor pencabut nyawa milikmu itu menyentuh seujung kuku pun dari Devina dan Gavin hari ini!"
Kemarahan Bu Imroh yang luar biasa dan pemandangan kerudungnya yang berkibar dramatis di tengah kepulan asap membuat suasana nampak seperti pengadilan Ilahi yang nyata. Para tamu yang masih terjebak di sekitar mereka tertegun melihat keberanian luar biasa dari wanita tua yang rapuh tersebut.
"Polisi! Itu dia! Tangkap dia!" teriak Briptu Sarah yang langsung mengacungkan senjatanya ke arah Aris.
Dalam hitungan detik, belasan moncong senjata api laras panjang dari tim Brimob yang baru masuk langsung terkunci pada tubuh Aris. Lampu sorot hotel secara otomatis menyala benderang, menelanjangi penyamaran sang buronan.
****
Aris menggeram marah. Ia melihat ke arah panggung pelaminan; Devina sedang didekap erat oleh Gavin yang menatapnya dengan pandangan membunuh yang sangat dingin. Waktunya habis. Rencana pembantaiannya di hari pernikahan gagal total karena amukan tak terduga dari seorang ibu yang teraniaya.
Aris melangkah mundur perlahan. Sambil menatap tajam ke arah Bu Imroh, ia mengacungkan pisaunya ke udara.
"Kamu beruntung hari ini, Imroh!" raung Aris dengan suara yang dipenuhi dengan racun kebencian terdalam. "Tapi dengarkan sumpahku! Tembok penjara tidak akan bisa menghentikanku, dan doa-doamu tidak akan bisa menyelamatkan mereka selamanya! Aku bersumpah akan kembali, dan saat hari itu tiba, aku sendiri yang akan memastikan kalian semua mati di tanganku! TUNGGU AKU!"
Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, Aris melemparkan sebuah bom asap kecil kedua ke lantai. BLAAM! Ruangan di sekitarnya kembali dipenuhi asap pekat membutakan. Aris melompat ke arah jendela kaca besar di samping panggung orkestra yang telah ia longgarkan bautnya sebelumnya.
PRANKKK!
Kaca tebal itu hancur berhamburan. Aris melompat keluar dari lantai dua hotel menuju ke rimbunnya pohon-pohon di taman luar, menghilang kembali ke dalam labirin kegelapan malam kota Jakarta.
Suasana di dalam ballroom berangsur-angsur terkendali seiring asap yang mulai menipis. Devina menangis tergugu di pelukan Gavin, sementara Bu Imroh luruh ke lantai, bersujud dengan tangis yang pecah sejadi-jadinya. Mereka memang memenangkan hari ini, dan ikatan suci pernikahan telah berhasil diikrarkan. Namun, sumpah berdarah Aris yang menggantung di udara malam tadi menjadi pertanda bahwa perang suci melawan sang monster baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.
****
Malam telah larut membungkus megahnya ibu kota, menyisakan keheningan yang pekat setelah badai kepanikan yang luar biasa melanda Grand Ballroom beberapa jam lalu. Meskipun Aris kembali berhasil meloloskan diri setelah aksi nekatnya menyamar sebagai pemain biola, atas instruksi tegas dari Gavin, rangkaian acara pernikahan tidak dihentikan. Para tamu yang sempat panik ditenangkan oleh aparat, dan prosesi adat serta ramah tamah tetap diselesaikan di bawah kawalan super ketat ratusan personel Brimob.
Gavin ingin membuktikan kepada dunia, dan terutama kepada monster yang sedang bersembunyi di luar sana, bahwa teror tidak akan pernah bisa mendikte hidup mereka.
Kini, drama kolosal yang menguras air mata dan menggetarkan jiwa itu telah mencapai jedanya. Di luar area hotel, sirine mobil polisi masih meraung sesekali, membelah malam dalam operasi pengejaran skala besar yang melibatkan unit-unit terbaik kepolisian untuk menyisir setiap sudut kota demi mencari jejak Aris.
****
Namun di dalam lantai teratas gedung hotel bintang lima ini, suasananya sungguh kontras.
Devina Maharani—atau yang kini telah resmi menyandang nama Devina Aryaga—berdiri mematung di tengah kamar Presidential Suite. Pintu kayu ek tebal bermotif ukiran klasik di belakangnya baru saja dikunci rapat oleh Gavin dari dalam. Bunyi klik dari kunci otomatis tersebut terdengar begitu nyaring di telinga Devina, seolah-olah menjadi tanda pembatas yang tegas antara dunia luar yang penuh dengan desing peluru dan dendam, dengan dunia baru yang kini harus ia masuki.
Jantung Devina berdegup kencang, bertalu-talu menimbulkan rasa sesak yang aneh di dadanya. Jemarinya yang dingin saling bertautan erat di depan perut, meremas kain kebaya pengantin putihnya yang mewah namun kini terasa sangat membebani tubuhnya.
Selama setahun terakhir, pikiran Devina selalu dipenuhi oleh bayang-bayang kengerian Aris. Setiap malam ia terjaga karena takut belati Aris akan merobek kulitnya. Namun detik ini, di dalam kamar yang temaram dengan pencahayaan lampu tidur berwarna kuning madu yang hangat, bayangan ketakutan itu mendadak menguap, digantikan oleh sebuah perasaan asing yang sangat baru bagi dirinya.
Ia hanya berdua saja dengan Gavin. Tidak ada orang tua, tidak ada kru televisi, tidak ada saksi, dan tidak ada polisi yang berjaga di antara mereka.
****
Devina mencuri pandang ke arah Gavin melalui pantulan cermin rias yang besar di hadapannya. Pria yang beberapa jam lalu mengikrarkan sumpah suci di hadapan Tuhan dan keluarganya itu sedang berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota Jakarta.
Gavin berdiri diam sejenak di sana, menatap hamparan gedung pencakar langit dengan sorot mata yang sulit diartikan. Beban yang dipikul pria itu pasti sangat berat; memimpin perusahaan raksasa sekaligus menjadi benteng pelindung bagi sebuah keluarga dari kejaran psikopat berbahaya.
"Lampu kota malam ini terlihat sangat damai," suara Gavin memecah keheningan. Nada suaranya rendah, serak, dan sangat maskulin, memantul di dinding kamar yang kedap suara. "Sangat kontras dengan apa yang terjadi di bawah sana."
Devina menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. "Gavin... apa ada kabar terbaru dari Komisaris Pratama tentang... tentang dia?"
Gavin membalikkan badannya secara perlahan. Sepasang mata elangnya yang biasanya memancarkan aura ketegasan tanpa kompromi, kini nampak meredup, digantikan oleh kelembutan yang dalam saat menatap Devina. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia luar.
"Pengejaran masih berlangsung besar-besaran, Dev. Semua akses pelabuhan dan jalan tol keluar Jakarta sudah diblokade. Tim K-9 juga sedang menyisir area sekitar hotel. Kamu tidak perlu khawatir lagi malam ini. Kamu aman bersamaku," ucap Gavin menenangkan.