Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanopi Zamrud dan Jejak Kaki Perintis
[Dua Hari Kemudian]
Jantung Hutan Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera - Pukul 13.00 WIB.
Jika neraka memiliki bagian yang berwarna hijau, maka itu pasti berbentuk hutan hujan perawan di ekuator Sumatera.
Suhu udara mencapai tiga puluh empat derajat Celcius, tetapi kelembapan yang menyentuh angka sembilan puluh delapan persen membuat udara terasa setebal sup panas. Setiap tarikan napas terasa berat, membebani dengan paru-paru dengan aroma daun yang membusuk, tanah basah, dan keringat. Kanopi pohon raksasa merapat begitu rapat di atas kepala hingga cahaya matahari siang hanya mampu menembus dalam bentuk pilar-pilar debu emas yang tipis.
Dr. Lyra Andini mengusap dahi dan lehernya yang dibanjiri peluh menggunakan saputangan katun untuk kesekian kalinya. Seragam lapangan berbahan dry-fit dan rompi taktis ringannya sudah basah kuyup, menempel tak nyaman di kulitnya.
Di depannya, Kolonel Rayyan Aksara memimpin jalan. Pria itu mengayunkan parang tebas (golok tebas) dengan ritme yang mematikan dan efisien, menebas sulur-sulur berduri yang menghalangi jalur mereka. Anehnya, Rayyan nyaris tidak terlihat terpengaruh oleh panas neraka ini. Napas pria itu teratur, otot bahu dan lengannya menegang dan mengendur di balik kemeja taktisnya yang berwarna hijau zaitun seiring setiap ayunan parang.
“Koordinat hologram dari kristal itu berada tepat di lembah di bawah bukit ini, Kolonel,” Letnan Jati melapor dari barisan belakang, menepuk seekor nyamuk seukuran lalat raksasa dari lehernya. “Sinyal GPS kita masih berfungsi, tapi satelit pencitraan thermal (panas) benar-benar buta oleh tebalnya kanopi.”
“Tetap waspada, Jati,” suara bariton Rayyan menggema pelan membelah suara serangga hutan. “Kita bergerak masuk ke wilayah buta. Tidak ada dukungan udara dari titik ini.”
Rayyan menghentikan ayunan parangnya. Ia memutar tubuhnya, menatap Lyra yang berjalan tertatih-tatih di belakangnya. Wajah gadis itu memerah karena panas ekstrem, napasnya pendek-pendek, dan kacamata bulatnya terus-menerus berembun.
Seketika, tatapan tajam sang komandan melembut. Ia menyarungkan parangnya ke pinggang, lalu melangkah mendekati Lyra.
“Waktu istirahat tiga menit,” perintah Rayyan ke arah pasukannya, namun matanya tak lepas dari Lyra.
“Aku belum mau menyerah, Rayyan,” gumam Lyra dengan suara serak, berusaha berdiri tegak meski betisnya menjerit protes. “Aku masih bisa berjalan.”
“Aku tahu kau bisa, Lyra. Tapi aku tidak akan membiarkanmu tumbang karena dehidrasi,” Rayyan mencabut botol minum dari sabuknya, membukakan tutupnya, dan menyodorkannya ke bibir Lyra. “Minum.”
Lyra menerima botol itu dan meneguk airnya rakus. Air hangat itu membasahi kerongkongannya yang kering kerontang.
Saat Lyra menurunkan botolnya, Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria itu melepaskan sarung tangan taktis kirinya. Dengan sentuhan yang luar biasa kontras dengan kekasarannya menebas hutan tadi, jari-jari Rayyan menyeka peluh di pelipis Lyra, lalu merapikan sisa rambut gadis itu yang menempel di lehernya karena keringat.
Tiba-tiba, gerakan tangan Rayyan terhenti tepat di atas kerah kemeja Lyra, di bagian pangkal leher. Matanya menyipit tajam.
“Jangan bergerak,” bisik Rayyan rendah, nada suaranya berubah serius.
Lyra langsung membeku. “A-apa? Ada laba-laba?” Tanyanya panik, matanya membelalak di balik kacamata yang berembun.
“Hanya pacet (lintah hutan),” jawab Rayyan tenang. Ia menahan bahu Lyra dengan tangan kanannya agar gadis itu tidak refleks memukul lehernya sendiri. “Dia sudah menggigit dan mulai menghisap darahmu. Jika kau menariknya paksa, giginya akan tertinggal di kulitmu dan menyebabkan infeksi parah.”
Lyra menelan ludah, rasa geli dan ngeri bercampur aduk merayap di tengkuknya. “Lalu bagaimana?”
“Tahan napasmu sebentar.”
Rayyan merogoh kantong rompinya dengan tangan kiri, mengeluarkan pemantik api Zippo miliknya. Ia menyalakan api kecil itu, membiarkan logam penutupnya memanas selama dua detik, lalu mematikan apinya.
Dengan sangat berhati-hati, Rayyan menempelkan logam pemantik yang panas itu tepat ke tubuh lintah berukuran kelingking yang menempel di leher Lyra.
Lintah itu langsung menggeliat kepanasan dan melepaskan gigitannya. Sebelum hewan menjijikan itu sempat jatuh ke dalam baju Lyra, Rayyan sudah menangkapnya dan membuangnya jauh ke semak-semak.
Bekas gigitan di leher Lyra mengeluarkan setetes darah segar berukuran kecil karena lintah menyuntikan zat anti-pembeku darah.
Alih-alih menyuruh medis, Rayyan mengeluarkan sapu tangan bersih dari sakunya. Ia menekan luka kecil di leher Lyra dengan lembut, menahan pendarahannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Lyra bisa mencium aroma kayu pinus dan keringat maskulin dari tubuh Rayyan, sebuah kombinasi yang entah bagaimana membuat jantungnya berdebar jauh lebih cepat daripada kelelahan fisiknya.
“Sakit?” Tanya Rayyan pelan, matanya menatap lurus ke dalam mata Lyra, memastikan gadis itu baik-baik saja.
“T-tidak,” Lyra tergagap, wajahnya semakin memerah, bukan karena suhu udara. “Tanganmu… selalu tahu apa yang harus dilakukan.”
Rayyan tersenyum tipis, sebuah senyum rahasia yang hanya ia tunjukkan untuk Lyra. Ia mengusap pipi Lyra dengan ibu jarinya, membiarkan tangannya berlama-lama di sana sedetik lebih lama dari yang seharusnya diperlukan.
“Itu karena tugasku adalah memastikan tidak ada satu pun makhluk di hutan ini, bahkan lintah sekalipun, yang berani melukaimu,” bisik Rayyan parau. Pria itu mengecup kening Lyra dengan singkat namun penuh perasaan, lalu menarik tangannya mundur.
“Kolonel.”
Suara interupsi itu berasal dari Kopral Dito yang baru saja kembali dari pengintaian perimeter di depan. Wajah prajurit muda itu tegang.
Mode romantis Rayyan seketika menguap tak bersisa. Ia berbalik, kembali menjadi komandan baja. “Laporan, Dito.”
“Kita sudah tiba di ujung lembah, Kolonel. Kabut di bawah sana menutupi dasar jurang, tapi… ada sesuatu di sana.” Dito menunjuk ke arah celah pepohonan raksasa di depan mereka. “Dokter Lyra harus melihat ini.”
Lyra segera melupakan rasa lelahnya. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rayyan, dan menatap ke arah lembah yang ditunjuk Dito.
Di bawah mereka, tersembunyi di balik ribuan tahun pertumbuhan hutan tropis, bukan berdiri sebuah candi Hindu atau Budha seperti di Jawa. Apa yang ada di depan mereka adalah struktrur Megalitikum yang masif.
Balok-balok batu vulkanik berwarna hitam pekat, masing-masing seukuran mobil SUV, disusun bertumpuk membentuk sebuah punden berundak (piramida berundak) kuno yang sebagian besar sudah tertelan oleh akar pohon beringin raksasa. Tidak ada ukiran rumit. Tidak ada patung dewa. Hanya ada presisi matematis absolut dari peradaban yang jauh lebih tua dari yang pernah dicatat sejarah Indonesia.
“Astaga…” Lyra terkesiap, mencabut sabak digitalnya dengan tangan bergetar. “Ini… ini arsitektur pra-sejarah. Tradisi megalitik tua. Tapi ukurannya… ini mustahil. Tidak ada teknologi di era itu yang bisa memotong dan menyusun batu seberat puluhan ton ini dengan celah serapat itu. Bahkan selembar kertas pun tidak akan bisa masuk di antara susunan batunya.”
“Mirip dengan struktur situs Gunung Padang, tapi jauh lebih terisolasi dan masif,” Rayyan mengamati dari sudut pandangan taktis. Struktur itu memiliki satu pintu masuk utama di undakan paling bawah, berupa celah gelap menyerupai mulut gua berbentuk kotak sempurna.
“Jika kristal pertama memproyeksikan tempat ini, maka apa yang ada di dalam sana pasti adalah pusat atau ‘kristal induk’-nya,” Lyra menatap Rayyan dengan mata berbinar-binar. “Kita harus turun.”
“Jati, siapkan tali rapelling. Kita turun lewat sayap kiri bukit,” perintah Rayyan.
Namun, sebelum Jati sempat membongkar ransel talinya, pandangan Rayyan menangkap sesuatu yang ganjil di tanah berlumpur tepat di tepi tebing tempat mereka berdiri.
Rayyan mengangkat tangannya, memberi isyarat diam. Ia berjongkok, mengamati permukaan tanah basah yang tertutup dedaunan gugur. Menggunakan ujung parangnya, Rayyan menyingkirkan daun-daun itu.
Di bawahnya, tercetak dengan sangat jelas sebuah jejak kaki.
Itu bukan jejak kaki hewan. Dan itu jelas bukan jejak kaki telanjang penduduk suku pedalaman.
Jejak itu memiliki pola bergerigi Vibram—sol khusus untuk sepatu bot taktis militer modern. Dan yang membuat darah Rayyan mendidih adalah ujung jejak kaki itu… masih perlahan-lahan terisi oleh rembesan air lumpur.
Jejak itu baru berumur kurang dari satu jam.
Rayyan berdiri perlahan. Otot rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Matanya menyapu hutan lebat di sekeliling mereka dengan kecepatan predator yang mencium bau dari darah musuhnya.
“Kita tidak sendirian,” desis Rayyan, suaranya sedingin es batu, membuat bulu kuduk Lyra berdiri tegak. Pria itu menarik tuas pengaman senapan serbunya ke mode tembak otomatis.
Jati dan Dito langsung menyebar, mengangkat senjata mereka dalam formasi pertahanan melingkar, melindungi Lyra ditengah.
“Mereka menggunakan rute yang berbeda dari kita, memutar dari sungai barat, dan tiba lebih dulu,” Rayyan menatap ke arah pintu masuk piramida hitam di dasar lembah. “Ada sindikat atau paramiliter yang sudah menyusup masuk ke dalam situs itu.”
Lyra menelan ludah, menatap pintu gelap piramida itu dengan ngeri. “Mereka… mereka bisa merusak struktur di dalam sana. Atau lebih buruk, mereka bisa memicu jebakan megalitik yang tidak kita pahami.”
“Atau mereka akan menemukan apa pun yang tersembunyi di kegelapan itu, dan membawa senjatanya keluar,” potong Rayyan. Pria itu memutar kepalanya menatap pasukannya. Mata obsidiannya berkilat penuh perhitungan mematikan.
“Ubah rencana,” komando Rayyan tanpa keraguan sedikit pun. “Tinggalkan tali rapelling. Kita bergerak masuk menggunakan rute perintis mereka. Mode senyap mutlak. Mulai detik ini, tidak ada komunikasi suara kecuali darurat. Jika bertemu musuh, lumpuhkan sebelum mereka menarik pelatuk.”
Rayyan melangkah mendekati Lyra. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, menyalurkan seluruh kekuatannya melalui tatapan matanya. “Tangan di pundakku, Lyra. Bayanganku adalah dinding bajamu. Kita masuk ke neraka purba ini bersama-sama.”
Lyra mengangguk mantap. Rasa takutnya yang biasanya menghilang, digantikan oleh kepercayaan penuh pada pria di depannya. Ia mengangkat senapan laras pendek ringan yang diajarkan Rayyan kepadanya—hanya untuk pertahanan darurat—lalu menempatkan dirinya tepat di belakang sang Komandan.
Satgas Sandi Kala turun menembus rimbunnya hutan, mengikuti jejak sepatu bot yang mengarah langsung ke dalam mulut piramida hitam yang siap menelan mereka hidup-hidup.