Dewo ceo berumur dua puluh sembilan tahun belum menikah sikapnya yang dingin di jodohkan dengan Ema wanita bar bar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa sangat cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakai Cari Gara Gara Menyiram
Dewo masih sibuk menatap ke arah karung beras yang berserakan sementara itu Ane menuruni anak tangga sambil membawa karung beras di tangannya dan masih mengalungkan botol minuman di sekitar lehernya mendengar suara sepatu heels yang di ketukkan ke lantai membuat Dewo menoleh ke arah sumber suara dirinya melihat Ane yang sedang berjalan ke arahnya
"Mama kalau mau membawa beras bilang ke aku biar aku saja yang membawa karung berasnya memangnya mama mau menyumbangkan beras kemana ?" ucap Dewo berjalan ke arah Ane sementara Ane tersenyum lebar mendengar perhatian dari Dewo
"Dewo ini itu bukan" perkataan Ane belum selesai sengaja di potong oleh Dewo
"Mah biar aku saja yang membawa karung beras ini" tegas Dewo merebut paksa karung beras yang di bawa Ane lalu Dewo memanggul karung beras itu layaknya memanggul beras namun ada yang aneh saat memanggul karung beras itu karena tidak terlalu berat berbeda saat memanggul beras
"Mah ini beras apa koq ngga terlalu berat" ucap Dewo lalu berjalan ke arah tumpukan karung beras lainnya sedangkan Ane tertawa kecil mendengar perkataan Dewo
"Haha haha Dewo itu bukan beras tapi tas" jawab Ane sambil masih sibuk tertawa terbahak bahak sementara Dewo mengernyitkan keningnya heran
"Maksudnya mama mau menyumbangkan tas ke orang ?" tanya Dewo sambil menjatuhkan karung beras yang di bawanya sedangkan Ane menggelengkan kepalanya mantap sambil menghentikan tawanya
"Dewo mama ngga mau menyumbangkan tas" jawab Ane menatap tajam ke Dewo sedangkan Dewo mengangguk anggukkan kepalanya sedetik kemudian dia sadar kalau Ane tidak mau menyumbangkan tas ke orang lalu kenapa Ane membuatkan tas sampai ratusan karung beras
"Terus kalau tasnya ngga di sumbangkan di apakan mah apa mama mau memberikan ke korban bencana alam ? tapi kalau mau menyumbangkan ke bencana alam itu berupa makanan atau pakaian bukan berupa tas" jelas Dewo sambil menatap ke Ane sementara Ane dengan cepat menggelengkan kepalanya mantap
"Dewo mama juga ngga akan menyumbangkan tas mama ke korban bencana alam tapi mama mau membawa semua tas ini ke supermarket" sahut Ane sambil tersenyum lebar sementara Dewo membulatkan kedua matanya
"Terus mama mau apakan tas sebanyak ini di bawa ke supermarket apa mama mau kembalikan ke supermarket semua tasnya karena ada tasnya yang lecet ?" tuduh Dewo menatap satu persatu karung beras bergantian sedangkan Ane tersenyum licik
"Dewo tas ini ngga ada yang lecet jadi mama ngga akan kembalikan ke supermarket semua tas ini mau mama bawa ke supermarket dalam rangka ngga mengembalikan ke supermarket" tegas Ane lalu melangkah dan mengambil satu karung beras berisi tas sedangkan Dewo melongo mendengar perkataan Ane
"Mama ngga usah aneh aneh ngapain mama membawa tas sebanyak ini ke supermarket biar aku kembalikan semua tasnya ke atas" tegas Dewo sambil merebut karung beras di tangan Ane namun dengan cepat Ane menepis tangannya Dewo
"Ngga usah di kembalikan ke atas Dewo soalnya mama sudah capek capek mondar mandir membawa semua karung beras ke ruang tamu dari kamar sampai mama memasang botol di sini supaya mama ngga kehausan pas membawa semua karung beras" jelas Ane sambil menunjuk tali botol yang menempel di sebelah leher lalu Dewo menatap ke arah tujuannya Ane dirinya mematung di tempat dirinya belum ingat bahwa pertama muncul Ane juga membawa botol seperti botolnya anak kecil yang sedang upacara bendera
"Mama ngapain ke supermarket membawa tas sebanyak ini sehingga membuat mama kehausan terus mama masang botol kayak gitu malah persis kayak anak kecil yang sedang mengikuti upacara bendera setiap agustusan kalau haus karena udara panas tinggal minum tuh air" ledek Dewo menahan tawanya yang hampir keluar sementara Ane mendelik ke Dewo
"Mama membawa tas sebanyak ini karena warna tas ini semuanya sama dengan pakaian yang mama kenakan apaan sih malah menyamakan mama dengan anak kecil mama beda jauh sama anak kecil soalnya mama telah melahirkan kamu dari rahim mama jadi mama bisa bikin anak kecil dan mahir dalam membuat anak kecil kalau anak kecil ngga bisa bikin anak kecil" jawab Ane tersenyum menyeringai sedangkan Dewo ingin sekali dirinya melemparkan Ane ke atas pohon namun dirinya ngga mau repot repot menggendong Ane sehingga Dewo hanya membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga
"Mama walaupun warna tasnya sama dengan warna pakaian mama ngga harus membawa semua tasnya otaknya mama mesum ngga pasti ketularan mesumnya dari papa" jawab Dewo memalingkan wajahnya sedangkan Ane menatap nyalang ke Dewo
"Dewo ngga usah berisik mama mau berangkat ke supermarket sekarang" ucap Ane sambil membawa karung beras lalu berjalan melangkah namun tangannya langsung di pegang oleh Dewo
"Mama berangkatnya ngga usah membawa semua tas ini" tegas Dewo merebut paksa karung beras yang ada di tangannya Ane sementara Ane mendelik ke Dewo
"Dewo tapi mama kalau mau kemanapun pasti membawa tas" teriak Ane dengan sangat keras mungkin kalau ada tikus dan semut lewat mereka berdua langsung pingsan di tempat tidur sementara Dewo hampir saja mengeluarkan jurus kagetnya yaitu melemparkan karung beras itu ke Ane
"Mama harus pilih tas satu yang mau di bawa tapi kalau mama tetap ingin membawa semua tas ini jangan harap aku izinkan mama ke supermarket karena pintunya bakalan aku kunci" ancam Dewo di sertai tatapan tajam ke Ane sedangkan Ane menatap sinis ke Dewo
"Dewo ceritanya kamu sedang mengancam mama ? bakalan mama adukan sama papa" ketus Ane lalu mengambil handphone yang ada di saku celananya sementara Dewo tersenyum licik
"Silahkan mama laporkan ke papa kalau aku ngga mengizinkan mama ke supermarket aku jamin papa juga ngga bakalan mengizinkan mama ke supermarket dengan membawa karung beras yang berisi tas sebanyak ini karena nanti mama di tuduh orang itu gila karena membawa tas sebanyak ini ke supermarket" ledek Dewo sambil tersenyum devil sedangkan kedua mata Ane terbelalak lebar dengan mulut melongo
"Dewo kamu mau bersekongkol sama papa ngga mengizinkan mama ke supermarket ? siapa yang menuduh mama gila ? mama ngga gila" cerca Ane bertubi tubi dengan menaikkan suaranya jutaan oktaf sedangkan Dewo tersenyum licik
"Mah walaupun aku ngga bersekongkol sama papa pasti papa ngga bakalan mengizinkan mama ke supermarket membawa karung beras sebanyak ini yang menuduh mama gila itu banyak kalau mama membawa karung beras sebanyak ini ke supermarket makanya mama ngga usah membawa tas sebanyak ini ke supermarket" saran Dewo dengan lembut membuat Ane nampak berpikir lalu sedetik kemudian dirinya tersenyum lebar
"Oke mama ngga akan membawa karung beras sebanyak ini ke supermarket tapi kamu harus antarkan mama ke supermarket kalau kamu ngga mau mengantarkan mama ke supermarket mama akan bawa semua karung beras ini ke supermarket" ancam Ane sambil tersenyum menyeringai sedangkan Dewo membulatkan kedua matanya
"Mama mau mengancam aku ?" sarkas Dewo sinis sementara Ane tersenyum licik
"Kalau kamu ngga mau mengantar mama ke supermarket biar mama berangkat sen" perkataan Ane belum selesai sudah di potong oleh Dewo
"Ayo mah kita berdua berangkat ke supermarket sekarang" jawab Dewo lalu dirinya berjalan ke halaman rumah membuat Ane tersenyum lebar lalu mengekori langkah kakinya Dewo ke halaman rumah
Aya telah sampai di depan pintu kamarnya Ema lalu tanpa komando Aya langsung membuka pintu tersebut setelah itu dirinya melangkah menghampiri Ema yang duduk manis di sofa tanpa menutup pintu Aya mengeluarkan senyuman lebar karena mengira bahwa Ema telah berdandan dengan benar dirinya belum melihat ke wajahnya Ema yang mirip seperti badut karena dirinya hanya melihat punggungnya Ema
"Ema ayo kita berdua berangkat sekarang" ajak Aya sambil tetap melangkah menuju Ema sementara Ema yang sedang asyik menatap layar ponselnya tidak mendengar suara Aya
"Ema" panggil Aya seraya menepuk pundak Ema membuat Ema langsung menoleh ke sumber suara
"Ahhhhhh" teriak Aya begitu melihat wajahnya Ema yang belepotan dengan tepung terigu sementara Ema mendelik ke Aya
"Apaan sih mah ngga usah teriak teriak nanti di kira aku memperkosa mama" jawab Ema lalu meletakkan ponselnya ke saku celana pendek yang di pakai sementara Aya menatap nyalang ke Ema
"Mama kaget melihat wajah kamu yang kayak badut kalau buat wajah itu pakai bedak ngga usah pakai tepung terigu di kira mau memasak" ketus Aya sambil menatap tajam ke Ema sedangkan Ema tersenyum masam
"Mama wajahnya aku itu sudah cantik jadi entah pakai bedak atau pakai tepung terigu tetap saja wajah aku cantik" tegas Ema lalu berdiri hendak meraih tangannya Aya namun dengan cepat tangannya Aya menghindar bahkan bukan cuma tangannya Aya doang yang menghindar namun semua anggota tubuhnya Aya menghindar menjauh dari Ema
"Ema kamu jangan bikin malu mama walaupun wajah kamu cantik tapi kalau kamu pakai tepung terigu di kira ayam yang di oleskan tepung tunggu sebentar" oceh Aya lalu berjalan ke arah kamar mandi membuat Ema mengerutkan keningnya tapi tak ambil pusing dirinya langsung duduk manis lagi
Aya sampai di kamar mandi lalu Aya mengambil ember lalu Aya mengisi embernya tersebut dengan air yang sangat penuh lalu Aya membawa ember tersebut keluar dan menghampiri Ema yang sedang duduk manis seperti tak punya dosa lalu Aya meletakkan ember ke lantai membuat Ema yang sedang menatap ke arah ranjangnya lalu menoleh ke Aya sambil mengerutkan keningnya
"Katanya mau ke supermarket tapi kenapa mama bawa ember mama mau mengepel lantai tapi lantainya masih bersih ngga kena butiran tepung terigu atau butiran debu" oceh Ema menatap ke arah Aya sambil memicingkan satu mata tanpa menjawab Aya langsung mengambil ember tersebut lalu menyiramkan ember tersebut ke seluruh badannya Ema membuat Ema kaget menerima jurus dari Aya
"Mama apa apaan sih kenapa menyiram airnya ke aku asal mama tahu aku sudah mandi tadi pagi dan sudah wangi jadi ngga usah menyiram air lagi ke aku" dengus kesal Ema menatap tajam ke Aya sedangkan Aya tersenyum licik
"Ema mama tahu kalau kamu sudah mandi dan sudah bersih serta wangi tapi tujuannya mama menyiram kamu pakai air itu untuk membersihkan tepung terigu yang ada di wajahnya kamu" jelas Aya mendelik ke Ema sementara Ema tercengang kalau cuma menghilangkan tepung terigu di wajahnya bisa menggunakan tisu atau kapas juga hilang kenapa malah menyiram pakai air sehingga seluruh badannya basah semua
"Kalau mama cuma mau membersihkan tepung terigu di wajahnya aku tinggal pakai tisu atau pakai lap juga bakalan kenapa repot repot pakai air kan pakaian aku, celananya aku, rambutnya aku pokoknya seluruh tubuhnya aku basah semua nanti malah aku di kira habis melakukan hubungan intim di siang bolong gara gara rambutnya aku basah pokoknya mama harus tanggung jawab bajunya aku basah dan celananya aku basah" pekik Ema menaikkan suaranya sampai berpuluh puluh juta oktaf sedangkan Aya tersenyum tipis
"Biar kamu ngga pakai celana itu masa ke supermarket kayak mau manjat pohon pakai celana pendek kamu belajar di tuduh melakukan hubungan intim oleh banyak orang soalnya mama yakin setelah kamu menikah pasti kamu sama suami kamu bakalan melakukan hubungan intim di setiap waktu biar mama yang mencari pakaian dan celana yang akan kamu pakai ke supermarket sekarang kamu mandi dulu supaya bersih" perintah Aya membuat Ema mendelik ke Aya
"Aku kenyataannya ke supermarket bukan manjat pohon terserah orang mau menuduh apa walau aku sudah menikah juga aku sama suami aku ngga bakalan melakukan hubungan intim siang bolong kayak gini paling aku sama suami aku melakukan hubungan intim pas malam bilang saja mama mau ngga ngebolehin aku pakai pakaian dan celana tadi pakai cari gara gara menyiram seluruh tubuh aku supaya basah semua aku mau mandi dulu dari pada mengobrol sama mama" tegas Ema lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri semetara Aya melangkah ke almari pakaian miliknya Ema untuk mencari pakaian atau celana yang cocok untuk Ema