Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Panas Dalam Kerinduan
Alea berada di rumahnya terlihat begitu gelisah, sejak tadi mondar-mandir seperti setrikaan sembari memegang ponselnya.
"Jadi Raidan sudah kembali, lalu mengapa tidak mengabariku jika sudah pulang? Apa menurutnya itu tidak penting, saat pergi dia berpamitan kepadaku dan sekarang kepulangannya aku bahkan mendengarnya dari Mama dan Papa," kegelisahannya ternyata hanya karena Raidan.
Alea membuang nafas perlahan ke depan dengan pipinya tampak menggembung dan kemudian memegang rata perutnya.
"Bukan aku yang merindukannya melainkan anak yang ada di dalam kandunganku. Entahlah semenjak aku hamil, aku terus saja ingin dekat dengannya, mungkin anak ini juga mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya, jadi membuatnya terus ingin mendekatkan diri dengan ayah biologisnya,"
"Aku selalu mengharapkan kehadiran Mas Dharma dalam kehamilanku, tetapi Mas Dharma justru tidak peduli sama sekali, tidak memberi perhatian dan justru menyerahkan kepada kedua orang tuanya. Apa karena anak ini bukan anaknya dan dia merasa tidak perlu memberikan perhatian apapun. Tetapi dia yang memintaku melakukan semua tindakan bodoh ini,"
Alea hanya bisa bercerita sendiri dan menjawab sendiri semua perkataannya. Alea benar-benar galau saat ini.
Dratt-dratt-dratt.
Alea dikagetkan dengan suara ponselnya dan dengan cepat melihat panggilan tersebut, tanpa kekecewaan di wajahnya sepertinya orang yang diharapkan menghubunginya tidak meneleponnya.
"Hallo. Ma!" sapa Alea tampak tidak semangat mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Alea, apa kamu di rumah?" tanya Liana.
"Iya benar," jawab Alea.
"Mama sudah menyuruh Daniel untuk menjemput kamu. Papa kamu mengatakan kamu sangat pintar dalam menganalisis dokumen. Jadi Papa kamu saat ini berada di Luar Kota dan minta tolong kepada kamu untuk menyelesaikan dokumen yang dipegang oleh Daniel. Kamu bisa meminta bantuan Raidan jika mengalami kesulitan. Raidan saat ini ada di kantor!" jelas Liana.
"Maksud Mama, aku kekantor untuk meminta bantuan Raidan menyelesaikan dokumennya?" tanya Alea memastikan.
"Jika kamu tidak keberatan," jawab Liana.
"Baiklah. Alea juga jenuh tidak melakukan apapun," sahut Alea.
"Ya sudah kalau begitu kamu langsung siap-siap saja, Daniel mungkin saat ini sudah berada di jalan," ucap Liana.
"Baik. Ma," sahut Alea mematikan telepon tersebut.
"Jadi sekarang aku harus ke kantor untuk meminta bantuan pada Raidan," batin Alea, perintah dari ibu mertuanya itu sepertinya hal yang membuatmu tiba-tiba saja ada excited ingin bertemu.
******
Alea saat ini sudah berada di dalam mobil yang disetiri oleh Daniel. Alea tetap saja terlihat gelisah duduk di kursi belakang dan sebentar-sebentar melihat ponselnya.
"Nona kita langsung ke kantor atau Nona ada hal yang dilakukan lagi?" tanya Daniel.
"Saya langsung ke kantor saja," jawab Alea.
"Baik Nona kalau begitu," sahut Daniel melanjutkan menyetir ke tempat tujuan.
Tidak lama akhirnya Alea sampai juga di kantor Raidan, kedatangan Alea sudah pasti diketahui oleh Raidan karena sebelumnya diberitahu ayah mertua Alea.
Sekretaris Raidan mengantarkan Alea sampai ke depan pintu ruangan Raidan. Alea terlihat begitu gugup bertemu dengan Raidan.
Perasannya memang tampak tidak biasanya, beberapa kali mengatur nafas dengan mengetuk pintu tersebut dan tidak lama akhirnya pintu itu terbuka.
Orang yang dia pikirkan belakangan ini sudah berdiri di hadapannya.
"Alea," sapa Raidan membuat Alea tersenyum tipis.
"Hmmm, aku data menemani kamu karena..."
"Om Wijaya sudah mengatakannya kepadaku," sahut Raidan memotong kalimat tersebut.
"Masuklah!" ajak Raidan membuat Alea menganggukkan kepala.
Raidan mempersilahkan Alea duduk di sofa, Alea jika tidak bisa basa-basi dan langsung saja menyampaikan niatnya untuk menunjukkan dokumen-dokumen yang akan dibantu oleh Raidan.
"Maaf jika harus merepotkan kamu," ucap Alea merasa tidak enak saat melihat laptop yang baru saja dibuka oleh Raidan.
"Tidak apa-apa, aku justru senang bisa membantu kamu dan apalagi bertemu dengan kamu," jawab Raidan.
Alea tampak malu-malu dengan wajahnya memerah saling melihat dengan Raidan.
"Kamu kapan kembali?" tanya Alea akhirnya bisa basa-basi.
"Kemarin, maaf aku udah kesibukan sampai tidak bisa mengabari kamu," ucap Raidan.
"Kamu mengatakan hal seperti itu seolah-olah aku menunggu kabar dari kamu," sahut Alea dengan tersenyum tipis.
"Tetapi aku memang berharap kamu menunggu kabar dariku, karena sangat tidak mungkin kamu mengabariku," jawab Raidan.
"Begitu," sahut Alea kembali melanjutkan pekerjaannya.
Raidan jika terlihat membantunya segala kesulitan yang diperlukan Alea. Suasana hati Alea saat ini sudah pasti jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kegelisahannya sudah tidak menyelimuti pikirannya lagi karena sudah bertemu dengan Raidan.
Raidan dan Alea duduk terlihat semakin dekat, Alea belakangan ini memang ingin dekat-dekat dengan Raidan, hanya saja tidak mendapat kesempatan karena sudah dilarang oleh Dharma.
Sebenarnya perasaan Alea sejak tadi tidak dapat dikendalikan jantungnya terus berdebar dan entahlah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Alea terlihat fokus pada laptop tersebut, hanya berusaha setenang mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Raidan tiba-tiba saja memperhatikannya begitu lama. Alea menyadari bahwa ada sepasang mata sedang menatapnya membuat Alea melihat ke sebelahnya dan ternyata sesuai dugaan bahwa Raidan menatapnya begitu dalam.
Alea semakin gugup mendapatkan tatapan penuh arti itu.
Tangan Raidan tiba-tiba saja memegang perut rata Alea. Bulu kuduk Alea berdiri, sudah lama sekali tangan itu tidak pernah menyentuh dirinya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Raidan.
Sudah pasti ingin mengetahui bagaimana kondisi bayi yang ada di dalam kandungan wanita yang di dekatnya itu karena itu merupakan darah dagingnya. Apalagi dia mengetahui bagaimana Dharma tidak memberi perhatian kepada Alea.
Raidan juga berada di Luar Negeri dan selama beberapa hari juga tidak pernah menanyakan bagaimana Alea dan bayi itu.
"Baik-baik saja, aku baru saja memeriksakannya ke Dokter," jawab Alea.
"Syukurlah jika dia baik-baik saja," ucap Raidan.
Alea menganggukan kepala dengan keduanya kembali saling menatap.
"Apa aku boleh menyapanya?" tanya Raidan dengan suara berat.
Tatapan mata itu benar-benar menginginkan Alea. Jantung Alea berdebar semakin kencang di saat permintaan itu terucap dari mulut laki-laki yang dia pikirkan.
"Maaf jika aku lancang, aku hanya ingin mengetahui keadaannya secara langsung," ucap Raidan.
"Biarkan aku mengetahui keadaannya!" pinta Raidan dengan suara lembut tetapi ada penekanan bahwa dia menginginkan Alea.
Alea dengan perlahan menganggukkan kepala. Tidak munafik, belakangan ini dia sangat memikirkan Raidan, mungkin karena hormon di tubuhnya ingin selalu dekat Raidan, adanya keinginan untuk melakukan hubungan seksual, seolah-olah membuat kepalanya sakit dan terus gelisah.
Alea tidak mendapatkan semua itu dari Dharma dengan alasan karena dirinya hamil. Dharma pada kenyataannya tidak menyentuhnya setelah mereka menikah.
Karena mendapat persetujuan dari Alea, dengan cepat Raidan melumat bibir Alea. Perlahan Alea memejamkan mata ketika mendapat serangan itu.
Lumatan lembut dengan penuh sensasi itu dapat membuat Alea kembali terbuai dan lupa dengan dunianya. Ciuman dengan bertukar saliva itu sudah lama sekali tidak mereka lakukan, keduanya sebenarnya sama-sama menginginkan dan hanya saja sudah mendapat larangan dari Dharma.
Apalagi hubungan mereka semakin dekat di belakang Dharma, mereka seperti pasangan yang saling merindukan satu sama lain dan ingin melampiaskan kerinduan itu dengan ciuman yang semakin panas.
Ciuman itu semakin memanas dengan lidah keduanya saling bermain satu sama lain, hasrat satu keduanya semakin naik dan menginginkan satu sama lain. Ciuman itu kemudian berpindah ke leher jenjang Alea, jilatan demi jilatan yang di berikan Raidan dengan memberi tanda kepemilikan di sana.
Bersambung......