Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Makin Cinta
Bab 19
“Pak Langit, ada tamu. Ibu Maura, tapi di jadwal tidak ada janji temu dengan beliau.”
“Tante Maura, suruh beliau Masuk.” Langit meletakan telpon dan beranjak dari kursinya, pintu ruangan terbuka. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu memasuki ruangan.
“Tumben, sampai ke sini,” seru Langit lalu mencium tangan wanita itu.
“Ck. Eru, dia ….”
“Duduk dulu!” Mempersilahkan untuk menempati sofa, Langit menghubungi sekretarisnya mengantar minum.
“Aku dengar dari Meilan, tadi pagi Eru menemuimu. Ada masalah apa?”
Sudah bisa menebak maksud kedatangan istri dari mendiang pamannya itu, pasti mengkhawatirkan putranya.
“Tidak ada masalah, hanya bicarakan kegiatan magangnya. Mungkin kedepannya Eru akan memilih Yess TV,"
“Pasti karena perempuan itu.”
“Oh, maksudnya CInta.”
Maura menghela nafas, tangannya bersedekap. Sungguh ia gusar karena perubahan sikap Eru. Tidak biasanya ia mengatakan sibuk dan mengabaikannya. Dugaan terbesar perubahan itu karena Cinta, iya perempuan itu.
Langit terkekeh. “Eru sudah besar tante, dia sudah dewasa. Aku yakin walaupun dia memilih Yess TV bukan karena perempuan, tapi karena dia yakin dengan bisnis ini.”
“Tapi Eru berubah, sejak kenal perempuan itu.”
“Bagaimana kalau kita balik keadaannya. Eru sudah merubah hidup CInta.”
“Hah, mana mungkin.”
Langit menegakkan tubuhnya, ia harus mulai bicara serius pada tantenya ini. Mencari tahu ada masalah apa sampai Ayahnya ingin memisahkan Eru dan Cinta dan hubungan dengan kecelakaan lalu.
“Tante, kita abaikan dulu masalah Cinta dan Eru. Ada yang ingin aku tanyakan dan maaf kalau pertanyaanku memantik kesedihan dan luka lama.”
“Tanya apa?”
“Tante, dua puluh tahun lalu aku masih remaja. Belum paham dan tidak dilibatkan terlalu banyak dengan urusan keluarga besar. Malam di mana kecelakaan dan merenggut nyawa Paman Artha. Sebenarnya, apa yang terjadi?”
Maura menghela napas panjang, tatapannya beralih menghindari sorot mata keponakannya. "Langit... ada beberapa hal yang lebih baik tetap menjadi kenangan yang dimaafkan, bukan diungkit kembali."
"Dimaafkan oleh siapa, Tante?" kejar Langit, nadanya mendesak namun tetap tertahan agar tidak menarik perhatian pelayan. "Oleh keluarga kita? Atau oleh keluarga lain yang menjadi korban? Kalau Ayah ikut campur dan memastikan nama keluarga kita aman, bisa jadi situasi saat itu memberatkan paman sebagai penyebab kecelakaan.”
Maura tersentak. Wajahnya yang semula tenang mendadak pias. "Kamu... dari mana kamu tahu? Apa ayahmu?”
“Media dan aparat mungkin bisa dibuat tutup mulut dan menyelesaikan semua dengan kekeluargaan, tapi tidak menghapus bukti dan ingatan akan kejadian itu. Jadi, apa yang terjadi malam itu?”
Maura menarik nafas dan memijat pelan keningnya. “Aku kesini ingin bicarakan masalah Eru, bukan mengingat lagi insiden paling buruk sepanjang hidupku.”
“Karena penjelasan tante ada hubungannya dengan hidup Eru ke depan.”
“Apa maksud kamu?”
“Ada korban lain, tante.”
“Suamiku pun jadi korban, Eru harus kehilangan papinya dan Ayahmu sudah mengurus semua,” tutur Maura dengan nada tidak biasa.
“Dan korban lain juga kehilangan orangtuanya, lebih tragis dari Eru.”
Maura menelan saliv4, kisah yang sudah ditutup rapat kenapa harus diungkap lagi. Apa pula maksud Langit kalau hal ini ada hubungannya dengan kehidupan Eru.
“Malam itu, kenapa kalian sampai celaka?” Langit sudah bergerak lebih dulu, mencari tahu penyebab kecelakaan itu. Meski belum terungkap sepenuhnya.
“Apa yang terjadi malam itu?”
Maura menatap Langit dengan tatapan campur aduk—antara rasa sedih yang teramat dalam dan ketakutan yang mencekam. Suaminya – papi Eru bukan orang jahat dan tidak bermaksud mencelakai orang lain. Ia tidak bisa berbuat banyak saat Artha mendebat Akbar dan saudara lainnya terkait pembagian warisan dan
“Kenapa tidak tanya ayahmu saja.”
“Kenapa tidak aku dengar dari pandangan Tante sebagai salah satu korban.”
“Suamiku tidak bersalah, Papi Eru hanya salah paham.” kedua tangan Maura menutup wajahnya, ia mulai menangis.
***
“Mau take away nggak? untuk makan malam.”
“Hm, nggak ah. Udah kenyang aku, walaupun nanti mau makan lagi bisa beli aja atau masak mie di dapur kosan.”
“Pantesan pendek, makannya mie mulu.”
“Ya nggak gitu juga kali. Mungkin Ayah sama bunda, bukan keturunan galah kayak kamu.”
“Sejak kapan mereka nggak ada, sorry. Nggak usah jawab kalau berat.” Eru ingin mengenal lebih jauh mengenai Cinta juga keluarganya. CInta menunduk, terlihat kalau dia tidak ingin membicarakan masalah itu.
“Mau cerita?” tanya Eru. Saat ini mereka berada di resto masih di mall. Usai dari bioskop lapar kembali mendera dan Eru memilih private room karena ingin mengulik hal yang membuat gadis ini trauma. Meraih tangan Cinta dan menggenggamnya. “Aku sayang kamu, apapun yang kamu rasakan dan kamu alami setidaknya aku harus tahu. Kita bisa cari solusinya kalau memang itu sebuah masalah.”
CInta menjelaskan dengan lirih dan terbata, kejadian di malam itu yang dia tidak paham kalau orangtuanya tidak merespon panggilan dan tidak bergerak karena tidak lagi bernyawa.
“Malam yang menjadi mimpi buruk,” ucap Cinta dengan mata berkaca-kaca. “Sampai sekarang masih muncul dalam tidurku dan menyisakan trauma. Aku nggak bisa lihat dar4h apalagi kecelakaan. Seolah kembali ke masa itu. Aku sakit Ru, aku tidak normal.” Tangis Cinta pecah, Eru meraihnya dalam dekapan.
“KAmu bukan sakit, kamu kuat sudah bertahan selama ini. Sekarang ada aku, kita sembuhkan trauma itu.”
CInta menggeleng dan melepas dekapan Eru. “Nggak mungkin, itu nggak mungkin. Bisa jadi trauma itu karena rasa benci yang aku miliki,” tutur Cinta. “Agak lama setelah kejadian itu, aku dengar obrolan Uwa Asih dan Uwa Karta. Malam itu kami ditabrak, mobil yang ada di lokasi kejadian yang menabrak motor Ayah. Orang Tuaku meninggal karena orang itu. Sayangnya aku tidak tahu dia siapa, sampai sekarang.”
Eru menghela nafasnya, berat juga menjadi CInta. Dibayangi dengan trauma dan dendam.
“Masih yakin dengan perasaanmu, aku bukan gadis polos. Aku gadis dengan trauma dan dendam masa lalu.”
“Yakin, malah aku makin cinta. Aku janji akan temani kamu apapun yang terjadi. Kita pulihkan trauma dan hapus dendam dari sini.” Telunjuk Eru menunjuk dad4 Cinta. “Karena aku tahu di sini sebenarnya banyak sekali … cinta, termasuk untuk aku.”
“Sok tahu.”
Eru mengusap pipi Cinta dari air mata. “Ini udah boleh cium belum sih.”
“Eru!”
aku yakin di balik semua itu ada campur tangan akbar
mana tadi cinta bilang gakan maafin yg udh nabraknya lagi wlw udh tewas, trauma yg berat berkepanjangan karena ga ditangani. Ru gimana sikap kamu ke Cinta jgn jauhi, dia harus sembuh, dan mengikhlaskan ortunya yg tewas biar mereka tenang
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤