Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. PRAHARA KOLOR
Kesadaran terakhir Erina saat terbaring di meja operasi yang dingin adalah ketika ia menatap lampu-lampu bundar dengan cahaya putih terang memancar tepat di atas kepalanya.
Aliran obat bius di nadinya tak hanya menggelapkan pandang dan benaknya, tetapi juga menyeretnya kembali ke dalam mimpi absurd dengan alur tak terduga.
Jejak lingkaran cahaya putih yang tertinggal balik pelupuk mata Erina itu perlahan menjelma bakso bulat--lagi, dan jumlahnya ratusan--di dalam dunia mimpinya yang penuh warna.
Bakso-bakso itu berpakaian olahraga, berbaris rapi di lapangan bola, dan di atas panggung tempat audisi mencari ayah tiri yang sempat digelar di mimpi lain, Glioma Boxer sedang melakukan pemanasan kecil di bawah spanduk bertuliskan: SENAM SEHAT SEBELUM WAFAT, DISPONSORI OLEH PERSATUAN BAKSO NUSANTARA--NGGAK PAKE URAT!
"Selamat pagi dan semangat pagiii! Salam olah bakso!" seru Glioma Boxer, tangannya menggenggam toa putih agar suaranya terdengar hingga ujung lapangan. "Apa kalian siap untuk senam poco-poco di pagi yang cerah untuk jiwa Erina yang sepi karena belum punya jodoh sejati kali ini?"
"Yaaa!" sahut ratusan bakso itu serentak.
"Then let's gooo!"
Lagu poco-poco pun berkumandang, dan semua bakso kompak bergoyang poco-poco.
"Balenggang pata pata
Ngana pe goyang pica pica
Ngana pe bodi... POCO-POCOOO..." 🎶
"Erina, ayo ikut senam--haiiish, mager betul kau!" tegur Glioma Boxer sembari menuding Erina yang masih berdiri mematung di barisan belakang. "Pantes tumoran... udah doyan makan makanan berpengawet, kurang olahraga, stress mulu... hidupmu nggak sehat! Ck ck ck...!"
Erina terperangah.
YA KAU ITU TUMORKUUU! KALAU AKU SEHAT, MANA MUNGKIN KAU ADA DI SINI DAN BISA SENAM POCO-POCO BEGINI, KOCAK?!
Terbakar kesal, Erina pun ikut senam poco-poco dengan gerakan menghentak, energi dan ekspresinya seperti emak-emak turun ke jalan yang ikutan demo anti-pemerintah.
Begitu lagu dan senam selesai, sekujur tubuh Erina basah oleh keringat, namun terasa jauh lebih bugar.
Bakso-bakso di sekitarnya tiba-tiba menyusut--ukurannya semakin kecil. Bahkan ada beberapa yang menjelma kepulan asap putih dengan bunyi "duuut" seperti kentut, lantas lenyap tak berbekas di udara.
Lah?
Erina terperangah, bingung.
"Fiuuuh... langsing begini kan enak, berasa enteng. Beban hidup seakan juga berkurang--padahal enggak," Glioma Boxer mengusap keringat dengan sapu tangan, tubuh bundarnya entah bagaimana jadi sedikit lebih ramping dan berasap.
Seringainya pun mengembang di bawah kumis kecap-saus tomatnya.
"Karena sudah mencapai body goals, saatnya kita mengenakan gaun pengantin!" serunya riang.
Hah?
"Wedding Dress power--make up!" Glioma Boxer mengangkat tangannya dengan kemayu ke atas dan menyeru seperti Sailor Moon hendak berubah wujud.
Kelebatan cahaya warna-warni bagai pelangi muncul di udara dan membalut segalanya--termasuk Erina--dan dalam sekejap mata, semua sudah mengenakan gaun pengantin lengkap dengan veil, termasuk Erina.
APA LAGI INII?!
Erina hanya bisa bengong saat lapangan bola itu pun tiba-tiba didekorasi karpet merah, bunga-bunga, kursi-kursi putih, dan panggung pelaminan yang sangat megah--oleh bakso-bakso yang mengenakan gaun pengantin, dengan kecepatan mendekati kilat.
"Are you feeling the rush?
If so, then I think I know what's going on
And are we falling in love?
Say yes or no, yes or no, yes or no..." 🎶
Tiba-tiba Jungkook muncul dan menyanyi merdu di atas panggung pelaminan, mengenakan setelan jas putih menawan. Wajahnya yang luar biasa tampan menatap lurus Erina, senyumnya mengembang di antara lirik yang dilantunkannya dengan sangat indah.
"YES I DO! YES I LOVE YOU! JUNGKOOK JAGIYAAAA!"
Erina menjerit histeris dan berlari ke panggung.
BRUUKKK!!!
Namun sebelum ia bisa mencapai pujaan hatinya, tiba-tiba wajah dan tubuhnya terbentur kaca dengan keras--yang entah sejak kapan ada di depan panggung.
"Aduuuh!"
Benjolan besar mulai tumbuh di dahi Erina seiring ia mencoba bangun usai terkapar di atas karpet. Kepalanya terasa berdenyut-denyut lagi, membuatnya meringis.
"Kenapa...?"
Ia lagi-lagi melongo saat Glioma Boxer berdiri di depannya, persis di balik kaca, dan membentangkan spanduk kecil bertuliskan: "KACA INI UNTUK MELINDUNGI ANDA DARI KEHALUAN YANG TIDAK AKAN TERWUJUD."
HAH?!
"Annyeong, Erina..."
Di atas panggung, Jungkook berhenti menyanyi dan mengucapkan salam perpisahan. Perlahan ia pun menghilang sambil membuat finger heart.
"TIDAAAAAK! SUAMIKUUUUU!"
Erina mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di kepala, menjerit putus asa, hingga nyaris meneteskan air mata.
"Haissh! Berhenti halu! Dia bukan suamimu!" tegur Glioma Boxer sambil mengetuk kaca. "Kalau mau suami--nih! Yang tulus menolongmu dan anak-anakmu di saat sulit--Pemenang Audisi Ayah Tiri Nasional 2026, Alvin Hermawan!"
Glioma Boxer menggeser dirinya, dan di belakangnya muncul sosok Alvin--luar biasa tampan dalam balutan jas hitam dengan sekuntum bunga mawar merah tersemat di sakunya.
Kelopak-kelopak bunga beterbangan di udara, dan entah mengapa, wajah Erina pun merona.
"Erina..."
Alvin mendekat perlahan. Netra cokelat jernihnya mengunci tatapan Erina, membuat detak jantungnya meningkat seketika.
"Alvin..."
Lagu One Life yang dinyanyikan Ed Sheeran pun mengalun lembut di udara hangat yang kaya guguran bunga dan cahaya.
"And so I count to three and get on one knee
And I ask you
Darlin', honestly
I've waited all this time just to make it right
So I'll ask you (Tonight)
Will you marry me? Just say yes
One word, one love, one life..." 🎶
Alvin mengangkat tangannya ke arah kaca--seakan ingin menyapa, sorot matanya penuh cinta.
Bagai terhipnotis, Erina juga mengangkat tangannya, dan menempelkannya di kaca--persis di depan tangan Alvin yang terbuka.
Sedetik kemudian, kaca itu lenyap. Telapak tangan mereka pun bersentuhan--lembut dan hangat.
"Aku mencintaimu, Erina," ucap Alvin dengan suara dalam dan bergetar. "Maukah kamu menjadi istriku...? Izinkan aku menjadi ayah bagi anak-anakmu... izinkan aku menjaga kalian semua sampai akhir waktuku..."
Bulir-bulir bening kembali lolos dari sudut pelupuk mata Erina.
"Ya...," sahut Erina dengan suara dan dada bergetar, terharu luar biasa.
Tiba-tiba saja Glioma Boxer sudah mengambil peran dan posisi sebagai penghulu, dan dalam waktu singkat, Alvin dan Erina pun dinyatakan sah sebagai suami istri.
Pesta pun digelar sangat meriah. Glioma Boxer dan para bakso kembali bergerak lincah di lantai dansa dengan aneka lagu yang diputar bergantian--mulai dari Kuch Kuch Hota Hai, Sugar - Maroon 5, sampai lagu Sedang Ingin Bercinta - Dewa 19.
"Setiap ada kamu
Mengapa jantung ini
Berdetak lebih kencang
Seperti genderang mau perang
Setiap ada kamu
Mengapa darah ini
Mengalir lebih cepat
Dari ujung kaki ke ujung kepala
Aku sedang ingin bercinta karena
Mungkin ada kamu di sini aku ingin
Aku sedang ingin bercinta karena
Mungkin ada kamu di sini aku ingin..." 🎶
Bahkan Alvin ikut berjoget di lantai dansa--menerima tantangan beberapa bakso untuk adu tarian dan goyangan dengan mereka.
Erina cuma bisa bengong melihatnya sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal, kemudian tertawa.
"Erina..."
Erina menoleh, terkejut melihat Glioma Boxer rebahan di atas ketapel raksasa tak jauh di sebelahnya sambil tersenyum sedih.
"Ngapain kamu di situ?" tanya Erina bingung.
"Aku digusur," ungkap Glioma Boxer muram. "Nih..."
Glioma Boxer menunjukkan surat penggusuran di tangannya, yang sudah dibubuhi tanda tangan dokter spesialis bedah syaraf.
"Oh...," Erina mengerjap, bingung harus bereaksi apa. "Yah..."
"Jangan kangen aku, ya," kata Glioma Boxer dengan ekspresi sedih. "Biar cuma sebentar, aku senang kamu kenal aku, Erina... nggak banyak orang di luar sana yang sayang sama tumornya, seperti kamu sayang sama aku..."
"Hah?"
Dialog absurd itu benar-benar membuat Erina pusing.
"Ya, kamu sempat bersikeras mempertahankanku, tak mau kembali ke rumah sakit... jujur aku sangat terharu, kamu sebegitu dalamnya mencintaiku... huhuhu," Glioma Boxer menyeka air matanya yang jatuh dengan sehelai sapu tangan putih. "Tapi tak ada yang abadi di dunia ini... cinta kita pun tidak... hiks... hiks..."
Erina memutuskan mundur pelan-pelan, takut semakin hilang kewarasan.
"Tapi aku senang kamu menemukan cinta yang sepadan untukmu," Glioma Boxer tiba-tiba tersenyum dan menoleh ke arah Alvin yang masih adu break dance dengan beberapa bakso. "Dia jawaban dari semua doamu. Hadiah terindah karena akhirnya kamu tak lagi lari dari takdirmu sendiri. Kamu pantas mendapatkannya, Erina, dan aku ikut bahagia karenanya."
Erina mengerjap, pipinya kembali merona.
"Good bye, Erina! Aaaaaaa---kolorkuuuu!"
Kejadiannya begitu cepat--ketapel itu tiba-tiba terlontar. Glioma Boxer terlempar ke langit hingga lenyap--tetapi boxer merahnya entah bagaimana terlepas dan melayang turun hingga jatuh tepat di atas kepala Erina.
Heh?!
"ERINA!"
Alvin sudah tak lagi berdansa--ia memandang dan menegur Erina, berang dan terguncang.
"A-apa?" tanya Erina, bingung. Lapangan di sekitarnya mendadak sunyi, tak ada lagi sebutir pun bakso menjelma--hanya ada ia dan Alvin di sana.
"Tega kamu selingkuh?!" Alvin berteriak marah, wajahnya memerah. "Kita baru menikah--bahkan belum sempat belah duren--tapi kamu sudah mengkhianatiku dengan laki-laki lain?!"
Erina melongo beberapa detik.
"Al... kamu bicara apa?"
"Itu--kenapa kamu bawa kolor laki-laki? Itu bukan kolorku! Kolor siapa itu? Kamu selingkuh, kan?!" tuding Alvin murka.
"ASTAGA!" Erina buru-buru melempar boxer merah Glioma Boxer ke tanah, wajahnya pun memerah. "Kamu salah sangka, Al, ini bukan--"
"Kamu tega...," Alvin tampak begitu terluka--bahkan hilang akal. Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jasnya dan menempelkan moncong senjata itu ke pelipisnya.
"Al!" Erina memandang Alvin terguncang.
"Aku tak sanggup lagi...," Alvin tersedu hebat. "Selamat tinggal..."
DOR!
"ALVIN!"
Giliran Erina kini menangis hebat, berusaha membangunkan kembali Alvin yang tergeletak berlumuran darah, tetapi sia-sia.
"Jangan pergi... jangan tinggalkan aku seperti ini... tolong kembali... aku mencintaimu, Alvin...!"
***