NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Tepat setelah rapat pagi selesai, Juna berjalan menuju lantai paling atas gedung RTF Corp. Ia melangkah tenang, menuju ruangan Direktur Utama yang terletak di ujung koridor. Sesampainya di depan pintu besar bertuliskan Direktur Utama, ia berhenti sejenak, mengatur napas, lalu mengetuk pintu tiga kali dengan suara tegas.

‎‎"Masuk," terdengar suara berat dan datar dari dalam ruangan.

‎‎Juna membuka pintu itu perlahan dan melangkah masuk. Di balik meja kerja besar, duduk seorang pria berusia sekitar 35 tahun dengan penampilan sangat rapi. Wajahnya tampan namun terlihat dingin dan tidak banyak ekspresi, matanya tajam menatap dokumen di hadapannya. Dia adalah Regan Maheswara, pemilik sekaligus Direktur Utama RTF Corp.

‎‎Begitu melihat kedatangan Juna, Regan mengangkat wajah sedikit, lalu meletakkan pulpen yang dipegangnya. Tatapannya tetap tenang namun penuh pengamatan.

‎‎"Selamat pagi, Pak Regan," sapa Juna dengan sopan, lalu berdiri tegak di depan meja.

‎‎"Pagi. Ada keperluan apa?" tanya Regan singkat, suaranya tenang namun penuh wibawa.

‎‎"Mohon maaf mengganggu waktu Bapak. Saya ingin menyampaikan sesuatu terkait permohonan penambahan tenaga di divisi desain," jawab Juna langsung ke intinya.

‎‎Regan meletakkan pulpennya, menyandarkan punggung ke kursi besar, dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya tetap tajam menatap Juna.

‎‎"Lanjutkan. Ada calon yang cocok?"

‎‎"Benar, Pak," lanjut Juna yakin. "Saya memiliki kenalan, seorang wanita lulusan desain busana wanita yang cukup berbakat. Dia pernah berhenti berkarya beberapa tahun karena mengurus rumah tangga, namun sekarang ingin kembali mengembangkan karirnya. Saya kira dia bisa menjadi aset yang baik untuk tim kita."

‎‎Mendengar penjelasan itu, alis Regan sedikit terangkat. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Juna dalam diam seolah menimbang perkataan itu.

‎‎"Berhenti beberapa tahun?" ulangnya pelan, nada bicaranya terdengar ragu. "Dunia desain terus berkembang, tren berubah cepat. Apa jaminannya dia masih bisa mengikuti standar kerja kita? Dan ingat, Juna, disini saya tidak mempekerjakan orang hanya karena kasihan atau hubungan pribadi."

‎‎"Saya sangat paham prinsip Bapak, dan saya tidak bermaksud merekomendasikan secara buta," jawab Juna dengan tenang dan meyakinkan. "Meskipun lama tidak bekerja, dia terus mengikuti perkembangan tren dan masih rajin menggambar. Dia hanya butuh kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sendiri. Jika hasilnya tidak memuaskan, keputusan ada sepenuhnya di tangan Bapak."

‎‎Regan terdiam sejenak, matanya masih menatap tajam, namun kali ini ada sedikit perubahan di raut wajahnya. Ia selalu menghargai orang yang berani memberikan rekomendasi secara jujur tanpa menutupi kekurangan calonnya.

‎‎"Baiklah," ucapnya akhirnya dengan nada tegas. "Saya tidak akan menolak kesempatan, tapi saya juga tidak akan memberikan kemudahan. Suruh dia datang besok pagi jam sembilan tepat ke ruangan ini. Bawa semua portofolio dan hasil karyanya. Saya sendiri yang akan menilai. Jika dia benar-benar memiliki kualitas yang dicari perusahaan, dia boleh diterima. Jika tidak, jangan ada lagi permintaan semacam ini."

‎‎Juna tersenyum lega dalam hati, lalu mengangguk hormat. "Baik, Pak Regan. Terimakasih atas kesempatan yang Bapak berikan. Saya akan segera menyampaikan kabar ini padanya."

‎‎"Silakan kembali bekerja," perintah Regan sambil kembali menunduk pada berkasnya.

‎"Baik, Pak. Permisi," jawab Juna, lalu berbalik dan keluar dari ruangan.

‎‎Setelah keluar dari ruangan Regan, Juna mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi istrinya. Ia tidak sabar menyampaikan kabar penting itu.

‎‎"Halo, Sayang..."

-

-

-

‎Tak lama setelah menerima kabar baik dari Juna, Sella segera meluncur ke rumah kontrakan Risa. Ia membawa sebuah map berisi catatan dan nomor telepon, serta senyum yang tak bisa disembunyikan.

‎‎"Risa, aku ada dua kabar untukmu," ucapnya begitu masuk, lalu duduk di samping sahabatnya. "Yang pertama, Juna sudah berbicara dengan atasannya di RTF Corp. Besok pagi kamu dipanggil untuk wawancara langsung dengan Pak Regan, direkturnya. Yang kedua, kita akan segera bertemu dengan pengacara yang sudah aku janjikan, Pak Gunawan."

‎‎Risa mengangkat wajah, matanya berbinar namun tetap tenang. "Baiklah, aku siap. Kalau begitu, kita bisa langsung ke tempatnya sekarang?"

‎‎Sella mengangguk. "Tentu saja. Pak Gunawan sudah menunggu di kantornya. Beliau pengacara yang berpengalaman, jujur, dan paham betul soal hukum perkawinan. Sudah banyak kasus yang beliau tangani dengan adil."

‎‎Setelah membereskan sedikit barang dan membawa dokumen penting, mereka berangkat menuju kantor hukum Pak Gunawan. Perjalanan tidak memakan waktu lama, dan dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah bangunan dua lantai yang rapi dan bersih.

‎‎Begitu masuk, resepsionis segera mengantar mereka ke ruang kerja utama. Di sana, duduk seorang pria paruh baya berpenampilan sopan dengan senyum ramah namun tetap berwibawa, dia adalah Pak Gunawan. Pria itu berdiri menyambut mereka dan mempersilakan duduk.

‎‎"Selamat siang, Bu Sella, dan selamat datang. Ini pasti Bu Risa ya?" sapa Pak Gunawan dengan nada lembut.

‎‎"Benar, Pak," jawab Risa dengan sopan, duduk tegak dan tenang.

‎‎"Baiklah, mari kita bicara terus terang saja," lanjut Pak Gunawan sambil membuka buku catatan di hadapannya. "Saya sudah diberi gambaran garis besar masalahnya oleh Bu Sella. Tapi agar saya bisa menyusun langkah yang paling tepat, tolong ceritakan semuanya secara jujur dan lengkap. Jangan ada yang disembunyikan, baik yang baik maupun yang buruk. Semakin jelas gambaran saya, semakin baik pula saya bisa melindungi hak-hak Anda."

‎‎Risa mengangguk perlahan, lalu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita dengan nada yang tenang namun lugas. Ia menceritakan perjalanan pernikahannya selama lima tahun - awal yang terasa indah, hingga akhirnya ia menemukan bukti-bukti yang membuktikan perselingkuhan suaminya.

‎‎"Pak, tujuan saya datang kesini hanya satu, saya ingin bercerai secara sah dan terpisah dari Mas Raga. Saya sudah tidak ada lagi rasa, dan tidak ingin melanjutkan hidup dalam rumah tangga yang penuh kebohongan dan rasa sakit."

‎‎Pak Gunawan mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat poin-poin penting tanpa menyela.

‎‎"Saya menghargai keterbukaan dan ketegasan Anda, Bu Risa. Sekarang, biasanya dalam kasus seperti ini penggugat juga mengajukan pembagian harta gono-gini sebagai hak yang dijamin hukum. Apakah Anda juga menginginkannya?"

‎‎Risa segera menggeleng tegas. "Tidak, Pak. Saya tidak menuntut pembagian harta apapun. Saya tidak ingin membawa atau mengambil apapun yang pernah kami miliki bersama. Cukup memutuskan ikatan pernikahan saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya."

‎‎Mendengar jawaban itu, Pak Gunawan sedikit tertegun, lalu mengangguk perlahan. "Sangat jarang melihat keputusan sekuat ini. Baiklah, saya mengerti prinsip Anda. Jika itu keinginan bulat Anda, maka gugatan akan disusun hanya untuk permohonan pencabutan ikatan perkawinan, tanpa tuntutan harta atau ganti rugi apapun."

‎‎"Saya akan menyusun draf gugatan dan melampirkan bukti-bukti yang Anda berikan. Setelah Anda tanda tangani, berkas akan segera didaftarkan ke Pengadilan Agama. Nanti surat panggilan akan dikirimkan ke alamat rumah suami Anda, dan jadwal sidang pertama akan ditetapkan." lanjut Pak Gunawan.

‎‎"Saya mengerti, Pak," jawab Risa lega. "Saya siap mengikuti semua prosesnya."

‎‎"Baik. Selama proses berlangsung, Anda tidak perlu bertemu atau berkomunikasi langsung dengannya jika tidak ingin. Segala hal terkait perkara ini akan saya sampaikan dan tangani. Anda cukup fokus menjalani hidup Anda ke depan," tambah Pak Gunawan menenangkan.

‎‎"Baik. Terimakasih Pak Gunawan." angguk Risa.

‎‎Setelah semua pembahasan selesai dan kesepakatan tercapai, Risa dan Sella berdiri untuk berpamitan. Mereka keluar dari kantor hukum dan masuk kedalam mobil Sella yang terparkir rapi dihalaman.

‎‎Suasana didalam mobil terasa lebih ringan. Sella sesekali melirik ke arah sahabatnya yang kini tampak lebih tenang, seolah beban berat yang selama ini memikul pundaknya perlahan terangkat.

‎‎"Untung semuanya berjalan lancar ya, Ris. Sekarang urusan hukum sudah berada di jalur yang benar, kamu tinggal menunggu kabar selanjutnya saja," ujar Sella sambil memegang kemudi.

‎‎Risa mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, Sel. Rasanya lega sekali. Terimakasih sudah menemaniku dan membantuku mengurus semuanya."

‎‎Belum sempat Sella menjawab, suara dering ponsel terdengar dari tas Risa. Ia merogoh tasnya dan melihat nama yang tertera di layar.

‎‎"Mama..."

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!