Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : TANDING SUCI DAN SATU PERMINTAAN
Mereka datang dari arah hutan pada waktu yang tidak ada yang memberitahukan sebelumnya, tapi seolah semua orang di pantai itu tahu bahwa hari ini adalah harinya.
Tiga rusa keluar dari celah antara pohon-pohon besar di tepi pantai dengan langkah yang tidak tergesa-gesa apalagi ragu, dan di atas punggung masing-masing ada seorang penunggang. Rusa-rusa itu bukan hewan biasa. Tingginya melampaui tinggi manusia dewasa yang berdiri, tubuhnya lebih lebar dari kuda terbesar yang pernah ada di kandang istana Long Yuan, dan tanduk-tanduknya bercabang dalam pola yang terlalu simetris untuk disebut kebetulan alam.
Penunggang paling depan berpakaian berbeda dari yang dua di belakangnya. Jubahnya lebih gelap, lebih berlapis, dengan bordir di bahunya yang terlihat bahkan dari jarak dua puluh langkah. Sedangkan di wajahnya, melekat topeng hidung panjang yang sama dengan yang dikenakan pengikut di bawah tanah, tapi bahan topeng ini lebih berat dengan ukiran yang tidak ada di topeng para pengikut biasa.
Barisan Long Yuan sudah terbentuk di pantai sejak setengah jam lalu. Panglima Perang Qinghan di depan, Chen Mo setengah langkah di belakang dan sedikit ke kanan, dan di belakang mereka kru-kru yang bisa berdiri sudah berdiri dalam formasi yang tidak sempurna tapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka ada dan mereka tidak sendirian. Panji Long Yuan di menara bergerak ditiup angin, warna merahnya mencolok di antara biru laut dan hijaunya hutan.
Sementara Haifeng berdiri di sisi kanan Qinghan, satu langkah lebih ke belakang, dengan Pedang Samudera di punggungnya dan kompas Dao di saku bajunya karena kebiasaan.
Penunggang depan pun menghentikan rusanya tepat di jarak yang cukup untuk memastikan bahwa percakapan bisa dilakukan tanpa harus berteriak tapi cukup jauh untuk menunjukkan bahwa mereka tidak datang menyerah. Kemudian, dengan gerakan yang sangat disengaja dan sangat lambat, tangannya bergerak ke wajahnya sebelum melepas topeng itu.
Wajah di baliknya adalah wajah seorang pria yang usianya sulit ditebak karena semua tandanya saling bertentangan. Garis-garis di wajahnya mengatakan tua, tapi matanya mengatakan sesuatu yang berbeda. Tatapan yang tidak bisa dimiliki oleh orang yang hanya hidup dalam satu generasi.
Matanya menyapu seluruh barisan Long Yuan dari kiri ke kanan, tidak melewatkan siapa pun, sebelum akhirnya berhenti dan berbicara.
Bahasa yang keluar dari mulutnya bukan bahasa yang dikenal oleh siapa pun di barisan Long Yuan, panjang dan berirama dengan cara yang menyerupai nyanyian tapi bukan nyanyian, setiap kata terdengar seperti sudah diucapkan ribuan kali sebelumnya oleh mulut-mulut yang berbeda.
Oleh sebab itulah Qinghan menoleh ke adiknya.
Haifeng sendiri sudah mendengarkan sejak kalimat pertama, kepalanya sedikit miring, mulutnya bergerak pelan mengikuti beberapa kata yang dia kenali. "Dia menyebutkan nama," bisik Haifeng. "Dan namanya adalah Narakala, perwakilan resmi Pemimpin Sejati Sekte Penguasa Dalam." Dia terus mendengarkan. "Pemimpin Sejati mereka sudah mengambil keputusan tentang kehadiran kita. Mereka tidak akan menggunakan kekerasan langsung. Sebagai gantinya, mereka menawarkan..." Haifeng berhenti sebentar di satu frasa yang diulang dua kali oleh Narakala. "Tian Xue Bi. Secara harfiah, Tanding Darah Langit. Semacam duel sakral yang dalam tradisi mereka tidak bisa ditolak oleh pihak mana pun yang menginginkan sesuatu dari tanah ini."
"Lalu apa isinya," kata Qinghan.
Haifeng mendengarkan lagi. "Satu orang dari sekte, satu orang dari kita. Duel satu lawan satu sampai mati. Kalau kita menang, mereka akan memberikan semua informasi yang kita minta tentang Pulau Xuanyuan dan perairan di sekitarnya." Dia mendengarkan kalimat selanjutnya dan mengerutkan dahi sedikit sebelum menerjemahkan. "Tapi jika kita kalah, kita harus meninggalkan pulau ini dalam satu hari. Semua senjata sampai perlengkapan harus diserahkan. Dan..." Dia berhenti.
"Dan apa," kata Qinghan.
"Pakaian kita harus ditanggalkan sebagai simbol kekalahan yang memalukan. Kita pulang dalam keadaan itu."
Suara yang keluar dari tenggorokan Qinghan adalah suara yang Haifeng belum pernah dengar dari kakaknya sebelumnya. Terlalu pelan untuk disebut geraman, terlalu keras untuk disebut hembusan napas biasa.
"Aku lebih memilih membunuh mereka semua sekarang juga," kata Qinghan begitu datar.
"Kak." Haifeng meletakkan tangannya di lengan kakaknya. "Itu bukan pilihan yang kita miliki kalau kita mau informasinya. Orang mati tidak bisa berbicara."
Qinghan menatap perwakilan itu, kemudian menatap adiknya. "Mereka merancang ini untuk seseorang yang bukan pendekar. Mereka tahu siapa yang akan menjadi perwakilan kita."
"Aku tahu."
"Maka kau tahu aku yang seharusnya maju."
Haifeng tidak menjawab langsung. Sebaliknya, dia berbalik menghadap Narakala dan berbicara dalam bahasa setempat yang patahannya masih kasar tapi cukup dimengerti, menyatakan bahwa perwakilan Long Yuan ingin mengajukan diri sebagai penantang dalam Tian Xue Bi adalah Panglima Perang Wei Qinghan, dan bahwa sekte mereka terlalu penakut untuk menghadapi lawannya yang sebenarnya.
Narakala mendengarkan terjemahan dari salah satu pengikut di dekatnya, kemudian menjawab dengan senyuman yang sangat singkat. Bahasa yang dia gunakan kali ini lebih pendek. Haifeng menerjemahkan tanpa jeda. "Dia bilang aturan Tian Xue Bi sudah ditetapkan sejak sekte ini berdiri. Pihak yang meminta informasilah yang menentukan wakilnya, bukan mereka. Mereka tidak memilih lawannya."
Qinghan memandang Narakala dengan cara yang membuat beberapa kru di belakangnya mundur setengah langkah secara otomatis.
"Haifeng," kata Qinghan, masih menatap Narakala, "aku tidak akan mengizinkan ini."
"Kak." Haifeng berdiri di depan kakaknya sehingga Qinghan harus mengalihkan pandangan ke wajahnya. "Tolong percayalah padaku."
"Ini bukan soal kepercayaan."
"Kalau begitu soal apa?"
Qinghan tidak menjawab. Matanya bergerak dari wajah adiknya ke bilah Pedang Samudera di punggungnya, lalu kembali ke wajahnya. Ada sesuatu di sudut matanya yang Haifeng hampir tidak pernah lihat di sana.
"Aku yang membawa semua orang ke sini," kata Haifeng lebih pelan. "Kapal yang hancur, orang-orang yang hilang, orang-orang yang mati, semua itu karena aku mengajak mereka berlayar mengikuti kompas buatanku. Ini tanggung jawabku, Kak. Bukan tanggung jawabmu."
"Kau bukan yang meminta badai itu datang."
"Tapi aku yang meminta mereka semua untuk ikut." Haifeng tidak bergerak. "Kalau kau mau memintaku sesuatu, minta aku untuk menang. Jangan minta aku untuk mundur."
Qinghan menutup matanya selama satu detik. Ketika membukanya lagi, matanya masih berkaca-kaca, tapi ekspresi di sekitarnya sudah kembali ke sesuatu yang lebih keras.
"Sampaikan pada mereka," kata Qinghan, "bahwa Sekte Penguasa Dalam tidak tahu apa sebenarnya Kekaisaran Long Yuan itu. Mereka akan menyesalinya."
Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah menara tanpa menoleh lagi.
Lantas Haifeng menghadapi Narakala. Mengambil napas satu kali yang tidak terlalu panjang. Kemudian berbicara dalam bahasa setempat yang patah-patah tapi cukup jelas, menyatakan bahwa Long Yuan menerima tawaran Tian Xue Bi, dan bahwa wakil Long Yuan dalam duel itu adalah Wei Haifeng.
Kemudian, dalam bahasa yang sama, dia menyampaikan pesan kakaknya kata per kata.
Narakala mendengarkan semuanya. Kemudian matanya bergerak dari atas ke bawah, menilai pemuda bermata biru gelap di hadapannya dengan cara seorang penjagal menilai binatang sebelum bekerja.
Senyuman yang muncul sesudahnya pun tidak menyembunyikan apa pun tentang apa yang ada di baliknya.