"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Hadiah dari Zayn
Bab 19— Hadiah dari Zayn
"...atau loe mau, gue bikin jantung ayah kembali kumat, hmm?" ancam Zayn.
Varisha langsung mendongak, air matanya kembali jatuh lagi.
"Kamu jangan gila, mas. Dia itu ayahmu!" kesal Varisha. Ia tahu Zayn tidak akan main-main soal hal ini. Ia sangat mengenal pria itu. Zayn hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Gue gak peduli," balas Zayn enteng sambil tersenyum menyeringai.
Seringaian yang selalu Zayn tunjukkan padanya.
"Ayo!" Zayn langsung menggendong tubuh Varisha, mengangkat tubuhnya layaknya sebuah barang.
"Tongkatku!" ucap Varisha saat melihat tongkat dan kopernya yang tertinggal.
Namun, Zayn seolah tak peduli. Ia langsung memasukkan tubuh Varisha ke dalam mobil secara paksa. Tak peduli jika kepala Varisha sampai terbentur.
"Akh!" Varisha menyentuh bagian belakang kepalanya.
Sudah berapa kali kepalanya terbentur bulan ini karna ulah Zayn yang tidak berperasaan.
Zayn mulai menyalakan mobil miliknya dan meninggalkan area tersebut dengan cepat. Varisha hanya bisa menatap tongkat dan koper miliknya dengan pandangan nanar.
"Berhenti, mas! Berhenti!" teriak Varisha sembari memukul lengan Zayn sekuat tenaga.
CKITT!
Zayn mengerem secara mendadak.
"Apa loe mau kita mati, hah?!" teriaknya sembari mencengkram leher Varisha.
Wanita itu merasa tercekik.
"Akh!"
Ia merasa kesakitan sekali.
"Aku lebih baik mati," balas Varisha dengan susah payah.
Namun, Zayn yang mendengarnya semakin kesal.
Ia melepaskan cengkeramannya di leher Varisha dan malah menggigit area leher wanita itu.
Varisha meremas rambut Zayn dan mencoba memukul punggung pria tersebut.
Ia hanya bisa memejamkan mata menahan rasa sakit.
Hingga akhirnya Zayn melepaskannya, masih dengan tatapan tajam, tak peduli dengan kesakitan yang dirasakan Varisha.
"Awas saja kalau loe bilang mau mati lagi.Hidup dan mati loe itu hanya ada di tangan gue." ancam Zayn.
Varisha membuang pandangannya ke arah jendela mobil. Ia hanya bisa memejamkan mata menahan rasa sakit yang dirasa.
Suaminya ini gila.
•••
Sedangkan di sisi lain, Adinda sedang berada di dalam kamarnya. Kamar yang berbeda dengan Zayn. Ia sedari tadi sedang uring-uringan di atas ranjang dengan hanya mengenakan lingerie. Ia sibuk memainkan ponselnya menunggu balasan dari Zayn yang tak kunjung datang.
"Dia ke mana sih?" kesal Adinda yang kini menatap jam yang sudah menunjukkan pukul dua malam.
"Ishh, menyebalkan!"
Adinda langsung melempar ponsel tersebut asal ke atas ranjang.
Di sisi lain, Zayn berjalan terlebih dahulu di depan, melewati beberapa lorong kamar. Dan Varisha tentu saja berjalan pincang jauh di belakangnya dengan hanya berpegangan pada dinding lorong.
Keadaan Varisha begitu kacau.
Hingga akhirnya, Zayn masuk ke dalam lift.
"Mas Zayn!" panggil Varisha saat Zayn menutup pintu lift dengan sengaja.
Pintu kembali terbuka.
"Kamar hotel ada di lantai dua puluh nomor 1004. Aku tunggu sepuluh menit. Kalau loe tidak sampai juga, gue akan melakukan hal buruk pada ayah dan ibu. Dan jangan lupa naik tangga ya, sayang," ejek Zayn lalu langsung menutup pintu.
Pintu pun tertutup.
"Mas!" ujar Varisha sembari menggedor pintu lift berulang kali.
"Kamu manusia brengsek?" teriak Varisha begitu putus asa.
Ia menatap sedih tangga yang berada di samping lift.
Sepuluh menit dengan tangga dan dalam kondisi kaki seperti ini?
Zayn begitu keterlaluan.
"Hiks... demi ayah dan ibu yang sangat mencintaiku. Aku rela melakukan apa pun untuk mereka," lirih Varisha kembali menyeka air matanya.
Dengan susah payah Varisha menaiki anak tangga meski harus menahan rasa sakit di kaki sebelah kirinya.
Selama menaiki anak tangga, Varisha kembali mengingat peristiwa lalu.
Mengingat ucapan sang mendiang suami, Adam.
"Waktu kecil, Zayn begitu nakal sekali. Dia bahkan dengan sengaja meletakkan obat pencuci perut ke dalam makanan ayah dan ibu hanya karena dia cemburu. Kasih sayang ayah dan ibu hanya untukku saja. Aku kasihan dengan Zayn."
"Hal gila itu tidak boleh terjadi lagi," Varisha menggeleng pelan.
Saat ia mulai lelah, ucapan Adam kembali terlintas.
"Bahkan, dia pernah menyabotase kabel mobil milik ayah dan membuat ayah kecelakaan."
"Tidak akan aku biarkan," ujar Varisha sebagai penguat dirinya. Jasa Tuan Faruq dan Nyonya Lestari begitu besar dalam hidupnya.
Tak lama kemudian ia tiba di lantai dua puluh dan berdiri tepat di depan kamar 1004.
Cklek!
Zayn terduduk di atas sofa dengan pakaian santai dan kedua kaki diletakkan di atas meja.
"Wah, loe cepat juga ya!" ucap Zayn yang terdengar seperti ucapan selamat sekaligus ejekan.
Ia menatap penampilan Varisha dari atas hingga bawah yang tampak berantakan dan menyedihkan sekali. Setelah itu, ia kembali membuang muka menghadap televisi.
Varisha berjalan perlahan. Kakinya begitu sakit.
Ia memilih duduk di pinggir ranjang, tetapi melihat Zayn yang tidak menoleh sedikit pun.
Karena takut Zayn marah, ia kembali bangun dari ranjang tersebut.
Ia teringat matras, selimut cadangan, dan pakaian bersihnya berada di dalam koper.
Rasa pedih di lehernya masih terasa sampai sekarang.
Ia langsung masuk ke kamar mandi sekadar membersihkan diri.
Ia berjalan pincang dengan susah payah.
•••
Tak lama, Varisha keluar dari kamar mandi.
Suasana kamar sudah remang-remang dengan hanya disinari lampu tidur.
Ia juga melihat Zayn yang sudah tidur di atas ranjang.
Varisha pun memilih duduk di atas sofa.
"Malam ini aku akan tidur di sini saja," batin Varisha sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Ditemani sepinya malam, Varisha kembali mengingat Adam yang selalu menyelimuti dirinya sebelum tidur.
Dan kini?
"Sudahlah, Varisha. Yang berlalu biarlah berlalu," batinnya mencoba memejamkan mata.
Setidaknya suhu di dalam kamar ini hangat sekali. Tanpa selimut pun ia sudah cukup hangat.
Karena begitu kelelahan dengan hari yang melelahkan, Varisha perlahan memejamkan matanya.
•••
Sinar matahari memaksa Varisha membuka matanya.
Ia tidur begitu nyenyak.
Ia kaget saat melihat ada selimut.
Dan ia semakin kaget saat menyadari dirinya sudah berada di atas ranjang.
"Sejak kapan aku tidur di sini? Apa aku tidur sambil berjalan?" tanya Varisha sembari mencari sosok Zayn di sekitar kamar.
Kosong.
Bahkan, ia melihat sebuah abaya berwarna vintage khaki dan Khimar dengan warna yang sama tergeletak di atas ranjang.
"Zayn melakukan ini untukku? Apa aku mimpi?" tanya Varisha lagi sembari mencubit pipinya pelan.
"Bahkan, dia juga memberikan pakaian ini?"
Varisha menatap kagum sebuah abaya dan Khimar.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka lebar, menampilkan sosok Zayn yang keluar hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
"Jangan ge-er. Gue ngelakuin itu karena tadi ayah dan ibu ada di sini," ucap Zayn yang mendengar perkataan Varisha dari dalam kamar mandi.
Ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Meski Zayn kejam dan suka membullynya. Tak bisa Varisha tak bisa menyangkal jika tubuh pria itu memang bagus.
"Terima kasih untuk pakaiannya," ujar Varisha tersenyum tipis menatap pakaian yang begitu indah tersebut.ini pemberian pertama dari Zayn setelah mereka menikah.
Zayn yang melihat hal itu langsung membuang wajahnya. Mendadak wajahnya jadi panas.
"Cepat loe mandi, pincang! Ayah dan ibu sudah menunggu di restoran bawah," perintah Zayn dengan tegas tanpa melihat Varisha.
Mendengar kata "pincang", senyuman di wajah Varisha langsung menghilang.
"Baik."
“Kok wajah gue jadi panas begini?”batin Zayn setelah masuk kedalam kamar mandi.
To be continued...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya