NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Yudha melangkah mendekat, ekspresinya sangat serius dan formal, kontras dengan suasana emosional yang sedang menyelimuti ruang tamu itu. Ia memberikan kode kepada Bi Mina, yang dengan cepat menggendong Dion menjauh. Suara tangis lirih Dion perlahan memudar di lorong lantai atas, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara tiga orang dewasa tersebut.

"Duduklah, kalian berdua," ujar Yudha tenang namun penuh otoritas.

Maya tetap berdiri diam, tangannya mencengkeram koper kecilnya. Namun, melihat sorot mata Yudha yang tidak biasa, ia akhirnya mengalah dan duduk di sofa terjauh dari Arlan.

"Saya tahu apa yang baru saja terjadi di ruang kerja semalam. Saya tahu luka yang kau bawa, Maya," Yudha memulai, menatap Maya dengan empati sebelum beralih tajam ke arah Arlan. "Dan Arlan, kau sudah bertindak di luar akal sehat sebagai seorang suami. Tapi, saya di sini bukan untuk menghakimi moral kalian. Saya di sini untuk menyelamatkan masa depan Dion."

Yudha meletakkan map tebal di atas meja marmer. "Sarah sudah ditahan, tapi proses hukum hak asuh ini belum selesai. Pengacara Sarah akan menyerang balik. Jika mereka tahu Maya pergi dan rumah tangga kalian hancur, mereka akan melaporkan bahwa lingkungan di rumah ini tidak stabil."

"Apa maksudmu, Yud?" Arlan bertanya dengan suara parau.

"Syarat mutlak untuk memenangkan hak asuh permanen adalah membuktikan bahwa Dion berada di lingkungan terbaik," Yudha menjelaskan secara teknis. "Figur orang tua yang lengkap, rumah tangga yang harmonis, dan stabilitas mental. Jika pengadilan melihat kalian sedang dalam proses perpisahan atau rumah tangga ini penuh sandiwara yang pecah, hakim bisa memutuskan bahwa Dion lebih baik berada di panti asuhan negara atau di bawah wali sementara sampai Sarah bebas dari penjara."

Maya tersentak. "Penjara tidak akan selamanya, kan? Maksudmu Dion bisa dikembalikan ke wanita itu di masa depan?"

"Sangat mungkin," jawab Yudha tegas. "Kecuali kalian bisa menunjukkan bahwa Dion memiliki keluarga yang utuh dan bahagia sekarang. Jika kalian berpisah hari ini, hak asuh Arlan akan goyah. Ekonomi yang cukup saja tidak akan menyelamatkan Dion jika kesehatan mentalnya terancam karena kehilangan figur ibu untuk kedua kalinya."

Yudha menatap Maya dalam-dalam. "Saya tidak meminta Anda melupakan apa yang dilakukan Arlan, Maya. Tapi jika Anda melangkah keluar dari pintu itu sekarang, Anda menyerahkan Dion ke tangan sistem hukum yang dingin. Kalian harus tetap terlihat harmonis, setidaknya sampai putusan final hak asuh inkrah."

Arlan menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan ,ada harapan yang egois sekaligus rasa malu yang mendalam. "Maya... demi Dion. Aku tidak meminta kau memaafkanku. Aku hanya memintamu menyelamatkan masa depannya."

Maya terdiam, menatap ke arah tangga tempat Dion baru saja dibawa. Di satu sisi, jiwanya berteriak untuk segera lari dari pria yang telah mengkhianatinya. Namun di sisi lain, bayangan Dion yang menangis di panti asuhan atau kembali ke pelukan Sarah suatu hari nanti adalah mimpi buruk yang tidak bisa ia biarkan.

"Harmonis?" Maya bertanya dengan nada getir. "Kau ingin aku berpura-pura bahagia di atas sisa-sisa harga diriku yang dia injak selama setahun ini?"

"Hanya sampai status hukum Dion aman," Yudha menekankan. "Setelah itu, terserah Anda. Tapi saat ini, masa depan Dion ada di tangan keputusan Anda hari ini."

Maya memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang kini jerujinya terbuat dari rasa cintanya kepada Dion. Ia menatap Arlan, lalu menatap kopernya, menyadari bahwa kebebasannya sekali lagi harus ditunda demi seorang bocah yang sudah ia anggap sebagai darah dagingnya sendiri.

Maya melepaskan pegangannya pada gagang koper dengan gerakan yang sangat lambat, seolah setiap detiknya adalah beban yang menghancurkan bahunya. Suara dentuman kecil koper yang mendarat kembali ke lantai marmer terdengar seperti vonis penjara baru baginya.

"Baik," bisik Maya, suaranya terdengar hampa. "Aku akan tinggal. Tapi jangan pernah berharap aku akan menjadi istri yang sama seperti sebelumnya, Arlan. Di depan pengadilan, di depan Dion, dan di depan dunia, kita adalah keluarga bahagia. Tapi di dalam rumah ini, kau adalah orang asing bagiku."

Arlan memejamkan mata, mengembuskan napas panjang antara rasa lega yang luar biasa dan kepedihan yang menusuk. Ia tahu ini adalah kemenangan yang sangat mahal. "Terima kasih, Maya. Apa pun syaratnya, akan kujalani."

Yudha mengangguk puas, meskipun tatapannya tetap menyimpan keprihatinan. "Keputusan yang bijaksana, Maya. Sekarang, dengarkan instruksi saya. Tim dari Dinas Sosial dan Perlindungan Anak akan mulai melakukan kunjungan rutin tanpa pemberitahuan. Mereka akan memeriksa interaksi kalian, suasana rumah, bahkan isi kamar. Kalian harus kembali tinggal dalam satu kamar."

Maya tersentak, kepalanya menoleh cepat ke arah Yudha. "Satu kamar? Itu berlebihan, Pak Yudha!"

"Ini prosedur, Maya," potong Yudha tegas. "Jika mereka menemukan kalian tidur terpisah, itu akan dicatat sebagai indikasi ketidakharmonisan. Sarah akan menggunakan celah itu untuk mengatakan bahwa pernikahan kalian hanyalah kontrak untuk menjauhkannya dari anaknya. Kalian harus terlihat sebagai pasangan yang saling mendukung dalam menghadapi trauma ini."

Arlan menatap Maya, mencoba mencari sedikit saja celah kelembutan, namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang tebal. "Aku akan memindahkan barang-barangku kembali ke kamar utama, atau aku bisa tidur di sofa kamar jika itu membuatmu lebih nyaman. Kita tidak perlu... melakukan apa pun. Hanya keberadaan kita di sana yang mereka butuhkan."

Maya tidak menjawab. Ia berdiri, meninggalkan koper kecilnya di ruang tamu seolah itu adalah simbol kebebasannya yang baru saja ia gadaikan.

"Lakukan apa pun yang perlu kau lakukan, Arlan. Siapkan panggung sandiwaramu," ujar Maya sambil melangkah menuju tangga. "Aku akan menemui Dion. Dia lebih membutuhkanku daripada dokumen-dokumen busuk kalian."

Saat Maya menaiki tangga, Yudha menepuk bahu Arlan yang masih mematung. "Kau mendapatkan kesempatan kedua, Arlan. Tapi ingat, ini bukan kesempatan untuk memaksa dia mencintaimu lagi. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kau bisa menjadi pria yang layak untuk dia maafkan. Jangan sia-siakan, karena kali ini, hukum tidak akan bisa membantumu jika kau gagal."

Arlan hanya diam, matanya terus mengikuti bayangan Maya yang menghilang di lantai atas. Ia telah memenangkan hak asuh Dion, ia telah mengalahkan Sarah, namun saat ia melihat ke sekeliling rumah mewahnya, ia menyadari bahwa ia sedang tinggal di sebuah istana megah yang tidak lagi memiliki jiwa di dalamnya.

Mulai hari ini, setiap senyum yang ia berikan pada Maya akan menjadi sebuah permohonan maaf yang tidak akan pernah terdengar, dan setiap tatapan dingin yang Maya berikan padanya akan menjadi pengingat abadi akan dosa yang ia simpan dalam amplop cokelat itu. Perang hukum mungkin baru saja dimulai, namun perang untuk mendapatkan kembali hati istrinya akan menjadi pertempuran yang jauh lebih berdarah.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!