Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Belati Jala yang Patah
Tangan Roy masih terangkat di udara, melayangkan senyum menjijikkan yang seolah mengumumkan bahwa pelarian kami telah tamat di tepian lumpur ini. Sorot lampu senter berdaya tinggi dari belasan arah mengunci perahu kayu kami tanpa celah, membakar mataku hingga menyisakan perih yang luar biasa.
"Tembak lambung perahunya! Jangan sampai umpan besarnya lecet!" teriak Roy, memecah keheningan rawa dengan perintahnya yang dingin.
Dor! Dor!
Letupan senjata api menyalak, memekakkan telinga. Peluru pertama menghantam pinggiran kayu perahu hingga serpihannya tepercik mengenai pipiku. Di saat moncong laras panjang lainnya bersiap menyusul, sebuah bayangan hitam melesat dari ujung buritan.
"Lari, Lara!"
Mbah Jarot berteriak parau. Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, tubuh kurus nelayan tua itu sudah melompat keluar dari perahu.
Dengan kaki telanjang yang langsung terbenam di lumpur rawa setinggi lutut, dia menerjang maju.
Tangan kanannya mengayunkan belati jala tua yang biasa dipakainya memotong jaring karang.
Bilah besi yang berkarat itu berkilat tipis di bawah sorotan lampu, menebas lurus ke arah pergelangan tangan pria berseragam hitam terdekat yang memegang senapan.
Sret! Argh!
Satu orang tumbang, senapannya terlepas dan jatuh terbenam ke dalam lumpur hitam yang berminyak. Serangan nekat Mbah Jarot yang tiba-tiba membuat barisan depan pasukan Baron kocar-kacir. Sorot lampu senter yang tadinya mengunci kami seketika bergoyang liar ke langit malam, mengacaukan arah bidikan peluru yang mulai dilepaskan secara acak. Nelayan tua bau sirih itu mengamuk tanpa rasa takut, memukul dan menusuk apa saja di depannya demi menciptakan dinding pembatas antara moncong senjata dan kami.
Itu adalah celah. Celah sempit dan berdarah yang dibukakan oleh Mbah Jarot.
"Kala, ayo!"
Insting jalananku berteriak keras. Aku tidak boleh menyia-nyiakan nyawa orang tua itu. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku mencencang ransel oranye di punggung, lalu mencencang kuat lengan Kala. Tangan cowok itu terasa teramat dingin, kulitnya bergetar hebat karena pengaruh dehidrasi air tawar yang membuatnya kehilangan daya.
"Lara... tinggalkan aku..." bisik Kala, napasnya memburu kasar di dekat telingaku. Tubuh tingginya limbung saat aku memaksanya berdiri di atas perahu yang bergoyang tidak stabil.
"Diam dan ikut aku!" bentakku setengah mati, menahan tangis yang mulai mendesak di sudut mata.
Aku menarik paksa lengan besarnya, menyeret tubuh kokoh itu untuk melompat bersamaku dari atas lambung perahu. Blar! Kami berdua jatuh berdebum ke dalam kubangan lumpur rawa yang dingin dan pekat. Kakiku langsung terasa berat, terisap oleh tanah amblas yang licin, namun amarah dan ketakutan memberi kekuatan tambahan pada otot-otot paku. Aku mencengkeram jemari Kala yang kaku, mengabaikan rasa perih saat akar-akar nipah yang tajam menggores pergelangan kakiku yang tanpa alas pelindung.
Kami mulai berlari menjauh, membelakangi kepungan lampu sorot, menyusup ke celah gundukan tanah di balik pohon bakau terdekat.
Bugh! Plak!
"Orang tua bangka sialan! Berani-beraninya kau!"
Suara teriakan Roy melengking di belakang kami, diikuti oleh bunyi deburan keras benda tumpul yang menghantam daging.
Refleks, aku menoleh sedikit ke belakang melewati bahuku. Melalui sela-sela batang bakau yang berpilin, aku melihat pemandangan yang membuat dadaku serasa dihantam godam besar.
Mbah Jarot sudah dikepung oleh tiga orang pria berbadan tegap. Belati jala di tangannya telah patah menjadi dua bagian akibat berbenturan dengan besi laras panjang. Sebuah hantaman keras dari popor senapan mendarat tepat di pelipisnya, membuat darah segar mengalir berbaur dengan air rawa yang hitam.
Mbah Jarot ambruk. Tubuh tuanya jatuh telentang di atas lumpur hidup, dikelilingi oleh sepatu bot pasukan Baron yang menginjak kain sarung kotak-kotaknya hingga kotor.
"Mbah!" jeritku, tenggorokanku tercekat.
Air mataku tumpah seketika, mengaburkan pandangan. Aku ingin berbalik. Logikaku menyuruhku kembali untuk menarik tubuh orang tua yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri itu. Namun, cengkeraman tangan Kala di jemariku mendadak mengerat dengan sisa tenaga terakhirnya. Mata emas cowok itu menatapku sayu, menggeleng pelan di tengah kegelapan.
"Jangan menoleh, Lara... lari," bisik Kala serak.
Suaranya terdengar begitu rapuh, sangat kontras dengan ukuran tubuhnya yang besar.
Rasa bersalah yang teramat sangat menikam dadaku hingga membuat napas pas-pasan ini terasa menyiksa. Jika aku kembali, kami bertiga hanya akan menjadi mayat atau pajangan di laboratorium bawah tanah Baron. Aku menghapus air mata secara kasar dengan punggung tangan yang kotor oleh lumpur, lalu kembali membalikkan badan.
Aku terus memaksa kedua kakiku yang mulai mati rasa untuk terus melangkah, menyeret Kala yang berjalan sempoyongan di sampingku. Setiap jengkah langkah terasa sangat berat karena lumpur hisap seolah ingin menahan kami di tempat ini selamanya. Di belakang, suara teriakan Roy kembali menggila, memerintahkan pasukannya untuk mengejar kami ke dalam hutan.
"Kejar mereka! Jalur air di depan buntu, mereka tidak akan bisa lolos jauh!"
Suara letupan senjata kembali terdengar beberapa kali, merontokkan dedaunan bakau di atas kepala kami. Kami terus berlari tanpa arah, menyusup lebih dalam ke area rawa yang tidak pernah dilewati oleh perahu nelayan mana pun.
Pohon-pohon bakau di sini tumbuh lebih rapat, akar-akarnya mencuat ke permukaan seperti tombak-tombak purba yang siap menusuk siapa saja yang datang tanpa izin.
Kegelapan kembali menelan kami saat jarak antara kami dan sorot lampu pasukan Baron mulai menjauh, terhalang oleh tebalnya dinding vegetasi rawa. Suara kecipak air dan deru langkah kaki para pengejar itu pelan-pelan mulai meredup, tergantikan oleh suara napas kami sendiri yang berbunyi putus-putus seperti mesin rusak.
Lutut Kala akhirnya menyerah. Tubuh besarnya ambruk ke depan, menjatuhkan diri di atas seonggok batang kayu bakau lapuk yang mengapung di atas lumpur. Aku ikut terjatuh di sampingnya, terduduk dengan dada yang naik turun tidak beraturan. Seluruh tubuhku gemetar, bukan hanya karena dinginnya air rawa, melainkan karena bayangan wajah Mbah Jarot yang bersimbah darah terus berputar-putar di dalam kepalaku.
Suasana di sekeliling kami mendadak berubah menjadi sangat sunyi yang mencekam. Hanya ada bunyi kecipak kecil dari kepiting rawa dan gesekan daun-daun rumbia yang ditiup angin malam.
Lampu senter kami sudah hilang entah ke mana saat melompat tadi, menyisakan kami berdua di tengah kegelapan total hutan bakau yang tidak terjamah.
Kami berhasil lolos untuk sementara waktu, namun kami tersesat di dalam labirin mati yang dingin, terluka secara emosional, tanpa persediaan air bersih, dan tanpa tahu apakah esok pagi kami masih bisa melihat matahari pelabuhan lagi. Aku memeluk ransel oranyeku erat-erat di dalam kegelapan, meredam tangis yang akhirnya pecah tanpa suara di samping tubuh Kala yang tidak bergerak.