Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kyai Sepuh
Dinginnya aspal trotoar merembes ke tubuh Aris yang masih lemah. Rasa sakit dari lukanya, ditambah dengan hantaman fisik dari satpam tadi, membuat dunianya berputar kencang. Dalam keputusasaan yang memuncak, kesadarannya perlahan memudar. Gelang perak di tangannya berkedip sekali, lalu padam, seolah menyerah pada takdir yang menolak Aris.
Saat kegelapan hampir sempurna merenggutnya, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang tenang—langkah yang tidak terburu-buru, namun memiliki wibawa.
"Anak muda, beban yang kau bawa terlalu berat untuk dipikul sendirian oleh pundak yang sedang terluka."
Itu suara pria tua yang berat namun menenangkan. Sebelum penglihatannya benar-benar hitam, Aris merasakan tubuhnya diangkat dengan tangan yang kokoh meski keriput.
*
Keesokan harinya.
Aris terbangun dengan aroma kayu gaharu dan dupa yang lembut. Ia tidak berada di rumah sakit, juga bukan di mansion mewah itu. Ia terbaring di atas tikar pandan di sebuah ruangan kayu yang sederhana dengan dinding bambu yang terbuka, memperlihatkan pemandangan sawah hijau yang tenang.
Di sebelahnya, seorang pria tua berjubah putih bersih sedang duduk bersila, memutar tasbih kayu di tangannya. Wajahnya teduh dengan janggut putih yang terawat. Itu adalah seorang Kyai sepuh yang dikenal warga sekitar sebagai pengasuh pesantren kecil di pinggir desa.
"Sudah sadar?" tanya Kyai itu tanpa menoleh. Suaranya sejuk, seperti embun pagi.
Aris mencoba duduk, meski kepalanya masih berdenyut. "Di mana... di mana saya? Siapa Anda?"
Kyai itu tersenyum, meletakkan tasbihnya. "Aku hanya orang tua yang lewat saat melihatmu tergeletak di jalanan semalam. Dunia ini luas, Nak, tapi hatimu tampak sedang terkurung di satu tempat saja."
Aris tertegun. Ia menatap jam tangan peraknya yang tergeletak di meja kayu di sampingnya. "Saya... saya harus kembali. Dia butuh saya."
Kyai sepuh itu mendekat, menatap Aris dengan mata yang seolah bisa menembus segala rahasia yang Aris sembunyikan, termasuk logam aneh di pergelangan tangannya. "Keinginanmu itu seperti air yang dipaksa mengalir ke atas. Kau lelah karena kau melawan arus yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta."
Aris tertunduk. "Tapi saya punya cara untuk melihat apa yang akan terjadi. Saya tahu masa depan, dan saya tahu saya bisa mengubahnya jika saya mau."
Kyai itu menggeleng pelan, tawanya halus. "Melihat masa depan bukanlah berarti menguasainya. Kau punya benda itu, tapi kau tidak punya kunci kedamaian. Kau sibuk berlari mengejar bayang-bayang, sampai kau lupa caranya berjalan di atas bumi yang nyata."
Aris terdiam. Ia merasa tertampar oleh kebenaran yang sederhana itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasakan dorongan untuk meretas, untuk memutar waktu, atau untuk melihat tombol merah masa depan. Di dekat Kyai sepuh ini, teknologi masa depannya terasa kecil dan sia-sia.
"Istirahatlah," ujar Kyai itu sambil berdiri. "Di sini tidak ada jam, tidak ada tombol masa depan. Hanya ada waktu yang dihabiskan untuk bersyukur. Mungkin di sini, kau akan menemukan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh benda perak di tanganmu itu."
Aris menatap Kyai itu melangkah keluar. Ia terdiam di ruangan yang tenang itu, memandang jam tangan peraknya dengan pandangan baru.
Kini, di tengah ketenangan pesantren tersebut, Aris mulai merenungkan segalanya.
**
Hari-hari di pesantren terasa seperti detoksifikasi bagi jiwa Aris. Di sana, waktu tidak lagi dihitung dalam detik atau sisa hidup, melainkan dalam irama salat, lantunan ayat, dan deru angin yang menyapu dedaunan bambu.
Aris mulai belajar menanggalkan ego yang selama ini ia bungkus dengan kecanggihan jam tangannya. Ia belajar menanam padi, membantu Kyai membelah kayu, dan berbaur dengan santri-santri lain yang tidak tahu apa-apa tentang teknologi masa depan atau perjalanan waktu. Mereka hanya tahu Aris adalah pemuda yang terluka dan sedang mencari kedamaian.
Suatu sore, saat senja berwarna keemasan membasuh halaman pesantren, Aris duduk di bawah pohon beringin tua bersama sang Kyai. Ia melepaskan jam tangan peraknya dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Kyai," suara Aris pelan, hampir tenggelam dalam suara serangga senja. "Dulu saya merasa bisa menjadi Tuhan atas waktu saya sendiri. Saya pikir dengan mengontrol masa depan, saya bisa melindungi cinta saya. Tapi nyatanya, semakin saya mencoba menggenggam, semakin semuanya hancur."
Kyai sepuh itu menyesap teh hangatnya, lalu menatap cakrawala. "Karena cinta yang murni tidak butuh kontrol, Nak. Cinta butuh keikhlasan. Melepaskan bukan berarti menyerah, tapi memberi ruang bagi takdir untuk bekerja sesuai kehendak-Nya."
Aris menatap jam tangannya. Tombol merah itu masih di sana, menggoda untuk ditekan demi sekadar mengintip apa yang terjadi pada Maya. Namun, untuk pertama kalinya, Aris merasa tidak butuh. Jika Maya memang ditakdirkan untuknya, maka jarak dan waktu tidak akan menjadi penghalang. Jika tidak, maka ia harus berdamai dengan kenyataan.
Dengan tangan yang stabil, Aris membuka penutup bagian belakang jam tangan peraknya. Ia melepas kristal inti yang selama ini menjadi sumber tenaga dari mesin waktu tersebut. Ia tidak menghancurkannya, ia hanya menonaktifkannya.
Aris merasa beban yang selama ini menyesakkan dadanya perlahan luruh. Ia bukan lagi Aris si pengelana waktu. Ia adalah Aris, seorang pemuda yang sedang belajar memaknai hidup sebagai sebuah hadiah, bukan sebagai proyek untuk diselesaikan.
Malam itu, Aris menatap bintang-bintang. Ia tidak tahu di mana Maya berada, ia tidak tahu apakah mereka akan bertemu lagi, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bebas. Ia tidak lagi takut akan hari esok.
***
Seiring berjalannya waktu di pesantren, Aris menemukan kedamaian yang sejati.
Namun suasana pesantren pagi itu sedang sibuk-sibuknya dengan rutinitas harian. Aris, yang kini sudah beradaptasi dengan kehidupan sederhana, sedang membersihkan halaman ketika langkah kaki ringan terdengar di gerbang kayu.
Seorang gadis cantik dengan gamis sederhana dan kerudung warna pastel berdiri di sana, membawa satu tas ransel kecil. Namanya Putri. Penampilannya begitu anggun, namun ada sorot mata yang penuh tekad dan ketenangan yang tidak biasa dimiliki anak seusianya.

"Assalamu'alaikum," ucapnya lembut kepada Kyai sepuh yang baru keluar dari ruangannya.
Setelah percakapan singkat dengan Kyai, Putri resmi diterima sebagai santriwati baru. Aris, sebagai santri senior yang sudah lama mengabdi, diminta Kyai untuk menunjukkan letak asrama putri yang terpisah oleh barisan pohon mahoni.
Saat Aris menunjukkan arah asrama putri, Putri hanya merespons dengan sopan dan sesekali bertanya tentang jadwal kegiatan harian di pesantren. Ia tidak menatap Aris dengan tatapan misterius atau memberikan kode-kode tersembunyi. Ia hanyalah seorang gadis yang benar-benar berniat menuntut ilmu, mencari ketenangan, dan memulai lembaran hidup yang bersih dari kebisingan kota.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor