Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Harus Bangkit
Malam sudah terlewatkan begitu cepat. Tidur Alea sepertinya cukup nyenyak karena merasa kelelahan semalaman. Sinar matahari yang masuk dari celah jendela membuat Alea perlahan-lahan membuka matanya.
Hal pertama kali dia lihat adalah pria tampan memakai kemeja putih yang terlihat meletakkan sesuatu di atas nakas. Pria yang menutup matahari itu diperhatikan begitu lama oleh Alea dan ternyata itu adalah Raidan.
Alea mengingat jelas bagaimana Raidan tadi malam menemani dirinya, menguatkan dan menenangkan dirinya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Raidan membuat Alea hanya menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Raidan.
"Hmmm, aku merasa tubuhku sedikit remuk dan juga suhunya terasa begitu hangat, mungkin karena kehujanan tadi malam," jawab Alea.
"Bangunlah, aku membuatkan teh jahe untuk kamu agar kamu merasa jauh lebih fresh dari sebelumnya," ucap Raidan.
Alea menurut apa yang dikatakan Raidan. Raidan membantunya untuk duduk dengan bersandar di kepala ranjang dan kemudian memberikan teh jahe tersebut.
"Kamu harus banyak-banyak minum, setelah ini minum air putih dan setelah itu kamu sarapan," ucap Raidan benar-benar memberikan perhatian yang sangat besar terhadap Alea
"Kamu menyiapkan sendiri untukku?" tanya Alea.
Kamar hotel itu memang bukan hanya untuk tempat peristirahatan saja dengan ranjang besar tetapi juga memiliki dapur mini.
"Aku hanya melakukan hal yang bisa aku lakukan," jawab Raidan.
"Terima kasih," ucap Alea merasa begitu sangat bahagia mendapat perhatian kecil itu.
Karena sudah disiapkan sarapan oleh Raidan. Alea tidak menunggu lama dan menikmati sarapan tersebut dengan lahap.
"Aku lega melihat kondisi kamu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya," ucap Raidan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Alea.
Raidan ternyata tidak menjawab dan justru memperhatikan Alea.
"Kamu mengikutiku?" tebak Alea.
Raidan menganggukkan kepala.
"Apa kamu sebenarnya sudah tahu bahwa Dharma memiliki hubungan lain dengan mantan sekretarisnya itu?" tanya Alea memastikan karena dari raut wajah Raidan terlihat menyimpan rahasia yang penuh dengan misteri.
"Raidan aku tidak butuh ekspresi yang seperti itu. Aku membutuhkan jawaban yang benar? Kamu sebenarnya sudah tahu apa tidak?" tanyanya lagi.
"Saya tidak banyak tahu dan hanya saja belakangan ini mereka memang sering bertemu dan aku anggap itu hanya sebatas pekerjaan saja," jawab Raidan.
"Tidak mungkin, kamu pasti sudah mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya, terbukti saat ini kamu berada di sini," sahut Alea.
"Alea tenangkan diri kamu," ucap Raidan tampak begitu khawatir.
"Aku tidak akan bisa tenang jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, alasan kamu berada di tempat ini sudah pasti berhubungan dengan mereka. Jawablah dengan jujur Raidan!" tegas Alea penuh dengan penekanan.
"Kamu sudah mengetahui perselingkuhan mereka? Sejak kapan kamu tahu semua ini dan katakan!" tegas Alea.
Mungkin Alea tidak memiliki keberanian untuk bertanya sendiri kepada Dharma Karena pada saat itu dia memilih pergi daripada menggerebek suaminya.
"Sebelum kalian menikah," jawab Raidan.
Alea sungguh kaget mendengar pernyataan jujur dari Raidan, Raidan adalah orang yang paling dekat dengan Dharma dan otomatis dia memang pasti mengetahui semuanya.
"Apah! jadi benar bahwa mereka memiliki hubungan sebelum menikah denganku?" suara lirih itu terdengar mengungkapkan kembali rasa sakit hatinya.
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu kepadaku? Kenapa membiarkan dia menjebakku dalam pernikahan seperti ini? aku mendapat pernikahan yang tidak wajar," ucap Alea terdengar begitu kecewa dengan Raidan.
"Maafkan saya Alea!"
"Hubungan kita tidak sedekat itu pada waktu itu. Saya benar-benar minta maaf kepada kamu atas apa yang terjadi? Saya merasa tidak memiliki hak untuk memberitahu semua itu karena hubungan kita bukan seperti yang saat ini," jelas Raidan.
Alea merasa terkhianati dalam pernikahannya benar-benar frustasi dengan menyibak rambutnya ke belakang. Sungguh menurutnya yang terjadi saat ini adalah hal yang paling bodoh dalam hidupnya.
"Jahat sekali kamu, Mas Dharma. Apa kesalahanku kepada kamu sampai kamu harus menipuku dalam pernikahan ini? Apa aku aku selama ini kurang baik kepada kamu? Aku bahkan tidak pernah neko-neko dalam hubungan kita dan kamu yang mempertahankan semuanya," batin Alea dengan air mata yang jatuh.
Alea bahkan menghentikan makannya, sudah tidak selera makan ketika menerima semua banyaknya kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.
Raidan duduk di pinggir ranjang berusaha untuk menenangkan Alea. Raidan memegang kedua tangan Alea dengan menatapnya dalam.
"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun dalam pernikahan ini. Selama ini kamu sudah melakukan semuanya dengan baik. Kamu menuruti permintaan Dharma, karena kamu juga terjebak oleh ancaman darinya. Kamu sama sekali tidak bersalah Alea dan sampai kapanpun Kamu tidak akan pernah bersalah," ucap Raidan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apa aku diam saja diperlakukan seperti ini? Apa aku berpura-pura tidak tahu apa yang dia lakukan? Apa aku akan tetap menjadi istri penurut dan tetap diam dia saat dia memperlakukan ku seperti ini dengan penuh kebohongan?"
"Apa aku akan melupakan dengan apa yang telah aku lihat? Bagaimana dia berkhianat kepadaku?"
"Aku melupakan bagaimana mereka berdua tanpa busana berada di atas ranjang membicarakan tentang diriku dengan penuh ejekan?"
Alea ternyata semakin tidak mampu mengendalikan dirinya? pertanyaan ini dan itu terus saja menyelimutinya seolah-olah membutuhkan jawaban dari Raidan.
"Alea semua saat ini ada di tangan kamu dan lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tidak bisa mengatakan ini dan itu kepada kamu karena semua ada pada kamu? Kamu yang memiliki tubuh dan memiliki hak untuk diri kamu. Aku hanya ingin kamu bahagia dan aku yakin kamu tahu caranya untuk membahagiakan diri sendiri," jawab Raidan.
"Benar! Aku mungkin saat ini terlibat hutangbudi dengannya dan membuat diriku mengabaikan kebahagiaanku. Tetapi ini tidak akan berlangsung lama. Aku butuh bahagia dan aku pasti tahu bagaimana cara memberi kebahagiaan untuk diriku sendiri," ucap Alea menegaskannya seolah-olah dia ingin bangkit dan tidak terus larut dalam keterpurukan.
Raidan tersenyum mendengar perkataan wanita yang sebelumnya tampak begitu lemah dan sekarang terlihat kuat menghadapi masalah dalam hidupnya.
"Melupakan semuanya tidak akan membuat kamu rugi, kamu akan bahagia jika benar-benar bisa melupakannya dan memulai kehidupan kamu dengan cara kamu sendiri untuk mencari kebahagiaan," ucap Raidan mengusap-usap pucuk kepala Alea.
Alea tersenyum dengan menganggukkan kepala.
"Apa boleh aku melanjutkan makan ini?" tanya Alea memastikan.
"Makanlah, setelah ini aku ingin mengajak kamu ke tempat sesuatu," ucap Raidan.
"Kemana tanyanya tampak begitu penasaran?"
"Rahasia," jawab Raidan.
Alea menatap penuh curiga kepada Raidan yang saat ini benar-benar penuh rahasia membuatnya sangat penasaran. Tetapi Alea sudah tidak sabar akan diajak ke mana sehingga melanjutkan makannya dengan sangat cepat.
Di tengah makan itu tiba-tiba saja ponselnya berdering. Mata Alea melihat panggilan telepon yang masuk ternyata tidak lain adalah dari Dharma.
Baru saja pria itu dia bicarakan dengan penuh kekecewaan dan pria itu saat ini sedang menghubungi dirinya.
Alea ternyata tidak mengangkat dan justru mengabaikan panggilan telepon tersebut membuat Raidan memperhatikan bagaimana Alea mengabaikan telepon itu.
"Kamu memang tidak memiliki rencana untuk mengangkatnya?" tanya Raidan.
"Aku sedang makan dan perutku sejak tadi terasa begitu lapar, jadi nanti saja aku mengangkatnya," jawab Alea terlihat begitu santai seolah-olah tidak peduli dengan telepon tersebut.
Raidan menghela nafas menyerahkan semua kepada Alea bagaimana harus menghadapi suaminya itu.
Bersambung.....