Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah yang tak sama
Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Aira saat ia duduk di samping ranjang rumah sakit milik Pesantren Al-Husayn. Di atas ranjang itu, Ghibran terbaring dengan wajah pucat. Lengan kirinya dibalut perban putih bersih yang sesekali masih menampakkan rembesan merah. Dokter Shakira baru saja selesai menjahit luka robek yang cukup dalam itu, menyatakan bahwa Ghibran beruntung karena pisau lawan tidak mengenai syaraf utama.
Aira menatap suaminya yang masih terpejam. Dalam tidurnya, kerutan di dahi Ghibran tidak hilang, seolah beban dunia masih menindihnya bahkan dalam ketidaksadaran. Aira memegang kalung emas milik Bunda Aminah yang tadi diserahkan oleh Azka. Inisial 'A' itu kini terasa panas di telapak tangannya.
"Untuk putriku yang tercinta, Zivanna."
Kalimat itu terngiang-ngiang. Jika Zivanna adalah putri kesayangan Bunda Aminah, lalu siapa dirinya? Mengapa selama ini ia yang dibesarkan dengan kemewahan, sementara Zivanna hidup dalam persembunyian dan penuh ketakutan?
"Eungh..." Ghibran melenguh pelan. Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Aira segera berdiri, mendekat ke sisi ranjang. "Kak? Kak Ghibran sudah bangun? Tunggu, aku panggilkan Dokter Shakira."
"Jangan," suara Ghibran parau. Ia mencoba duduk, namun ringisan sakit tertahan di bibirnya. Aira dengan sigap membantu menyusun bantal di belakang punggung Ghibran agar pria itu bisa bersandar. "Aku baik-baik saja, Aira. Hanya sedikit pening."
"Sedikit pening? Kakak hampir kehabisan darah semalam!" Aira tidak bisa menahan nada bicaranya yang meninggi karena cemas. Ia mengambilkan segelas air putih dan membantunya minum dengan hati-hati.
Ghibran menatap Aira cukup lama setelah meminum airnya. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan istrinya itu—bukan lagi sekadar duka karena Azlan, melainkan ketakutan yang mendalam.
"Apa yang terjadi setelah aku pingsan?" tanya Ghibran.
Aira ragu sejenak, lalu ia meletakkan kalung itu di atas nakas, tepat di samping tangan Ghibran. "Azka menemukan ini. Milik Bundaku... atau wanita yang selama ini kupanggil Bunda."
Ghibran mengambil kalung itu, membacanya, dan rahangnya mengeras. Ia tidak tampak terkejut, seolah ia sudah menduga sesuatu yang serupa.
"Aira, ada yang harus kukatakan padamu," ujar Ghibran dengan suara rendah. "Dan ini mungkin akan menyakitimu lebih dari apa pun."
Aira menggenggam pinggiran sprei ranjang. "Katakan saja, Kak. Aku sudah lelah hidup dalam kebohongan."
"Tadi malam, sebelum kita diserang, aku sempat melihat data medis lama dari arsip rahasia almarhum kakekku," Ghibran memulai. "Dua puluh lima tahun lalu, Bunda Aminah melahirkan di klinik pesantren ini. Di saat yang bersamaan, seorang wanita tak dikenal—yang diduga ibu kandungku—juga melahirkan. Terjadi sebuah insiden, sebuah pertukaran bayi yang sengaja dilakukan untuk menutupi aib besar."
Jantung Aira berdegup kencang. "Maksud Kakak...?"
"Zivanna adalah anak sah dari hasil pernikahan Bunda Aminah dan Ayah Amir. Tapi karena Zivanna lahir dengan kondisi fisik yang lemah saat itu, Bunda Aminah tidak menginginkannya. Beliau menukar bayinya dengan bayi dari wanita asing itu agar ia memiliki anak yang 'sempurna' untuk dijadikan alat politik di masa depan."
Aira merasa dunianya runtuh untuk kesekian kalinya. "Jadi... aku bukan anak mereka? Aku anak dari wanita asing yang Kakak bilang adalah ibu kandung Kakak?"
Ghibran menunduk. "Secara biologis, Aira... kamu adalah adik kandungku. Kita satu ibu, beda ayah. Ayahmu adalah seorang pria yang identitasnya sengaja dihapus oleh Bunda Aminah dari catatan medis."
Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah. Kenyataan ini jauh lebih mengerikan dari sekadar perjodohan paksa. Ia menikahi kakak iparnya, yang ternyata adalah kakak kandungnya sendiri?
"Astaghfirullah... jadi pernikahan ini... ini haram, Kak!" tangis Aira histeris.
Ghibran dengan cepat meraih tangan Aira, menariknya mendekat meskipun lengannya terasa sangat nyeri. "Dengarkan aku dulu! Pernikahan ini sah secara hukum agama dan negara, Aira!"
Aira menatap Ghibran dengan mata yang banjir air mata. "Bagaimana bisa sah kalau kita saudara sekandung seibu?"
Ghibran menatap mata Aira dengan intensitas yang membuat napas Aira tertahan. "Karena aku juga bukan anak kandung dari wanita itu, Aira. Aku baru tahu satu jam sebelum operasi tadi dari Azka. Akta kelahiranku yang kosong itu bukan karena ibuku meninggal, tapi karena aku adalah anak angkat yang diambil Baba dari panti asuhan untuk menggantikan putranya yang meninggal saat lahir."
Plot twist ini membuat Aira terdiam seribu bahasa. Silsilah keluarga Al-Husayn ternyata jauh lebih rumit dan penuh tipu daya daripada yang terlihat di permukaan.
"Jadi... kita tidak punya hubungan darah sama sekali?" tanya Aira memastikan.
"Sama sekali tidak," jawab Ghibran tegas. "Satu-satunya yang menghubungkan kita adalah akad nikah yang baru saja kita ucapkan. Dan satu-satunya alasan kenapa Bunda Aminah begitu ingin menghancurkan kita adalah karena kita berdua adalah bukti hidup dari semua kejahatannya di masa lalu."
Tiba-tiba, pintu kamar rawat didorong terbuka dengan kasar. Habib Fauzan masuk dengan wajah yang sangat marah, diikuti oleh beberapa pengawal pesantren.
"Ghibran! Apa yang kamu lakukan?" bentak Habib Fauzan. "Kenapa kamu membawa Aira lari dan menyebabkan keributan di pesantren?"
Ghibran mencoba berdiri, namun tubuhnya masih lemah. "Baba, ada banyak hal yang harus Baba jelaskan soal masa lalu klinik pesantren."
"Diam!" potong Habib Fauzan. "Sekarang juga, Aira harus kembali ke rumah orang tuanya. Pernikahan ini akan dibatalkan."
Aira terkejut. "Kenapa, Bah? Bukankah Baba yang menginginkan pernikahan ini?"
Habib Fauzan menatap Aira dengan tatapan yang sangat asing, penuh dengan kebencian yang selama ini disembunyikan. "Karena aku baru tahu, bahwa kamu adalah putri dari pria yang telah membunuh istriku, Syarifah Fatimah!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂