Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19- MCI 19
Ketika Diandra masih berada di perusahaan Mahendra. Ponselnya tiba-tiba berdering. Itu panggilan telepon dari Celine.
"Aku angkat telepon dari Celine, sebentar ya!" kata Diandra yang segera diangguki oleh Max.
Diandra menerima panggilan itu.
"Halo Celine..."
[Di, seseorang melaporkan restoran. Restoran di tutup sementara, sampai pemeriksaan dan uji laboratorium keluar. Diandra, aku melihat mobil Raez di luar restoran saat itu terjadi!]
Diandra terdiam. Dadanya naik turun dengan cepat.
Melihat Diandra yang tampak tidak baik-baik saja, Max segera menyentuh lengan Diandra.
"Apa yang terjadi? ada apa?" tanya Max dengan lembut tapi sangat penasaran.
Diandra menoleh ke arah Max. Sepertinya dia harus menjadi seorang wanita manja dan malang di depan Max.
'Raez, kamu yang memaksaku melakukan ini!' batin Diandra.
Diandra segera menunjukkan mimikk wajah sedih di depan Max. Diandra sudah menjadi penyanyi klub malam di Madrid selama beberapa tahun ini. Dan lagu yang dia bawakan memang kebanyakan lagu klasik, jazz dan balad yang sebagian besar memang lagi sedih yang memerlukan eskpresi dan pendalaman yang cenderung nyata, seperti mata berkaca-kaca, atau tatapan sedih yang menyayatt jiwa.
"Diandra..."
Grepp
Diandra menangis dan memeluk Max.
"Max, pamanmu membuat restoran Celine ditutup! dia pasti marah karena aku tidak mengindahkan peringatannya untuk menjauhimu. Tapi kenapa harus Celine? dia adalah satu-satunya temanku, selain kamu. Dia yang bantu aku selama ini. Celine bahkan membiarkan aku tinggal di rumahnya. Max... aku pergi saja...!"
Diandra segera berdiri dan berbalik, gerakan ingin menjauh secara slow motion itu sebenarnya kalau orang lain yang melihatnya. Maka akan sangat jelas kalau Diandra hanya pura-pura. Namun, karena Max memang penggemar Diandra, dia sama sekali tidak memperhatikan hal itu.
Dia berpikir Diandra mau benar-benar pergi. Makanya Max, langsung menarik Diandra.
"Diandra..."
"Jika aku tidak pergi darimu, pamanmu bisa menghancurkan orang-orang yang baik padaku!" air mata Diandra benar-benar jatuh.
Dia pandai sekali mendalami karakternya. Dia menunjukkan wajah yang sangat sedih di depan Max. Membuat Max merasa kesal, pamannya itu sungguh keterlaluan.
"Diandra, kita temui paman!" kata Max yang sepertinya lebih percaya dan akan membela Diandra daripada Raez.
Max menghubungi Bram, dan minta bertemu dengan pamannya. Bram mengatakan kalau Raez ada di villanya.
"Paman ada di villa, kita temui dia. Kita minta penjelasan padanya. Jika alasannya memang hanya karena dia marah kamu jadi sekertaris ku. Maka aku akan sangat tegas menegurnya. Ayah dan ibuku bahkan setuju kamu jadi sekertaris ku. Kenapa dia seperti itu?"
Max hampir menarik tangan Diandra. Tapi Diandra menahan tangan Max.
"Max, jika membuat keributan dengan pamanmu. Nanti kamu di hukum..."
"Tidak lagi Diandra. Aku sudah dewasa sekarang! aku tidak akan diam saja kalau paman menindas mu!" kata Max.
'Ya ampun, Max ini polos sekali sih? kalau kita hanya datang berdua ke villa si singa galak itu. Yang ada kita bunuhh diri namanya!' batin Diandra.
"Max, pamanmu punya banyak anak buah. Jika anak buahnya mencekal mu disana, aku harus bagaimana?" tanya Diandra yang terlihat mengkhawatirkan Max.
Padahal, yang lebih dia khawatirkan tentunya dirinya sendiri. Bisa habis dia, kalau pria galak itu marah padanya.
Max terdiam sejenak. Dia pikir, apa yang dikatakan oleh Diandra itu sangatlah masuk akal. Kalau pamannya marah memang sangat mengerikan.
"Sebentar Diandra, aku akan minta anak buah ayahku ikut dengan ku!"
Beberapa saat kemudian, empat pengawal Pram datang ke kantor Max. Dan mereka pun pergi menemui Raez di villanya.
Di villa, Bram sudah memberi kabar itu pada Raez.
"Tuan muda pergi dengan membawa empat pengawal tuan Pram. Menuju kemari dengan nona Diandra!"
Raez mengepalkan tangannya.
"Wanita itu sudah benar-benar mempengaruhi Max!"
"Tuan, laporan penyelidikan tentang nona Diandra sudah aku terima. Tuan, ini laporannya!" kata Bram yang kemudian memperlihatkan ponselnya pada Raez.
Raez membacanya, dia mulai melihat dari berita meninggalnya Jessica Wicaksana ketika Diandra berusia 5 tahun. Tadinya punggung pria itu sangat santai bersandar di sandaran sofa. Hingga kemudian Raez menegakkan punggungnya dan membaca tiap detail informasi yang didapatkan oleh Bram itu dengan sangat serius.
Lima tahun berlalu, kakek dan neneknya juga meninggal. Saat itu datanglah Ibu tirinya yang merupakan anak angkat keluarga Wicaksana. Membawa seorang anak yang usianya hanya berbeda tiga tahun dengan Diandra.
Raez mengernyitkan keningnya. Bukankah itu artinya Romi Kusuma memang berselingkuh, sebelum istrinya meninggal anak itu sudah terlihat di keluarga Kusuma.
Raez kembali membuka halaman lain di ponsel Bram. Setelah nenek dan kakek Diandra meninggal, semua hak waris jatuh pada Kamila, padahal Kamila hanya anak angkat. Katanya itu karena surat wasiat kakek dan nenek Diandra. Namun pengacara keluarga itu menghilang setelah kejadian itu. Saat usia Diandra 17 tahun, dia di kuliahkan di luar negeri. Tapi dia putus kuliah setelah dua tahun.
Selanjutnya Diandra memang bekerja seperti yang dikatakan oleh Max. Menjadi pelayan restoran, pembagi poster di jalan, penyanyi pinggir jalan.
Kening Raez makin berkerut lagi.
"Diandra benar-benar mengalami semua ini?" gumamnya pelan.
"Tuan, ada satu laporan lagi. Perusahaan Kusuma memang selalu mengirimkan uang setiap bulannya. Tapi bukan masuk ke rekening nona Diandra. Nomor itu dirahasiakan, tidak bisa di selidiki! sepertinya seseorang bekerja sama dengan pihak bank dan perusahaan!"
Raez menghela nafas panjang. Mungkin selama ini, pikirannya tentang Diandra memang salah.
"Cari pengacara itu, pengacara yang mengalihkan semua hak waris pada ibunya Genelia. Cari sampai dapat!"
Bram mengangguk patuh.
"Baik tuan!"
Tak berapa lama kemudian, Raez mendengar suara mobil masuk pekarangan villanya.
Dari jendela di lantai dua, dia melihat Max turun dari dalam mobil. Membuka pintu mobil untuk Diandra. Lalu mengulurkan tangannya pada Diandra.
'Jika kamu menerima uluran tangan Max, lihat apa yang akan aku lakukan padamu Diandra!' geram Raez dalam hati.
Dan di bawah sana. Diandra yang memang ingin membuat panas Raez, justru dengan cepat mengulurkan tangannya pada Max, bahkan tersenyum begitu manis pada Max.
"Terima kasih! Max, boleh aku..."
Wajah Max makin memerah.
"Boleh aku rangkul lenganmu? aku agak takut!" kata Diandra begitu lembut dan manja.
Max tersenyum senang. Dan membetuk tangannya menyiku. Supaya Diandra bisa merangkul tangannya tentu saja.
Diandra tersenyum dan merangkul lengan Max. Mereka berdua berjalan masuk ke arah villa. Sementara dari tempatnya berdiri. Raez benar-benar emosi.
Prangg
Gelas minuman yang ada di sampingnya dia banting ke lantai dengan begitu keras.
Dari bawah suara itu juga terdengar. Max menghentikan langkahnya. Diandra menghela nafas panjang.
'Sudah emosi? begitu saja sudah emosi, aku bisa tunjukkan hal yang lebih akan membuatmu emosi Raez, tunggu saja!' batin Diandra.
***
Bersambung...
tinggal gimana nanti respon keluarga Raez 🤭
positif tekdung...
sukurin kau gen2 si teh hijau 🤣🤣🤣
Diandra menang banyak sekarang 😘😘😘
Tak ada kah yg mendengar kata² Kamila itu..? 🤔